
Ron memijat keningnya yang terasa amat pusing, dia juga memegangi dadanya karena sejak tadi terasa sesak, bukan karena sesak nafas tapi karena rasa sakit yang tidak dapat diobati. Dia harus kuat, dia tahu pasti perasaan apa yang sedang menderanya ini, tapi dia juga sadar dia harus menghapusnya dengan cepat.
Dreettt
"Ron kau dimana?" tuan El berbicara disebrang telfon.
"Sedang ada urusan diluar tuan, bagaimana, apa yang dapat saya bantu?" tanya asisten Ron yang sudah pasti jika tuan El menghubunginya, dia sedang membutuhkan sesuatu.
"Tolong berikan obat sakit perut Ron, perutku sakit sekali, aku diare. Sejak tadi bulak-balik buang air besar." ucap tuan El dengan suara lemah.
"Memangnya anda makan apa tuan sampai terkena diare?" tanya asisten Ron.
"Aku makan seblak dan juga rujak buah." ucap tuan El. Astaga! ini pasti karena ngidam anehnya, bisa-bisanya bosnya itu ngidam padahal istrinya yang hamil.
"Baiklah akan saya cari obatnya, apa tuan sudah menghubungi dokter?" tanya asisten Ron.
"Sudah, tapi kondisi jalanan yang macet dan hujan deras hingga saat ini dokter itu belum sampai." ucap tuan El.
"Ya sudah tuan, saya akan bantu cari obatnya." ucap asisten Ron.
"Cepat Ron.. ehh Mmpruuutt!!" Tiba-tiba terdengar suara merdu dari sebrang telfon. Asisten Ron menekuk wajahnya, spertinya karma dibayar tunai.
'Sialan! tadi aku yang mengentuuti Mia, sekarang aku yang dikentutin, bahkan baunya sampai kesini!' umpat Ron.
//
Klek!
"Ini obat yang Anda minta tuan." asiten Ron masuk dengan sebuah bungkusan kecil ditangannya. Setelah itu menyerahkan bungkusan itu kepada Lamha. Dengan sigap Lamha mengambilnya dan menyerahkannya kepada tuan El yang kini sedang terkulai lemas.
__ADS_1
"Kamu dari mana saja sih, dari tadi sulit sekali dihubungi?" tanya tuan El sambil bersandar di sisi ranjang.
"Sedang ada keperluan tuan. Apa masih ada pekerjaan?" tanya asisten Ron.
"Kenapa buru-buru sekali?" tanya tuan El.
"Saya hanya merasa sedikit pusing tuan, mungkin masuk angin." ucap asisten Ron dengan wajah yang nampak lesu.
"Kamu kenapa? sedang ada masalah apa? tidak biasanya memasang wajah seperti itu?" tanya tuan El yang sudah kenal bagaimana asisten Ron luar dan dalam.
"Tidak apa-apa tuan, saya..."
"Sayang keluar dulu sebentar ya, mas mau bicara dengan Ron." pinta tuan El yang tahu jika asisten Ron tak akan nyaman bila ada orang yang mendengar percakapan mereka.
"Iya mas, kalau begitu Lamha tunggu diluar." ucap Lamha, setelah itu dia bergegas keluar dan menutup pintu kamarnya.
"Ada apa? aku paling tidak suka jika ada yang ditutup-tutupi." ucap tuan El.
"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita, jadi begini aku dan Lamha berniat menjodohkan mulai dengan Novi, adiknya Lamha. Apa kamu mau? aku minta jangan menolak!" ucap tuan El.
"Kalau anda meminta jangan menolak, kenapa harus bertanya mau atau tidak." ucap asisten Ron kesal.
"Aku bertanya takutnya kamu sudah memiliki wanita lain, tapi sepertinya tidak ada wanita yang mau denganmu." ucap tuan El mencibir. Asisten Ron tersenyum kecut, entah kenapa bayang-bayang wajah Mia terus terngiang dikepalanya.
"Novi terlalu baik untuk saya tuan. Dia pantas mendapatkan pria baik-baik." ucap asisten Ron menolak dengan halus.
"Kamu kan juga pria baik-baik. Kalian sama-sama baik, Sama-sama perjaka dan gadis ting-ting." ucap tuan El.
"Saya merasa tidak pantas karena..."
__ADS_1
"Jangan mencari-cari alasan Ron. Aku tahu sudah ada wanita lain dihatimu. Cepat katakan siapa wanita itu?" tanya tuan El tanpa berbasa-basi.
"Tidak tuan, anda salah. Tidak ada siapapun di hati saya." ucap asisten Ron berusaha menyangkal.
"Jangan menyangkal, dari raut wajahmu yang tidak biasa saja aku bisa melihat jika kamu sedang patah hati. Siapa wanita itu, katakanlah aku akan melamarkannya untukmu." ucap tuan El.
"Bukan siapa-siapa tuan." asisten Ron masih bersikeras menyangkal.
"Aku jadi penasaran, seperti apa wanita yang sudah membuat Damarion goyah." ucap tuan El dengan mata memicing. Dia semakin penasaran dan kepo berat.
"Saya..."
"Oh astaga Ron, Jangan-jangan itu salah satu gejala ngidam, ya! itu pasti ngidam, ngidam ingin tahu siapa kekasih seorang Damarion." ucap tuan El dengan seringai liciknya.
Skak mat!
"Jangan mengada-ngada tuan, mana ada ngidam seperti itu." ucap asisten Ron yang semakin dibuat ketar-ketir.
"Tentu saja ada. Ya aku ini, dan aku tidak ingin anakku ileran karena keinginannya tidak terpenuhi." ucap tuan El yang semakin mendesaknya.
"Maaf tuan. Saya minta maaf, saya tidak bisa." ucap asisten Ron dengan suara lemah.
"Tapi Ron... begini saja, aku kasih saran padamu. Jika memang cinta, katakanlah. Terserah dia akan menerimanya atau tidak, akan terbalas atau tidak. Yang penting kamu sudah mengutarakan perasaanmu padanya, sehingga kamu tidak akan menyesal karena belum mengutarakan perasaanmu saat wanita itu pergi atau dimiliki pria lain." ucap tuan El dengan bijak.
"Saya tidak berani, dia dan saya tidak mungkin bersama, dia seorang bintang dan aku hanya..." asisten Ron menjeda ucapannya.
"Kamu adikku Ron. Adik Libra Graham." ucap tuan El sembari tersenyum menyemangati.
"Tapi dia menganggapku hanya seorang babuu rendahan tuan." ucap asiaten Ron dengan wajah sedih.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