
Suasana di kediaman profesor Wijaya dipenuhi dengan kecanggungan saat ini, profesor Wijaya dan keluarga Dimas duduk di tempat yang disediakan tanpa ada yang berbicara sepatah katapun. Sebelumnya ayah Dimas sudah memberitahu profesor Wijaya bahwa yang membuat reaktor fusi nuklir yang dimaksud bukanlah dirinya melainkan Dimas yang sebelumnya hanya dikira sebagai seorang remaja biasa. Karena dirinya salah mengira orang hal ini membuat profesor Wijaya malu.
"Maafkan ketidaktahuanku sebelumnya, ku pikir pak Rahman yang membuat reaktor fusi nuklir ini tapi ternyata itu adalah anaknya" Profesor Wijaya berkata dengan sedikit perasaan malu dan menatap Dimas dengan kagum.
Keluarga Dimas hanya bisa mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan profesor Wijaya, keluarga Dimas tau bahwa tebakan profesor Wijaya merupakan hal yang masuk akal. Sebagian besar penemuan yang ada di dunia selalu ditemukan oleh orang orang yang ahli di bidang tertentu, dan untuk dapat dianggap ahli diperlukan pembelajaran dan latihan selama bertahun tahun. Karena pembelajaran dan pelatihan selama bertahun tahun ini para ahli kebanyakan adalah orang dewasa bahkan ada pada tingkat paruh baya saat mereka dikatakan ahli dan membuat suatu penemuan.
"Tidak masalah, hal itu bisa dipahami, salahkan pertumbuhan otak anakku yang melebihi batas" Ayah Dimas berkata sambil bercanda kepada profesor Wijaya.
Profesor Wijaya tersenyum mendengar perkataan ayah Dimas dan melihat ke arah Dimas yang dari tadi masih Diam dan terlihat sedang berpikir keras. Dimas saat sedang memasukan sebagian kesadarannya ke dalam laboratorium karena mendapati kedua sarang zerg sepertinya berkomunikasi menggunakan gelombang infrasonik, untuk itu Dimas cepat cepat merekam gelombang infrasonik yang yang dikeluarkan oleh kedua sarang dan berencana untuk mempelajari dan menerjemahkan bahasa yang terkandung di dalamnya.
Kedua sarang zerg masih terus berkomunikasi tanpa menyadari Dimas telah merekam komunikasi mereka dan berencana untuk mempelajari bahasa mereka. Dimas ingin terus mengamati kedua sarang zerg ini namun tiba tiba mendengar panggilan orang tuanya yang membuat Dimas segera menarik kembali kesadarannya ke tubuhnya.
"Dimas? Dimas!" Kesadaran Dimas baru saja kembali merasakan tangan ibunya mencubit pinggangnya sehingga Dimas merasakan sakit di pinggangnya. Ibu Dimas melihat anaknya akhirnya bereaksi melepaskan cubitannya dan tersenyum kepada profesor Wijaya.
"Apa kau tidak mendengar profesor Wijaya berbicara kepadamu?" Ibu Dimas melepaskan senyumannya saat dia melihat kearah Dimas dan menatap tajam kearah Dimas.
__ADS_1
Dimas merasakan perasaan dingin menyebar ke seluruh tubuh Dimas, meskipun tempat perlindungan resmi dingin dan mereka perlu jaket tebal untuk menghangatkan Diri namun perasaan dingin yang baru saja dia rasakan adalah hal yang berbeda. Dimas menghindari kontak mata dengan ibunya dan menatap profesor Wijaya.
"Maaf pak Wijaya, tadi saya melamun dan tidak mendengar bapak mengatakan apa kepada saya" Dimas berkata dengan hormat seperti sebagaimana orang tuanya mengajarkan bagaimana cara bersikap kepada orang yang lebih tua dari dirinya.
Profesor Wijaya tampaknya tidak keberatan dengan Dimas yang sebelumnya tidak mendengarkan dirinya, bahkan saat Dimas memanggil dirinya "pak" Daripada "profesor" Membuatnya menjadi lebih senang.
"Aku berkata reaktor fusi nuklir yang kau buat merupakan sebuah terobosan zaman, apa kau ingin bekerjasama dengan negara untuk pengembangan lebih lanjut" Ucap profesor Wijaya yang membuat Dimas sedikit terkejut dengan ajakan undangan ini.
Awalnya Dimas mengira negara akan memintanya menyerahkan teknologi reaktor fusi nuklir, namun ternyata mereka hanya akan melakukan kerja sama dengan Dimas yang mana hal ini adalah hal yang Dimas inginkan. Meskipun kerjasama adalah hal yang diinginkan oleh Dimas namun Dimas tidak langsung menerimanya tapi menatap profesor Wijaya yang tersenyum.
