Laboratorium Teknologi

Laboratorium Teknologi
Jadi Sekretarisku


__ADS_3

Dimas berjalan di sepanjang tempat perlindungan dengan seorang staf yang memimpin jalan menuju tempat para pengungsi berada, tujuan Dimas ke tempat itu adalah untuk mencari keluarga Dea dan melihat keadaannya. Sebelumnya saat Bumi masih dalam keadaan normal keluarga ini telah bersikap sangat baik kepada Dimas sehingga Dimas menganggap keluarga ini sebagai bagian dari keluarganya. 


Dengan seorang staf yang memimpin jalan Dimas akhirnya sampai di ruangan seperti aula besar yang dipenuhi oleh banyak orang. Dimas cukup terkejut dengan banyaknya orang yang ada di aula ini bahkan sampai tercengang selama beberapa detik, untungnya Dimas dengan cepat sadar dan mengikuti staf tersebut memasuki aula.


"Tempat perlindungan ini memiliki aula untuk menampung banyak pengungsi dalam satu tempat, tapi apakah jumlah ini terlalu kecil? Bahkan tempat perlindungan di kota asalku para pengungsi sampai tidur di koridor karena terlalu penuh" Dimas bertanya kepada staf itu, meskipun dirinya telah menghabiskan beberapa hari baik sebelum menjadi eksekutif Garuda atau sesudahnya namun dirinya masih belum memahami seluk beluk dari tiap tempat perlindungan


"Sebenarnya tempat perlindungan ini memiliki empat aula seperti ini, berbeda dengan tempat perlindungan lainnya yang hanya memiliki dua aula untuk tempat para pengungsi jadi disini daya tampung pengungsinya lebih banyak dari tempat perlindungan lain" Staf itu menjawab dengan hormat, bagaimanapun Dimas adalah seorang eksekutif Garuda yang setingkat dengan posisi presiden.


Dimas hanya bergumam "ooh" dan mengangguk kepada penjelasan staf tersebut, Dimas tidak menyadari bahwa semenjak dirinya masuk dia telah menjadi pusat perhatian karena diperlakukan dengan hormat oleh staf yang mengantarnya. Para pengungsi ini menebak nebak identitas Dimas mulai dari anak seorang pejabat, orang yang memiliki hubungan dengan dunia bawah atau identitas lainnya namun tentu saja semua tebakan itu salah.


Setelah berjalan sebentar di aula tersebut, Dimas yang dipimpin oleh staf sampai area pinggiran aula dan akhirnya melihat keluarga Dea di kerumunan orang yang ada di pinggiran aula. Saat ini ibu dan adik dari Dea sedang tertidur sedangkan Dea sendiri sepertinya menjaga beberapa barang mereka agar tidak dicuri oleh orang.


"Kau bisa kembali, terimakasih sudah memimpin jalan" Dimas mengucapkan terimakasih kepada staf dan menyuruhnya kembali.


Staf itu mengangguk dan meninggalkan aula sesuai dengan perintah Dimas, sedangkan untuk Dimas sendiri dia berjalan mendekat ke arah keluarga Dea yang tampak lusuh di pinggiran aula.


"Hey, apa yang kau lakukan disini?" Dalam pandangan Dea, dia melihat sepasang kaki berhenti di depan karpet milik keluarganya.


Keluarga Dea baru sekitar seminggu dipindahkan ke aula ini dari kediaman yang mereka tempati sebelumnya, dalam waktu ini beberapa remaja bahkan paman seumuran ayahnya telah mencoba mendekatinya dan melakukan hal yang serupa dengan pemilik kaki di depannya saat ini. 


"Maaf, aku sudah punya pacar dan dia memiliki posisi penting di pemerintahan" Ini adalah alasan yang selalu diucapkan Dea untuk menghentikan laki laki yang mencoba mendekatinya.

__ADS_1


"Benarkah? Kenapa aku tidak tau hal itu sebelumnya?" Dimas berjongkok sehingga kali ini bukan hanya kakinya yang dilihat oleh Dea tetapi wajahnya juga terlihat.


Dea yang melihat pemilik kaki tersebut adalah Dimas langsung mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk, Dea terkejut saat melihat ternyata itu adalah Dimas dan setelah mengingat apa yang dia ucapkan sebelumnya Dea tanpa sadar memerah.


"Dimas? Kapan kau kembali ke tempat perlindungan ini?" Ucap Dea kepada Dimas setelah dia selesai menenangkan diri.


"Beberapa hari yang lalu, aku sangat sibuk dan baru bisa bersantai sekarang" Jawab Dimas yang sekarang telah duduk di karpet milik keluarga Dea.


