
"Kita chek in di hotel. Kalau kamu tergoda, aku menang, dan jika sebaliknya maka kamu yang menang. Bagaimana?" tanya Mia.
"Ck! oke aku setuju, jangan terlalu percaya diri, aku tidak akan mungkin tergoda dengan kuman sepertimu." ucap asisten Ron dengan senyum mengembang. Ternyata hanya begitu, hanya itu? ck! mana bisa seorang jalaang menggodanya.
//
Raflesia Hotel
Asisten Ron dan Mia sudah sama-sama berada dikamar hotel.
"Aku mandi dulu." bisik Mia di telinga Ron. Setelah itu dia bergegas masuk kedalam kamar mandi, dan setelah beberapa menit berlalu Mia keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk kimono putih dengan rambut yang dibiarkan tergerai dalam kondisi masih basah. Dalam kaca mata pria normal tentu saja pemandangan seperti itu begitu memanjakan mata. Tapi Ron punya seribu cara untuk melawan perempuan licik sepeti Mia.
Mia berjalan mendekati Ron yang sedang duduk disisi ranjang, dia ikut naik dan duduk dibelakangnya Ron. Lalu memeluk tubuh atletis Ron dengan sangat posesif. Tangannya bergrilyaa nakal ketubuh Ron, mengusap-usap dada bidan Ron dengan begitu menggoda. Kemudian dia menyandarkan wajahnya dipundak Ron dan berbisik dengan manja, "Aku sangat menyukai wangi tubuhmu Ron, kau begitu menggairahkan." bisik Mia.
"Benarkah?" tanya Ron dengan seringai liciknya.
"Tentu saja honey!" ucap Mia dengan nada sensualnya.
"Kalau begitu, tolong tutup matamu. Apapun yang terjadi jangan lakukan apapun. Aku akan memberikan hadiah untukmu. Hadiah yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu." ucap Asisten Ron.
"Benarkah? apa hadiah itu perjakamu?" tanya Mia.
"Lebih dari sekedar perjaka." ucap asisten Ron yang merasa sudah tidak sabaran.
__ADS_1
"Oh, aku jadi tidak sabar." ucap Mia, lalu menutup matanya begitu saja.
"Ayo berikan hadiah mu sayang." ucap Mia dengan mata terpejam. Ron membuka dasinya lalu mengikat kedua tangan Mia kebelakang. Dan membaringkan tubuh rampung itu, lalu dia mencium bibir Mia sekilas.
'Sebenarnya aku tidak tega, tapi harus melakukan hal ini agar dia berhenti mendekatiku.' batin asisten Ron.
"Cepatlah Ron aku sudah tidak sabar." ucap Mia. Ron semakin tersenyum licik. Lalu mendekatkan bokoongnya ke wajah Mia dan...
"Mbruuutt tut tut tut!" suara nyaring dari bunyi AC tubuh Ron membuat Mia langsung illfeel dan murka secara bersamaan. Bagaimana tidak, dia sama sekali tak dapat menutup hidungnya karena diikat oleh Ron.
"Ron Gila!!!!" Mia berteriiak sekencang-kencangnya. Gila! ini benar-benar gila, dia merasa sangat jijik sekaligus illfeel terhadap pria yang saat ini tengah tertawa terbahak-bahak.
"Jadi bagaimana? masih mau main denganku? bagaimana wangi tubuhku? o o ow, aku tahu, pasti wanginya sangat menyegarkan dan menggairahkan." ucap asisten Ron dengan menahan tawanya.
"I hate you! kamu menang, dan aku akan pulang ke Paris, apa kamu puas sekarang?" tanya Mia. Entahlah, perbuatan Ron yang seakan tak ingin bercinta dengan nya hingga melakukan hal gila seperti tadi membuat Mia merasa sakit hati. Dia merasa sangat rendah hingga Ron tak ingin menyentuhnya. Mungkin Ron benar, dia hanyalah seonggok kuman.
"Tentu saja aku sangat puas karena tak ada wanita gila yang terus mengejarku dengan menyodorkan tubuhnya, benar-benar murahan!" ucap Ron tanpa belas kasihan.
"Ya kau benar, aku memang murahan, sehingga wajar jika semua orang memperlakukanku dengan hina." ucap Mia dengan bibir bergetar, kenapa rasanya sangat sakit? dia menangis. Apa yang terjadi kenapa dia jadi seperti ini. Buru-buru dia mengelap air mata di pipinya dan masuk kedalam kamar mandi lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tadi.
"Apa aku sudah keterlaluan?" tanya Ron pada dirinya sendiri.
Klek!
__ADS_1
Mia keluar dengan mata sembab, lalu mengambil tas miliknya dan keluar dari ruangan itu tanpa berbicara sepatah kata pun. Ron mengejar Mia hingga ke lobi hotel.
"Mia! aku minta maaf. Mungkin aku sudah keterlaluan." ucap asisten Ron sambil mencekal lengan Mia. Namun dengan kasar Mia menepis tangan asisten Ron. Dia memesan taxy online, tapi diluar sedang hujan deras sehingga sulit sekali untuk mendapatkan taxi.
"Biar aku antar." tawar asisten Ron. Lagi-lagi Mia hanya diam tak menghiraukan ucapan Ron. Dia kembali fokus dengan ponselnya.
"Kalau tidak mau sebaiknya kembali ke kamar, jangan nekad. Tidak akan ada taxy saat hujan deras begini." ucap asisten Ron. Mia tak menggubris dan terus memainkan ponselnya, saat ini dia merasa ingin menangis tapi entah kenapa? mungkin karena asisten Ron yang memperlakukan nya dengan begitu hina sehingga dia jadi baper. Bulir bening kembali mengalir di pipinya. Melihat itu asisten Ron jadi makin merasa bersalah.
"Aku minta maaf jika aku sudah kelewatan. Tapi jujur aku tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk melawanmu." ucap asisten Ron.
"Apa kamu tidak punya pekerjaan? apa El tidak menghubungi mu? kenapa sibuk mengurusi jalaang seperti ku. Sebaiknya kamu pergi, aku muak melihat wajahmu." ucap Mia dengan membuang pandangannya ke arah lain.
"Apa setelah ini kamu akan kembali ke Paris?" tanya asisten Ron.
"Ya! kamu tenang saja, walau aku masih di Indonesia aku tidak akan mengusik El atau kamu lagi." ucap Mia dengan air mata yang semakin berderai. Mia segera pergi dari sana karena tak ingin terlihat lemah dimata asisten Ron. Namun asisten Ron keburu mencekal nya dan...
Cup
Dia melumaat bibir Mia dengan sedikit agresif namun penuh kelembutan.
"Ini kenang-kenangan dari ku. Berhentilah menjadi jalaang, kamu begitu cantik dan berharga. Hargai dirimu sendiri agar orang lain menghargai mu." pesan asisten Ron. Setelah mengucapkan itu dia pergi meninggalkan Mia yang terduduk lemas.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1