
"Nov! Novi!!!" teriak Nickholas yang baru saja sampai di rumahnya.
"Waalaikumsalam, biasain kalau baru datang dari luar ke rumah, itu ngucap salam dulu," ucap Novi dengan suara lembut dan senyuman manis mengembang di sudut bibirnya. Tak hanya itu, dia juga meraih tangan Nickholas dan menciumnya dengan khidmat, membuat Nickholas hanya bisa menganga karena tak pernah diperlakukan seperti ini. Ada rasa hangat dalam hatinya yang membuatnya merasa adem dan nyaman. Padahal tadi Nickholas sempat membentak Novi sebelum meninggalkannya, tapi kenapa Novi tampak biasa saja dan bahagia-bahagia saja. Ini aneh!
"Ehem! hem..! Ya, saya lupa," ucap Nickholas mencoba menghilangkan rasa canggungnya.
"Mau dibuatin minum apa?" tanya Novi yang lagi-lagi membuat Nickholas bingung karena Novi terus bersikap hangat padanya.
"Tidak usah, saya mau langsung mandi saja," ucap Nickholas sambil melengos pergi ke kamarnya yang diikuti Novi dibelakangnya.
"Saya mandi dulu," ucap Nickholas setelah mereka sampai di kamarnya.
"Iya Mas," ucap Novi yang sontak membuat Nickholas terkejut. Bagaimana tidak terkejut, panggilan 'Mas' yang dilontarkan Novi membuat hatinya berdesir hebat.
"Kamu panggil saya apa tadi?" tanya Nickholas.
"Mas, em... tidak boleh ya?" tanya Novi sambil menunduk.
"Itu..."
"Kan Mas Iko sendiri yang bilang kalau tugas Novi sudah berubah, dari pembantu jadi istri. Novi hanya berusaha jadi istri yang baik untuk Mas Iko, apa itu salah?" tanya Novi yang langsung membuat Nickholas bungkam tanpa mampu berkata-kata.
"Whatever! Saya mau mandi dulu, tolong siapkan pakaian tidur," perintah Nickholas.
"Iya Mas," jawab Novi patuh.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Nickholas yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi begitu terpana saat melihat Novi yang mengenakan pakaian tidur tipis berbahan satin lembut dan kini posisinya tengah duduk dengan manja menunggunya di pinggiran kasur.
"Nov! kamu.. apa-apaan?" tanya Nickholas tanpa mengedipkan matanya sedikitpun.
"Eh, anu Mas, anu..." Novi gelagapan. Dia jadi malu sendiri.
"Anu apa?" tanya Nickholas sambil memicingkan matanya.
"Novi anu, tadi siang anu-anu sama anu," ucap Novi yang panik setengah mati karena Nickholas yang terus mendekatinya.
"Kamu anu-anu sama siapa?!" sentak Nickholas yang salah faham dengan ucapan Novi. Padahal maksud Novi adalah tadi siang dia belajar dengan Maid yang bernama bu Iffah, pelayan senior yang berasal dari Indonesia yang sengaja dipekerjakan di rumah ini agar Novi tak kesepian karena ada orang senegara yang bisa diajak bicara menggunakan bahasa Indonesia. Ya, Novi tadi belajar pada bi Iffah soal bagaimana caranya melakukan tugas-tugas istri. Bi Iffah yang sudah pengalaman soal itu tentu saja langsung mengajarinya dengan mudah, termasuk salah satunya bersolek dan memanjakan mata suami dengan pakaian yang disenangi semua kaum pria. Yaitu pakaian tipis dan tembus pandang, contohnya seperti lingeri yang saat ini dikenakan oleh Novi. Soal dari mana lingerie itu, tentu saja dari bi Iffah. Dia yang memesakan untuk Novi melalui ponselnya.
"Jawab Nov! jangan diam saja!!" Nickholas kembali membentak Novi dengan keras.
"Mas kenapa marah-marah sih?! Emangnya Novi salah kalau mau menyenangkan suami sendiri? Novi bahkan menyingkirkan rasa malu Novi demi menyenangkan suami, tapi apa yang Novi dapat. Mas Iko malah marah-marah enggak jelas, kalau enggak suka ya udah! Novi juga enggak suka pakai baju kayak gini!" ucap Novi dengan mata berkaca-kaca.
"Anu-anu? laki-laki siapa sih? maksudnya Mas Iko apa sih?" tanya Novi dengan raut wajah bingung.
"Kamu sendiri yang bilang kalau kamu tadi anu-anu sama anu, maksudnya apa?" tanya Nickholas yang masih saja dengan kemarahannya.
"Ooh ... ngomong dong dari tadi, hehe.." Novi malah tertawa.
"Kenapa kamu malah ketawa? Kamu ngetawain saya?" tanya Nickholas dengan mata melotot tajam.
"Enggak kok, jangan salah faham. Maksud. Novi tadi itu Novi belajar sama Bi Iffah tentang..." Novi menggigit bibir bawahnya karena merasa malu jika harus melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Tentang apa?" tanya Nickholas.
"Ya tentang itu, tentang tugas-tugas seorang istri," ucap Novi sambil memalingkan wajahnya.
Nickholas mengulum senyum, ternyata ketakutannya tidaklah terjadi. Tunggu, apa tadi? ketakutannya? Kenapa dia merasa takut jika Novi sampai berbuat itu dengan pria lain? Ah ya! tentu saja karena apa yang sudah menjadi miliknya tidak akan pernah dia lepaskan dan tidak akan dia biarkan miliknya disentuh oleh pria lain.
"Mangkanya, kalau bicara itu yang jelas, jangan sepotong-sepotong!" ucap Nickholas dengan nada ketus.
"Lagipula semua usahamu itu sia-sia belaka, karena aku tidak tertarik," bohong Nickholas. Padahal tongkatnya sudah sejak tadi berdiri menjulang tinggi.
Novi memasang raut kecewa, kecewa karena usahanya itu ternyata sia-sia. Eh, tapi kenapa harus kecewa, bukankah itu bagus. Dia tak harus memakai baju menjijikan ini lagi kan? Tapi tetap saja di lubuk hatinya yang paling dalam dia merasa sedih karena tak diinginkan oleh suaminya sendiri.
"Ya sudah kalau tidak suka juga tidak apa-apa. Lagian Novi juga enggak nyaman pakai baju saringan tahu begini," ucap Novi yang tanpa sadar melepas atasan baju itu kemudian dia juga melepas celananya hingga kini tinggallah pakaian dalam penutup bukit dan pengaman lembah segitiga miliknya.
"Kamu sengaja menggodaku, iya kan?" tanya Nickholas dengan mata memerah, entah merah karena apa, karena kabut gairah, atau marah Novi tak tahu. Mungkin saja karena sakit mata karena silau melihat tubuh molek istrinya yang licin seperti baju baru disetrika itu.
"Maksudnya?" Novi masih belum sadar dia sudah membangunkan singa yang lapar. Nickholas mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Novi.
Deg
[Duh! gawat! kenapa bisa sampai kelupaan begini,] Novi membatin sambil tersenyum kikuk.
"Itu-itu.. tuan kan tidak berselera me-melihat saya pakai baju seperti itu, jadi saya kira..."
"Saya memang tidak suka melihat kamu memakai pakaian tipis itu, karena saya lebih suka melihat kamu tidak memakai apa-apa," ucap Nickholas dengan seringai diwajahnya.
__ADS_1
Dan setelah itu terjadilah sesuatu yang semestinya. E-rangan dan le-nguhan memenuhi seluruh penjuru ruangan kamar mereka.