
"Mas El?" tanya Lamha tak percaya, kenapa kebetulan sekali suaminya ada disini?
"Ini saya kembalikan anak kamu." ucap ustadz Sulaiman. Lamha yang terburu-buru menerima baby A tak sengaja bersentuhan tangan dengan ustadz Sulaiman karena baby A hampir terjatuh, dan pemandangan itu, saat mereka tak sengaja bersentuhan tangan terlihat jelas oleh tuan El.
"Kurang ajar!"
Bug!
Satu bogem mentah meluncur dipipi ustadz Sulaiman hingga dia tersungkur.
"Jangan berani-berani menyentuh istri saya badjingan!" sentak tuan El. Sementara Lamha yang beniat membantu ustadz Sulaiman yang tersungkur malah ditarik paksa oleh tuan El untuk ikut kemobilnya.
"Masuk!" sentak tuan El yang melihat Lamha diam saja tak mau masuk kemobilnya.
"Tapi Lamha kesini sama supir" ucap Lamha.
"Saya bilang masuk!!" bentak tuan El dengan suara menggelegar menandakan jika dia tengah marah besar. Lamha buru-buru masuk kedalam mobil, tak ingin ada keributan dan membuat suaminya bertambah marah. Sepanjang perjalanan, tuan El hanya diam saja. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh membuat Lamha terus beristigfar karena laju mobil yang terlampau kencang.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai dikediaman Graham. Tuan El menyeret Lamha dengan paksa dan membawanya kelantai atas menuju kamar mereka, namun sebelum itu tuan El menyerahkan baby A kepada pengasuh lainnya.
Braak!!!
Tuan El menutup pintu kamarnya dengan kencang.
Bugh!
__ADS_1
Lalu melempar tubuh Lamha ke atas kasur. Lamha yang ketakutan melihat sorot kemarahan dari mata tuan El memilih mundur ketepian kasur dan memegang kedua lututnya dengan erat.
"Kenapa? kamu takut padaku!" ucap tuan El yang masih dengan nada tinggi. Lamha tak menjawab. Dia hanya diam tak berani menatap kearah tuan El.
"Jawab!!!!" bentak tuan El hingga membuat Lamha terkejut karena suara tuan El yang menggelegar dan terdengar menakutkan.
"Ke-kenapa tuan marah sama saya? apa salah saya?" tanya Lamha pelan.
"Kamu masih tanya apa kesalahan kamu hah!!?" ucap tuan El.
"Saya benar-benar tidak tahu tuan, memangnya apa kesalahan saya?" tanya Lamha memberanikan diri.
"Cih! dasar munafik!! pura-pura bodoh dan tidak tahu!" ucap tuan El. Lamha berfikir keras, sepertinya tuan El marah karena baby A di gendong orang asing.
"Itu, tadi saya enggak sengaja bertemu dengan ustadz Sulaiman disana, lalu saya kesusahan untuk belanja dan ustadz Sulaiman menawarkan bantuannya. Jadi saya..."
"Jangan bohong! kamu pasti sudah janjian kan dengan laki-laki keparat itu! kamu menggunakan baby A untuk tameng kalian dalam melakukan maksiat, agar orang yang melihat kalian tidak curiga dan terlihat seperti keluarga bahagia!" tuduh tuan El.
"Itu tidak benar tuan, saya..."
"Dasar murahan! munafik! saya jijik dengan wanita tidak setia seperti kamu! kamu berlindung dibalik gamis dan cadarmu untuk menutupi kebusukanmu! menjijikan!" hina tuan El!
"Cukup tuan! anda sudah keterlaluan memfitnah saya!" tunjuk Lamha diwajah tuan El, kini matanya berani menatap lelaki yang sudah merendahkan harga dirinya itu.
"Saya tidak serendah itu! saya sudah katakan, kami hanya tak sengaja bertemu! lagi pula dia bukan laki-laki brengsek sepertimu!" ucap Lamha yang semakin memantik emosi tuan El yang dipenuhi rasa cemburu buta. Ya, sebetulnya tuan El hanya cemburu, tapi rasa cemburunya itu malah membakar dirinya sendiri.
