
Sepuluh tentara yang saat ini menggerakan karakter mereka di dunia virtual mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas, suara ini membuat mereka terkejut namun setelah mendapati suara itu adalah suara Dimas mereka segera tenang dan mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Dimas.
"Kantor polisi di ujung jalan, menurut perkataan dari profesor Dimas kita harus ke tempat itu dan bersiap dalam 30 menit yang mana kemungkinan setelah 30 menit kita akan menemui musuh" Salah satu tentara berkata kepada tentara lainnya.
Sembilan tentara lainnya juga menyadari hal ini dan mulai memikirkan siapa yang akan menjadi musuh mereka nantinya. Meskipun mereka memikirkan siapa yang menjadi akan menjadi musuh mereka tapi mereka segera menepis pikiran itu dan bersiap untuk pergi ke ujung jalan dan mencari bunker di kantor polisi untuk mengambil peralatan yang diperlukan.
Mereka keluar dari tempat berlindung dan disambut dengan angin kencang dan salju yang sangat mengganggu mereka. Mereka berjalan perlahan di salju yang menumpuk hingga menenggelamkan betis mereka dan harus memicingkan mata karena badai salju.
Sementara sepuluh tentara sedang berjuang menerjang badai salju di dunia virtual, di dunia nyata Dimas dan yang lainnya beberapa kali menatap bolak balik antara monitor yang menampilkan perspektif para tentara dan para tentara itu sendiri yang sedang melakukan postur orang menerjang badai salju di atas perangkat VR. Dimas cukup kagum dengan perangkat VR yang bahkan dapat membuat para tentara ini seperti benar benar menerpa badai salju meskipun sebenarnya mereka masih berada di ruang penelitian ini.
"Tingkat kemiripan dunia virtual ini terlalu mengerikan, aku tau kalau ini hanya gambar yang dihasilkan kacamata VR tapi tubuhku terasa benar benar sedang menerjang badai salju" Seorang tentara bergumam pelan, namun yang tidak diketahuinya adalah suara itu didengar oleh semua orang di ruang penelitian.
"Ya, untungnya hanya tiga dari lima indera kita yang disimulasikan dengan sangat realistis, jika indera penciuman dan juga indera pengecap kita juga direalisasikan maka aku mungkin akan salah mengira ini adalah dunia nyata" Yang lainnya menanggapi.
__ADS_1
Mereka terus berjalan menerjang badai, mereka bergerak sangat pelan dan baru bisa sampai di kantor polisi yang berada di ujung jalan setelah sekitar 15 menit. Mereka memasuki kantor polisi dan setelah menghabiskan waktu 5 menit lagi untuk mencari pintu masuk bunker yang tersembunyi mereka akhirnya berhasil masuk ke bunker tersebut.
Bunker ini dalam keadaan berantakan, dengan beberapa bercak dan genangan darah dimana mana dan juga beberapa goresan sesuatu yang seperti senjata tajam. Sepuluh tentara yang mengendalikan karakter mereka di dunia virtual ini merasakan diri mereka dilemparkan ke dalam game horor dimana di setiap ruangan kemungkinan akan ada sesuatu yang mengejutkan mereka dan membuat mereka tewas seketika.
"Apakah ini bunkernya? Kenapa terlihat seperti tempat yang baru saja diserang oleh monster?" Seorang tentara mengeluh.
"Ayo pergi berpencar, menurut perkataan profesor Dimas sebelumnya ada perlengkapan untuk kita di bunker ini yang bisa kita gunakan untuk menghadapi musuh yang akan muncul 5 menit lagi" Tentara lain berkata kepada yang lainnya.
Sembilan tentara lainnya segera menyetujui hal tersebut, mereka berpencar dengan satu kelompok dua orang dan pergi ke arah yang berbeda. Tidak butuh waktu lama untuk salah satu kelompok tentara ini akhirnya menemukan sebuah ruangan yang berisi berbagai perlengkapan seperti armor mekanis, senjata elektromagnetik, dan juga sebuah perisai elektromagnetik yang telah sering mereka gunakan di dunia nyata.
