LAMHA DAN TUAN EL

LAMHA DAN TUAN EL
Petuah Suami


__ADS_3

Tuan El tak dapat memejamkan matanya barang sedetikpun, bukan karena tempatnya yang tak nyaman tapi karena dia sudah tak sabar ingin segera bertemu dan melihat istrinya lagi. Dia duduk bersandar di ujung amben kayu tersebut. Lalu membuka ponselnya dan melihat foto-foto pernikahannya dengan Lamha.


"Maafin mas El sayang, maaf..." ucap tuan El lirih. Sungguh dia menyesali semua kebodohannya. Hingga akhirnya tertidur dan dia terbangun saat mendengar suara berisik dari arah dapur. Tuan El melihat jam ditangannya, dan ternyata baru jam Setengah tiga pagi. Dia mencoba memeriksa kedapur dan ternyata dia melihat Lamha yang tengah menyiapkan beberapa alat masak dan adonan kue basah. Lamha tak sendiri ada Novi yang ikut membantunya.


Tuan El terus mengamati dari kejauhan, dia tak ingin Lamha merasa terganggu dengan kehadirannya, tapi juga dia merasa tak tega saat melihat Lamha harus mengerjakan banyak pekerjaan. Apalagi saat ini Lamha sedang hamil muda, terlalu berisiko jika sampai kelelahan. Tuan El memberanikan diri mendekati Lamha dan menyuruh Lamha untuk berhenti dari pekerjaannya, dia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada calon bayinya.


"Lamha..." ucap tuan El yang langsung membuat Lamha menghentikan kegiatannya yang tengah memarut kelapa.


"Saya tidak ingin diganggu, saya masih sibuk. Jika mau bicara nanti saja setelah saya menyelesaikan pekerjaan saya." ucap Lamha dingin.


"Sayang, kamu jangan begini. Kamu jangan sampai kelelahan." ucap tuan El memelas. Lamha tak menjawab dan melanjutkan kembali kegiatannya memarut kelapa.


"Lamha, saya bilang jangan. Hentikan! kamu bisa kelelahan dan membahayakan calon anak kita." ucap tuan El dengan suara meninggi. Lamha tersenyum sinis.


"Nov, kamu balik ke kamar dulu. Kakak mau bicara sebentar ya." ucap Lamha menyuruh Novi adiknya untuk masuk kedalam kamarnya. Setelah itu Lamha menatap tuan El dengan kebencian.


"Jadi anda datang kesini karena tahu saya sedang hamil? begitu? tapi sayangnya ini bukan anak anda tuan. Dan satu lagi, ingat kita sudah bercerai, anda sudah menalak saya. Jadi sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." tegas Lamha.

__ADS_1


"Kita belum bercerai, saya tarik kata-kata saya dan talak itu tidak berlaku karena kamu sedang mengandung. Saya minta maaf Lamha, tolong beri saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya." ucap tuan El bersungguh-sungguh.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan tuan, anda sudah memilih jalan anda sendiri begitupun saya. Saya sudah nyaman dengan kehidupan saya sekarang. Jadi saya minta jalani hidup masing-masing dan jangan ganggu saya lagi." ucap Lamha.


"Saya tahu kesalahan saya begitu besar, tapi saya mohon tolong beri saya kesempatan Lamha. Tolong biarkan saya membuktikan jika saya bersungguh-sungguh ingin berubah." ucap tuan El.


"Maaf tuan El, sekali lagi saya tegaskan. Kita sudah tidak ada urusan lagi, bahkan dengan anak ini sekalipun. Ini anak saya, saya akan membesarkannya sendiri, anda tidak perlu repot-repot karena saya tidak akan meminta sepeserpun uang dari anda." ucap Lamha kekeh.


"Saya tidak peduli, pokoknya saya tidak ingin melihat kamu kerja berat seperti ini. Sekarang kamu masuk kamar!" titah tuan El yang sudah tak tahan dengan sikap Lamha yang dingin kepadanya.


"Saya tidak mau. Dan saya tidak berkewajiban menuruti permintaan anda." ucap Lamha.


"Kalau saya tetap tidak mau bagaimana?" tanya Lamha.


"Bersiaplah mendapat murka dari Allah, karena ridho Allah ada pada Ridho suami. Terserah kalau masih mau melanjutkan, jangan salahkan saya jika daganganmu tidak laku dan tidak berkah." ucap tuan El yang langsung pergi dari sana. Kesal karena Lamha tak mau mendengarkannya, jika Lamha belum bisa memaafkannya tidak masalah, tapi seharusnya Lamha memikirkan nasib calon anaknya juga jangan egois dengan merasa sok kuat. Lamha menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kemudian dia meminta Novi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sudah setengah jalan. Dia tetap membuat kue ongol-ongol, bukan untuk jualan tapi untuk dihidangkan kepada tuan El dan asisten Ron. Dia juga memasak beberapa lauk untuk sarapan.


Setelah semuanya selesai kini Lamha bersiap-siap untuk shalat shubuh. Biasanya tuan El akan mengimami nya, tapi selama tinggal dikampung dia shalat sendirian. Lamha tak menampik jika dia sangat senang tuan El datang kesini untuk menemuinya, tapi rasanya tak mudah memaafkan suaminya itu. Tidak mudah bagi Lamha untuk melupakan semuanya, dia ingin melihat kesungguhan suaminya terlebih dahulu karena dia tak ingin kesalahan yang sama terulang kembali, mengingat sifat tuan El yang seperti timbangan oleng.

__ADS_1


//


Pagi hari saat semua sedang sarapan, Lamha memilih untuk mengurung diri dikamarnya karena tak ingin melihat wajah tuan El. Namun diam-diam Lamha mencuri dengar dari balik pintu kamarnya yang bersebelahan langsung dengan ruang makan.


"Cobain nak El, ini ongol-ongol buatan Lamha, yang masak semua ini juga Lamha." ucap ibunya Lamha.


"Jadi Lamha tetap melanjutkan pekerjaannya? dia tetap pergi jualan?" tanya tuan El merasa geram.


"Enggak kak, kak Lamha hanya membuat ongol-ongol ini saja, dan masak untuk sarapan. Dia libur jualan, sekarang masih dikamar." jelas Novi.


"Loh, kakak mu enggak jualan Nov?" tanya ibunya Lamha.


"Enggak bu." jawab Novi.


"Kenapa?" tanya ibunya Lamha.


"Kata kakak, di-dia... takut petuah suami." jawab Novi apa adanya. Dan semua itu sukses membuat tuan El berbunga-bunga, dia terus mengulum senyum, ternyata semarah-marahnya Lamha dia tetap takut dengan petuah suami. Itu artinya Lamha masih menganggapnya suami bukan? ah, senangnya!! Sedangkan Lamha senidiri merutuki adiknya yang bisa-bisanya keceplosan bicara. Kalau begini, hidung tuan El bisa mengembang lima ratus derajat!

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Sa ae timbangan Oleng. Jangan lupa like dan komentarnya, othor sudah up double-double tapi dukungannya kok makin kendor awokwok.


__ADS_2