
Beberapa hari kemudian laboratorium bawah tanah Dimas mendapat kunjungan dari jenderal Andika dan juga direktur Mahendra yang telah mendapat kabar bahwa perangkat VR yang diteliti oleh para ilmuwan yang dipimpin oleh Dimas telah selesai dan dapat diproduksi massal sesegera mungkin. Jenderal Andika dan direktur Mahendra masing membawa beberapa orang tentara pasukan khusus yang telah mereka latih untuk ikut mencoba perangkat VR ini dan melihat efek pelatihan yang bisa didapatkan oleh mereka.
"Jenderal Andika, direktur Mahendra, senang kalian berdua mau hadir untuk melihat pengujian lanjutan dari perangkat VR yang baru saja kami kembangkan" Dimas berkata sambil tersenyum dan menjabat tangan kedua eksekutif Garuda tersebut.
"Kesenangan itu milik kami, seharusnya kami berterima kasih karena perangkat VR ini secara khusus dikembangkan untuk membantu pelatihan militer yang menjadi bidang kami" Jenderal Andika membalas perkataan Dimas yang segera disusul oleh anggukan dari direktur Mahendra untuk menyatakan persetujuannya.
"Haha, kalau begitu sebaiknya kita menuju ruang penelitian sekarang, semua orang sudah menunggu untuk melihat apakah perangkat VR ini sudah layak atau memerlukan perbaikan" Dimas tertawa kecil saat mendengar perkataan jenderal Andika, dia segera membawa mereka berdua ke ruang penelitian perangkat VR.
Kedua eksekutif Garuda itu tentu saja tidak menolak, mereka mengikuti Dimas salam diam sambil sesekali melihat Dea yang berjalan di samping Dimas yang membuat mereka menggelengkan kepala sambil tersenyum. Menurut mereka Dimas selalu bersikap dewasa sebelum waktunya namun saat melihat interaksi dari Dimas dan Dea yang sesekali mengobrol dengan berbisik membuat mereka bersyukur karena Dimas masih bisa bersikap seperti remaja normal.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka semua akhirnya mencapai ruang penelitian perangkat VR dan memasuki ruangan tersebut. Saat ini para ilmuwan tidak lagi meneliti dan sedang sibuk memandangi sepuluh perangkat VR yang berbaris dengan rapi di tengah ruangan. Semua orang menoleh saat pintu ruang penelitian tiba tiba dibuka, saat mereka melihat bahwa itu adalah Dimas yang diikuti oleh jenderal Andika dan juga direktur Mahendra mereka segera menyapa mereka semua dengan hormat.
"Profesor Dimas, sepuluh perangkat VR sudah dibuat sesuai dengan permintaan anda sebelumnya dan semua perangkat VR ini bisa langsung digunakan" Salah satu ilmuwan berkata kepada Dimas.
__ADS_1
Dimas mengangguk untuk menanggapi perkataan ilmuwan tersebut dan berkata "Ayo bersiap untuk pengujian, jenderal Andika dan direktur Mahendra sudah membawa beberapa orang tentara yang akan menguji perangkat VR kali ini"
Mereka kemudian pergi ke depan perangkat VR tersebut, para tentara di belakang jenderal Andika dan juga direktur Mahendra saling memandang setelah melihat perangkat VR didepan mereka dengan bingung. Perangkat VR yang ada di pikiran mereka adalah sebuah helm atau kacamata dan saat memakainya mereka bisa mengontrol karakter mereka hanya menggunakan kesadaran, namun perangkat VR disini hampir sama seperti perangkat VR biasa yang membuat para tentara ini agak kecewa.
"Apa VR ini bukan VR full dive? Masih VR yang serupa dengan VR yang ada?" Direktur Mahendra bertanya kepada Dimas.
"Untuk VR full dive sebenarnya bisa dikembangkan dengan menambahkan sensor saraf neuron pada kacamata VR namun itu akan membuat pengguna tidak perlu menggerakan tubuhnya, perangkat VR ini dikembangkan untuk pelatihan militer jadi sebaiknya dibuat seperti ini agar tentara kita bukan hanya dapat melatih mental mereka tapi juga dapat melatih tubuh mereka" Jawab Dimas.
