LAMHA DAN TUAN EL

LAMHA DAN TUAN EL
Tarik Ulur


__ADS_3

Malam harinya disaat pekerjaan semua sudah selesai, tuan El berpamitan hendak kembali ke hotel. Pinggangnya benar-benar terasa encok dan pegal-pegal, sungguh dia kapok mengelap piring dan perabotan sebanyak itu.


"Nak El, mau kemana?" tanya Ibunya Lamha.


"Kembali ke hotel bu." ucap tuan El.


"Kenapa tidak tidur disini saja?" tanya ibunya Lamha.


"Memangnya boleh sama Lamha?" tanya tuan El sambil melirik Lamha yang tengah membereskan piring kotor dimeja dapur.


"Bolehlah. Kenapa masih tanya." ucap ibunya Lamha. Melihat Lamha yang hanya diam saja tuan El tersenyum kecut.


"Saya tidak ingin mengganggu Lamha bu, dia pasti tidak nyaman jika saya menginap disini." ucap tuan El. Lamha akhirnya memberanikan diri menatap tuan El.


"Kalau menginap tinggal nginap aja enggak usah banyak ngomong." ucap Lamha.


"Hus! jangan begitu sama suami, enggak sopan." ucap ibunya Lamha.


"Maaf bu, soalnya dari tadi mas El nyindir-nyindir terus." jawab Lamha.


"Sudah sana temani suami mu. Layani dia. Biar ini semua ibu yang bereskan." ucap ibunya Lamha. Tuan El tersenyum menang. Lamha mengangguk dan menatap kearah tuan El yang tengah menyeringai.


"Mandi dulu, bajunya biar Lamha siapkan." ucap Lamha sambil melengos masuk kedalam kamar.


Brak!!


Tuan El ikut masuk kedalam kamar.


"Saya mandinya nunggu pengawal datang bawa baju ganti. Soalnya kan disini enggak ada baju ganti, masa iya saya tidak pakai apa-apa. Oh atau jangan-jangan..."


"Jangan-jangan apa?" tanya Lamha.


"Jangan-jangan kamu lebih suka saya enggak pakai apa-apa." goda tuan El.


"Apa sih mas, enggak lucu jangan bercanda." ucap Lamha sembari membuka cadar nya.


"AC nya belum dipasang?" tanya tuan El yang merasa sumuk.

__ADS_1


"Belum, adanya kipas angin." jawab Lamha.


"Kasur juga belum diganti sama yang baru." ucap tuan El.


"Belum sempat, lagian Lamha nyaman tidur dikasur ini. Kasur yang baru biar didepan aja buat tamu." ucap Lamha sambil mengoles body lotion ke betisnya.


"Duduk sini" titah tuan El seraya menepuk kasur disebelahnya.


"Mau ada yang saya bicarakan." ucap tuan El. Lamha menurut dan duduk di samping tuan El.


"Mau bicara apa lagi, sejak tadi bicara terus." ucap Lamha.


"Terimakasih sudah mau memaafkan saya." ucap tuan El.


"Siapa bilang Lamha udah maafin mas El?" tanya Lamha.


"Tapi kamu..."


"Lamha belum bisa menerima mas El sepenuhnya." ucap Lamha sambil membuang muka kearah Lain.


"Bagaimana kalau posisinya di balik? apa mas El mau memaafkan Lamha?" tanya Lamha.


"Itu.. saya minta maaf saya sudah keterlaluan." ucap tuan El.


"Maaf saja tidak cukup mas, Lamha butuh bukti bukan hanya maaf saja. Lamha ingin mas El punya pendirian tegas, dan tidak mudah terhasut fitnah. Pernikahan itu didasari kepercayaan mas, komitmen dan saling terbuka." ucap Lamha.


"Iya mas El mengaku salah, tapi saat itu mas El benar-benar dikuasai emosi dan amarah." ucap tuan El.


"Lalu dengan serta merta mas El seenaknya mengucapkan kata talak? semudah itu melepaskan Lamha." ucap Lamha dengan air mata yang berderai membasahi pipinya.


"Tolong fikirkan lagi, fikirkan apakah ingin melanjutkan pernikahan ini atau tidak, masih ada waktu sampai anak ini lahir. Karena Lamha tidak mau menyesal memberi kesempatan pada orang yang tidak berpendirian." lanjutnya.


"Sekali lagi saya minta maaf Lamha, saya benar-benar menyesal. Saya benar-benar mencintaimu Lamha, saya ingin melanjutkan pernikahan ini, saya tidak mau berpisah." ucap tuan El mengiba.


"Sudahlah mas, Lamha mau tidur, sudah ngantuk" ucap Lamha mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tidur? kita tidak..."

__ADS_1


"Maaf Lamha belum siap, tapi kalau mas El memaksa Lamha akan layani." ucap Lamha sambil menunduk.


"Saya tidak akan memaksa saya akan menunggu sampai kamu yang memintanya." ucap tuan El sambil mengelus pipi Lamha.


"Kalau mau tidur duluan saja, saya masih nunggu baju." ucap tuan El.


"Mau dipijit?" tawar Lamha.


"Tidak perlu, nanti kamu kelelahan." jawab tuan El. Disaat bersamaan tuan El mendengar suara mobilnya. Lalu dia keluar kamar dan menghampiri anak buahnya. Kemudian dia membersikan tubuhnya dikamar mandi.


Klek!


Tuan El masuk kedalam kamar dengan handuk sepinggang dan rambut yang basah, aroma shampoo menguar dari rambutnya. Lamha terpana entah kenapa dia sangat suka dengan wangi shampoo yang dipakai tuan El. Dia kembali bangun dan mendekat kearah tuan El.


"Loh belum tidur?" tanya tuan El. Lamha tak menjawab dan malah melingkarkan tangannya dileher tuan El lalu menurunkan kepala tuan El agar menunduk dan menciumi rambut tuan El yang terasa begitu segar dan wangi. Tuan El merasa heran dengan tingkah aneh Lamha.


"Kenapa sih? di rambut saya ada apa?" tanya tuan El. Lamha kembali menegakkan kepala tuan El dan kini dia malah mengendus leher dan area dadaa tuan El dan menciumi nya dengan agresif.


"Kamu kenapa? kesambet?" tanya tuan El.


"Lamha suka wanginya." ucap Lamha.


"Aneh, tadi enggak mau, sekarang malah deket-deket." ucap tuan El.


"Tadi bau asem, bau debu, sekarang udah wangi." jawab Lamha.


"Oh, berarti kamu sudah..."


"Sudah apa?" tanya Lamha.


"Sudah siap untuk..."


"Sudah sholat isya dulu sana." ucap Lamha yang langsung berbalik karena merasa malu.


"Jangan malu-malu dong sayang" ucap tuan El sembari memeluk Lamha dari belakang.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2