
Keesokan harinya Lamha tak jadi pulang ke kampung halaman dan kembali memasukan pakaiannya ke dalam lemari.
"Ehem! gak jadi pulang kampung?" tanya tuan El yang tengah merapikan pakaiannya didepan meja rias. Servis Lamha semalam membuatnya lupa akan perkataan dan ucapan Mia kemarin. Semua masalah terasa hilang dengan sendirinya, kepala yang terasa berat jadi enteng, segar dan adem.
"Eh, mas El. Sini biar Lamha bantu pakaikan." ucap Lamha yang langsung menghampiri tuan El untuk membantunya mengenakan dasinya.
"Lanjutin aja dulu pekerjaan kamu, saya bisa pasang sendiri kok." ucap tuan El.
"Enggak apa-apa, itu bisa nanti-nanti. Mas El kan keburu mau berangkat kerja." ucap Lamha.
"Tapi kalau kamu pegang-pegang dada saya begini, saya malah gak jadi berangkat kerja." ucap tuan El menggoda.
"Mas.." Lamha menunduk malu.
"Mari kita honeymoon" ajak tuan El.
"Bulan madu?" tanya Lamha.
"Ya, apa kamu tidak mau honeymoon dengan saya?" tanya tuan El.
"Sa-saya... emh..."
"Saya ingin memiliki anak dari rahimmu Lamha." ucap tuan El sembari membelai anak rambut Lamha yang masih terasa lembab karena tadi subuh Lamha mandi keramas.
"Tapi apa tuan tidak menyesal memiliki anak dari saya, dan jika sampai saya hamil otomatis hubungan kita akan semakin terikat dan..."
"Dan saya akan menjadi suami kamu seumur hidup." sela tuan El.
"Ta-tapi tuan El kan tidak mencintai saya." ucap Lamha menunduk. Tuan El tersenyum kecut. Bagaimana bisa Lamha berfikiran jika tak ada cinta dihatinya setelah perlakuannya selama ini. Setelah sekian puluh kali mencolok dan menyemai biji terong dirahimnya, Lamha masih belum bisa menyimpulkan perasaan lelaki itu kepadanya. Apa cinta harus dikatakan? dia bukan seorang remaja bau kencur yang apa-apa harus diucapkan dan diungkapkan, tidak cukupkah perbuatan dan pembuktiannya selama ini?
"Apa kamu tidak dapat melihat dan merasakannya?" tanya tuan El.
__ADS_1
"Melihat dan merasakan apa?" tanya Lamha tak mengerti.
"Saya..."
Tok tok tok!
"Tuan, nyonya.. maaf saya mengganggu, tapi nyonya besar sudah menunggu untuk sarapan dibawah." ucap seorang pelayan dari depan pintu kamarnya.
"Iya bi, sebentar." jawab Lamha dari dalam kamar.
"Ayo mas sarapan dulu." ajak Lamha sambil mengenakan hijabnya.
"Hm." jawab tuan El lalu mereka bersama-sama keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga kemudian ikut bergabung dengan yang lainnya untuk sarapan bersama.
"Lamha kenapa wajah kamu pucat? apa kamu sakit, atau kamu kurang tidur semalam?" tanya mama Grace.
"Eh, itu enggak kok ma. Lamha baik-baik saja." jawab Lamha kikuk.
"Mas El..." bisik Lamha dengan wajah merona.
"Kenapa sayang? kalau ada yang tanya ya dijawab. Kenapa malah berbohong?" ucap tuan El tanpa merasa bersalah sedikitpun. Lamha lagi-lagi hanya bisa menunduk malu.
"Oh iya ma, aku ingin mengadakan resepsi pernikahanku dan Lamha." ucap tuan El dengan wajah serius.
"Benarkah? itu artinya kalian tidak akan bercerai?" tanya mama Grace kesenangan.
"Memang siapa yang bilang aku dan Lamha akan bercerai. Sampai matipun El tak akan menceriakan Lamha." jawab tuan El.
"Maksud mama.."
"Mama bisa kan bantu El untuk menyiapkan acaranya?" tanya tuan El.
__ADS_1
"Ah ya, tentu saja sayang. Jadi kapan kamu ingin melaksanakan resepsi pernikahanmu?" tanya mama Grace antusias.
"Secepatnya ma, kalau bisa dalam minggu ini. Karena El juga ada rencana lain." ucap tuan El.
"Buru-buru sekali, memang mau ada rencana apa?" tanya mama Grace.
"Bulan madu ke paris." jawab tuan El. Lamha terkesiap mendengar ucapan tuan El.
'Jadi ucapannya dikamar itu benar? tuan El mau mengajakku pergi bulan madu?' batin Lamha tak percaya.
"Oh.. syukurlah mama sangat senang mendengarnya, semoga rencana bulan madu kalian berjalan lancar dan menyenangkan kemudian pulang dengan membawa kabar bahagia." ucap mama Grace penuh harap.
"Do'akan saja ma, kelihatannya Lamha juga sudah tidak sabar untuk mengandung anakku." ucap tuan El asal ceplos.
"Mashh..." lagi-lagi Lamha dibuat malu.
"Ya sudah, mas berangkat dulu ya sayang." pamit tuan El. Lamha tak percaya mendengar ucapan suaminya itu barusan. Hah, mas El? sayang? sedang kesambet apa lelaki itu? Lamha bertanya-tanya dalam hati. Melihat Lamha terbengong-bengong, tuan El tertawa geli. Lalu mencondongkan wajahnya kedepan wajah Lamha.
"Lamha? are you akay?" tanya tuan El.
"Eh, iya mas." jawab Lamha yang buru-buru mencium tangan suaminya.
"Oh, ya ampun bu besan lihat tuh pengantin baru, adaaa aja tingkahnya." ucap mama Grace kepada ibunya Lamha sambil tertawa kecil.
"Iya bu." jawab ibunya Lamha yang kini tengah tersenyum bahagia karena merasa lega anaknya tak jadi pulang ke kampung halaman.
Sementara tersangka utama, melengos begitu saja tanpa beban. Melangkah ringan menuju mobilnya dengan senyuman tak henti-hentinya menghiasi bibirnya. Ah, sepertinya karyawan bakalan dapat bonus banyak!
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Maaf ya, untuk novel Lamha dan tuan El emang lambat, sebab sop ayam dan Marvel akan segera end. Jadi bersabar okaay.. ❤ jangan kendor dong dukungannya. Othornya lemes nih, butuh amunisi.
__ADS_1