Kemudian Dimas melanjutkan "Jika perangkat VR dapat digunakan di seluruh kalangan masyarakat mungkin kita bisa mulai penelitian sensor saraf neuron ini dan mencocokannya ke kacamata VR"
"Baiklah, karena semua sudah dipersiapkan aku akan meminta jenderal Andika dan direktur Mahendra untuk membiarkan aku mengatur tentara yang mereka bawa" Dimas tidak ingin membuang waktu lagi sehingga dirinya langsung saja memulai pengujian.
Kedua eksekutif Garuda tersebut tidak keberatan dan membiarkan Dimas mengatur sepuluh tentara yang mereka bawa, Dimas mengarahkan mereka untuk memakai pakaian sensor saraf dengan benar kemudian menyuruh mereka berdiri di atas alat gerak dan mengaitkan sebuah kait di bagian belakang pakaian untuk menjaga keseimbangkan pengguna. Sepuluh tentara terlebih dahulu diminta untuk mengetes alat gerak dengan cara berjalan ke segala arah di atas alat gerak tersebut sebelum akhirnya dipasangkan kacamata VR dan juga headset.
__ADS_1
Sekarang suara dari luar tidak dapat didengar oleh para tentara yang mengenakan perangkat VR lengkap, selain itu mereka tidak dapat melihat apapun karena seluruh cahaya yang masuk dihalangi oleh kacamata VR. Untungnya sebelum memasang headset dan kacamata VR mereka sudah diarahkan tentang bagaimana cara mengaktifkan perangkat VR, mereka meraba raba kacamata VR dan menekan sebuah tombol di sebelah kanan yang merupakan tombol untuk mengaktifkan perangkat VR tersebut.
Saat mereka menekan tombol tersebut lingkungan yang mereka lihat berubah dari yang sebelumnya tidak bisa melihat apa menjadi sebuah kota terlantar yang tertimbun salju, secara sekilas pemandangan ini mirip dengan yang ada di dunia nyata dimana sinar matahari bahkan tidak dapat menembus atmosfer Bumi sehingga membuat Bumi seperti berada malam yang berlangsung selama ribuan tahun.
Selain pemandangan yang mereka lihat, ada juga suara angin berhembus dengan sangat kencang disertai dengan salju yang turun dengan lebat dan perasaan dingin yang terasa seperti diceburkan kedalam kolam es yang dinginnya berada pada suhu minus, semua terasa sangat nyata bahkan ada seorang tentara yang mengira dirinya berpindah dunia karena kegagalan dalam pengujian perangkat VR.
"Ini sangat nyata" Ucap seorang tentara, dia melihat ke seluruh tubuhnya dimana dirinya saat ini terlihat mengenakan seragam kamuflase berwarna putih yang sama dengan warna salju di sekitarnya dan sebuah senapan serbu tergantung di lehernya.
Sepuluh orang tentara saling memandang dan bekerja sama dalam diam untuk terlebih dahulu mencari tempat berlindung dari badai salju, mereka melangkah maju sambil memperhatikan lingkungan sekitar dan setelah beberapa menit mencari akhirnya mereka menemukan tempat berlindung yang cukup untuk menahan angin dingin di luar.
Di ruang penelitian perangkat VR sebuah monitor menunjukan sepuluh perspektif berbeda dari sepuluh tentara yang telah memasuki dunia virtual. Dimas bersama yang lainnya menyaksikan monitor ini dengan penuh semangat, bahkan jenderal Andika dan direktur Mahendra sangat terkejut dengan gambar dari perspektif masing masing tentara ini.
"Sempati, biarkan mereka mendengar suaraku" Ucap Dimas.
__ADS_1
Sempati adalah nama kecerdasan buatan yang bertugas mengatur dan mengembangkan dunia virtual, Sempati yang mendengar perkataan dari Dimas hanya berkata "Komunikasi terhubung" dan setelahnya kembali melakukan tugas utamanya dalam mengembangkan dunia virtual.
"Kalian mendengarku? Pergi ke ujung jalan yang dari tempat kalian berlindung dan temukan sebuah bunker bawah tanah di bawah kantor polisi!, pakai perlengkapan yang disediakan disana dan bertahanlah selama mungkin setelah 30 menit!" Dimas tidak menunggu para tentara ini mengkonfirmasi karena dari raut wajah mereka Dimas dapat memastikan mereka mendengar suaranya sehingga dia langsung memberikan perintah kepada mereka.