
Nickholas mengerjapkan matanya beberapa kali setelah sadar dari pingsannya. Tubuhnya terasa sakit semua, begitupula dengan kepalanya yang berdenyut. Dia memindai ke sekeliling ruangan itu. Terlihat seperti rumah sakit! ah, kenapa dia bisa ada disini? begitulah fikirannya.
"Selamat siang tuan Nickholas. Anda sudah sadar?" tanya asisten Ron.
"Anda..."
"Saya Ron, asisten tuan El." ucap asisten Ron.
'Sial!' batin Nickholas.
"Apa yang terjadi denganku?" tanya Nickholas berpura-pura.
"Seharusnya saya yang bertanya, ada apa dengan diri anda? kenapa ingin mencelakai tuan El dan istrinya?" ucap asisten Ron menyeringai.
"Ck! anda bicara apa? mungkin tidurmu semalam miring atau salah bantal." cibir Nickholas dengan terus berpura-pura santai padahal didalam hatinya dia tengah ketar-ketir.
"Oh, ya mungkin saja anda lupa, karena kecelakaan tadi pagi membuat anda mengalami geger otak ringan." ucap asisten Ron menyindir.
"Apa maksudmu? sejak tadi kau menyindir seolah-olah aku adalah seorang penjahat! jika tidak ada bukti aku akan melaporkan mulai atas tuduhan pencemaran nama baik!" ancam Nickholas. Asisten Ron tertawa kecil lalu menggeleng pelan.
"Sekarang belum, karena buktinya kau sembunyikan. Tapi... aku peringatkan! bagi tuan El anda hanyalah seekor semut yang dengan mudah diinjak! jangan berani macam-macam kalau tidak anda akan menyesal!" ucap asisten Ron dengan wajah menyeramkan.
"Sialan! berani sekali kau mengancamku!" ucap Nickholas berang.
"Aku rasa sudah cukup. Selamat bersenang-senang dengan rasa dendammu! Nickhol the Jerk!" sindir asisten Ron. Setelah berkata demikian, asisten Ron pergi meninggalkan ruangan Nickholas.
'Sialan! bahkan dia tahu panggilanku di Paris.' batin Nickholas. Nickholas menghubungi anak buahnya untuk segera menjemputnya dirumah sakit.
Setelah keluar dari rumah sakit Nickholas kembali ke penginapan nya. Dia terus menunggu informasi yang sedang digali oleh anak buahnya mengenai tuan El dan juga Lamha. Dia bertambah marah dan kesal begitu mengetahui jika tuan El sudah membawa Lamha kembali ke Jakarta. Dia kembali memutar otaknya, dia yakin tuan El sudah mulai mengendus rencananya, hingga akan semakin sulit menghancurkan tuan El menggunakan Lamha yang sudah pasti kini di jaga ketat oleh orang yang dianggap musuhnya tersebut.
"Briliant!" ucap Nickholas begitu mendapatkan sebuah ide baru.
//
__ADS_1
Keesokan harinya...
"Bu, Novi anter jahitan dulu ya." pamit Novi.
"Iya kak, Hati-hati di jalan." pesan ibunya bu Asih, ibunya Lamha dan Novi.
Namun baru sampai didepan pintu, dua botak sudah menunggu.
"Anda mau kemana nona?" tanya Jhon.
"Saya mau anter jahitan." jawab Novi.
"Kalau begitu mari saya antar." ucap Jhon.
"Tidak perlu tuan, tempatnya tidak jauh dari sini kok." ucap Novi yang merasa risih jika harus dikawal.
"Tapi ini sudah perintah dari tuan El nona. Saya harus memastikan keselamatan anda." ucap Jhon.
"Tapi bu..."
"Tidak apa-apa, tempatnya dekat, kawasannya juga ramai dekat pesantren, jika ada yang berniat jahat, tinggal teriak saja." ucap bu Asih.
"Ya sudah kalau begitu, tapi nanti ibu bilang kepada tuan El ya, saya tidak mau disalahkan jika ada apa-apa." ucap Jhon.
"Iya, nanti saya telfon nak El." ucap bu Asih. Setelah itu Novi langsung mengayuh sepedanya untuk mengantar baju jahitan pesanan pelanggan.
//
Novi baru selesai mengantar satu persatu pakaian pesanan pelanggan, namun dia teringat jika dia harus membeli sesuatu di minimarket yang jaraknya lumayan jauh. Dengan terpaksa dia berbalik arah untuk membeli barang itu. Namun ditengah jalan yang lumayan sepi, ada dua orang preman yang menghadangnya.
"Kalian mau apa?" tanya Novi panik.
"Serahin duit lo!" ujar salah satu preman.
__ADS_1
"Enggak mau!" ucap Novi.
"Siniin!" paksa preman itu sambil merebut paksa dompet ditangan Novi, mereka saling berebut hingga datanglah pahlawan kemalaman. Siapa lagi jika bukan Nickhol the Jerk!
Bugh
Bugh
Mereka saling bertarung, namun kali ini Nickholas sengaja mengalah dan tertinju dibagian bibirnya, setelah mendapat luka, dia baru membalas dua preman suruhan tersebut hingga babak belur. Lalu mereka lari terbirit-birit karena merasa sudah kalah.
"Aww!!" pekik Nickholas.
"Ya ampun.. tuan anda terluka." ucap Novi panik.
"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil." jawab Nickholas.
"Tapi itu bibir Anda sampai robek begitu, ini harus diobati." ucap Novi khawatir. Novi melihat mobil yang terparkir dipinggir jalan.
"Apa itu mobil anda tuan?" tanya Novi.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Nickholas.
"Apa ada kotak P3K di dalamnya?' tanya Novi.
"Ada, ambil saja. ssttt!" ucap Nickholas sambil meringis. Novi segera berlari menuju mobil Nickholas dan mengambil kotak P3K di laci dashboard mobil. Setelah itu kembali lagi dengan tergesa-gesa.
"Biar saya obati tuan." ucap Novi.
"Tidak usah, saya malah merepotkanmu." ucap Nickholas.
"Tidak apa-apa tuan, anda juga sudah menolong saya." ucap Novi yang kini mulai mengoleskan kapas basah ke ujung bibir Nickholas.
"Awww!! pelan-pelan." ucap Nickholas sembari memegangi tangan Novi yang masih menempelkan kapas dibibirnya. Sejenak mereka saling bertatapan. Ada perasaan aneh yang menjalar dihati Novi, dia tak pernah sedekat ini dengan seorang pria. Apalagi pria itu cukup tampan dan berkharisma membuatnya semakin terpana. Sedangkan Nickholas pun merasakan hal yang sama, jantung nya berdetak lebih kencang dari biasanya, padahal tujuan awalnya ingin menjebak, tapi kenapa malah dia yang terjebak! terjebak perasaan aneh yang memenuhi relung hatinya.
__ADS_1