
"Anda kenal saya?" tanya pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah ustadz Sulaiman, pria yang pernah Nickholas jebak bersama Lamha.
"Tentu saya kenal, mari kita duduk. Ada yang ingin saya bicarakan," ucap Nickholas serius.
"Masalah apa ya? Saya kan tidak mengenal Anda," ucap ustadz Sulaiman bingung.
"Tentang Lamha," ucap Nickholas.
Ustadz Sulaiman menautkan kedua alisnya lalu kemudian ikut duduk dan begabung bersama Katty dan Miguel.
"Hei! kamu belum minta maaf sama saya!" Katty menarik sorban ustad Sulaiman hingga leher sang ustadz merasa seperti tercekik akibat sorban yang ditarik dari belakang.
"Katty, berlakulah sopan sedikit!" sentak Nickholas.
"Tapi dia harus minta maaf dulu!" ucap Katty tak terima.
"Iya saya minta maaf ukhti," ucap ustadz Sulaiman.
"Nama saya Katty, bukan Ukhti!" ucap Katty galak.
"Oh iya maaf saya salah lagi," ucap ustadz Sualiman.
"Sudahlah, abaikan saja lalat hijau itu, sekarang mari kita bicara," ucap Nickholas serius.
"Apa kau bilang?" Katty tak terima dikatai lalat hijau.
"Katty!" Miguel melotot tajam. Kalau sudah begitu terpaksa Katty bungkam.
"Jadi masalah apa yang ingin dikatakan oleh Anda tuan?" tanya Nickholas.
"Sebelumnya perkenalan nama saya Nickholas, panggil saja Nick," ucap Nickholas memperkenalkan diri. Ustadz Sulaiman menerima jabatan tangan itu. Kemudian mendengarkan Nickholas dengan khidmat. Lama kelamaan, raut wajahnya berubah merah karena amarah setalah mendengar pengakuan dari Nikcholas jika dia lah orang yang sudah memfitnahnya dengan Lamha pada saat kejadian itu. Kejadian paling tak mengenakkan seumur hidupnya.
"Jaha-nam!" Ustadz Sulaiman menarik kerah baju Nickholas dan...
Bugh!
Satu hadiah diberikan ustadz Sulaiman dipipi Nickholas. Nickholas hanya meringis menahan sakit, namun dia tak sedikitpun berniat membalas pukulan yang dilayangkan oleh ustadz Sulaiman.
"Saya minta maaf, saat itu saya tengah dikuasai dendam dan kebencian yang begitu besar," ucap Nickholas menjelaskan.
"Maaf saja tidaklah cukup! Kamu harus mendekam di penjara!" ucap ustadz Sulaiman.
"No No No! jangan! awas aja kalau berani!" Katty tak terima, dia menunjuk wajah ustadz Sulaiman tepat didepan wajahnya bermaksud mengancam. Namun ustadz Sulaiman sama sekali merasa tak takut dengan ancaman dari wanita yang dianggap hanya bocah ingu-san itu.
"Kalau saya tetap mau memperkarakan masalah ini kamu mau apa?" tantang ustadz Sulaiman.
__ADS_1
Katty yang geram langsung menarik ustadz Sulaiman pergi dari tempat itu. Nickholas sempat ingin menyusul namun ditahan oleh Miguel.
"Biarkan saja," ucap Miguel.
"Tapi Dad,"
"Biarkan," ucap Miguel.
//
"Kamu ngapain bawa-bawa saya ke tempat sepi begini?" tanya ustadz Sulaiman.
"Kamu fikir mau apa?" Katty tersenyum licik.
"Sudahlah saya tidak punya waktu meladeni bocah seperti kamu, apalagi..." ustadz Sulaiman memindai penampilan Katty yang kelewat terbuka. Dia tidak terbiasa melihat pemandangan wanita dengan pakaian kurang bahan seperti Katty.
"Apalagi apa?" tanya Katty.
"Apalagi berlama-lama berduaan dengan wanita yang bukan mahkram, dosa!" ucap ustadz Sulaiman sembari berbalik hendak pergi dari sana.
