LAMHA DAN TUAN EL

LAMHA DAN TUAN EL
Berkumpul Kembali


__ADS_3

Sesampainya di Indonesia, kedatangan Novi disambut haru oleh Lamha yang memang sudah sangat merindukan adik satu-satunya itu, Lamha merasa lega karena Novi dalam keadaan sehat dan baik-baik saja tanpa kekurangan apapun.


"Alhamdulillah Novi, Kakak senang kamu baik-baik saja," ucap Lamha.


"Loh ya baik-baik saja toh, kan Novi sama suaminya pergi bulan madu. Sekarang dimana suamimu?" tanya bu Asih tanpa merasa curiga sedikitpun. Semua orang disana bungkam dan kini pandangan mereka tertuju kepada Novi untuk mendengar jawaban apa yang akan diberikan Novi.


"Mas Iko masih sibuk bu, ngurusin bisnisnya," jawab Novi lembut.


"Setidaknya istrinya diantar dulu, ini kok malah dibiarkan pulang sendirian," ucap bu Asih yang sedikit kecewa.


"Novi enggak sendirian Bu, kan sama Mas Ron dan Mbak Mia," jawab Novi.


"Iya tapi tetap saja, tanggungjawab nya kurang," jawab bu Asih.


"Sekarang telfon suamimu Ibu mau bicara," lanjutnya lagi. Sontak semua yang ada di ruangan itu ikut deg-degan. Tapi Novi tak kehabisan akal, dia memiliki seribu satu alasan.


"Bu, endak bisa sekarang. Kalau disana saat ini sedang malam hari, Mas Iko pasti sedang tidur. Lagipula Novi capek banget, masa Ibu endak kangen sama Novi dan malah lebih kangen sama menantu Ibu," ucap Novi sambil pura-pura ngambek.


"Siapa bilang Ibu ndak kangen, setiap malam Ibu nungguin telfon dari kamu, sini peluk Ibu," ucap bu Asih seraya membawa Novi kedalam pelukannya. Mereka saling melepas rindu dengan waktu yang cukup lama dan semua itu membuat seisi ruangan ikut larut dalam rasa haru.


Setelah itu Novi langsung istirahat di kamar tamu, karena kamar utama sudah full. Sementara Lamha dan tuan El sendiri memilih untuk menemui Ron dan Mia di apartemennya. Tuan El hendak memberikan hadiah kepada mereka karena sudah berhasil membawa Novi pulang ke Indonesia.


//


"Maaf tuan, ini semua terlalu berlebihan," ucap Ron seraya menggeser cek dan tiket bulan yang diberikan tuan El sebagai bentuk rasa terimakasih nya.


"Ron, tolong jangan menolak. Ini hak kalian," ucap tuan El bersungguh-sungguh.


"Tidak perlu tuan, lagi pula saya dan Mia sudah puas berbulan madu," ucap Ron yang lagi-lagi menolak.

__ADS_1


"Kalau begitu katakan apa kamu yang kamu inginkan sebagai imbalannya," ucap tuan El.


"Tidak ada tuan El, saya merasa ini sudah menjadi kewajiban saya dan Mia, untuk menebus kesalahan Mia kepada Nyonya Lamha, walaupun saya tahu semua ini tidaklah sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Nyonya Lamha," ucap Ron.


"Saya sudah memaafkan Mia, saya memahami jika Mia sampai berbuat seperti itu karena kegagalannya menikah dengan suami saya, wajar saja hal seperti itu terjadi, jadi kali ini saya maafkan. Tapi, tolong agar semua ini dijadikan sebagai pelajaran agar kelak tak ada lagi korban yang bernasib seperti saya ataupun Novi," ucap Lamha.


"Iya Lamha, saya janji tidak akan mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya. Lagipula saat ini saya sudah menemukan bela-han jiwa saya yang sudah menyempurnakan hidup saya," ucap Mia seraya menggenggam tangan Ron.


"Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu, kalian lanjutkan istrirhatnya," ucap tuan El.


"Iya benar, maaf kami mengganggu," timpal Lamha.


"Tidak kok, eh tunggu Lamha, saya bawa oleh-oleh dari Paris, dari Mommy saya," ucap Mia.


"Tidak usah Mia, saya malah jadi merepotkan kalian," tolak Lamha.


"Enggak kok, hanya makanan kecil saja, Mommy terlalu banyak membawakannya. Saya jadi kebingungan menghabiskannya, kamu tunggu disini dulu ya," ucap Mia. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tiga kotak berisi keju Prancis dan Macaron, sejenis biskuit khas Prancis.


"Ini," ucap Mia.


"Banyak sekali, ini malah ngabisin namanya," ucap Lamha sambil terkekeh.


"Saya udah puas dan bosan makan itu, biasanya ibu hamil kan senang ngemil, nah bisa kamu gunakan untuk ngemil, enak loh, saya aja kalau tidak ingat sedang diet bakalan habis berotak-kotak macaron," ucap Mia.


"Kamu diet Honey?" tanya Ron.


"Iya Honey, aku merasa gemukan sekarang," ucap Mia.


"Kalau gemukan wajar Mia, itu tandanya kamu makmur dan bahagia hidup bersama suami kamu," ucap Lamha.

__ADS_1


"Benar apa yang dikatakan Nyonya Lamha, itu tandanya hidup kamu makmur, malah tambah empuk," seloroh Ron tanpa difilter terlebih dahulu. Sontak semua yang ada disana menatapnya.


"Eh, itu anu..." Ron gelagapan sambil tersenyum kikuk.


"Sepertinya kita harus segera pulang Sayang, ada yang sudah konslet otaknya karena sudah tidak sabaran membajak sawah," ucap tuan El menyindir.


"Iya Mas," jawab Lamha.


Setelah itu mereka berpamitan pulang dan kembali ke kediaman keluarga Graham.


Sementara itu Mia dan Ron saling menatap satu sama lain.


"Jadi kan bajak sawahnya?" goda Ron.


"Memangnya tidak lelah?" tanya Mia.


"Tidak, tidak akan pernah lelah untuk yang satu itu," ucap Ron.


"Dasar bujang karatan, sudah tahu rasanya tidak mau berhenti. Dulu cueknya minta ampun," ucap Mia yang mengingat kembali saat Ron memberinya hadiah "spesial" dulu karena tak ingin menyentuhnya sama sekali.


"Masih ingat saja dengan hadiah spesial yang aku berikan," ucap Ron sambil tersenyum menggoda.


"Ish, mana mungkin bisa lupa, baunya seperti limbah kaos kaki!" ucap Mia yang tiba-tiba saja merasa kesal saat mengingat kejadian paling tak mengenakan itu.


"Aku sungguh minta maaf ya, Aku kan hanya ingin menjaga keting-tinganku untuk istriku, karena yang halal lebih nikmat," bisik Ron.


"Hm, I love you," ucap Mia.


"I love You more," balas Ron.

__ADS_1


Setelah itu mereka membajak sawah bersama dan menanaminya dengan benih unggulan dari Prancis berharap hasil padinya bisa jadi beras jasmin atau beras basmati dengan kualitas super.


__ADS_2