
"Mas, tolong selamatkan Novi mas, tolong..." ucap Lamha memohon kepada tuan El.
"Iya sayang kamu tenang ya, dan untuk ibu, sebaiknya kamu jangan ksih tahu ibu dulu ya, takutnya malah jadi fikiran." ucap tuan El.
"Iya mas, Lamha enggak akan kasih tahu ibu." jawab Lamha.
"Ya udah, kamu istirahat, jangan lupa minum susunya. Mas El mau ke apartemen Ron dulu, mau bertemu dengan Mia." ucap tuan El.
"Untuk apa mas El bertemu dengan dia?" tanya Lamha.
"Mia kan sebelumnya kenal dekat dengan Nick sayang, pasti dia tahu dimana alamat rumah Nickholas di Paris." ucap tuan El.
"Ya sudah, tapi inget jangan berduaan ngobrolnya." pesan Lamha.
"Ya enggak lah sayang, lagi pula dia kan sudah menikah dengan Ron. Kamu tidak perlu cemburu." ucap tuan El sambil mengelus pipi Lamha dengan lembut.
"Lamha enggak cemburu kok." ucap Lamha tersipu malu.
"Yang benar??" goda tuan El.
"Bener, udah sana pergi. Takut kemalaman." ucap Lamha.
"Ternyata istriku sangat cantik kalau sedang cemburu begini." ucap tuan El yang semakin gencar menggoda Lamha.
"iih mas El nyebelin." Lamha merajuk dan memukul kecil lengan tuan El. Tuan El senng melihat Lamha yang seperti ini. Setidaknya untuk sejenak istrinya itu bisa tersenyum dan melupakan kekhawatirannya kepada Novi.
//
"Jujur aku sangat kecewa mendengarnya Mia, aku tak menyangka jika kau akan berbuat senekat itu." ucap tuan El dengan raut kecewa.
"Aku minta maaf, aku tahu kesalahan ku sangat fatal." ucap Mia sambil menunduk.
"Tapi kali ini aku tidak akan membahas itu, ada hal yang lebih penting dan juga genting. Dan aku minta bekerjasama lah dengan baik." ucap tuan El.
"Kerja sama? soal apa?" tanya Mia penasaran.
__ADS_1
"Nickholas menikahi adik perempuan Lamha tanpa sepengetahuan ku. Dan saat ini Nick membawanya pergi, katanya ke Paris. Apa kamu tahu dimana alamat Nickholas?" tanya tuan El.
"Aku tidak tahu El, aku juga tidak begitu mengenalnya dengan baik. Tapi jika kamu butuh informasi, mungkin aku bisa tanyakan teman-teman ku disana," jawab Mia jujur. Tuan El memijit pelipisnya yang terasa sangat pusing.
"Tuan, anda tenanglah dulu, saya sudah membayar orang untuk menyelidiki dimana alamat rumah Nickholas. Kalau anda berkenan, sebaiknya yang ke Paris saya dan Mia saja tuan. Anda tetap disini, temani nyona Lamha, apalagi dia sedang hamil. Tidak baik jika anda berjauhan dengan nya." saran asisten Ron.
"Yang diinginkan Nick adalah aku Ron, dia sengaja membawa Novi ke Paris untuk memancing ku datang kesana, karena dia tahu jika di Paris, kekuatan yang dimilikinya lebih besar dibanding dengan disini," ucap tuan El.
"Percayalah pada saya tuan. Saya berjanji akan membawa Novi pulang dengan selamat." ucap asisten Ron dengan bersungguh-sungguh. Dia ingin menebus kesalahan Mia dengan cara menyelamatkan Novi dari Nickholas.
"Tapi..."
"Ya benar El, aku berjanji akan berusaha keras untuk mencari dan menyelamatkan adiknya Lamha. Percayalah pada kami El," ucap Mia ikut menimpali.
"Baik lah, tapi aku minta tolong beritahu kabar apapun itu yang kalian tahu. Jangan ada yang ditutup-tutupi." ucap tuan El. Ron dan Mia saling mengangguk.
