
Setelah menyiapkan semua keperluannya selama di Jakarta, Nickholas, Miguel ayah angkatnya dan juga Katty adik angkatnya akhirnya terbang dari Paris menuju Jakarta setelah sebelumnya meminta restu kepada Ibunya Nickholas yang saat ini dalam kondisi lumpuh, sehingga tak memungkinkan untuk ikut bersama Nickholas menjemput Novi ke Jakarta.
Selama di perjalanan, Nickholas lebih banyak diam sambil terus memikirkan Novi yang sudah sangat ia rindukan walaupun baru tiga hari tidak bertemu. Sementara Katty sibuk dengan ponselnya.
"Jangan terlalu difikirkan, kita akan segera sampai," ucap Miguel yang mengerti akan kerisauan yang dirasakan Nickholas.
"Aku takut dia menolakku Dad, apalagi setelah semua kekacauan yang sudah ku perbuat selama disana," ucap Nickholas.
"Yang penting berusaha, tunjukkan kesungguhanmu, jadi jikapun hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, kau tidak menyesal karena sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap Miguel menyemangati.
"Terimakasih Dad, kau yang terbaik!" ucap Nickholas dengan rasa haru.
"Of course, everything for you," ucap Miguel.
(Nov, tunggu aku. Aku datang menjemputmu. Badai akan aku terjang, lautan akan aku selami, bahkan monster pun akan aku takhlukan demi mendapatkanmu kembali) ucap Nickholas dalam hati.
//
Setelah menempuh perjalanan hampir 16 jam, akhirnya mereka sampai di Jakarta. Mereka langsung menuju apartemen milik Nickholas yang berada di Jakarta untuk beristirahat terlebih dahulu. Selama beristirahat di apartemen miliknya, Nickholas merasa sangat tak sabaran untuk menemui Novi, bahkan semalaman dia tak dapat memejamkan matanya karena sangat ingin bertemu dengan pujaan hatinya itu.
Keesokan harinya, setelah sarapan bersama, Nickholas, Katty, Miguel, Asisten Pribadi dan beberapa ajudannya bersama-sama datang bertandang ke Rumah keluarga Graham yang jaraknya tidak begitu jauh dari Apartemen Nickholas.
Sesampainya disana, Nickholas dan keluarga angkatnya langsung diijinkan masuk tanpa ada kendala sama sekali karena memang Libra Graham dan juga istrinya, Lamha, yang merupakan kakak iparnya sudah menunggu kedatangannya untuk menyelesaikan semua permasalahan diantara mereka.
"Duduklah," ucap tuan El dengan sorot mata tajam yang didalamnya terdapat kemarahan yang amat besar.
"Terimakasih," ucap Nickholas. Kemudian mereka semua sama-sama duduk di kursi tamu. Sementara Novi tak ikut berkumpul di sana, dia mengintip dari balik pintu. Karena selain merasa belum siap bertemu dengan Nickholas, Lamha juga melarang Novi keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Seketika suasana diruangan itu terasa begitu panas dan tegang.
"Aku sudah tahu semuanya, aku beri pilihan, berangkat sendiri ke kantor polisi atau aku yang menyeretmu masuk ke dalam penjara," ucap tuan El memulai percakapan.
"Aku datang kesini bukan untuk menyerahkan diri ke polisi, tapi untuk membawa Istriku pulang ke rumah kami," ucap Nickholas tanpa merasa takut sedikitpun.
"Apa kau tidak merasa bersalah sama sekali atas apa yang sudah kau lakukan kepada Istriku?" tanya tuan El dengan menahan dan menekan emosinya agar tak meledak-ledak.
"Aku merasa bersalah pada Istrimu. Dan untuk itu aku minta maaf," ucap Nickholas.
"Tidak dimaafkan!" jawab tuan El cepat.
"Aku tidak meminta maaf padamu El! aku meminta maaf kepada Istrimu, karena aku tidak merasa bersalah apapun padamu dan justru kau yang harusnya minta maaf padaku!" ucap Nikcholas dengan sorot mata yang tak kalah tajam. Saat melihat wajah tuan El, dia teringat kembali soal cintanya yang kandas juga kematian ayahnya yang baru diketahui penyebabnya yaitu karena dicelakai oleh Ayah dari Tuan El yang saat ini sudah tidak ada di dunia ini.
"Cih! menjijikan, kalau seperti itu aku tidak merasa menyesal sudah mengambil Patricia darimu, walaupun kenyataannya aku tidak tahu tentang hubungan kalian," ucap tuan El.
"Nick! Sopanlah jika sedang berada di rumah orang!" tegur Miguel.
Nickholas menurut lalu kemudian dia duduk kembali. Begitupula tuan El yang sedari tadi terus ditenangkan oleh Lamha.
"Saya minta maaf atas nama Nickholas," ucap Miguel. Tuan El tak menyahuti sama sekali. Dia hanya mengangguk enggan.
"Perkenalkan saya Miguel, ini putriku Katty, dan Nickholas adalah anak angkatku," ucap Miguel memperkenalkan diri.
"Saya tidak ada urusan dengan Anda tuan," ucap tuan El.
"Memang saya tidak ada urusan, tapi keluarga Nickholas ada, karena keluarga Graham berhutang nyawa," ucap Miguel dengan tetap memasang wajah tenang meski tuan El dan yang lainnya cukup terkejut dengan apa yang dikatakannya.
__ADS_1
"Apa maksud Anda?" tanya tuan El.
"Mari kita bicara empat mata, atau kalau perlu berbicara dengan Ibumu sekalian," ajak Miguel.
"Tidak! bicara disini saja," tolak tuan El.
"Aku hanya tidak ingin Istrimu mendengar aib dari keluargamu," ucap Miguel. Lagi-lagi tuan El terkejut.
"Kalau begitu Lamha biar ke kamar saja Mas, Mas El silahkan bicara dulu," ucap Lamha.
"Tidak, kamu tetap disini temani aku," ucap tuan El. Karena sejujurnya tuan El tiba-tiba merasa takut dengan apa yang hendak dikatakan oleh Miguel. Dan jika itu sesuatu yang buruk, dia berharap Lamha tetap berada disisinya karena saat ini Lamha adalah kekuatan terbesar baginya.
"Ya sudah kalau begitu saya mulai saja," ucap Miguel.
"Silahkan," ucap tuan El.
"Kamu tahu, semua Ayah di dunia ini begitu menyayangi anaknya, walaupun sebagian ada yang sering menelantarkan anaknya tapi percayalah sebejat-bejatnya lelaki pasti menyayangi darah dagingnya sendiri, begitupun dengan Ayahmu semasa hidup," ucap Miguel. Dia menghela nafas perlahan kemudian melanjutkan kembali ucapannya.
"Karena begitu sayangnya kepadamu, dia sampai mencelakai seseorang dan berujung hilangnya nyawa seseorang," ucap Miguel.
Deg
"Apa maksudmu? Anda ingin mengatakan ayah saya adalah seorang pemb-unuh?" tanya tuan El.
Miguel mengangguk.
"Itu adalah kenyataannya, dan korbannya adalah Ayah kandung Nickholas, tuan Anthony sahabatku," ucap Miguel yang langsung membuat semua orang yang berada disana terkejut bukan main, tanpa terkecuali Novi yang saat ini tengah menguping dari celah pintu kamarnya.
__ADS_1