
Seharian Lamha mengurung diri dikamar karena tak ingin bertemu dengan tuan El. Tuan El sendiri masih betah berbaring diamben kayu tempatnya berada. Dia tak dapat menghubungi nomor Lamha karena diblokir oleh Lamha, tuan El jadi merasa bingung harus bagaiamana lagi caranya melunakkan hati istrinya itu agar mau memaafkan kesalahannya.
Sedangkan Ron, sibuk dengan laptop dan beberapa berkas yang dikerjakannya, dia disibukkan dengan banyaknya pekerjaan yang harus dihandlenya karena atasannya itu masih sibuk merayu wanitanya yang hingga detik ini masih merajuk.
"Ron, mana si botak?" tanya tuan El.
"Botak siapa tuan?" tanya asisten Ron.
"Jhon! dan Jhin." ucap tuan El.
"Ya dimobil lah tuan, masa begitu saja tidak tahu." ucap asisten Ron tanpa mengalihkan pandangannya, karena kali ini dia sedang serius.
"Cepat panggilkan!" titah tuan El.
"Saya masih sibuk tuan, anda panggil sendiri saja." ucap asisten Ron.
"Astaga!! sejak kapan kamu berani memerintah ku? sudah mulai kurang ajar kamu pada atasan?!" hardik tuan El. Asisten Ron terpaksa menghentikan pekerjaannya dan keluar dari rumah itu dengan mulut komat-kamit karena merasa kesal.
"Jhon, Jhin! kalian dipanggil tuan El." teriak asisten Ron dari pintu. Kedua bodyguard botak itupun langsung menghampiri asisten Ron dan mengikutinya kedalam rumah lalu menghadap tuan El.
"Ada apa tuan?" tanya Jhon.
"Tolong belikan beberapa barang. Aku akan mengirimkan rinciannya kepada kalian. Gunakan ini untuk membayarnya. Jangan lupa ambilkan uang cash 50 juta." ucap tuan El sembari menyerahkan sebuah kartu kepada bodyguard nya. Dua botak itu mengangguk faham dan segera menjalankan perintah tuan El. Sementara asisten Ron sendiri merasa penasaran, untuk apa tuan El mengambil uang cash sebesar itu?
"Tuan untuk apa mengambil uang sebanyak itu?" tanya asisten Ron.
"Aku ingin mengadakan syukuran kehamilan istriku dengan mengundang anak yatim. Aku dengar pesantren tak jauh dari sini dan disana banyak anak yatim." ucap tuan El.
"Ooh..." asisten Ron hanya ber oh ria.
__ADS_1
"Dan kamu yang mengurusnya." sambung tuan El.
"Saya lagi?" tanya asisten Ron.
"Kamu keberatan?" tanya tuan El.
"Ti-tidak tuan, saya tidak keberatan. Tapi masa iya kehamilan baru satu bulan sudah dibuat syukuran? biasanya kalau orang lain kan saat kehamilan memasuki usia empat bulan atau tujuh bulan" tanya asisten Ron.
"Aku bukan orang lain. Aku Libra Graham, apa kau lupa? aku beda dengan yang lain, aku tidak suka disamakan. Aku akan mengadakan syukuran setiap bulan." ucap tuan El.
"Whaat?? itu namanya buang-buang duit tuan." ucap asisten Ron.
"Tidak dibuang, hanya dititipkan pada mereka yang membutuhkan. Dan akan kembali saat di syurga nanti." ucap tuan El.
"Tumben sekali anda bijak, biasanya..." ups! asisten Ron keceplosan.
"Biasanya apa?!' tanya tuan El dengan wajah memerah siap meledak kapan saja.
"Kalau untuk sedekah jangan perhitungan, selagi punya uang dan ada yang butuh ya kasih saja. Semua hanya titipan Ron, dan titipan itu malah aku sia-siakan. Aku benar-benar menyesal sudah menjadi suami yang dzolim kepada Lamha." ucap tuan El sembari menatap langit-langit rumah itu.