Dan setelah pembicaraan malam itu, keesokan harinya Mia dan Ron berangkat ke Paris.
//
Pagi hari dibelahan bumi yang lainnya, Novi tengah disibukkan dengan cucian baju Nickholas yang menumpuk, karena dia tak tahu cara menggunakan mesin cuci canggih dirumah itu, dengan terpaksa dia mengucek baju mahal Nickholas.
"Ada apa tuan?" tanya Novi.
"Kamu belum masak? terus ini lagi kenapa basah-basahan?" tanya Nickholas.
"Saya lagi nyuci baju tuan." jawab Novi.
"Nyuci baju kok sampai basah-basahan begitu?" tanya Nickholas heran.
"Saya nyucinya dikucek, karena enggak tahu cara make mesin cucinya." jawab Novi jujur.
"Ya ampun Noviiiiii novi!" Nickholas berdecak kesal.
"Begini saja, saya akan mencari pelayan lain yang sudah profesional untuk mengajari kamu. Dan untuk sekarang, kamu ganti baju. Ikut saya ke supermarket belanja bahan masakan dan kebutuhan kamu!" titah Nickholas.
__ADS_1
"Iya tuan," jawab Novi, kemudian dia berbalik menuju kamarnya.
Beberapa saat kemudian
Supermarket
"Disana tempat bahan makanan khas Indonesia, kamu bisa pilih dan ambil sepuasnya. Saya menunggu disana." tunjuk Nickholas ke sebuah kursi tunggu.
Novi mengangguk, kemudian mulai mencari bahan makanan yang tersedia disana. Satu persatu bahan makanan dimasukan kedalam trolli, hingga troli itu hampir penuh Novi langsung beranjak menemui Nickholas. Tapi secara kebetulan dia bertemu dengan Fauzan yang juga sedang berbelanja disana.
"Loh, kamu Novi kan?" tanya Fauzan menyapa Novi.
"Eh, iya saya Novi. Kamu yang semalam anter makanan?" tanya Novi.
"Iya bener, kebetulan banget kita ketemu disini, kamu belanjanya banyak banget." ucap Fauzan.
"Iya buat stok." jawab Novi.
"Hati-hati, disini bahan makanan mahal-mahal. Kangkung aja seikat dua belas ribu kalau dirupiahin." ucap Fauzan.
"Apa iya? kok bisa mahal banget ya?" tanya Novi.
"Ya karena impor, sama aja lah kayak di negara kita, bahan makanan lokal murah, kalau yang impor mahal" jelas Fauzan.
"Oh gitu.." Novi mangut-mangut. Mereka asyik bercengkrama hingga lupa waktu, Nickholas mengeram jengkel karena Novi tak kunjung selesai, dia menyusul Novi ke tempat bahan makanan. Dia begitu marah saat melihat Novi dan seorang pria asing tengah bersenda gurau.
"Novi!!" Nickholas berteriak dengan kencang hingga membuat Novi kaget.
"Eh, kodok budugg!" ucap nya latah.
"Apa kamu bilang? kamu bilang saya apa?!" Nickholas marah bukan main, bisa-bisanya Novi memanggilnya dengan sebutan 'kodok budugg'.
"Ma-maaf tuan, sa-saya..."
"Dia siapa Nov?" tanya Fauzan. Novi yang takut Nickholas marah jika mengakuinya sebagai suami Novi akhirnya memilih berbohong.
__ADS_1
"Dia majikan saya." jawab Novi. Nickholas mengepalkan tangannya dengan kuat, seteah mengatainya, kini Novi tak mengakuinya sebagai suami. Novi harus diberi pelajaran! Nickholas menarik Novi dari tempat itu. Sebelum keluar dari supermarket itu dia menitipkan belanjaannya kepada pelayan disana dan akan diambil oleh sopir nya. Sementara dia sendiri akan memberi Novi pelajaran karena sudah berani-beraninya tidak mengakui Nikcholas sebagai suaminya di depan pria lain.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