LAMHA DAN TUAN EL

LAMHA DAN TUAN EL
Terpancing


__ADS_3

Keesokan harinya, Nickholas datang ke kampung halaman Novi untuk menanyakan kepastian kepada istri tercintanya itu. Nickholas datang sendirian, sementara Katty dan Miguel memutuskan untuk menunggu di Jakarta.


Hampir delapan jam perjalanan, akhirnya Nickholas sampai di kampung halaman Novi, dan disana dia disambut hangat oleh bu Asih, ibu mertuanya.


"Ayo masuk, makan dulu, kalian pasti lapar ya?" tanya bu Asih saat mereka semua sudah berada di ruang tamu.


"Kami tadi sudah makan kok Bu, oh iya Novi dimana?" tanya Nickholas yang tak melihat keberadaan istrinya.


"Novi sedang rewang di rumah Ustadz Sulaiman," jawab bu Asih.


"Memang ada acara apa bu?" tanya Nickholas.


"Acara nikahan Adiknya Ustadz, sudah sekarang kita makan dulu ya," ajak bu Asih. Mau tidak mau Nickholas menurut dan ikut makan bersama bu Asih dan kedua bodyguardnya.


"Oh iya Nick, nanti bisa bantu Ibu beberes rumah?" tanya bu Asih.


"Beberes? oh, tentu bisa Bu," jawab Nickholas.


"Iya, tapi jangan minta bantuan pada anak buahmu ya," jawab bu Asih.


"Ya tidaklah Bu, kan hanya hanya beres-beres rumah saja bukan tugas yang berat," ucap Nickholas santai.


"Syukurlah, Ibu punya Menantu yang rajin seperti Nak Nickholas," puji bu Asih.


Setelah selesai makan, bu Asih mengajak Nickholas ke gudang rumahnya. Disana banyak terdapat perabotan dan beberapa wajan serta dandang gosong yang tergeletak begitu saja.

__ADS_1


"Coba lihat itu, wajan Ibu sama dandang Ibu gosong dibiarkan begitu saja sama tetangga, itu baru ketahuan. Mereka yang rewang saat acara nikahan kamu dan Novi kerjanya setengah-setengah, malas membersihkan akhirnya malah dibiarkan begitu saja," ucap bua Asih.


"Jadi wajan dan dandang itu dibuang saja?" tanya Nickholas.


"Loh kok di buang, yang dibersihkan toh, kan hanya kotor saja," ucap bu Asih.


"Ooh," jawab Nickholas ber-oh ria.


"Dan yang bersihkan kamu," ucap bu Asih santai.


"Hah?!!!" Nickholas melongo tak percaya.


"Tapi Bu, apa tidak sebaiknya ibu beli yang baru saja, dari pada membersikan wajan gosong begitu, Nickh bisa membelikan lebih banyak dan lebih mahal dari wajan-wajan itu," ucap Nickholas.


"Ibu enggak mau! Itu wajan buatan Almarhum ki Sumanta, yang awet dan tebal sampai sekarang. Di pasar enggak ada yang jual," sela bu Asih.


"Kamu enggak mau bantuin Ibu?" tanya bu Asih.


"Bukan begitu Bu, tapi..."


"Ternyata tidak ada Menantu sebaik Nak El, Nak El itu kemarin disuruh ngelap piring se-lemari saja tidak menolak, dia mengerjakannya dengan baik. El memang Menantu terbaik Ibu, Lamha sangat beruntung memiliki suami seperti Nak El. Walaupun kaya, tapi dia hormat dan manut sama Mertua," ucap bu Asih memanas-manasi Nickholas.


Nickholas merasa panas saat bu Asih memuji-muji tuan El. Dia merasa tak terima.


"Ya ampun Bu, masa hanya ngelap piring saja di puji berlebihan, Ibu lihat saja Nickh akan melakukan hal yang lebih hebat dari apa yang dilakukan El! Nick akan buat wajan-wajan itu jadi seperti baru lagi!" ucap Nickholas yang saat ini sedang terpancing.

__ADS_1


"Oh, syukurlah, ternyata Ibu sangat beruntung punya dua Menantu yang sangat pengertian, seperti kamu dan Nak El. Ya sudah kalau begitu Ibu siapkan penggosok wajan dan pasir dulu, nanti kamu bersihkan di kamar mandi yang luar saja, supaya lebih lega," ucap bu Asih seraya tersenyum senang.


"Iya Bu," jawab Nickholas.


Setelah itu bu Asih menyiapkan alat pembersih wajan dan dandang gosong yang akan dibersihkan oleh Nickholas.


"Hh! Hanya membersihkan wajan saja, apa susahnya. Jelas aku lebih segalanya dibanding El!" ucap Nickholas pelan.


Tiga Jam kemudian...


"Ya ampun, kenapa wajannya belum juga bersih? gosok yang ini kena yang ini, dibersihkan yang ini yang satunya kotor lagi. Ini baru satu wajan yang belum bersih masih ada dua wajan lainnya yang juga menunggu. Ya Ampun! pekerjaan apa ini? Kenapa aku begitu bodoh mau saja membersihkan wajan gosong ini. Oh lihatlah tangan dan kukuku, berubah seperti kuku setan! aku jadi tidak tampan lagi, Novi pasti akan menolakku!!" Nickholas terus saja mengoceh disepanjang pekerjaannya. Tapi walaupun begitu dia tetap semangat mengerjakannya. Dan tanpa disadarinya, Novi sudah pulang sejak tadi dan mendengar semua ocehan yang keluar dari mulut Nickholas.


Novi tersenyum senang, dia cekikikan pelan saat mendengar ocehan Nickholas yang menurutnya begitu lucu. Seperti misalnya saat Nickholas mengatakan jika Novi tak akan menerima Nickholas karena tak tampan lagi. Padahal, dilihat dari sudut manapun, Nickholas adalah pria paling tampan di dunia ini yang bersemayam di hati Novi.


"Hayo! ngintipin suamimu ya!" bu Asih tiba-tiba muncul dari belakang Novi.


"Eh, Ibu. I-iya Bu," jawab Novi malu-malu.


"Kamu enggak mau bantuin dia?" tanya bu Asih.


"Enggak mau, biarin aja, biar tahu rasa jadi adonan gosong!" ucap Novi sambil tertawa kecil.


"Dandan yang cantik, layani Suamimu malam ini, kasihan dia sudah bekerja cukup keras," ucap bu Asih.


Novi tersenyum malu-malu, namun sedetik kemudian dia memeluk bu Asih dengan sangat erat.

__ADS_1


"Makasih ya Ibu, Novi bahagia sekali," ucap Novi dengan rasa haru.


"Iya Nak, Ibu juga bahagia melihat anak-anak Ibu bahagia," ucap bu Asih.


__ADS_2