__ADS_1
"Lalu apa namanya pria yang berani menyentuh wanita yang sudah bersuami!! hah!! jawab!!!" ucap tuan El.
"Itu tidak sengaja! tidak sengaja! hanya bersentuhan tangan bukan berarti anda berhak menuduh macam-macam! mengatakan kami munafik, padahal anda sendiri yang munafik! anda sendiri yang brengsek! didepan mata saya, saya lihat kamu dan wanita itu berpelukan! dan entah apalagi yang kalian lakukan dibelakang saya! yang jelas kamu yang lebih menjijikan!! seujung kukupun, kamu tidak ada apa-apanya dibanding dengan ustadz Sulaiman!" ucap Lamha dengan mata memerah. Air matanya sudah merembes sejak tadi. Meluber kemana-mana saking derasnya.
"Ohh... begitu, terus! terus aja puji laki-laki lain didepan saya! membanding-bandingkan saya dengan lelaki keparat itu!! memang dasar istri durhaka kamu!!" ucap tuan El menunjuk wajah Lamha.
"Lalu saya harus apa saat suami saya sendiri menuduh saya berzina dengan laki-laki lain. Saya harus apa ketika difitnah dan direndahkan sedemikian rupa? saya harus apa ketika... hiks... ketika hati saya terus disakiti dengan ucapan-ucapan menyakitkan yang keluar dari mulut anda? saya harus apa lagi untuk membuat anda membalas perasaan saya? saya... hiks..." Lamha berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan ucapannya dengan suara bergetar.
"Saya capek tuan El, saya juga punya hati. Saya bukan boneka yang selalu bisa anda mainkan. Saya juga mau hidup bahagia. Saya juga ingin dicintai dan mencintai. Tolong... tolong kalau tidak bisa membuat saya bahagia, minimal jangan sakiti saya... hu... hu..." Lamha mengeluarkan semua yang ada dihatinya. Tangisnya pecah dan tak terbendung lagi. Lamha merasa lelah dengan sikap tuan El yang berubah-ubah. Kadang baik, kadang lembut, kadang manis, tapi tak jarang juga menyakiti perasaannya begitu dalam.
Lamha terduduk dilantai. Dia menangis pilu, menangis sesegukan karena tak kuat menahan semuanya sendirian. Rasanya bebannya terlalu berat, hatinya tak sekeras baja. Hatinya bisa lemah dan menyerah ketika dihantam badai secara terus menerus.
"Lamha..." tuan El merasakan sakit yang sama melihat Lamha menangis sampai seperti itu. Akhirnya dia menyadari kesalahannya. Kali ini dia sudah keterlaluan.
"Lamha..." ucap tuan El dengan mata berkaca. Dia mencoba menyentuh pundak Lamha yang bergetar karena menangis.
"Maafkan saya..." tuan El membawa Lamha kepelukannya. Tidak bisa! dia tak dapat melihat Lamha menangis sampai seperti ini. Dia tidak kuat melihat pemandangan menyedihkan ini, hatinya ikut tersayat.
Lamha sendiri masih menangis dan memegangi dadanya yang terasa sesak karena sakit hati yang mendalam.
"Maafkan saya Lamha, jangan menangis. Jangan... Saya minta maaf, saya terbawa emosi." ucap tuan El yang terus mengelus kepala Lamha. Lamha tak bergeming dan masih melanjutkan tangisannya. Namun dibalik itu semua, hatinya menghangat saat tuan El mengelus lembut kepalanya dan menyandarkannya didada bidang pria itu. Aroma maskulin khas tuan El yang masuk ke penciumannya membuat Lamha merasa tenang dan nyaman.
🍁🍁🍁🍁🍁
Mengerikan yuah cemburunya si timbangan oleng. Please ojo amnesia. Udah othor kasih triplek update loh..!
__ADS_1