
"Ron, akh!! pelan sayang, aku... mmhh!" Mia terus meracau tak kala Ron menghantak-hantakkan tubuhnya dengan kuat dan cepat. Mia tak menyangka Ron benar-benar perkasa, sudah empat ronde namun Ron belum juga berhenti menanam biji mentimun di dalam rahimnya. Sebegitunya kah nafsuu seorang bujangan karatan? tapi Mia senang, dia sangat senang, ternyata senikmat ini rasanya bercinta dengan lelaki yang sudah halal baginya. Dia sungguh menyesal karena pernah menjallaang.
//
Sementara ditempat lainnya tuan El tengah melamun di balkon kamarnya, memikirkan sesuatu yang mengganjal dihatinya. Terutama tentang Ron yang akhir-akhir ini sering menunjukkan gelagat aneh.
Lamha membawa secangkir teh hangat ditangannya. Dia sengaja ingin mengajak tuan Ek untuk bicara dari hati ke hati, karena Lamha melihat suaminya itu seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat.
"Mas, ini teh melati buatan Lamha sendiri." ucap Lamha sambil menaruh teh itu dimeja.
"Oh, sayang kenapa kamu repot-repot begini? aku kan bisa minta tolong pelayan yang buatkan." ucap tuan El lembut.
"Enggak apa-apa mas, aku ikhlas. Sekalian ada yang mau diomongin." ucap Lamha dengan mimik wajah serius.
"Ngomongin apa sayang?" tanya tuan El.
"Tadi sore Ibu nelfon mas, katanya Novi sudah dilamar seorang laki-laki dan minggu depan rencananya mereka akan menikah." ucap Lamha.
"Hah?! cepat sekali, kenapa baru kasih kabar? padahal aku berniat menjodohkannya dengan Ron." tanya tuan El.
"Iya mas, Lamha juga kaget, tapi lebih kaget lagi saat mendengar siapa pria yang melamarnya." ucap Lamha.
"Memangnya siapa?" tanya tuan El.
"Tuan Nickholas." ucap Lamha.
"What?!!" tuan El begitu terkejut.
"Iya mas, katanya mereka sudah hampir sebulan menjalin hubungan. Hubungan dekat." jawab Lamha. Tuan El nampak berfikir dan menerka-nerka sesuatu.
"Mas, kok diam saja?" tanya Lamha.
"Enggak, aku hanya masih tidak menyangka sayang." jawab tuan El.
"Mas, kan mas El sama dia rekan bisnis, apa mas El tahu tentang informasi keluarganya?" tanya Lamha.
__ADS_1
"Belum, belum tahu. Yang aku tahu dia pengusaha sekaligus pebisnis yang berasal dari Paris." jawab tuan El.
"Tapi mungkin Ron lebih tahu banyak, kamu bisa tanya-tanya sama dia." ucap tuan El.
"Iya, besok Lamha ke kantor ya, mau tanya-tanya sama asisten Ron. Soalnya Lamha merasakan firasat yang enggak enak." ucap Lamha.
"Iya sayang, sebenarnya kalau kamu mau, sekarang juga bisa, tapi masalahnya Ron hari ini izin satu hari tidak masuk kerja, katanya ada urusan penting, entah apa tapi yang jelas aku tidak bisa melarang, karena ini kali pertama dia izin setelah sekian tahun bekerja denganku." ucap tuan El.
"Oh iya mas, bagaimana kabar tentang Mia?" Lamha tiba-tiba teringat Mia.
"Kemarin dia datang ke kantor, pamit mau pulang ke Paris." jawab tuan El.
"Jadi dia udah pulang ke Paris?" tanya Lamha.
"Sepertinya sudah, karena apartemennya sudah kosong." jawab tuan El.
"Mas El sedih dia pulang?" tanya Lamha.
"Ya enggak lah sayang, kenapa harus sedih, justru aku senang. Karena tidak ada lagi orang ketiga diantara kita. Hanya saja aku masih kepikiran soal kejadian yang menimpa kamu, hingga saat ini aku belum menemukan titik terang. Mudah-mudahan secepatnya. Dan jika belum juga terkuak, aku akan menyewa seorang detektif professional." ucap tuan El.
"Jangan difikir berat-berat mas, Lamha yakin Allah akan segera membukakan jalan kebenarannya." ucap Lamha.
"Sudah mas, mas El mau?" tawar Lamha.
"Mau sih, tapi nanti tehnya jadi mubadzir dong karena enggak ada yang minum." ucap tuan El.
"Minumnya double-double mas, biar mas El tambah enndut!" ucap Lamha sambil tersenyum.
"Jangan dong sayang, enggak lucu masa suami dan istri hamil bersamaan." ucap tuan El sambil terkekeh.
"Mas, kita ngaji yuk, ikut kajian." ajak Lamha.
"Besok ya, kalau urusan ini sudah selesai, aku janji akan ikut kajian. Sekarang belajar dari handphone dulu. Atau sama istri shalehah ini juga boleh." ucap tuan El sambil menyentuh dagu Lamha dengan mesra.
"Mas El bahagia nikah sama Lamha?" tanya Lamha.
__ADS_1
"Menurut kamu?" tanya tuan El.
"Sepertinya sih iya." jawab Lamha.
"Bukan hanya sepertinya sayang, tapi memang iya." jawab tuan El.
"Mas, mama kapan pulang sih? lama banget diluar negeri, Lamha jadi kesepian disini." ucap Lamha yang teringat mama Grace.
"Katanya lusa sudah pulang. Kita jemput ke bandara sama-sama ya." ajak tuan El.
"Iya mas." jawab Lamha.
//
Pagi harinya.
Mia tengah memasangkan dasi dibaju Ron, dia begitu antusias dengan tugas barunya sebagai istri, menyiapkan sarapan, memakaikan baju dan dasi, juga menyiapkan peralatan kerja suaminya kedalam tas kerja milik Ron. Baginya itu semua sangat menyenangkan.
"Sayang, ini ambilah." ucap Ron sambil memberikan sebuah kartu kepada Mia.
"Ini apa sayang?" tanya Mia.
"Itu nafkah dariku. Pakailah untuk menyenangkan dirimu. Kalau bosan, bisa jalan-jalan, belanja atau ke salon." ucap Ron.
"Aku terima, tapi hanya untuk keperluan yang penting-penting saja. Selebihnya akan aku tabung untuk membeli rumah impian kita." ucap Mia.
"Kamu ingin rumah? memangnya di apartemen ini tidak nyaman?" tanya Ron.
"Untuk sekarang nyaman-nyaman saja, tapi kalau kita sudah punya anak, tentu saja rumah adalah tempat tinggal yang paling nyaman." ucap Mia sambil membayangkan anak-anak kecil memenuhi rumah mereka nantinya.
"Aku jadi tidak sabar ingin memiliki anak dari mu." ucap Ron sambil mengelus perut Mia dengan lembut.
"Ya sudah berangkat sana, nanti kesiangan." ucap Mia sambil mengecup pipi Ron sekilas. Ron mengangguk dan mencium kening, hidung dan bibir Mia secara bergiliran. Kemudian Mia mengantar Ron sampai ke depan pintu. Mereka begitu terkejut saat pintu dibuka, ternyata sudah ada orang yang menunggu Ron disana.
"Ron!"
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Siapa ya?