LAMHA DAN TUAN EL

LAMHA DAN TUAN EL
Pahlawan Kesorean


__ADS_3

Lamha yang tengah mengayuh sepedanya tiba-tiba terhenti karena dihadang beberapa preman.


"Berhenti!" ucap salah satu preman tersebut. Lamha menghentikan sepedanya.


"Ada apa?" tanya Lamha setenang mungkin. Dalam hatinya ia terus berdzikir meminta pertolongan dari Allah.


"Minta duit." ucap salah satu dari mereka. Ternyata preman itu berniat memalak Lamha.


"Saya tidak ada uang. Kalau mau uang seharusnya kalian bekerja, usaha dengan jalan yang halal." ucap Lamha yang seketika membuat para preman itu marah.


"Gua enggak butuh ceramah dari elo! yang gua butuhin duit elo! siniin dompet Lo!" ucap salah satu preman tersebut.


"Enggak, saya enggak mau kasih, ini uang saya. Hasil kerja keras saya." tolak Lamha. Preman itu semakin marah, mereka mendekati Lamha untuk merebut dompet ditangan Lamha. Dan seketika terjadilah tarik menarik antara preman dan Lamha.


"Tolong, tolong!" Lamha terus berteriak meminta pertolongan, namun tak ada sesiapapun yang mendekat. Lamha terus menahan dompetnya yang ditarik paksa oleh preman itu hingga...


Bugh!


Satu tendangan mendarat diwajah preman yang mencoba merebut dompet Lamha.


"Sialan! berani-beraninya lo ikut campur urusan gue!" ucap preman itu dan tanpa bisa dihindarkan perkelahian diantara mereka tak terelakkan. Dengan sangat mudah pria yang menolong Lamha menumbangkan para preman itu hingga babak belur. Mereka lari terbirit-birit ketakutan setelah pria tersebut mengancamnya akan menghajarnya lagi jika mereka tak segera pergi dari tempat itu.


"Terimakasih banyak tuan sudah menolong saya." ucap Lamha seraya menunduk. Sejak tadi Lamha tak melihat pria itu karena terus menundukkan pandangannya.


"Sama-sama. Lain kali lebih hati-hati lagi." ucap pria tersebut. Lamha mendongak mencoba memberanikan diri ingin melihat pria yang sudah menolongnya karena suaranya terdengar tak asing ditelinganya. Dan berapa terkejutnya dia saat menyadari pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah tuan Nickholas, rekan bisnis tuan El yang sempat hadir ke pesta pernikahannya tempo hari.


"Loh, anda kan rekan bisnis suami saya." ucap Lamha.


"Anda mengenal saya?" tanya Nickholas pura-pura terkejut.

__ADS_1


"Iya, anda tuan Nickholas kan? rekan bisnis mas El?" tanya Lamha.


"Iya benar saya Nick. Tunggu, berarti kamu.. istrinya tuan El? benar?" tanya Nickholas dengan mimik wajah dibuat senatural mungkin.


"Benar tuan." jawab Lamha.


"Oh.. kebetulan sekali kita bertemu disini, oh iya dimana tuan El?" tanya Nickholas berbasa-basi.


"Mas El masih di Jakarta tuan. Sa-saya sedang ada urusan dikampung sini." bohong Lamha.


"Oh begitu.." Nickholas mangut-mangut.


"Anda sendiri kenapa ada disini tuan?" tanya Lamha.


"Saya ada proyek dikampung ini. Dan kebetulan baru pulang survei. Dan untuk sementara waktu saya tinggal disini." ucap Nickholas.


"Apa tidak sebaiknya saya antar saja? takutnya preman itu datang lagi." ucap Nickholas.


"Tidak perlu tuan, terimakasih saya naik sepeda saja." tolak Lamha.


"Kalau begitu saya duluan ya tuan." ucap Lamha.


"Tunggu Lamha." tahan Nickholas.


"Ada apa lagi tuan?" tanya Lamha.


"Boleh saya minta nomor telfon kamu? saya mungkin akan lama dikampung ini, takutnya saya tersesat dan GPS tidak berfungsi saya mungkin bisa menghubungi kamu. Kamu asli orang sini kan?" tanya Nickholas.


"Iya tuan, tapi..."

__ADS_1


"Hanya untuk hal darurat. Saya yakin tuan El tidak akan keberatan." sela Nickholas.


"Ya baiklah tuan." ucap Lamha lalu dia menyebutkan nomor ponsel nya yang kemudian disimpan dan dicatat oleh Nickholas.


"Oke terimakasih." ucap Nickholas.


"Iya sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamu'alaikum." ucap Lamha.


"Waalaikumsalam." jawab NickholasNickholas sembari menatap Lamha yang mengayuh sepedanya yang semakin lama semakin menjauh.


"Kamu memang benar-benar berbeda. Cup!" dia mencium ponselnya sendiri, senang karena sudah berhasil mendapatkan nomor ponsel Lamha.


//


Sementara itu ditempat lainnya tuan El duduk dengan gelisah dikursi mobilnya. Dia benar-benar merasa gugup dan grogi berlebihan. Namun dia juga tak sabaran, itu terbukti karena sejak tadi, setiap 30 menit sekali tuan El menanyai asisten Ron. Sudah sampai mana? masih berapa lama lagi? dan masih jauh atau tidak. Pokoknya ribetnya mengalahkan emak-emak di pagi hari yang bangun kesiangan.


"Ron kenapa mobil ini lambat sekali, siput saja lebih kencang dari mobilku. Percuma aku mengeluarkan uang miliaran jika kecepatannya seperti ini." ucap tuan El merasa kesal.


"Tuan, saya kan sudah bilang, perjalanan kesana sekitar 8 jam, dan kita baru menempuh waktu 4 jam masih setengah perjalanan tuan El." ucap asisten Ron yang mulai geram.


"Sialan! kalau begitu percuma aku berdandan sekeren mungkin karena saat sampai disana penampilanku pasti sudah seperti gembeel!" ucap tuan El kesal. Ron hanya bisa mengelus dada saat tuannya bertingkah seperti wanita yang tengah datang bulan. Sungguh menjengkelkan dan menguras emosi. Bikin darting tingkat tinggi. Rasanya Ron ingin sekali melemparkan tuan El ke planet lain, tapi siapa yang akan menggaji nya nanti?


"Tuan bersabarlah. Jika lelah tidurlah, saya yakin walaupun penampilan anda berantakan itu tak akan mengurangi wibawa dan ketampanan anda dimata nyonya Lamha." ucap asisten Ron. Lagi-lagi dia harus mengeluarkan jurus andalannya agar singa imut itu tidak terus-terusan mengaum.


"Yah, kau benar sekali Ron. Aku akan tetap tampan kapanpun dimanapun, dan bagaimanapun. Karena pesona Libra tak terkalahkan." ucap tuan El semabri mengulum senyum.


'Kenapa tidak ku bius saja Si tua labil ini! merepotkan saja!' batin Ron kesal.


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2