LAMHA DAN TUAN EL

LAMHA DAN TUAN EL
Terpaksa Mengalah


__ADS_3

"Tidak! Saya tidak bisa melakukan itu, saya mencintai Novi, begitupun sebaliknya. Saya tidak mau kehilangan Novi, kehilangan wanita yang saya cintai untuk yang kedua kalinya," ucap Nickholas seraya menggeleng takut.


"Kamu bahkan belum merasakan kehilangan Novi, belum. Tapi kamu sudah ketakutan dan merasakan sakit. Bagaimana dengan saya? Yang saat itu ditalak di depan semua orang atas kesalahan yang sama sekali tidak saya perbuat," ucap Lamha dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu tidak tahu bagaimana malunya saya saat itu, malu kepada Allah khususnya, karena saya merasa lalai dalam menjaga diri," lanjut Lamha.


"Kalau memb-unuh tidak berdosa, mungkin saat ini saya sudah mele-nyapkan kamu dari dunia ini," ucap Lamha dengan suara seraknya.


"Saya minta maaf," ucap Nickholas lirih. Dia tak dapat berkata apapun lagi setelah melihat Lamha yang menangis begitu pilu di depan mata kepalanya sendiri.


"Saya mengaku salah, kamu bebas melakukan apapun terhadap diri saya," ucap Nickholas.


"Untuk apa? Untuk kepuasan rasa dendam? seperti yang kamu lakukan kepada Suami saya? Tidak! Saya tidak sama dengan kamu, yang akan merasa puas jika melihat orang lain menderita. Karena saya bukan pendendam," ucap Lamha.


"Tapi kamu meminta saya menceraikan Novi, sesuatu hal yang justru paling melukai saya. Bahkan saya merasa lebih baik kamu bu-nuh saya saja sekalian dari pada harus menceraikan wanita yang sangat saya cintai," ucap Nickholas.


"Itu adalah bentuk kasih sayang saya kepada Novi, saya adalah Kakaknya. Saya tidak ingin melihat Novi hidup bersama lelaki Jahan-am seperti kamu, Novi berhak mendapatkan yang terbaik," ucap Lamha.


"Jadi saya bukan yang terbaik?" tanya Nickholas.


"Tanyakan saja pada dirimu sendiri, sudah pantaskah kamu untuk Novi?" Lamha balik bertanya.


Nickholas menunduk kemudian tersenyum getir.


"Kamu benar, saya tidak pantas untuk Novi, saya akan mengabulkan keinginan kamu untuk menjauhi Novi, tapi tidak dengan menceraikannya, karena prinsip saya, hanya akan menikah sekali seumur hidup," ucap Nickholas tegas.


"Jangan egois! kalau kamu tidak menceraikannya lalu bagaimana Novi akan bersama pria lain? Pria yang jauh lebih baik dari pada kamu!" ucap Lamha marah.


"Lamha hentikan!" bu Asih yang sejak tadi hanya diam menyimak mereka berdua kini ikut bicara.


"Nyebut Nak, kamu sedang dikuasai kebencian dan amarah," bu Asih mengingatkan Lamha.


"Perceraian memang halal, tapi Allah membencinya. Memaafkan seseorang tak memerlukan syarat apapun, jika memakai syarat itu namanya tidak ikhlas," ucap bu Asih. Ucapannya begitu tegas dan bijaksana.

__ADS_1


"Rumah tangga Novi tidak boleh kamu campur adukkan dengan kesalahan yang pernah dia perbuat kepadamu," lanjutnya lagi.


"Jelas ada Bu, karena dia menikahi Novi untuk membalas dendam kepada Mas El," ucap Lamha.


"Walaupun kenyataanya seperti itu, tetap harus mereka yang memutuskan untuk melanjutkan rumah tangganya atau tidak. Bukan kamu," ucap bu Asih.


"Tapi bu," Lamha menyela.


"Novi sudah memutuskan Bu, dia akan menerima saya jika Lamha memaafkan saya, jika tidak dia tetap ingin bercerai," ucap Nickholas.


"Kalau begitu ceraikan Novi, karena Lamha tidak memaafkan kamu," ucap bu Asih.


"Bukan tidak memaafkan Bu, tapi..."


"Talak Novi saat ini juga," ucap bu Asih.


"Bu..." Lamha menitikkan air matanya, dia melihat kekecewaan yang begitu besar di mata ibunya.


"Ini yang terbaik menurutmu kan? Ya sudah, biarkan adikmu menjanda," ucap bu Asih sembari tersenyum getir. Lamha semakin merasa bersalah.


"Yang terbaik bagimu belum tentu yang terbaik bagi Allah," ucap bu Asih.


"Bu. Lamha..."


"Maaf saya memotong pembicaraan kalian, tapi jujur untuk saat ini saya belum bisa menceraikan Novi, saya perlu waktu untuk memikirkan semuanya, tiga hari lagi saya akan beritahu keputusan saya, sekali lagi saya minta maaf Lamha," ucap Nickholas. Setelah mengatakan itu dia langsung keluar dari ruangan itu dan mengajak Katty dan Daddy-nya untuk kembali ke apartemen mereka.


Namun sebelum mereka semua meninggalkan rumah itu, mama Grace memanggilnya.


"Nick, I'm sorry for everything" ucapnya dengan terisak.


Nikcholas menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menyunggingkan senyum terbaiknya.


"Saat ini hati saya masih merasakan sakit, tapi saya akan berusaha mengikhlaskannya dan melupakan semua itu. Saya berjanji tidak akan mengusik keluarga ini lagi," ucap Nickholas.

__ADS_1


"Kalau begitu, boleh saya memelukmu sebentar?" tanya mama Grace.


"Tentu saja," ucap Nickholas sembari merentangkan kedua tangannya. Mereka berpelukan cukup lama, membuat semua orang yang berada di sana ikut larut dalam rasa haru.


//


Saat ini Nickholas, Miguel dan Katty berada di sebuah cafe yang jaraknya tak jauh dari apartemen milik Nickholas.


"Daddy bangga padamu Nak," ucap Miguel.


"Nickholas juga bangga memiliki Daddy seperti Daddy," ucap Nickholas.


"Kak Nickholas tenang saja, kalau kalian bercerai, aku siap menjadi ban serep," ucap Katty.


"Sampai kapanpun aku tidak akan menikahimu bocah nakal!" ucap Nickholas sembari menoyor kening Katty.


"Kenapa? Aku kan cantik paripurna," ucap Katty tak terima.


"Karena kau Adikku," ucap Nickholas.


"Daddy...!" Katty mengadu pada Miguel. Miguel hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kedua anaknya itu.


Karena merasa tak mendapat dukungan, Katty merajuk dan akhirnya memilih pergi ke toilet untuk meluapkan kekesalannya. Namun baru selangkah.


Dugh!!


"Aww!!" Pekik Katty.


"Maaf, maaf saya tidak sengaja," seorang pria berbaju koko dengan sorban dilehernya terlihat panik, bukannya membantu Katty berdiri dia malah nampak kebingungan.


Nickholas yang melihat Katty terjungkal langsung membantu Katty untuk berdiri.


"Orang jatuh kenapa dibiarkan saja, bukannya dibantu!" sentak Nickholas tanpa melihat siapa orang yang dia marahi.

__ADS_1


"Saya minta maaf tuan, saya tidak sengaja," ucap pria itu.


"Tidak apa-apa, lain kali jangan diulangi, loh kamu?" Nickholas begitu terkejut melihat wajah yang tak asing baginya.


__ADS_2