
"Loh, anda kan tuan Nick? temannya nak El dan Lamha?" tanya bu Asih terkejut.
"Iya bu, saya Nick, saya kesini mau melamar Novi anak ibu." ucap Nickholas. Bu Asih tambah terkejut dengan kabar mengejutkan ini. Kemudian dia mempersilahkan Nickholas untuk masuk ke rumahnya. Mereka semua duduk di kursi tamu. Tidak lama setelah itu Novi datang dengan membawakan empat cangkir teh hangat dan beberapa hidangan lainnya seperti camilan dan kue basah buatannya.
"Silahkan diminum dulu tuan Nickholas." ucap bu Asih mempersilahkan.
"Terimakasih banyak bu, seharusnya tidak perlu merepotkan seperti ini." ucap Nickholas sungkan. Namun kemudian dia mulai menyeruput teh hangat buatan Novi.
"Rasanya segar dan nikmat." ucap Nickholas sambil menatap Novi yang sejak tadi hanya menunduk.
"Terimakasih tuan. Jadi tuan Nick ini pria yang akan melamar Novi?" tanya bu Asih memastikan.
"Jangan panggil tuan bu, panggil Nick saja, dan ibu benar, saya yang akan melamar Novi." ucap Nickholas mantap.
"Lalu kemana orang tua mu nak? tidak ikut?" tanya bu Asih.
"Orang tua saya di Paris bu, mereka tidak bisa hadir kesini." jawab Nickholas.
"Oh begitu, oh iya sudah berapa lama kenal dengan Novi, dan bagaimana kalian bisa saling mengenal?" tanya bu Asih.
"Sudah hampir satu bulan bu, saya pertama kali melihat Novi saat pulang dari sini tempo hari lalu, kemudian secara tidak sengaja kami bertemu lagi saat Novi dipalak beberapa preman. Saya yang menolong nya waktu itu. Dari sana, saya dan Novi saling berkenalan dan kami merasa cocok ya sudah saya putuskan untuk melamar Novi." jelas Nickholas. Bu Asih mangut-mangut.
//
"Ron?" ucap Mia tak percaya.
__ADS_1
"Ikut!" ucap Ron sambil menarik Mia untuk ikut masuk kedalam mobilnya.
Brak!!
"Ada apa?" tanya Mia saat mereka sudah sama-sama berada di dalam mobil.
"Harusnya aku yang tanya, ada apa kesini? aku melihatmu tadi bicara dengan tuan El, apa kamu mau mengganggunya lagi? apa belum puas membuat kekacauan?" tanya asisten Ron dengan wajah memerah.
"Kenapa kamu berfikiran negatif sih, memangnya salah kalau aku menemui El? aku hanya ingin minta maaf sekaligus berpamitan." ucap Mia menjelaskan.
"Aku tidak percaya." ucap asisten Ron.
"Ya sudah kalau tidak percaya, tapi selain dengan El, aku juga ingin berpamitan dengan mu. Tapi kamu tidak ada dikantor tadi." ucap Mia.
"Aku sedang ada urusan diluar." jawab asisten Ron.
"Kapan pulang ke Paris?" tanya Ron.
"Besok pagi." jawab Mia.
"Cepat sekali, padahal aku belum puas mengerjai mu." ucap asisten Ron.
"Memang hal gila apa lagi yang mau kamu lakukan?" tanya Mia.
"Banyak! aku kan orang gila, tentu banyak hal gila yang bisa ku lakukan." ucap asisten Ron dengan wajah sedih. Dia tertawa tapi matanya menyiratkan kesedihan.
__ADS_1
"Kenapa? katakanlah." ucap Mia dengan memasang wajah serius.
"Kenapa apanya? tidak apa-apa. Hati-hati dijalan. Aku harap kenangan terakhir kita tidak akan pernah kamu lupakan." ucap Ron yang kini balas menatap Mia.
"Hanya itu, tidak ada lagi?" tanya Mia.
"Memang kamu berharap aku mengatakan apa?" tanya Ron. Mia memalingkan wajahnya, tak kuat lama-lama di tatap mesra oleh asisten Ron.
"Tidak ada." jawab Mia. Dia meremaas ujung pakaiannya, hatinya sangat berharap Ron mengucapkan kata cinta untuknya. Tapi dia sadar diri, Ron tak mungkin sudi padanya, pada seorang jalaang yang sudah disentuh banyak lelaki. Ron pria baik-baik dan pantas mendapatkan wanita baik-baik pula.
"Aku antar pulang." ucap asisten Ron sambil menyalakan mobilnya.
"Tidak perlu Ron, aku kan sudah memesan taxi online." ucap Mia. Ron tak mengidahkan ucapan Mia dan malah menjalankan mobilnya. Disepanjang perjalanan mereka hanya diam, saling menyelami perasaan dan pikiran masing-masing. Hingga mobil itu terparkir di parkiran apartemen tuan El. Ron mengantar Mia hingga ke depan pintu kamar apartemennya.
"Aku pergi." ucap asisten Ron.
"Ya, selamat tinggal. Semoga kita bisa bertemu lagi dilain waktu." ucap Mia dengan wajah menunduk, karena air matanya sudah hampir menetes, dia tak ingin Ron melihatnya.
"Selamat tinggal Mia, berjanjilah untuk berubah." ucap asisten Ron lirih.
"Selamat tinggal Ron, aku... aku berjanji." ucap Mia dengan suara paraunya. Asisten Ron berbalik hendak meninggalkan tempat itu, begitupula dengan Mia yang langsung berbalik hendak masuk kedalam kamarnya. Namun saat pintu hendak ditutup, asisten Ron tiba-tiba kembali dan menahan pintu kamar dengan kakinya.
"Ada hadiah yang belum aku berikan." ucap asisten Ron dengan mata memerah. Mia mendongak dengan mata sembabnya, dia terkejut saat melihat mata Ron yang juga memerah karena menangis.
"Hadiah apa?" tanya Mia dengan suara parau.
__ADS_1
"Hadiah yang sangat kau inginkan." ucap asisten Ron. Mia melotot tak percaya. Apa itu artinya??
🍁🍁🍁🍁🍁🍁