LAMHA DAN TUAN EL

LAMHA DAN TUAN EL
Terpana


__ADS_3

Lamha terus menangis dipelukan tuan El, entah sudah berapa lama hingga dia merasa lelah lalu mendorong tubuh suaminya itu agar menjauh.


"Sa-saya mau minum" ucap Lamha sambil mengelap air matanya.


"Ya, ambilkan sekalian buat saya. Sejak tadi saya kehausan." ucap tuan El. Lamha mengangguk dan berlalu ke dapur meninggalkan tuan El yang kini membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya. Dia menatap langit-langit memikirkan sesuatu yang membuatnya merasa kehilangan akal sehatnya. Bagaimana bisa dia semarah itu melihat tangan Lamha yang tak sengaja tersentuh pria lain? apa dia cemburu? jika benar cemburu, itu tandanya dia memiliki perasaan kepada Lamha. Dan apa itu artinya dia mulai mencintai Lamha? lalu bagaimana dengan nasib Mia? Ah! rasanya kepalanya mau meledak saat itu juga.


Tapi yang jelas untuk saat ini dia tak ingin Lamha didekati siapapun! apa yang menjadi miliknya tak boleh diusik apalagi sampai direbut orang lain. Lamha miliknya, begitulah isi fikirannya. Dia terus menepis perasaan aneh yang mulai menyelimutinya. Perasaan yang dulu dirasakan saat jatuh cinta untuk pertama kalinya, sama persis dengan yang dirasakannya saat ini. Bahkan mungkin lebih gila, karena dia tak se-posessife ini sebelumnya.


Klek!


Lamha muncul dengan membawa nampan yang terdapat gelas berisi air putih ditangannya.


"Ini minumnya." ucap Lamha seraya meletakkan nya diatas nakas.


"Terimakasih" jawab tuan El yang langsung menegak habis air putih itu.


"Kalau begitu saya permisi, mau sholat dulu tuan." ucap Lamha yang merasa tak nyaman berlama-lama dengan tuan El didalam kamar.


"Lamha!" panggil tuan El saat Lamha hendak ke kamar mandi.


"Iya tuan." jawab Lamha yang kini berbalik.


"Kita sholat berjama'ah. Tapi bacaan saya belum sempurna, biasa saja. Karena... selama ini saya jauh dari agama dan jarang sholat." jujur tuan El.


Mendengar ucapan tuan El, hati Lamha yang tadinya marah, kini menghangat. Lalu tersenyum tipis. Rasanya dia sangat senang karena tuan El mau menjadi imam sholatnya.


"Ya tidak apa-apa tuan. Nanti tuan bisa belajar lagi." ucap Lamha lembut.


"Tapi, apa imbalannya?" tanya tuan El.

__ADS_1


"Imbalan?" tanya Lamha bingung.


"Ya! kamu harus memberiku imbalan karena mau menjadi imam sholatmu." ucap tuan El.


"Bukannya tuan El sendiri yang menawarkan diri? kenapa jadi saya yang harus kasih imbalan? tuan, enggak perlu diminta Allah pasti kasih imbalan, asal tuan El ikhlas." ucap Lamha.


"Ya saya tahu, tapi memangnya tidak boleh meminta hadiah darimu? ini pertama kalinya saya jadi imam sholat. Bahkan dulu saat bersama Patricia saya tidak pernah melakukannya." ucap tuan El. Lamha semakin bingung, kenapa pola fikir tuan El jadi kekanakan begini?


"Lantas, apa yang tuan El inginkan? insya Allah Lamha turuti selagi mampu." ucap Lamha yang akhirnya mengalah.


"Good girl! nanti setelah sholat saya kasih tahu apa imbalan yang saya inginkan. Sekarang kita sholat dulu. Waktunya sudah mepet." ucap tuan El yang langsung nyelonong masuk mendahului Lamha. Lamha menggeleng pelan lalu ikut masuk kedalam kamar mandi untuk berwudhu.


**********


Malam harinya, tuan El teringat jika dia mendapat undangan pernikahan dari salah satu kolega bisnisnya yang cukup penting. Namun seketika itu juga dia teringat jika dipesta itu diharuskan membawa pasangan. Dia gamang sekaligus bingung sendiri apakah harus membawa Lamha atau Mia ke pesta itu.


'Apa aku mengajak Mia saja ya? tidak mungkin aku membawa Lamha ke pesta itu. Bisa-bisa aku ditertawakan.' batin tuan El.


"Tuan mau pergi kemana?" tanya Lamha saat masuk kedalam kamarnya setelah menidurkan baby A.


"Mau ke acara pernikahan teman." jawab tuan El.


"Dengan siapa?" tanya Lamha.


"Itu..."


"Pasti dengan Mia kan?" tebak Lamha. Tuan El hanya diam saja.


Lamha merasa hatinya seperti diremas kuat saat melihat tuan El yang tidak membantah.

__ADS_1


"Ya, saya tahu tempat saya, saya juga tahu diri. Tuan El pasti malu jika mengajak saya" ucap Lamha sambil tersenyum kecut. Matanya memerah, entah sampai kapan tuan El akan terus menyakiti perasaanya. Dan ketika melihat itu, melihat raut kecewa diwajah Lamha, tuan El jadi tak tega.


"Saya berangkat dengan kamu." ucap tuan El. Lamha menarik nafas dalam.


"Tidak perlu merasa tidak enak tuan, tidak apa-apa. Silahkan berangkat dengan Mia, dari pada nanti ujung-ujungnya saya malah mempermalukan anda." ucap Lamha.


"Saya bilang berangkat dengan kamu! cepat bersiap, keburu malam! ini perintah! ingat istri harus taat pada suami. Saya tunggu dibawah." ucap tuan El. Setelah itu dia keluar dari kamarnya dan menunggu Lamha dilantai bawah.


Sementara Lamha sendiri buru-buru berganti pakaian dan bersiap-siap dengan mengenakan pakaian terbaiknya. Dan setelah dirasa cukup, Lamha turun untuk menyusul tuan El yang sudah menunggunya dibawah.


Tak Tak Tak


Begitu suara derap langkah kaki Lamha saat menuruni anak tangga. Tuan El berbalik dan seketika menganga melihat penampilan Lamha yang tidak seperti biasanya. Tuan El terpana melihat penampilan Lamha yang memancarkan keanggunannya.




"Tuan?" sapa Lamha berusaha menyadarkan tuan El dari lamunannya.


"Eh, iya.." jawab tuan El gelagapan.


'Sial, padahal hanya matanya saja yang kelihatan. Tapi kenapa dimataku dia terlihat sangat cantik.' batin tuan El.


"Jadi berangkat?" tanya Lamha.


"Eh, iya jadi. Ayo.." ajak tuan El yang berusaha menetralkan detak jantungnya.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Apalagi kalau enggak pakai apa-apa ya tuan El. awokwok. Boleh dong othor malak minta like, komentar dan juga votenya.


__ADS_2