"Tunggu!" Katty memegang lengan ustadz Sulaiman dengan erat.
"Jangan pegang-pegang! Astaghfirullah," ustadz Sulaiman menepis tangan Katty lalu beristighfar memohon ampunan.
"Ish! kenapa sih, memangnya saya kuman sehingga kamu jijik sama saya?" tanya Katty tak terima.
"Memang kalau bersentuhan kenapa? Bahaya?" tanya Katty.
"Lebih berbahaya dibanding bersentuhan dengan kuman," jawab ustadz Sulaiman.
"Masa sih?" tanya Katty polos.
"Iya, bisa menimbulkan laknat dari Allah, dan adzab yang pedih karena itu suatu dosa," ucap ustadzah Sulaiman.
"Ya, ampun. Jaman gini masih ada yang pemikirannya kolot seperti kamu? Astaga! ini udah 2022!" ucap Katty mengejek.
"Terserah kalau kamu mau bilang saya kolot, yang jelas saya hanya mengamalkan ajaran yang diperintahkan agama saya," ucap ustadz Sulaiman tegas.
"Oke, kita bahas yang lain saja, soal Kakakku yang mau kamu pidanakan," ucap Katty.
"Tidak ada penawaran apapun, saya tetap akan melaporkannya ke polisi," ucap ustadz Sulaiman.
"Tolonglah, Istrinya sedang hamil sekarang, kalau dia sampai dipenjara, Anaknya pasti akan kekurangan kasih sayang seorang Ayah," ucap Katty asal ceplos.
"Lagi pula orang yang paling dirugikan dalam hal ini yaitu Kak Lamha sudah memaafkan Kak Nick!" ucap Novi berbohong.
__ADS_1
"Saya tidak percaya, saya akan menelfon Lamha sekarang untuk memastikannya," ucap ustadz Sulaiman.
Dia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Nomor Lamha, namun sudah empat kali panggilan, Lamha belum juga mengangkatnya.
"Mereka sedang sibuk mengurus resepsi pernikahan Kakakku," bohong Katty.
"Sudahlah lupakan saja, malu pada sorbanmu, masa ustadz pendendam!" cibir Katty.
"Ini bukan soal dendam, tapi soal kebenaran yang harus ditegakkan," ucap Nickholas marah.
"Orangnya kan sudah minta maaf, Allah saja maha pemaaf masa kamu tidak mau memaafkan, memangnya kamu lebih tinggi dari pada penciptamu sendiri?" tanya Katty telak.
"Bukan begitu ta-tapi..."
"Tapi apa?!" tanya Katty.
"Kenapa jadi kamu yang marah-marah? Kan disini saya yang terdzolimi!" ustadz Sulaiman keheranan.
"Saya tidak marah, hanya terbawa suasana," ucap Katty sambil nyengir kuda.
"Ya sudah lupakan, tapi saya minta KTP kamu sebagai jaminan agar Kakak tersayang mu itu tidak berbuat ulah lagi!" ucap ustadz Sulaiman.
"KTP? Kartu pengenal? Saya tidak punya, saya adanya Pasport," ucap Katty.
"Jadi kamu bukan warga negara Indonesia?" tanya ustadz Sulaiman.
"Bukan lah, kamu tidak lihat wajah saya?" tunjuk Katty di wajahnya sendiri.
Ustadz Sulaiman menatap Katty sekilas. Benar saja, kenapa dia tidak kepikiran.
"Tapi kamu fasih berbahasa Indonesia," ucap ustadz Sulaiman.
"Karena Ibu saya berasal dari Indonesia, bahkan pelayan kami di Paris juga kebanyakan dari Indonesia," jelas Katty.
"Kamu orang Prancis?" tanya ustadz Sulaiman.
"Yayai!" jawab Katty.
"Kalau begitu anggap saja masalah ini selesai sampai disini, saya permisi," pamit ustadz Sulaiman.
"Tunggu!" Katty menahannya.
"Apala... Eumph"
Cup
__ADS_1
Katty mencium bibir sang Ustadz dengan santainya.
"Hadiah, makasih ya," ucap Katty sambil melengis pergi begitu saja.