Laboratorium Teknologi

Laboratorium Teknologi
Tempat Perlindungan Surabaya


__ADS_3

Tempat perlindungan resmi di dekat pelabuhan tanjung perak hampir sama besarnya dengan tempat perlindungan ibukota yang ada di daerah kalimantan timur, meskipun begitu karena penduduk di kota surabaya yang banyak membuat beberapa pengungsi harus tinggal di koridor sama seperti yang terjadi di tempat perlindungan di kota asal Dimas sebelumnya.


Selain itu tempat perlindungan ini berada pada suhu yang sangat rendah, beberapa orang yang tinggal di koridor tempat perlindungan terlihat memiliki tangan dan kaki yang memucat hingga kebiruan pertanda mereka mengalami radang dingin. Dari apa yang Dimas lihat, sebagian besar dari orang orang ini memiliki gejala radang dingin yang serius dan hanya bisa melakukan amputasi untuk menghindari orang tersebut merasakan rasa sakit yang berkelanjutan.


"Keadaan di tempat perlindungan ini sangat memprihatinkan, ini lebih buruk dari yang aku pikirkan sebelumnya" Dimas berkata kepada jenderal Andika di sebelahnya dengan suara pelan.


Jenderal Andika juga melihat kondisi orang orang di tempat perlindungan ini, pengungsi disini tidak hanya mengalami radang dingin tetapi juga terlihat sangat kurus yang sepertinya mengalami kekurangan gizi akibat kekurangan makanan. Bukan hanya para pengungsi, tentara juga terlihat memiliki gejala radang dingin dan juga terlihat lebih kurus dari tentara yang mereka bawa.


"Kau benar, tampaknya pemanas yang ada di tempat perlindungan ini tidak terlalu baik, selain itu sepertinya mereka juga kekurangan makanan" Jenderal Andika berkata kepada Dimas dengan nada pelan juga.


Jenderal Andika kemudian melambaikan tangan ke salah satu tentara di belakangnya dan membisikan sesuatu kepadanya, tentara itu hanya mengangguk dan setelah selesai tentara tersebut berbalik arah menuju arah mereka masuk sebelumnya.


"Apa yang kau bisikan kepada tentara itu?" Dimas bertanya kepada jenderal Andika.

__ADS_1


"Aku hanya menyuruhnya mengeluarkan sebagian makanan sintetis untuk dibagikan kepada para pengungsi ini, setidaknya makanan sintetis akan bisa membuat mereka kenyang selama sehari" Jawab jenderal Andika.


Para pengungsi yang kebetulan mendengar percakapan antara Dimas dan jenderal Andika terlihat bersemangat, meskipun setiap hari akan ada makanan yang dibagikan oleh para staf namun makanan itu hanya cukup untuk memastikan mereka tidak mati kelaparan dan tidak mungkin untuk makan sampai kenyang.


Seorang anak kecil berusia sekitar 12 tahun menatap ke arah rombongan Dimas yang terus berjalan kemudian menatap bayi yang digendongnya dengan linglung, anak kecil itu kemudian menggertakan giginya kemudian berdiri dan berjalan menyusul rombongan Dimas tanpa menghiraukan tatapan pengungsi lainnya yang menatap dirinya dengan heran.


"Paman, apa kalian punya obat demam? Aku tidak akan mengambil makanan yang kalian bagikan jika kalian memberikan obat demam untuk adikku"anak kecil itu berkata sambil menarik lengan jaket milik tentara yang ada di belakang Dimas.


Suara ini menarik perhatian banyak orang dari rombongan Dimas dan juga menarik perhatian dari banyak pengungsi yang berada di sekitar. Dimas dan jenderal Andika menghentikan langkah mereka dan melihat ke arah suara itu berasal, seorang anak perempuan yang terlihat sekitar 11 tahun atau 12 tahun sedang menggendong bayi dengan tangan kanannya dan tangan lainnya digunakan untuk memegang lengan jaket salah satu tentara.


