
Sudah satu minggu Lamba tinggal dikampung dan dalam satu minggu itu dia berusaha keras dengan menerima jahitan, berjualan dan menjajakan kue basah kewarung-warung sekitar seolah tak terjadi apapun pada dirinya. Bahkan ibunya sendiri sampai geleng-geleng kepala karena Lamha begitu tegar dan tak menunjukkan kesedihannya sedikitpun tanpa tahu jika disetiap sepertiga malam Lamha selalu berdo'a dan memohon keadilan dari yang maha kuasa atas fitnah yang dilontarkan kepada dirinya.
"Nak, istirahat dulu, wajah kamu terlihat pucat. Biar ibu yang melanjutkan jahit bajunya." ucap ibunya Lamha.
"Tidak apa-apa bu Lamha... huee.." Tiba-tiba Lamha merasa mual yang tak tertahankan. Dia berlari kearah kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya disana.
Hueeekkkk!!
Huueeekkk!!
Lamha muntah-muntah tanpa berhenti hingga tubuhnya lemas tak bertenaga.
"Astagfirullah, aku kenapa sih.. duh! kok perut rasanya seperti diaduk-aduk begini." lirih Lamha. Lamha keluar dari dalam kamar mandi itu dengan wajah pucat.
"Nak, kamu kenapa? kok pucat banget, tadi ibu dengan kamu muntah-muntah juga apa kamu..." ibunya Lamha tak melanjutkan ucapannya saat Lamha tiba-tiba seperti orang linglung.
"Bu apa jangan-jangan... Lamha hamil?" tanya Lamha.
"Bisa jadi nak. Ya sudah kalau gitu kamu istirahat saja, biar ibu suruh Novi membelikannya di swalayan terdekat." ucap ibunya Lamha.
"Iya bu." jawab Lamha patuh.
Beberapa saat kemudian...
Lamha kini berada di kamar mandi untuk mengetes kehamilannya dengan alat tes pack. Dan setelah beberapa menit menunggu akhirnya hasilnya keluar, ternyata benar dia sedang mengandung. Alat tes kehamilan itu menunjukkan dua garis merah.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Allah." Lamha bersyukur atas karunia yang sudah diberikan kepadanya, walaupun sekarang dia sedang dalam masa-masa sulit, tapi tak sedikitpun Lamha ingkar dengan nikmat yang sudah Allah berikan kepadanya.
"Gimana hasilnya nak?" tanya ibunya Lamha saat Lamha keluar dari dalam kamar mandi.
"Alhamdulillah Lamha positif hamil bu." jawab Lamha.
"Alhamdulillah, berarti ibu akan segera punya cucu. Oh iya nak, Nak El harus segera kamu beritahu, dia pasti senang dan ucapan talak itu kan tidak berlaku karena kamu sedang hamil." ucap ibunya Lamha.
"Enggak bu, Lamha enggak mau. Biarkan saja dia tidak tahu. Lamha enggak mau semakin sakit hati lagi, Lamha yakin dia enggak akan percaya begitu saja kalau janin yang Lamha kandung saat ini adalah anak dia, dia pasti akan minta tes DNA atau apapun itu. Lamha udah capek bu, Lamha akan besarin anak ini sendiri walau tanpa suami." ucap Lamha mantap.
"Tapi nak..."
"Bu Lamha mohon, Lamha sudah lelah bu, Lamha sudah ikhlas hidup seperti ini saja dari pada jadi istri orang kaya tapi banyak musuh di mana-mana, punya suami yang mudah goyah dan terpengaruh sungguh menyiksa Lamha bu. Pernikahan itu intinya kepercayaan kan, tuan El tidak percaya pada Lamha bu, pernikahan ini sudah tidak dapat dilanjutkan lagi." jawab Lamha.
"Ya sudah, ibu serahkan semua keputusan kepadamu nak, tapi coba sholat malam minta petunjuk dari Allah, minta pertolongan kepada Allah agar semua dipermudah." ucap ibunya Lamha.
tok tok tok
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" jawab ibunya Lamha dari dalam.
"Itu seperti suara..." ucap Lamha tertahan. Ibunya Lamha membukakan pintu itu dan ternyata benar dugaan Lamha, orang itu adalah ustadz Sulaiman yang datang bersama ayah dan ibunya.
"Silahkan duduk nak." ucap ibunya Lamha mempersilahkan. Mereka akhirnya duduk semua di kursi tamu yang tersedia. Lamha membuatkan minum didapur dan setelah selesai membawanya ke ruang tamu lalu ikut bergabung dengan duduk disamping ibunya.
__ADS_1
"Jadi ada apa ya, pak ustadz, ayah dan ibunya datang kemari?" tanya ibunya Lamha.
"Kami kesini datang ingin berniat baik untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara Lamha dan Anak saya Sulaiman. Walaupun saya yakin sekali jika anak saya tidak bersalah dalam hal ini. Tetapi kami tidak mau lepas tangan begitu saja. Apalagi saya dengar nak Lamha sampai diceraikan oleh suaminya." ucap ayahnya ustadz Sulaiman.
"Kalau untuk itu, saya serahkan semua kepada Lamha karena dalam hal ini saya tidak mengerti apapun." ucap ibunya Lamha. Lamha menarik nafas terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan.
"Sebelumnya terimakasih banyak atas niat baik dari ustadz Sulaiman beserta keluarga yang ingin menolong saya. Tapi saya semua sudah terjadi, saya juga sudah berusaha dan mencari bukti atas kejadian itu. Namun tidak membuahkan hasil, pernikahan saya juga sudah berakhir dan untuk ustadz Sulaiman sendiri saya merasa tidak perlu memafkan karena tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya tahu ustadz tidak bersalah. Saya sudah mengikhlaskan semuanya." ucap Lamha.
"Jadi nak Lamha menolak untuk mendapat pertanggungjawaban dari anak kami?" tanya ibunya ustadz Sulaiman.
"Iya saya menolak nya bu, karena ustadz tidak bersalah. Dan saat ini saya sedang hamil." ucap Lamha.
"Apa?? Kamu hamil??" tanya ustadz Sulaiman sedikit terkejut.
"Iya. Maka dari itu saya fikir tidak ada yang perlu tanggung jawab dan dipertanggungjawabkan. Biar Allah saja yang tunjukkan kebenarannya." jawab Lamha.
//
"Bagaimana? apa kamu sudah mendapatkan alamat wanita bercadar itu?" tanya seseorang kepada anak buahnya.
"Sudah tuan, dia tinggal dikampung xxxxxxx" jawab lelaki berkepala plontos berbadan tegap tersebut.
"Good job! kamu boleh pergi." ucap pria itu.
"Tunggu saatnya tiba aku akan datang sebagai orang yang akan kamu anggap pahlawan." ucap pria itu menyeringai licik.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