
Setelah menjawab banyak pertanyaan dari para ilmuwan termasuk profesor Wijaya saat ini Dimas merasa tenggorokannya kering setelah berbicara mengenai beberapa teori yang berhubungan dengan reaktor fusi nuklir dan juga menjelaskan teori teori baru yang belum pernah muncul saat ini kepada mereka.
Para ilmuwan termasuk profesor Wijaya yang seharusnya menemaninya berkeliling telah memasuki kondisi belajar dan mempelajari teori teori baru yang dikatakan dari Dimas. Karena dirinya merasa lapar dan tidak ingin mengganggu profesor Wijaya jadi Dimas memutuskan untuk pergi ke kafetaria dengan panduan denah yang diberikan profesor Wijaya.
Dimas menyusuri koridor dan berbelok beberapa kali sesuai dengan yang ada di denahnya sampai akhirnya dia sampai di kafetaria. Karena jam makan siang sudah lewat saat ini kafetaria terlihat sepi dan hanya memiliki beberapa orang yang masih makan atau membersihkan kafetaria setelah makan siang. Dimas yang baru saja datang segera menarik perhatian semua orang di kafetaria namun Dimas mengabaikan semuanya dan berjalan ke penjaga kafetaria.
"Tolong buatkan satu porsi" Dimas berkata kepada penjaga kafetaria.
Tidak ada tanggapan dari penjaga kafetaria, bahkan penjaga kafetaria itu menatap Dimas sambil mengerutkan keningnya. Tidak semua orang bisa makan di kafetaria, hanya orang orang yang bekerja untuk kepentingan tempat perlindungan yang dapat makan di kafetaria sedangkan untuk Dimas yang bahkan tidak memiliki tanda pengenal yang wajib dimiliki oleh para staf dan tentara di tempat perlindungan seharusnya hanyalah pengungsi biasa di tempat perlindungan.
"Nak, kecuali kau staf atau tentara di tempat perlindungan maka aku tidak bisa memberikan makanan" Penjaga kafetaria berkata kepada Dimas sambil tersenyum masam.
__ADS_1
Dimas mengangguk setelah mendengar ucapan dari penjaga kafetaria namun dia masih menunggu penjaga kafetaria mulai menyiapkan makanannya. Sekitar 10 menit berlalu namun penjaga kafetaria masih duduk di tempatnya yang membuat Dimas mengerutkan keningnya dengan tidak senang.
"Mana makananku? Aku sudah 10 menit berdiri disini dan kau masih duduk disitu? Apa aku harus masuk sendiri dan menyiapkan makanan sendiri?" Dimas berkata dengan tidak senang kepada penjaga kafetaria.
"Nak, kau bukan staf atau tentara, jadi kau tidak dapat makan disini, lagi pula jatah makan yang dibagikan setiap hari secara gratis masih bisa membuatmu hidup lama. Sebaiknya kau pergi sebelum aku panggil beberapa tentara untuk menangkapmu" Penjaga kafetaria juga tidak senang dengan Dimas jadi dia mengancam Dimas agar cepat cepat keluar dari kafetaria.
Dimas makin tidak senang dengan penjaga kafetaria yang malah menyuruhnya pergi dengan ancaman, namun dia tau bahwa penjaga kafetaria hanya menjalankan tugasnya sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dan juga jika dia terus membalas perkataan penjaga kafetaria maka Dimas pasti akan dibawa oleh tentara ke ruang interogasi untuk kedua kalinya. Akhirnya Dimas kembali dan berencana membawa profesor Wijaya atau ilmuwan lainnya ke kafetaria untuk menjelaskan posisi Dimas saat ini di tempat perlindungan.
Penjaga kafetaria yang melihat Dimas akhirnya pergi kembali ke tempatnya dan duduk santai sambil menonton film lama dari ponselnya, sementara itu Dimas saat ini berjalan kembali ke laboratorium untuk meminta bantuan agar dia bisa mengambil makanan tanpa membuat masalah di kafetaria. Dimas berjalan dengan santai dan sebelum dirinya mencapai laboratorium para ilmuwan yang ingin ditemuinya sedang berjalan menuju kafetaria sambil berdiskusi tentang beberapa hal.
