
"Daddy, Katty duluan ke mobil," bukannya menolong ustadz Sulaiman, Katty si tersangka utama malah kabur menuju mobilnya. Dan sebelum pergi dia tersenyum mengejek ke arah ustadz Sulaiman yang tengah meringis kesakitan.
"Katty!!" Miguel mengeram kesal atas ulah putri satu-satunya itu.
"Saya minta maaf, sekali lagi saya minta maaf," ucap Miguel tak enak hati.
"Tidak apa-apa Tuan, hanya kecelakaan kecil," ucap umi Maryam yang sedari tadi terus beristighfar melihat kelakuan aneh dari seorang gadis. Disisi lainnya dia juga merasa kasihan melihat putranya yang dizolimi sedemikian rupa oleh seorang wanita.
Ustadz Sulaiman hanya bisa menatap kepergian Katty dengan kesal.
//
Kediaman keluarga Graham
"Nov, Boleh Kakak duduk disini?" tanya Lamha saat Novi tengah duduk di taman belakang rumah.
"Boleh Kak, silahkan aja, Kayak kesiapa aja," ucap Novi mempersilahkan.
"Takutnya Kakak ganggu," ucap Lamha.
"Enggak kok, Kak Lamha enggak ganggu sama sekali," ucap Novi.
Lamha duduk disebelah Novi.
"Kamu pasti sedang mikirin nasib pernikahan kamu ya?" tanya Lamha langsung ke intinya.
"Eh, itu..."
"Dan Kakak menjadi pertimbangan kamu untuk melanjutkan pernikahan kalian atau tidak, benarkan?" tebak Lamha.
"Enggak kok Kak, Kakak jangan sampai kepikiran soal itu," ucap Novi berusaha membantah.
"Kakak sudah memaafkannya, Ikhlas Lillahita'ala," ucap Lamha seraya tersenyum ramah.
"Tapi Novi yakin rasa trauma itu masih membekas di hati Kak Lamha, karena memang apa yang dilakukan oleh Mas Iko sudah keterlaluan," ucap Novi sendu.
"Tidak ada kejadian di dunia ini yang tanpa kehendak dari Allah, jika itu terjadi maka ada hikmah dibalik kejadian itu, yang Kakak yakini sebagai ujian pernikahan Kakak dengan Tuan El. Dan Kakak sudah Ikhlas, untuk dosanya, biarlah menjadi urusan Nickholas kepada Allah. Entah bagaimana caranya dia bertobat, Kakak tidak tahu, yang jelas tugas Kakak adalah memaafkan tanpa menyimpan dendam." Ucap Lamha seraya tersenyum manis.
"Kakak memang wanita hebat, pantas Allah memberikan hadiah berupa Suami dan Mertua yang sangat baik kepada Kakak. Novi bangga sama Kakak," ucap Novi seraya memeluk Lamha dengan sayang.
"Iya, sekarang keputusan ada di tangan kamu, jika kamu yakin berumahtangga dengan Nickholas akan membawamu ke Syurga, maka pertahankanlah, tapi jika tidak yakin dan merasa ragu, sebaiknya tinggalkan," ucap Lamha menasehati.
__ADS_1
"Iya Kak, Novi akan sholat Istikharah dulu untuk meminta petunjuk," ucap Novi. Lamha tersenyum dan mendekap Novi tak kalah erat.
Dan semua itu disaksikan langsung oleh bu Asih. Dia merasa terharu melihat pemandangan yang menyenangkan hatinya itu.
"Lihat Pak, kamu berhasil mendidik anak-anak kita," ucap bu Asih pelan.
"Dan sekarang tinggal kasih hukuman untuk menantumu yang Nakal itu," ucap bu Asih yang seketika teringat wajan dan beberapa alat masak gosong miliknya yang berada di gudang.
//
Dua hari berlalu, bu Asih dan Novi memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Karena bu Asih lebih merasa nyaman tinggal di sana, selain itu ada rencana lain yang sudah dipersiapkan untuk menantu kesayangannya yang saat ini sedang berjuang mendapatkan maaf dari Novi. Bu Asih sengaja mengajak Novi pulang kampung agar Nickholas menyusulnya kesana.