Dea hanya mengangguk dan kemudian suasana di antara mereka menjadi canggung, beberapa keluarga yang berada di sekitar mendengarkan pembicaraan keduanya dan tidak ada yang berbicara. Dimas berpikir keras untuk mencari topik pembicaraan agar suasana canggung menghilang dan beruntung setelah mencari topik pembicaraan secara singkat Dimas menemukannya.


"Dimana om Haris?" Tanya Dimas.


om Haris adalah Ayah Dea, saat ini Dimas tidak melihat keberadaan ayah Dea jadi dia mengajukan pertanyaan mengenai ayah Dea untuk menghilangkan suasana canggung.


Saat ini ibu Dea terbangun dari tidurnya, mungkin karena mendengar pembicaraan yang dilakukan oleh Dimas dan juga Dea sehingga membangunkannya. Ibu Dea yang melihat putrinya sedang berbicara dengan Dimas kemudian duduk dan menyapa Dimas.


"Dimas? Kapan kamu ada disini?" Tanya ibu Dea.


Dimas hanya bisa tersenyum karena pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan Dea sebelumnya, Dimas kemudian menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sama dengan jawaban untuk pertanyaan Dea sebelumnya.


Dengan adanya ibu Dea, beberapa topik pembicaraan mulai tercipta membuat suasana canggung mulai mereda dan mereka bertiga berbincang dengan lebih bebas dan baik itu keluarga Dea atau orang orang di sekitar sedikit memahami posisi Dimas di pemerintahan.

__ADS_1


"Omong omong saat ini aku kekurangan seorang sekretaris, setelah dimanfaatkan oleh menteri Marisa itu aku jadi sadar kalau aku memerlukan seorang sekretaris yang bisa sejalan dengan jalan pikiranku" Dimas tiba tiba mengubah topik pembicaraan.


"Kau bermaksud menjadikan aku sekretarismu?" Tanya Dea dengan wajah kaget.


Dimas hanya mengangguk untuk jawaban tersebut, namun setelah mendapati anggukan itu wajah Dea segera cemberut dan terlihat kesal.


"Apa kau merasa kasihan kepada keluarga kami? Kau tau posisimu tinggi di pemerintahan dan jika aku menjadi sekretarismu maka keluargaku akan dijamin kenyamanan dan keamanannya. Kau menganggap keluarga kami memerlukan belas kasihan?" Ucap Dea dengan nada kesal.


Dimas mengerutkan kening setelah melihat Dea yang kesal, dia kemudian berkata "Aku tidak berbelas kasihan kepada kalian, aku hanya menganggapmu cocok untuk menjadi sekretarisku, aku memerlukan orang yang memiliki pemikiran yang serupa denganku dan dari beberapa tahun berinteraksi kupikir kau bisa menjadi sekretarisku"


Dea terdiam saat mendengar penjelasan Dimas, namun dari wajahnya Dimas masih bisa melihat kekesalan yang masih belum menghilang. Dimas berpikir sebentar untuk menghilangkan kekesalan Dea bahkan sesekali melirik ibu Dea untuk meminta bantuan namun ibu dea hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya sehingga Dimas harus memikirkan sendiri caranya.


"Bagaimana jika kau mencoba jadi sekretarisku dulu selama 3 bulan, jika kinerjamu tidak sesuai dengan yang kupikirkan maka aku akan mencari orang lain untuk menjadi sekretarisku" Dimas berbicara dengan ragu ragu karena kemungkinan Dea akan lebih marah dengan perkataannya ini.


Dimas memperhatikan ekspresi Dea yang sepertinya memikirkan tawarannya tersebut meskipun masih terlihat kesal namun terlihat jelas bahwa kekesalannya sudah berkurang banyak.


"Dimas?"sebuah suara datang dari belakang Dimas membuatnya menoleh ke arah suara tersebut, orang yang memanggilnya adalah ayah Dea yang baru saja kembali dari tempat penggalian. 


" Om Haris, apa kabar?" Dimas menyapa dengan senyuman.


"Baik" Ucap ayah Dea, dia kemudian melihat ke arah Dea yang sepertinya sedang kesal dan berkata "kenapa dengan Dea?" 

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari ayah Dea membuat Dimas menyebutkan kembali masalah dirinya yang ingin menjadikan Dea sebagai sekretarisnya dan juga meminta persetujuan dari ayah Dea untuk menyetujui hal itu, dengan persetujuan ayahnya maka Dea akan lebih tergerak untuk menyetujui tawaran Dimas.


__ADS_2