Profesor Wijaya dan juga kedua orang tuanya cukup terkejut dengan perkataan Dimas, mereka mengira Dimas akan langsung setuju tapi nyatanya malah mempertanyakan keuntungannya. Profesor Wijaya berpikir sejenak dan menatap Dimas.
"Aku sendiri bukan orang yang bisa mengatur segalanya untukmu, tapi aku bisa memastikan perawatan dari pemerintah tidak akan buruk. Negara pasti akan menyediakan fasilitas penelitian yang baik untukmu, keluargamu juga akan dilindungi dan tidak perlu khawatir tentang masalah hidup seperti makanan dan tempat tinggal. Masih banyak keuntungan jika kau bekerjasama dengan pemerintah" Ucap profesor Wijaya.
Dimas menggelengkan kepalanya dan berkata kepada profesor Wijaya "Saya tidak memerlukan apa semua itu, jika anda bisa meyakinkan para menteri dan presiden untuk membiarkan saya memimpin beberapa ilmuwan negara kita untuk meneliti beberapa hal maka saya bisa saja secara langsung memberikan teknologi fusi nuklir bahkan beberapa teknologi lain yang akan diteliti nantinya".
__ADS_1
Permintaan Dimas cukup tinggi tapi baik itu profesor Wijaya atau orang tuanya masih merasa Dimas tidak terlalu diuntungkan dalam hal ini, reaktor fusi nuklir yang dibuat Dimas memiliki potensi untuk membebaskan negara mereka bahkan dunia dari krisis energi dan dengan energi yang cukup maka sebuah negara dapat dengan cepat pulih ke keadaan semula.
"Aku akan membicarakan hal itu dengan para petinggi negara tentang keinginanmu. Kalian bisa kembali dulu ke tempat perlindungan kalian dan aku akan memberi kabar jika permintaanmu disetujui" Ucap profesor Wijaya.
Dengan bantuan dari profesor Wijaya keluarga Dimas akhirnya lepas dari masalah dan dikembalikan ke tempat perlindungan mereka, barang barang yang diambil dari tempat perlindungan keluarga mereka juga dikembalikan ke tempat asalnya begitu juga dengan kedua pistol yang dikembalikan oleh para tentara.
Profesor Wijaya setelah kepergian keluarga Dimas langsung menghubungi beberapa petinggi negara dan mengungkapkan informasi mengenai adanya orang yang memiliki teknologi fusi nuklir yang matang dan bersedia menyerahkan teknologi tersebut kepada negara dengan beberapa persyaratan. Beberapa jam kemudian profesor Wijaya mendapat jawaban yang kurang memuaskan dimana persyaratan dari Dimas hanya dapat dipenuhi jika dia bisa membuat reaktor fusi nuklir yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik dari tempat perlindungan resmi yang ditinggali profesor Wijaya.
Keesokan harinya profesor Wijaya secara pribadi pergi ke tempat perlindungan keluarga Dimas untuk menyampaikan apa yang dikatakan para petinggi negara kepada Dimas. Setelah memasuki tempat perlindungan keluarga Dimas profesor Wijaya langsung menyadari suhu di dalam tempat perlindungan keluarga Dimas terasa hangat dan akhirnya menyadari kenapa Dimas tidak tertarik dengan fasilitas tempat perlindungan resmi mereka yang bahkan lebih rendah dari tempat perlindungan ini.
"Sepertinya selain membangun reaktor fusi nuklir aku bisa meminta Dimas untuk membuat beberapa pemanas ruangan seperti milik mereka sehingga tempat perlindungan tidak akan dingin lagi" Profesor bergumam sambil melepas jaket tebalnya dengan susah payah dan berjalan ke ruang tengah dipimpin oleh ayah Dimas.
Dimas saat ini sedang di ruang tengah sambil memainkan ps karena bosan, sejak pulang Dimas hanya menghabiskan waktunya untuk membuat versi besar dari desain reaktor fusi nuklir. Karena Dimas sudah menguasai teknologi dan membuat miniatur reaktor fusi nuklir, desain reaktor fusi nuklir yang lebih besar dapat diselesaikan dengan mudah.
Melihat profesor Wijaya yang muncul Dimas langsung menghentikan permainannya dan menatap profesor Wijaya, profesor Wijaya duduk setelah dipersilahkan dan mengatakan maksud tujuannya kepada Dimas beserta keluarga. Permintaan dari para petinggi negara memang agak berat untuk Dimas namun dia memiliki cheat seperti laboratorium yang dapat membantunya sehingga Dimas bahkan dapat membuat reaktor fusi nuklir bahkan jika dirinya bermalas malasan.
__ADS_1