"Setidaknya para tentara ini masih dapat melakukan tugas dengan baik pada lingkungan yang mencekam dan mengerikan, tapi kecepatan ini masih terlalu lambat, sekarang hanya simulasi dan musuh dapat diatur kapan akan muncul, jika ini adalah medan perang nyata maka jejak kaki dan teriakan sebelumnya akan menarik perhatian musuh" Dimas berkata dengan ringan tanpa memperhatikan ekspresi orang disekitarnya.
"Profesor Dimas melupakan satu hal, kita tidak akan mengirim pasukan dan mempersenjatai mereka di pertengahan jalan, tapi akan mempersenjatai terlebih dahulu sebelum sebelum mengirim mereka menuju musuh" Jenderal Andika berkata kepada Dimas.
__ADS_1
Hal ini membuat Dimas terdiam, apa yang dikatakan oleh jenderal Andika memang benar dan tidak masuk akal untuk mengirim pasukan tanpa perlengkapan kecuali ada beberapa situasi khusus yang memaksa untuk melakukan hal tersebut.
"Sepertinya aku perlu mempelajari beberapa hal tentang militer nantinya, pengetahuanku tentang militer dan berbagai taktik militer masih sangat rendah sehingga hampir tidak mungkin memimpin sebuah pasukan" Dimas berkata dengan canggung kepada orang orang di tempat tersebut.
Saat ini sebuah pengingat muncul di monitor, itu adalah peringatan kedatangan musuh yang berarti waktu 30 menit sudah berakhir. Dengan kedatangan musuh ini berarti fungsi perangkat VR untuk melatih pasukan akan terlihat. Dimas kembali memulai komunikasi dengan para tentara di dunia virtual untuk memberitahukan mereka bahwa musuh akan segera menghampiri mereka, namun sebelum Dimas dapat berbicara kepada sepuluh tentara ini beberapa zerg muncul di depan ruang para tentara yang baru saja selesai memakai perlengkapan.
"Zerg! Serang!" Salah satu tentara melihat zerg yang mulai berdatangan berteriak untuk memperingatkan rekan tentaranya yang lain dan membidik zerg menggunakan senjata elektromagnetik.
Suara energi elektromagnetik yang bergesekan dengan udara dapat didengar dengan jelas, energi elektromagnetik itu tampak seperti bola petir yang dilontarkan dengan cepat ke arah zerg yang berdatangan. Senjata elektromagnetik memiliki fungsi bidikan cerdas yang mana dengan bantuan kecerdasan buatan setiap tembakan akan mengarah ke target.
Tentara lainnya juga segera merespon dan menggunakan senjata elektromagnetik di tangan mereka untuk menembaki zerg yang terus berdatangan. Penembakan berlangsung selama lebih dari 10 menit namun zerg masih terus berdatangan bahkan muncul lebih banyak dari waktu ke waktu. Zerg tewas tersetrum oleh peluru petir yang terus menghujani mereka begitu mereka terlihat oleh para tentara, untungnya indera penciuman mereka tidak direalisasikan di dunia virtual ini atau mereka akan mencium bau terbakar pada udara sekitar.
Para tentara melihat zerg yang tidak ada habisnya mulai panik, salah satu melihat bagian daya yang tersisa pada senjata elektromagnetiknya tersisa 80% langsung mengerutkan keningnya, jika penembakan terus berlanjut maka dalam 40 menit mereka akan kehabisan energi pada senjata elektromagnetik mereka.
__ADS_1
"Semuanya, ayo tinggalkan bunker ini, jika kita terus disini maka kita hanya akan kehabisan amunisi dan menjadi santapan para zerg ini" Tentara itu berkata kepada tentara lainnya.