"Syukurlah anda sudah banyak berubah, semoga nyonya Lamha segera memaafkan anda tuan." ucap asisten Ron.
"Mudah-mudahan Ron. Aku sudah sangat merindukannya." ucap tuan El lirih. Percakapan mereka tak sengaja terdengar Lamha yang baru keluar kamar hendak ke kamar mandi.
"Nak, kasihan suamimu." ucap ibunya Lamha yang sudah berada dibelakang Lamha.
"Eh, ibu emh.. Lamha ke kamar mandi dulu bu." ucap Lamha sengaja menghindar. Ibunya Lamha menggeleng pelan lalu kedepan menemui tuan El dan asisten Ron.
"Wah, kerjaan sampai dibawa kesini." ucap ibunya Lamha saat melihat asisten Ron yang sibuk dengan laptop dan berkas-berkas yang menumpuk dihadapannya.
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi bu, punya bos manja ya begini, kemana-mana minta ditemenin. Menantu ibu ini kalau di kantor galaknya minta ampun, tapi nyamperin nyonya Lamha aja takut." jawab asisten Ron asal ceplos. Ibunya Lamha hanya tertawa mendengar penuturan asisten Ron yang begitu berani menjelek-jelekkan tuan El didepan orangnya Langsung.
"Ron!" ucap tuan El dengan suara dingin.
"Eheh.. maaf tuan, saya hanya bercanda. Jangan dibawa serius tuan, nanti cepat tua. Benar kan bu?" ucap asisten Ron semakin menjadi. Bahkan dia ikut melibatkan ibunya Lamha untuk membenarkan ucapannya.
"Iya benar nak El. Jangan terlalu galak-galak pada bawahan." ucap ibunya Lamha.
"Tuh dengerin tuan El. Petuah ibu mertua." ucap asisten Ron dengan wajah mengejek. Sementara yang diejek merasa semakin geram dan ingin segera menghajar asisten Ron saat ini juga, tapi karena ada ibu mertuanya tuan El terpaksa mengalah dan menekan rasa dongkol nya yang sudah diubun-ubun.
"Lamha lama sekali bu dikamar, apa dia tidak bosan?" tanya tuan El.
"Tadi sih sudah sempat keluar ke kamar mandi sebentar tapi masuk lagi." jawab ibunya Lamha.
"Sepertinya Lamha merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya dirumah ini, lebih baik saya menginap di hotel terdekat saja." ucap tuan El.
"Hotel disini lumayan jauh lo nak El. Sekitar lima kilo. Apa tidak sebaiknya menginap disini saja?" tanya ibunya Lamha.
"Saya maunya disini tapi tidak mungkin saya tega membiarkan Lamha mengurung diri dikamar terus menerus. Dia juga perlu beraktivitas diluar kamar." ucap tuan El mencoba mengalah.
"Oh iya bu, ini ada sedikit yang untuk belanja. Saya melarang Lamha jualan, jadi mohon Terima ini sebagai gantinya. Saya tidak ingin bayi kami kenapa-kenapa jika Lamha masih bekerja." ucap tuan El sembari menyerahkan beberapa lembaran merah yang cukup tebal.
"Tidak usah nak El, ibu masih ada simpanan." tolak ibunya Lamha.
"Ibu, tolong saya bu, tolong terima uang ini, saya benar-benar tidak ingin melihat Lamha jualan lagi." ucap tuan El memelas dan memohon.
"Kalau begitu ibu terima uang ini. Tapi ibu tidak akan memaksa Lamha untuk menerimanya jika dia menolak." ucap ibunya Lamha.
"Iya bu, sebelum saya ke hotel apa boleh saya bicara sebentar dengan Lamha? dari luar pintu saja." ucap tuan El.
__ADS_1
"Boleh nak El. Tentu saja boleh." jawab ibunya Lamha.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