Tentara yang lengan jaketnya ditarik oleh anak perempuan tersebut terlihat kewalahan dan tidak tau harus berbuat apa, dia ingin segera membuat anak perempuan ini melepaskan lengan jaketnya namun dia tidak tau bagaimana caranya agar anak perempuan ini mau melepaskan lengan jaketnya.


"Kau ingin obat demam?" Dimas berkata kepada anak perempuan itu.

__ADS_1


Anak perempuan yang mendengar perkataan Dimas menoleh ke arah Dimas, dia melepas lengan jaket tentara yang dipegangnya dan menatap Dimas dengan penuh harap. Tentara yang lengan jaketnya telah dilepaskan segera menjauh dari anak perempuan tersebut. Anak perempuan itu melihat Dimas dan merasa bahwa orang ini sepertinya cukup penting dan merasa Dimas bisa memberikan obat demam yang dibutuhkan adiknya.


"Kakak, apa kau memiliki obat demam? Adikku sedang demam tinggi dan memerlukan obat jadi aku mohon berikan sedikit kepadaku" Anak perempuan itu berkata sambil menundukan sedikit kepalanya.


Dimas tidak langsung menjawab anak perempuan itu, dia terlebih dahulu melihat anak itu dan menemukan bahwa tangan dan kaki anak itu pucat kebiruan yang menandakan dirinya mengalami radang dingin. Dari yang Dimas lihat diperkirakan jika dalam beberapa hari anak perempuan ini dibiarkan seperti ini maka tangan dan kakinya diperkirakan tidak akan bisa diselamatkan sama sekali. Dimas kemudian melirik tentara yang sebelumnya lengan jaketnya ditarik oleh anak perempuan ini dan menyuruhnya untuk mendekat, Dimas membisikan sesuatu kepadanya dan kemudian kembali menatap anak perempuan di depannya.


"Kalau kau ingin obat demam untuk adikmu maka ikuti paman tentara ini dan ikuti pengaturannya" Dimas berkata kepada anak perempuan itu dan segera anak perempuan itu mengangguk dengan penuh semangat.


Tentara segera membawa anak perempuan itu pergi menuju ke luar tempat perlindungan, Dimas melihat anak perempuan tersebut meskipun mengalami radang dingin yang sangat parah pada tangan dan kakinya namun masih memiliki kekuatan untuk berjalan dan menggendong seorang bayi. Anak perempuan itu mengingatkan Dimas pada kakaknya yang selalu menjaga dirinya waktu kecil sehingga membuat Dimas merasa dirinya harus membantu anak perempuan itu.


Hal yang terjadi barusan hanyalah sebuah episode kecil dalam kedatangan kelompok Dimas di tempat perlindungan ini, mereka dengan cepat dibawa ke ruangan yang disediakan untuk gubernur dan bertemu dengan gubernur. 


Gubernur sudah mendapat kabar dari bawahannya saat rombongan Dimas datang ke tempat perlindungan ini, saat ini surat perintah evakuasi yang sebelumnya berada di tangan tentara yang sebelumnya menghentikan rombongan Dimas sudah berada di tangan gubernur. Gubernur itu menghela nafas panjang saat melihat jenderal Andika dan Dimas berada di ruangannya, jenderal Andika dan Dimas sendiri masih menunggu gubernur selesai membaca dan memahami semua isi surat tersebut sambil minum teh hangat yang disediakan.

__ADS_1


"Melakukan evakuasi saat ini sudah terlambat, kalian melihat sendiri kondisi para pengungsi yang ada di tempat perlindungan ini, jumlah pengungsi melebihi jumlah yang diperkirakan sehingga untuk dapat mempertahankan selama mungkin persediaan makanan kami memotong sepertiga dari jatah makan yang seharusnya. Selain itu kebanyakan dari orang orang disini menderita radang dingin yang membuat mereka sekarat, memindahkan mereka ke luar mungkin bisa saja membunuh mereka karena suhu tubuh mereka yang semakin dingin. Hal ini karena kesalahan perhitungan yang dilakukan oleh pejabat daerah, mereka tidak memasukan warga asing yang kebetulan tinggal di kota Surabaya" Gubernur berkata dengan berat hati.


__ADS_2