
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Nickholas sudah bersiap-siap menuju perusahaan karena pagi ini seluruh anggota dewan direksi mengadakan rapat pertemuan dadakan untuk membicarakan masalah perusahaan.
"Mas, sarapannya yang bener masa satu potong roti aja belum habis sudah langsung minum dan mau berangkat?" tegur Novi saat Nickholas sudah bangkit hendak berangkat ke kantor.
"Pagi ini ada pertemuan dadakan di perusahaan, Saya harus cepat-cepat berangkat," ucap Nickholas menjelaskan.
"Novi boleh ikut enggak Mas?" tanya Novi dengan raut wajah memohon.
"Untuk apa ikut ke kantor, di sana kamu nanti malah bosan," ucap Nickholas.
"Pengen aja ikut, boleh ya?" ucap Novi membujuk.
"Memangnya kenapa kalau dirumah saja?" tanya Nickholas.
"Novi bosen mas, pengen cari udara segar," uca Novi seraya menunduk takut.
"Oke, setelah rapat saya akan langsung pulang dan kita akan jalan-jalan, tapi kamu tunggu di rumah saja, saya janji tidak akan lama, paling lama tiga jam," ucap Nickholas.
"Beneran?" tanya Novi dengan mata berbinar.
"Iya, saya janji," ucap Nickholas sambil melengkungkan senyumnya.
"Makasih Mas Iko... Novi cintaaa sama Mas Iko," ucap Novi kegirangan, saking senangnya dia refleks memeluk Nikcholas dan menciumi wajah suaminya dengan penuh semangat tanpa memperdulikan pelayan yang sedang melihat ke arahnya.
"Sudah, sudah.. kamu tidak malu dilihat yang lainnya?" ucap Nickholas sambil melepas pelukan Novi dari tubuhnya.
__ADS_1
"Eh, iya ya.." Novi tersenyum kuda setelah menyadari tingkahnya barusan.
"Ya sudah, saya berangkat ya," ucap Nickholas sambil menyodorkan tangannya. Tidak seperti biasanya yang langsung melengos pergi begitu saja.
"Eh, ini?" Novi bertanya bingung.
"Ingat, tugas istri," ucap Nickholas. Tanpa membuang waktu Novi langsung meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan khidmat. Dan setelah itu tanpa diduganya Nickholas melabuhkan kecupan dalam di kening Novi.
Cup
"Mas..." Novi menatap tak percaya.
"Jaga diri baik-baik, jangan melakukan apapun. Istriahat saja, tunggu saya pulang," ucap Nickholas dengan tatapan penuh cinta. Walaupun Nickholas tak mengatakan perasaannya tapi Novi dapat merasakan cinta itu dalam bentuk perhatian yang ditunjukan Nikcholas.
"Kenapa menangis, saya kan tidak membentak kamu?" tanya Nickholas.
"Enggak apa-apa, Novi senang Mas Iko sudah mau menerima Novi sebagai istri, bukan sebagai pembantu lagi," ucap Novi sambil mengelap air matanya.
Nickholas tersenyum kemudian membawa Novi ke dalam pelukannya. "Jaga diri baik-baik ya, tunggu saya pulang," ucapnya pelan. Lama mereka berpelukan sampai akhirnya Nikcholas pun berangkat menuju kantornya.
Disepanjang perjalanan Nickholas tersenyum mengingat percintaannya semalam, begitu semangat dan menggebu-gebu. Nickholas yakin setelah menumpahkan benih yang begitu banyak dan berkali-kali, Novi akan segera hamil. Dan dia tidak sabar jika saat itu tiba dimana dia akan dipanggil "Daddy" oleh anaknya kelak. Saat ini dia sudah menyadari dan yakin akan perasaannya, bahwa dia memang benar-benar sudah jatuh cinta kepada wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah adik ipar dari musuh terbesarnya, yaitu tuan El.
"Mungkin Novi benar, aku harus melupakan dendamku pada El dan memulai semuanya dari awal, aku tidak mau kehilangan Novi," ucap Nickholas pelan.
//
__ADS_1
Setelah sampai di perusahaannya Nickholas langsung masuk keruang rapat dimana para dewan direksi sudah menunggunya untuk membicarakan masalah perusahaan. Dua jam lamanya akhirnya rapat itu berakhir, Nikcholas yang fikirannya sejak tadi tertuju kepada Novi segera menghubungi Kendrick anak buahnya yang menjaga kediamannya untuk menanyakan keadaan Novi.
Beberapa kali panggilan tidak diangkat, dan setelah panggilan ke empat barulah Kendrick mengangkatnya.
"Ken, kemana saja? Kenapa sejak tadi tidak diangkat?" tanya Nickholas geram.
"Tu-tuan maaf saya dan yang lainnya tadi diserang oleh orang tidak dikenal dan saat ini Nyonya Novi dibawa pergi oleh mereka," ucap Kendrick dengan terbata.
"Apa?!" Nickholas terkejut bukan main.
"Sial!" Nickholas buru-buru keluar dari ruangan untuk segera ke rumahnya.
Disepanjang perjalanan dia terus marah-marah dengan perasaan berkecamuk.
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit akhirnya Nickholas sampai. Dia langsung menuju ruangan CCTV untuk melihat siapa orang dibalik penyerangan dan penculikan Novi. Dan ternyata orang yang sudah membawa Novi adalah Ron. Iya, Ron lah yang membawa Novi. Dari CCTV itu Nikcholas melihat awalnya Novi terlihat seperti menolak tapi entah apa yang diucapkan oleh Ron, yang membuat wajah Novi seperti terkejut dan pada akhirnya dia ikut bersama dengan Ron keluar dari rumah ini.
"Apa yang sudah dikatakan bede-bah itu sampai Novi mau ikut bersamanya?! Ah, Sialan! awas kau Ron, Aku akan membu-nuhmu! Brengs-ek!!" Nickholas mengamuk dan menendang apapun benda yang ada disana. Termasuk laptop mahal dengan logo apel digigit pun jadi bulan-bulanannya. Duh, kalau dikasih ke penulis Brata Yudha dia pasti tak akan menolak.
"Tidak! aku tidak sanggup jika harus kehilangan Novi, Novi adalah hidupku, tidak akan aku biarkan siapapun mengambilnya dariku," ucap Nickholas dengan raut wajah bingung, frustasi dan linglung. Dia berjalan menuju mobilnya.
Dan saat sampai di halaman rumahnya dia melihat anak buahnya terkapar dan meringis memegangi luka di wajahnya.
"Sialan! gara-gara kalian yang tidak becus, aku jadi kehilangan istriku! lebih baik kalian mati saja!!!!" Nickholas berteriak kencang sekali hingga semua pelayan dan para penjaga dirumah itu ketakutan melihat bos mereka yang mengamuk seperti orang kesetanan.
"Nov, kenapa kamu lebih memilih ikut dengan si brengs-ek itu," ucap Nickholas lirih. Dia terduduk lemas.
__ADS_1