Dimas menggelengkan kepalanya "Penjaga kafetaria mengira aku hanya pengungsi biasa dan tidak ingin memberiku makanan, sebelumnya aku ingin minta tolong kalian untuk membantuku mengkonfirmasi identitasku sebagai salah satu peneliti tapi untungnya kita bertemu disini".
__ADS_1
"Haha, itu adalah peraturan lama bahwa tidak bekerja untuk tempat perlindungan berarti tidak dapat mengambil makanan lebih, ayo kembali ke kafetaria dan kami akan membantu menjelaskan identitasmu sebagai salah satu peneliti" Ilmuwan yang menjawab adalah profesor Amar, dia merangkul bahu Yogi seperti seorang ayah merangkul anaknya.
Ilmuwan lainnya juga mengikuti profesor Amar dan Dimas karena memang tujuan mereka semua adalah kafetaria. Mereka dengan cepat sampai di kafetaria membuat suasana sepi di kafetaria penuh dengan diskusi yang dilakukan oleh para ilmuwan ini. Penjaga kafetaria melihat rombongan ilmuwan langsung mematikan ponselnya dan bersiap membuat pesanan untuk para ilmuwan ini, matanya tertuju pada seorang remaja yang dirangkul oleh salah satu ilmuwan membuatnya sedikit terkejut namun dengan cepat dia mengganti ekspresi terkejutnya ke senyuman kepada para ilmuwan.
"Buatkan 1 porsi makanan untuk masing masing dari kami, begitu juga remaja ini, dia adalah ilmuwan jenius yang baru direkrut hari ini jadi jangan salah mengiranya sebagai pengungsi biasa lain kali" profesor Amar adalah orang yang berbicara, sikapnya yang selalu mewakili para ilmuwan membuat Dimas berpikir kalau profesor Amar mungkin saja adalah juru bicara dari semua ilmuwan ini.
Apa yang diucapkan oleh profesor Amar membuat penjaga kafetaria lebih terkejut lagi dari sebelumnya, bahkan kali ini dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya tapi dia tetap menjalankan pekerjaannya sambil sesekali melirik Dimas yang dibilang seorang ilmuwan jenius. Makanan di kafetaria hanya memiliki 1 menu setiap harinya yang mana itu sama dengan yang diberikan kepada para pengungsi biasa namun dalam jumlah lebih besar, kali ini menu makanannya adalah bubur jadi penjaga kafetaria dengan cepat menghidangkan bubur itu kepada semua ilmuwan.
"Maafkan aku sebelumnya, ku pikir kau pengungsi biasa yang hanya ingin makan lebih jadi aku menolak menyediakan makanan" saat giliran makanan Dimas disiapkan penjaga kafetaria meminta maaf sambil menunduk sedikit.
"Tidak masalah, kau hanya menjalankan tugas yang harus kau lakukan" Dimas tidak mempermasalahkan hal itu jadi dia dengan cepat mengambil buburnya dan membawanya ke tempat para ilmuwan duduk untuk makan.
__ADS_1
Meskipun Dimas terlihat tidak pada tempatnya tapi dia tetap menikmatinya, mereka membicarakan beberapa hal yang sebagian besar adalah tentang penelitian. Dimas dapat dengan mudah masuk ke pembicaraan mengenai penelitian mengenai fusi nuklir menggunakan semua pengetahuan yang dia miliki. Setelah selesai makan semua alat makan yang digunakan diserahkan kepada petugas kafetaria yang bertugas untuk kebersihan alat makan sedangkan mereka kembali ke laboratorium lagi.
Saat ini di laboratorium profesor Wijaya dan beberapa ilmuwan lain sedang melanjutkan penelitian mereka tentang reaktor fusi nuklir yang dibuat oleh Dimas, mereka tidak ikut ke kafetaria karena memiliki makanan terkompresi yang cukup untuk mereka menahan lapar selama beberapa jam. Pintu laboratorium dibuka dan rombongan ilmuwan serta Dimas yang sebelumnya ke kafetaria telah kembali ke laboratorium. Dimas melihat bahwa profesor Wijaya dan beberapa ilmuwan lain sedang melakukan penelitian memutuskan untuk membantu mereka menjelaskan lebih banyak agar mereka lebih cepat mengerti tentang reaktor fusi nuklir dan dapat membantunya membuat reaktor fusi nuklir lainnya tanpa harus mengambil yang direalisasikan dari laboratorium di benaknya.