
Malam hari disaat Lamha, ibunya dan adiknya tengah menikmati makan malam bersama, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.
Tok Tok Tok
"Ada tamu nak, biar ibu saja yang bukain pintunya. Kamu lanjut makan, makan yang banyak. Jangan lupa minum susu hamilnya." ucap ibunya Lamha.
"Iya bu." jawab Lamha. Setelah itu ibunya Lamha bergegas menuju pintu depan dan membukakan pintu untuk tamu yang datang.
Klek!
"Loh, kamu..."
"Assalamu'alaikum bu?" sapa tuan El sembari mencium tangan ibunya Lamha.
"Eh, waalaikumsalam. Kenapa tidak bilang kalau mau kesini nak El?" tanya ibunya Lamha yang tetap bersikap ramah.
"Saya..."
"Ayo duduk dulu, pasti kalian capek habis menempuh perjalanan jauh." ucap ibunya Lamha mempersilahkan tuan El dan asisten Ron duduk di kursi tamu.
"Ibu buatkan minum dulu sebentar ya." ucap ibunya Lamha.
"Tidak usah merepotkan bu, saya..."
"Tidak apa-apa, tunggu sebentar." sela ibunya Lamha. Setelah ibunya Lamha pergi kedapur, tuan El semakin merasa gugup.
"Bagaimana ini Ron? bagaimana kalau dia menolak ku?" tanya tuan El sembari menggosok-gosok tangannya.
"Cinta di tolak dukun bertindak" ceplos Ron.
"Apa kamu sudah gila hah?!! kamu menyuruhku mengguna-guna istriku sendiri?" tanya tuan El geram.
"Lalu saya harus menjawab apa tuan? saya sendiri tidak punya pengalaman soal itu, jika soal bisnis dan pekerjaan kantor, anda bisa tanyakan kepada saya, tapi kalau soal merayu wanita, anda tau sendiri hingga sekarang saya masih jadi jomblo sejati." ucap asisten Ron apa adanya.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus fikirkan caranya atau..."
"Atau apa?" tanya asisten Ron.
"Aku pangkas habis gajimu bulan ini!" ancam tuan El.
Gleg!
'Sialan timbangan oleng! aku menyesal kenapa tadi tidak aku beri obat tidur saja di minumannya. Menyusahkan saja!' batin asisten Ron.
Dia membuka ponselnya mencari cara meluluhkan hati wanita dan apa saja tindakan yang harus dilakukan jika ditolak oleh wanita.
Sementara itu Lamha yang sudah selesai dengan makan malamnya, kini ikut bergabung bersama ibunya membuatkan dua gelas teh hangat.
"Ini untuk siapa bu? siapa yang datang?" tanya Lamha penasaran.
"Ini.. untuk tamu kehormatan." jawab ibunya Lamha.
"Dia... suamimu Libra." ucap ibunya Lamha yang langsung membuat Lamha melotot tak percaya.
"Mau apa dia kesini bu?" tanya Lamha dengan wajah panik.
"Ibu juga belum tahu nak, maka dari itu coba kamu temui dia." ucap ibunya Lamha.
"Lamha tidak mau bu, bilang saja Lamha sudah tidur." ucap Lamha yang langsung masuk kedalam kamarnya. Entah kenapa dia merasa tak siap untuk bertemu dengan tuan El lagi. Padahal dilubuk hatinya yang paling dalam, dia sangat merindukan pria itu. Tapi rasa sakit yang terlalu besar yang ditorehkan tuan El di hatinya, membuat Lamha merasa tak sudi melihat wajah lelaki itu lagi. Ibunya Lamha hanya bisa menarik nafas dalam-dalam melihat Lamha yang langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya itu. Dia tak bisa memaksa karena semuanya memang perlu waktu dan tidak semudah itu memaafkan.
Setelah teh hangat buatannya jadi, ibunya Lamha segera membawa minuman itu keruang tamu dan menyajikannya dihadapan tuan El dan asisten Ron. Kemudian ikut duduk di kursi tamu.
"Langsung saja bu, saya kesini mau bertemu dengan Lamha." ucap tuan El tanpa berbasa-basi.
"Maaf nak El, Lamha sudah tidur. Dia kelelahan karena seharian ini berjualan. Jam tiga nanti sudah harus bangun lagi untuk membuat kue, selepas shubuh dia mulai keliling kampung menjual kue-kue buatannya. Jadi saya tidak tega jika harus membangunkannya." ucap ibunya Lamha.
Deg
__ADS_1
Tuan El meremas kedua tangannya, saat mendengar penuturan ibu mertuanya bagaimana Lamha yang berjuang mencari uang. Dia baru ingat saat seorang pelayan menyerahkan beberapa perhiasan dan segepok uang yang sempat dimasukkan kedalam koper Lamha. Lamha benar-benar menolaknya dan harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tuan El seketika merasa sesak dan merasa amat sangat bersalah sudah menuding dan mengata-ngatai Lamha yang hanya ingin uangnya saja.
"Apa saya boleh ke kamarnya?" tanya tuan El.
"Maaf nak El, Lamha kalau tidur pintunya suka dikunci dari dalam." ucap ibunya Lamha.
"Kalau begitu apa boleh saya menginap disini?" tanya tuan El.
"Boleh, tapi dirumah ini kamarnya hanya ada dua, yang satu dipakai Lamha yang satu dipakai ibu dan Novi adiknya Lamha. Kalau mau disana ada amben, tapi hanya dialasi tikar, tidak ada kasurnya. Tunjuk ibunya Lamha kesebuah ranjang kayu tanpa kasur didekat jendela. Biasanya tempat itu di gunakan untuk bersantai saat siang hari.
"Oh, tidak apa-apa bu." jawab tuan El dengan cepat.
"Lalu temannya bagaimana?" tanya ibunya Lamha.
"Dia tidur dilantai saja. Tikarnya masih ada kan bu?" tanya tuan El yang tak memperdulikan Ron yang kini sedang melotot tajam.
"Masih, masih ada kok." jawab ibunya Lamha.
"Tapi disini banyak nyamuk, dan ibu hanya punya obat nyamuk bakar, apa nak El akan betah tidur disini?" ucap ibunya Lamha.
"Oh, tidak masalah bu. Hanya sekedar nyamuk tidak akan bisa membuat saya sakit." ucap tuan El.
"Oh ya sudah kalau begitu. Apa kalian sudah makan?" tanya ibunya Lamha.
"Belum bu" timpal asisten Ron yang kini merasa keroncongan.
"Oh, ya sudah ayo kita makan malam dulu. Kebetulan kami tadi baru saja selesai makan malam, tapi masih ada beberapa lauk. Ya hanya lauk sederhana saja nak El." ucap ibunya Lamha.
"Ayo bu, saya sudah sangat lapar, biarpun hanya dengan garam saya tetap mau bu karena tuan El tak membiarkan saya istirahat barang sejenak, dia tak sabaran ingin segera sampai ke kampung ini." adu asisten Ron.
'Sialan kau Ron! bedebaah!' umpat tuan El didalam hati.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1