"Bu, apa ndak tunggu besok saja? Mas Iko kan besok mau kesini," ucap Novi.
"Kalau dia mencintai kamu dan mau memperjuangkan kamu, dia pasti akan menyusulmu ke Kampung," ucap bu Asih.
"Sudah, manut apa kata ibu," lanjut bu Asih.
"Tapi Bu,"
"Kamu percaya kan sama Ibu, Ibu ingin yang terbaik untuk Novi," ucap bu Asih seraya mengelus pipi mulus Novi yang saat ini tengah dilanda kegundahan.
Keesokan harinya...
Novi dan bu Asih sudah berada di kampung halamannya. Novi yang tangah dilanda gundah gulana belum bisa melakukan kegiatan dan pekerjaan seperti biasanya.
"Nov, Ibu dengar Sharoh adiknya Ustadz Sulaiman hari ini bertunangan, kita nyumbang kesana yuk," ajak bu Asih.
"Sharoh Bu? Masa sih?" tanya Novi tak percaya.
"Iya, baru selesai sarjana langsung ada yang meminang," ucap bu Asih.
"Berarti Ustadz Sulaiman keduluan dong Bu," ucap Novi.
"Ya mau bagaimana lagi, Ustadz Sulaiman belum ketemu jodohnya," ucap bu Asih.
"Kasihan ya Bu, setahu Novi dia itu sudah memendam rasa sejak lama kepada Kak Lamha, bahkan sebelum Kak Lamha mengenal Almarhum Mas Maulana," ucap Novi.
"Sudahlah, tidak perlu membahas yang tidak perlu dibahas, Kakakmu sudah bahagia dan Ibu yakin Ustadz Sulaiman akan menemukan jodohnya sendiri," ucap bu Asih.
"Iya Bu, ibu benar," jawab Novi.
__ADS_1
Sementara itu ditempat lainnya, Nickholas harus menelan kekecewaan saat mendengar penuturan tuan El jika Istrinya dibawa pulang oleh ibu mertuanya ke kampung halaman.
"Jangan membohongiku El!" ucap Nickholas.
"Kalian pasti menyembunyikannya," tuding Nickholas.
"Untuk apa aku berbohong, jika tidak percaya tanyakan saja pada Istriku," ucap tuan El seraya menunggu kedatangan Lamha yang saat ini tengah membuatkan minum.
Dan tak lama Lamha datang dengan empat cangkir teh hangat ditangannya.
"Seharusnya tidak perlu repot-repot Nak," ucap Miguel.
"Tidak merepotkan, tempo hari kami kurang memberikan pelayanan yang baik kepada tamu, saat ini biarlah kami menyambut kalian sesuai dengan ajaran yang baik, memuliakan tamu seperti ajaran Rasulullah," jelas Lamha.
"Luar biasa sekali, semoga Tuhan selalu menyertaimu," puji Miguel.
"Terimakasih pak," jawab Lamha.
"Ehem! hem! jadi apa benar jika Novi pulang ke kampung Lamha?" tanya Nickholas.
"Kak Lamha! sebut Kak Lamha, jangan panggil nama, yang sopan pada Kakak Iparmu!" Ralat tuan El.
"ish! kau ini sangat menyebalkan!" ucap Nickholas kesal.
"I.."
"Jangan di jawab sebelum dia memanggilmu dengan benar," potong tuan El saat Lamha hendak berbicara.
"Tapi Mas..."
"Ck!" Nickholas berdecak kesal.
"Baiklah, jadi Kakak Ipar, apa benar Novi ikut pulang bersama Ibu ke kampung?" ucap Nickholas mengulangi pertanyaannya.
"Iya benar," jawab tuan El.
"Aku tidak bertanya padamu!" jawab Nickholas.
"Aku kan juga Kakak Iparmu!" ucap tuan El santai.
Lamha, Miguel dan Katty hanya bisa mengelus da-da masing-masing karena Nickholas dan tuan El tak henti-hentinya bertengkar.
__ADS_1