
"Siapa wanita itu?" tanya pria paruh baya yang disebut daddy oleh Nickholas.
"Dia, alat untuk membalaskan dendamku pada El Dad," ucap Nickholas.
"Ingat Nick, kau sudah berjanji untuk menikahi Katty, jangan sampai kau mengingkari itu," ucap pria paruh baya itu.
"Aku akan menikahi Katty jika dendamku sudah terbalaskan dan melihat El hancur sehancur hancurnya," jawab Nickholas.
"Kenapa tidak kau miskinkan saja dia, buat dia hidup melarat!" ucap lelaki tua itu.
"Tidak semudah itu Dad," ucap Nickholas.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya? apa melenyapkan gadis itu?" tanya pria tua itu.
"Tidak, tidak mungkin aku membun*h orang yang tidak bersalah, aku hanya ingin memisahkan gadis itu dengan keluarga istrinya El, sehingga El disalahkan dan..."
"Bagaimana jika ternyata rencanamu itu gagal?" tanya pria tua itu.
"Aku yakin tidak akan gagal, karena aku sudah bertindak sejauh ini," ucap Nickholas.
"Baiklah, aku beri waktu dua bulan untuk menyelesaikan dendam masa lalumu. Setelah itu, aku tunggu tanggal baik pernikahan dari mu," ucap pria itu.
"Dua bulan? tapi itu terlalu cepat Dad," ucap Nickholas.
"Ya atau tidak sama sekali?" tanya pria tua itu dengan sorot mata tajamnya.
"Oke baiklah, dua bulan aku akan menyelesaikan semuanya," putus Nickholas.
//
__ADS_1
"Mas, jangan deket-deket!" ucap Lamha sembari menjauhi tuan El.
"Loh, kenapa Sayang?" tanya tuan El bingung.
"Mas El bau!" ucap Lamha ketus.
"Tapi aku baru saja selesai mandi," ucap tuan El sembari menciumi ketiak dan sekitaran tubuhnya.
"Tapi Mas El bau, jangan deket-deket!" ucap Lamha sambil bergidik jijik.
"Ya sudah aku mandi lagi saja," ucap tuan El dengan wajah kesal. Dia kembali ke dalam kamar mandi dan kembali membasuh tubuhnya, dengan sekuat tenaga di membersihkan setiap bagian tubuhnya hingga benar-benar kinclong. Setelah dirasa cukup, tuan El kembali menemui Lamha.
"Gimana? sudah wangi kan?" tanyanya.
"Huueeekk!!" Lamha malah mual dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Tuan El semakin merasa heran. Dia yang merasa khawatir langsung ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan mendekat!" ucap Lamha menahan tuan El agar tak mendekatinya.
"Tapi..."
"What?!! bau kentut mobil?" tanya tuan El.
"Iya, bau kentut AC yang suka bikin muntah saat perjalanan jauh.," ucap Lamha.
"Tapi..."
"Udah Mas El pergi dulu deh, Lamha males lihat wajah Mas El, jelek kayak orang-orangan sawah," lagi-lagi Lamha menghina suaminya. Sungguh di dalam hatinya dia merasa sangat berdosa, tapi entah kenapa dia ingin sekali menghina dan menjauh dari tuan El. Seperti ada rasa dendam kesumat yang ingin dilampiaskan. Lamha jadi bingung kenapa dia jadi seperti ini? kenapa perasaannya tiba-tiba berubah, seperti benci dan tidak suka pada tuan El.
"Kamu ngomong apa sih Lamha, saya salah apa?" tanya tuan El meminta penjelasan.
__ADS_1
"Enggak tahu, pokoknya Mas El pergi dari sini secepatnya. Lamha enggak mau lihat wajah Mas El," ucap Lamha.
"Tapi Sayang..." El tak melanjutkan ucapannya saat mendapat plototan tajam dari Lamha. Akhirnya dia mengalah dan keluar dari dalam kamarnya dengan perasaan kesal.
Dia menghampiri mama Grace dan bu Asih yang tengah bercengkrama di taman belakang.
"Ma, Bu," sapa tuan El.
"Ada apa Sayang?" tanya mama Grace. Mama Grace dapat menebak jika putranya itu sedang ada masalah, telihat dari raut wajahnya yang kusut semrawut.
"Lamha Ma, dia aneh," adu tuan El.
"Aneh? kenapa dengan Lamha Sayang?" tanya mama Grace khawatir begitu juga dengan bu Asih yang nampak menantikan jawaban menantunya itu.
"Masa Lamha enggak mau dekat-dekat dengan El, dia juga bilang El bau, El jelek seperti... ck!" tuan El berdecak kesal.
"Lebih parahnya dia tidak mau dekat-dekat dengan El," lanjutnya lagi. Bu Asih dan mama Grace saling berpandangan.
"What happened? apa kalian sedang bertengkar?" tanya mama Grace.
"Apa kamu menyakiti anak Ibu lagi?" bu Asih ikut menimpali, awas saja jika sampai El menyakiti Lamha, dandang dan wajan gosong menanti.
"No, enggak sama sekali. Tadi malam kami bahkan masih bercinta seperti biasanya. Tapi entah kenapa dia jadi seperti itu," ucap tuan El menjelaskan.
"Mama enggak percaya, ini pasti kamu berbuat ulah kan? mangkanya Lamha sampai seperti itu," ucap mama Grace. Tuan El hanya menggeleng.
"Ya sudah ayo Bu Besan, kita tanya saja Lamha," ajak mama Grace kepada bu Asih.
"Iya Bu Grace sebaiknya kita tanya Lamha saja," ucap bu Asih yang kini menatap tajam kepada menantunya.
__ADS_1
Tuan El menarik nafas dalam, tadinya ingin mengadu dan mendapat simpati dari mama dan ibu mertuanya, eh malah kena semprot dan dituduh yang tidak-tidak. Perasaannya semakin kacau saat ini, bukan mendapat solusi malah semakin menambah masalah. Akhirnya dia memutuskan untuk bermain piano saja, hobi yang sudah lama tidak dia mainkan.