
"Jadi yang tadi itu apa artinya Mas?" tanya Novi sembari mengelus permukaan da-da Nickholas yang berbulu lebat.
"Penasaran banget ya?" tanya Nickholas.
"Iih, jawab dong, Novi penasaran pake bingits!" ucap Novi sedikit merajuk.
"Oke, oke.. itu tadi artinya..."
Drettt Dreetttt
Tiba-tiba ponsel milik Nickholas berbunyi nyaring. Nickholas segera mengambil ponselnya dan melihat kontak yang menghubunginya. Dia mengernyitkan dahinya begitu melihat id caller menampilkan kontak bernama Katty.
'Mau apa dia telfon?' gumam Nickholas.
"Siapa Mas?" tanya Novi yang penasaran karena Nickholas tak langsung mengangkat panggilan telfon itu.
"Eh, bukan. Bukan siapa-siapa, hanya orang salah sambung saja," bohong Nickholas. Dia langsung mematikan ponselnya seketika itu juga.
"Ooh, Mas Iko belum jawab pertanyaan Novi. Yang tadi itu artinya apa?" tanya Novi penasaran.
"Itu..." Nickholas mendadak gugup.
"Itu apa?" Novi semakin mendesak.
"Artinya... A-aku..."
"Mas Iko kenapa?" tanya Novi khawatir karewna wajah Nickholas yang mulai pucat dan berkeringat. Dia mengelap keringat di wajah Nickholas dengan tangannya. Mengusapnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, sehingga Nickholas merasa begitu diperhatikan dan dicintai sedemikian rupa.
"Sebelum saya menjawab, apa boleh saya tanya sesuatu?" tanya Nickholas.
__ADS_1
"Tanya apa Mas?" tanya Novi.
"Apa kamu mencintai saya?" tanya Nickholas sambil menatap dalam mata Novi.
"No-Novi.. em..." Novi menunduk malu. Kalau boleh jujur sejak pandangan pertama ketika mereka bertemu Novi sudah jatuh hati kepada Nickholas. Dan entah kenapa walaupun dia diperlakukan dengan kasar sedemikian rupa, rasa cintanya sama sekali tak pernah hilang. Apalagi Nickholas sudah mengambilnya mahkotanya, rasa itu justru malah semakin besar.
"Mas Iko kenapa tanya begitu?" ucap Novi pelan.
"Jawab saja Nov," ucap Nickholas harap-harap cemas.
"Iya Mas, dari sejak pertama kita bertemu, Novi sudah jatuh cinta sama Mas Iko," cicit Novi pelan, namun demikian Nickholas masih dapat mendengarnya. Nickholas menyunggingkan senyumnya. Dia kira Novi membencinya atas perlakuan kasarnya selama ini, tapi malah sebaliknya. Jadi tak ada alasan untuknya menunda mengutarakan perasaan yang sesungguhnya.
"Saya senang kamu mencintai saya Nov. Yang tadi itu artinya..." tiba-tiba Nickholas teringat akan janjinya kepada sang daddy untuk menikahi Katty setelah selesai membalaskan dendamnya. Dan semua itu sukses membuat kepalanya berputar hebat. Disisi lain dia menyadari jika dia sudah jatuh cinta kepada Novi, tapi janjinya kepada sang daddy pun tak bisa disepelekan.
"Artinya kamu sangat cantik," ucap Nickholas berbohong. Novi tersipu, walaupun Nickholas tak mengucapkan kata cinta tapi dia sudah cukup senang dan bahagia karena ini pertama kalinya Nickholas bersikap manis.
"Lalu apakah Mas Iko juga memiliki perasaan yang sama kepada Novi?" tanya Novi harap-harap cemas.
"Belum, karena saya bukan tipe orang yang mudah untuk jatuh cinta," ucap Nickholas. Mau tak mau dia harus tega sebelum semuanya selesai. Dia melihat raut wajah kecewa dan kesedihan di wajah Novi yang menunduk.
"Apa kamu kecewa?" tanya Nickholas pelan.
"Enggak kok Mas," jawab Novi seraya tersenyum getir.
"Tapi raut wajahmu berubah, itu artinya kamu kecewa," ucap Nickholas.
"Enggak apa-apa. Hanya sekedar kecewa, nanti juga sembuh sendiri. Perasaan mana bisa dipaksakan. Novi akan terus berusaha semoga Allah memberikan rasa cinta itu pada Mas Iko agar cinta Novi tak bertepuk sebelah tangan. Tapi jika memang takdirnya Novi bukan bersama Mas Iko, ya sudah Novi pasrah saja," ucap Novi.
"Maksudmu apa berkata seperti itu? Kamu berharap tidak berjodoh dengan saya sehingga kamu bisa pergi meninggalkan saya begitu?" tanya Nickholas sambil menatap Novi dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ya kalau bukan jodohnya kita bisa apa, Allah maha pembolak-balik hati hambanya, mungkin saja suatu saat nanti Mas Iko bertemu wanita lain yang mampu membuat Mas Iko jatuh cinta dan dengan sendirinya Mas Iko melepaskan Novi," ucap Novi sendu.
"Jangan pernah bermimpi, sampai matipun saya tidak akan pernah melepaskanmu. Kamu akan tetap menjadi istri saya selagi saya masih bernafas. Karena kamu milikku," tegas Nickholas. Novi mendongak dan menatap bingung.
"Novi milik Allah Mas, Mas Iko juga milik Allah, jangan seperti itu. Kalau begitu Mas Iko terkesan arogan," ucap Novi hati-hati.
"Kenapa kamu selalu membawa-bawa Allah, kita kan tidak sedang pengajian?!" ucap Nickholas ketus.
"Ya ampun Mas Iko, kenapa harus pengajian dulu baru ingat Allah. Segala sesuatu harus melibatkan Allah Mas, apapun itu, jika tidak kita akan merugi," ucap Novi.
"Ini urusan dunia Novi, stop berceramah!" ucap Nickholas.
"Terserah Mas Iko saja, memang susah bicara sama orang pintar seperti Mas Iko," ucap Novi kesal.
"Kenapa jadi kamu yang marah?" tanya Nickholas.
"Novi tidak marah," ucap Novi masih dengan nada kesal.
"Kalau tidak marah kenapa ketus begitu?" tanya Nickholas.
"Novi malas bicara sama orang yang susah menerima kebenaran, merasa benar sendiri dan tidak mau menerima nasehat dari orang lain. Novi enggak mau hidup dengan manusia egois seperti itu!" ucap Novi ketus.
"Tapi..."
"Sudahlah, Novi mau mandi!"
Novi beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Nickholas sampai tercengang melihat Novi yang seketika mendadak galak.
'Kenapa jadi dia yang galak?' gumam Nickholas.
__ADS_1
"Novi enggak galak, Mas Iko saja yang keras kepala!" sahut Novi yang ternyata mendengar gumaman Nickholas barusan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