
Menghabiskan waktu 2 jam di ruangan dengan suhu 38° adalah hal yang sangat berat bagi Dimas, saat ini badannya telah penuh dengan keringat yang mengalir deras membasahi tempat tidur. Dimas tidak berani keluar karena takut orang tuanya curiga dengan peningkatan yang dia ucapkan sebelumnya, ditambah saat ini AC yang sebelumnya diberikan ayahnya telah menghilang ke di laboratorium teknologi.
[Item AC temperature controller selesai direalisasikan] suara jernih dari Lunar terdengar yang langsung membuat Dimas bersemangat.
Sebelumnya Dimas telah memberitahu Lunar untuk mengingatkannya bila proses realisasi berakhir agar dia tidak membuang buang waktu dan menambah waktu tunggunya beberapa menit lagi.
"Akhirnya selesai!" Dimas langsung berteriak dengan gembira dan melompat dari tempat tidurnya untuk turun ke bawah.
Menekan konfirmasi kemudian atom atom mulai menyatu menjadi dua hal yang menyerupai bagian luar dan bagian dalam dari AC sentral. Meskipun terlihat seperti AC sentral biasa nyatanya AC ini adalah artefak ajaib dalam menghadapi lingkungan ekstrim dari panas ratusan derajat hingga dingin minus puluhan derajat.
"Ayah, ibu, AC sudah berhasil ditingkatkan!" Dimas membuka pintu kamar dan berteriak dengan keras.
Dimas membawa kedua bagian AC itu dan meletakkannya di lantai tepat di bawah AC di ruang tengah terpasang saat ini. Suara pintu terbuka terdengar oleh Dimas membuatnya menoleh. Yang membuka pintu adalah ayahnya yang terlihat membawa tabung oksigen diikuti dengan ibunya di tepat di belakang ayahnya yang juga membawa tabung oksigen, Dimas mengerutkan kening saat melihat orang tuanya tidak berkeringat sama sekali sementara dirinya berkeringat deras.
Dimas kemudian sadar bahwa kedua orang tuanya datang dari gudang, ruangan pendingin disana pasti masih dalam keadaan dingin saat ini jadi dapat dipastikan kedua orang tuanya telah berada di ruangan pendingin untuk menghindari panas.
__ADS_1
"Kalian dari ruangan pendingin?" Dimas bertanya kepada kedua orang tuanya yang tepat di depannya saat ini.
"Bagaimana kau tau?" Ayahnya balik bertanya sambil tertawa pelan.
Tebakan Dimas benar, sementara dirinya harus berpura pura meningkatkan fungsi AC di dalam ruangan yang panas kedua orang ini malah berada di ruangan pendingin di gudang untuk menghindari panas. Meskipun Dimas tidak ingin bersembunyi di ruangan pendingin namun mengetahui orang tuanya bersembunyi di sana merasa dunia tidak adil.
Melihat tabung oksigen yang dibawa oleh kedua orang tuanya untuk mencegah mereka mati lemas di dalam ruang penyimpanan Dimas jadi ingin membenturkan kepalanya ke dinding untuk membenarkan otaknya. Dimas bahkan tidak berpikir untuk menggunakan tabung oksigen dan alat bantu nafas karena dia tidak menyukai bau daging mentah. Tapi Dimas bagaimanapun juga telah membuat AC temperature controller kali ini yang merupakan Artefak pendingin dan penghangat ruangan tanpa memerlukan tabung oksigen dan alat bantu nafas.
Dimas menghela nafas panjang kemudian menunjuk ke AC di lantai dan berkata "AC itu sudah ditingkatkan, ayo cepat kita pasang agar suhu di sini turun".
