LAMHA DAN TUAN EL

LAMHA DAN TUAN EL
Terenggut


__ADS_3

Bugh!


Nickholas melempar tubuh Novi ke atas kasur miliknya dikamar atas.


"Tuan kenapa marah-marah?" tanya Novi bingung.


"Kamu masih tanya kenapa saya marah?! oke! biar saya ingatkan apa kesalahan kamu!" ucap Nickholas menyeringai licik.


"Maksud tuan apa?!" Novi ketakutan dan beringsut mundur hingga tubuhnya terpentok ujung kasur.


"Kenapa? kamu takut?" tanya Nickholas sembri melepas satu persatu kancing kemeja nya.


"Itu.. tu-tuan mau apa?" tanya Novi sambil memalingkan wajahnya, jujur dia sangat takut sekaligus merasa malu saat pemandangan roti sobek didepan matanya terpampang nyata. Ini pertama kalinya Novi melihat jejeran roti sobek milik pria.


"Kenapa kamu malu-malu begitu? seperti baru pertama kali saja!" cibir Nickholas. Dia merasa jika Novi tengah berakting.


"Memang baru lihat" jawab Novi spontan.


"Jangan membual! aku tidak percaya ada orang sepolos itu di dunia ini!" ucap Nickholas. Dia mulai naik ke atas kasur dan mendekati Novi. Novi makin salah tinggkah dan gelagapan.


"Tu-tuan itu.. anu.. em.." Novi gemetaran saat Nickholas mulai menyentuh pipinya, mengusapnya perlahan memberikan sengatan listrik agar Novi tersetrum gairahnya. Novi menepis tangan Nickholas dengan kasar karena merasa geli.


"Kamu menolakku?!" Nickholas geram karena merasa Novi menolaknya.


"Jangan dekat-dekat tuan, geli." ucap Novi sambil beringsut.


"Geli? kami fikir saya ulat bulu?" tanya Nickholas.

__ADS_1


"Bukan, bukan begitu maksud sa-saya. Anu, tuan kan bilang kalau tuan tidak selera sama gadis kampung seperti saya." ucap Novi mencari-cari alasan.


"Persetan! saya hanya ingin menunjukkan apa kesalahan kamu, supaya kamu sadar diri!" ucap Nickholas sembari menarik lengan Novi dan menariknya agar Novi mendekat. Novi semakin grogi saat Nickholas mendekatkan bibirnya ke bibir Novi, ingin menghindar tapi terlambat. Nickholas keburu menyantap bibir manis semanis madu tersebut dengan lahap, paertama-tama dia hanya mencecap, lama-lama melu mat dan akhirnya menyesap kemudian menerobos masuk dan menikmatinya dengan begitu menggebu. Novi hanya diam saja sambil menutup matanya rapat-rapat karena ini memang pengalaman pertamanya, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan dia malah menahan nafasnya membuat Nickholas merasa kesal.


"Bernafaslah!" titah Nickholas setelah melepas pertautan mereka. Novi menarik nafas sebanyak-banyaknya.


"Gaya berciuman mu sangat buruk! lain kali harus sering-sering latihan agar mahir!" ucapnya lagi.


"Latihan? dengan siapa?" tanya Novi bingung.


"Ya dengan siapa lagi kalau bukan dengan saya!" ucap Nickholas geram. Bisa-bisanya Novi bertanya dengan siapa? memang suaminya ada berapa?


"Ta-tapi..."


"Jangan banyak omong, ayo puaskan saya!" ucap Nickholas sambil menepuk pahanya agar Novi duduk di pangkuannya.


"Dengar Nov, saya paling tidak suka dengan orang yang tidak sadar diri dan posisinya. Kami istri saya, kenapa kamu tidak mengakui saya didepan pria lain? apa kamu ingin mencari selingkuhan?" tanya Nickholas sambil memicingkan matanya.


"Bukan begitu tuan, saya justri takut anda marah kalau saya mengatakan jika tuan adlah suami saya. Karena tuan sendiri memperlakukan saya seperti pembantu dan saya merasa kalau saya lebih cocok jadi pembantu tuan bukan istri." ucap Novi sambil menunduk. Pengakuan Novi membuat Nickholas seketika menampar pipinya sendiri. Dia sampai lupa jika niatnya adalah untuk balas dendam, lalu kenapa dia marah kalau Novi tak mengakuinya sebagai suami?


"Dan saya lebih nyaman menjadi pembantu dari pada jadi istri tuan" lanjut Novi.


"Apa?!" Nickholas tersentak kaget, tak terima dengan pernyataan Novi. Kenapa Novi malah kesenangan dijadikan pembantu olehnya?


"Saya salah lagi?" tanya Novi takut saat melihat Nickholas melotot tajam.


"Kenapa kamu lebih senang jadi pembantu ketimbang jadi istri saya?" tanya Nickholas dingin.

__ADS_1


"Karena saya tidak perlu melakukan kewajiban saya sebagai istri dan kalaupun nanti kita berpisah, saya masih perawaan dan calon suami saya dimasa depan tidak akan kecewa." jawab Novi jujur. Jawabab Novi sontak membuat Nickholas bertambah murka, lancang sekali Novi berkata seperti itu.


"Suami masa depan?" tanya Nickholas dingin.


"I-iya, kita pasti akan berpisah kan, tuan akan melepaskan saya ketika nanti tuan menemukan wanita yang tepat untuk dijadikan istri." ucap Novi.


"Oh, sebegitu inginnya kamu berpisah dengan saya?" tanya Nickholas dengan telinga yang mulai berasap.


"Ya untuk apa menikah, kan lebih baik berpisah kalau sampai kapanpun tuan tidak bisa mencintai saya, begitupun sebaliknya." ucap Novi tanpa beban.


"Dan setelah berpisah kamu mau mencari suami masa depan?!" tanya Nickholas dengan mata memerah.


"Iya," jawab Novi jujur.


"Kalau begitu katakan goodbye! pada calon suami masa depanmu, karena detik ini juga saya akan mengambil mahkotamu!" bisik Nickholas. Novi melotot kaget, seketika rasa takut menyelimutinya.


"Jangan.. to-tolong jangan," ucap Novi memelas.


"Saya tidak terima penolakan! ingat Novi kamu istriku dan saya berhak mendapatkan nya!" sentak Nickholas.


"Tidak! kamu tidak berhak, kamu suami dzolim, suami dzolim tidak halal menikmati istrinya." ucap Novi sambil menggeleng.


"Setelah tidak mengakui saya, sekarang kamu bilang saya suami dzolim?" tanya Nickholas semakin marah.


"memang tuan suami dzolim, apa namanya suami yang menikahi istrinya hanya untuk dijadikan alat balas dendam?!" tanya Novi.


"Saya tidak perduli! pokoknya malam ini kamu harus melayani saya!" ucap Nickholas. Kemudian dia mulai melakukan hal itu, mengambil paksa mahkota Novi yang masih tersegel rapat.

__ADS_1


🌿🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2