Kedua orang tua Dimas terlihat agak ragu dengan perkataan Dimas, mereka melihat AC masih memiliki tampilan yang sama dengan sebelumnya seolah olah tidak diapa apakan oleh Dinas. Meskipun agak ragu tapi mereka percaya pada keterampilan Dimas, sebelumnya banyak peralatan elektronik yang rusak diambil oleh Dimas dan diperbaiki olehnya. Hasilnya adalah semua peralatan elektronik itu berhasil diperbaiki dan bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Dimas dan ayahnya menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam untuk mengganti AC di ruang tengah dengan AC yang dibuat oleh Dimas di laboratorium teknologi. Sebagian besar waktu 1 jam ini dihabiskan oleh Dimas untuk pemasangan bagian luar AC yang yang mengharuskan Dimas untuk keluar dari tempat perlindungan untuk memasang bagian itu, meskipun Dimas masih menggunakan baju anti panas untuk menahan panas namun karena suhu yang terlalu tinggi dan juga kualitas baju tahan panas yang buruk membuat Dimas hampir saja berpindah ke alam lain karena dehidrasi.
"Ayo nyalakan" Dimas yang baru saja membuka baju tahan panasnya di ruang tengah memberitahu ayahnya yang sudah berkeringat deras sama sepertinya. Ibu Dimas baru kembali dari ruangan pendingin lagi dan menatap suami dan anaknya dengan tatapan kasihan.
__ADS_1
Baik Dimas maupun ayahnya tidak memperhatikan tatapan itu, ayah Dimas menekan remote AC dan mengatur suhu ke tingkat terendah yang bisa dicapai oleh AC. Udara dingin mulai berhembus dari AC di ruang tengah, Dimas yang merasakan udara dingin menerpa wajahnya tampak segar dan menghirup udara dingin itu dengan rakus menuju paru parunya.
"Perasaan ini… aku seperti hidup kembali" Dimas yang baru saja menghembuskan nafas membuat wajah penuh ekstasi dan bergumam dengan keras.
"Ya, ini bahkan hampir menyamai suhu di ruangan pendingin" Ibu Dimas juga ikut berkomentar dan membandingkan dengan ruangan pendingin yang digunakannya tadi. Untuk ayah Dimas, dia tidak berbicara sepatah katapun dan menikmati udara dingin yang dibawa oleh AC sambil duduk santai di sofa.
Orang tua Dimas cukup terkejut dengan efektifitas AC yang ditingkatkan Dimas, suhu di siang hari ini bahkan telah mencapai 100° yang sama dengan titik didih air, AC yang ditingkatkan oleh Dimas bahkan dapat bekerja dengan baik dan dengan cepat menurunkan suhu di ruang tengah hingga sama dengan suhu normal di Indonesia sebelumnya yaitu 27° tapi suhu di dalam ruangan terus turun saat ini.
Sebelumnya ayah Dimas mengatur AC ke suhu paling rendah yaitu 16° sehingga suhu akan terus mendingin sampai mencapai targetnya. Ketika suhu menjadi lebih dingin keluarga tiga orang itu akhirnya dibuat kedinginan, rasanya seperti orang yang baru saja terdampar di gurun yang panas tiba tiba dipindahkan ke daerah pegunungan bersalju yang dingin. Tubuh mereka telah merasakan panas sejak kemarin malam menjadi lebih peka dengan perasaan dingin dan mudah merasakan kedinginan.
Dimas yang seluruh pakaiannya basah adalah yang paling menderita, udara dingin segera membuatnya menggigil sehingga tanpa sadar melipat tangannya ke depan untuk mengurangi dingin.
"AC ini sangat kuat, apa kau yakin kau yang membuat ini Dim?" Ibu Dimas bertanya sambil menatap putranya dengan tatapan tidak yakin.
"Tentu saja, aku menghabiskan banyak waktu untuk membuat hal seperti ini" Dimas mengangguk menanggapi pertanyaan ibunya.
__ADS_1
Sejujurnya Dimas kaget saat mendengar pertanyaan ibunya, dia bergidik dengan ketajaman insting seorang perempuan apalagi insting ibunya yang bisa menebak banyak hal dengan benar. Tapi bagaimanapun juga keberadaan Laboratorium teknologi di benaknya tidak bisa dibagikan ke orang lain kecuali dirinya sendiri dan juga meskipun teknologinya disediakan oleh laboratorium namun yang mendesainnya adalah Dimas jadi dia berhak untuk menyebut dirinya membuat AC ini.
"Omong omong ayah, bisa tolong tambahkan suhunya? Aku kedinginan disini?" Dimas mengalihkan pandangan ke ayahnya.