
"Nov, apa kamu bahagia menikah dengan saya?" tanya Nickholas yang kini duduk bersandar di dinding sofa.
"Mas Iko sendiri bahagia atau tidak?" bukannya menjawab, Novi malah balik bertanya.
"Kalau ditanya ya dijawab jangan malah balik nanya," ucap Nickholas.
"Kenapa Mas Iko tanya begitu, apa kalau Novi bilang tidak bahagia mas Iko bakalan melepaskan Novi dan mengembalikan Novi pada Ibu?" tanya Novi.
"Sebegitu inginnya kamu pergi dari saya, tapi baiklah, saya akan mengembalikan kamu pada Ibumu asalkan kamu bawa El kepada saya," ucap Nickholas.
"Kalau begitu lebih baik Novi selamanya disini, dari pada mengorbankan keluarga kak Lamha. Dia sedang hamil, kalau sampai suaminya celaka pasti kak Lamha akan sangat sedih. Dulu waktu sama Mas Maulana hidupnya kurang bahagia karena Mertua dan keluarganya Mas Maulana terus-menerus menyakiti kak Lamha. Kemudian punya anak, anaknya meninggal. Berjuang sendiri sampai pada akhirnya menikah dengan tuan El dan memiliki ibu mertua yang baik dan sangat sayang pada Kak Lamha. Novi tidak tega melihat Kak Lamha harus merasakan kehancuran rumah tangga untuk yang kedua kalinya, dia berhak bahagia dan Novi minta Mas Iko jangan usik tuan El ya," ucap Novi dengan mata memohon.
Nickholas tertegun. Hatinya terasa bimbang dan gamang. Kenyataan yang dikatakan Novi benar-benar membuatnya merasa sangat bersalah, bukan kepada tuan El melainkan kepada Lamha, wanita yang pernah dia jebak demi membalaskan dendamnya kepada tuan El.
"Sepertinya kamu begitu menyayangi Lamha," ucap Nickholas.
"Tentu saja, Kakak dan Adik harus saling menyayangi satu sama lain. Oh iya, Mas Iko punya Adik atau Kakak enggak?" tanya Novi.
"Tidak," jawab Nickholas.
"Em.. kalau orang tua? masih ada?" tanya Novi pelan dan penuh kehati-hatian. Bukan apa-apa tapi selama ini Nikcholas selalu saja marah-marah jika Novi bertanya soal orang tuanya. Padahal dia pun ingin mengenal keluarga dari suaminya itu. Apalagi saat hendak berangkat ke Paris Nickholas izin kepada ibunya dengan alasan ingin menjenguk ibunya Nickholas yang tengah sakit.
__ADS_1
"Kamu tahu saya tidak suka jika kamu bertanya soal keluarga, kenapa masih saja bertanya?" tanya Nickholas dengan tatapan tajam.
"Maaf kalau pertanyaan itu membuat Mas Iko tersinggung atau tidak nyaman. Sejujurnya Novi hanya ingin merasakan kasih sayang mertua seperti Kak Lamha Mas," ucap Novi sambil menunduk.
"Tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Karena pernikahan kita saja hanya sebagai ajang balas dendam Mas Iko kepada Tuan El, maaf Novi bermimpi terlalu ketinggian," ucap Novi sambil memalingkan wajahnya yang sudah basah dibanjiri air mata.
Nickholas jadi merasa sangat bersalah dan merasa menyesal. Entahlah persaan apa yang hinggap di hatinya saat ini. Yang jelas dia tak tahan melihat Novi menangis. Dia mendekati Novi dan menghapus air mata itu dengan jarinya. Lalu membawa Novi masuk ke dalam pelukannya.
"Maaf," ucap Nickholas sembari mengecupi kepala Novi. Novi tak menjawab, dia malah semakin tersedu-sedu.
"Jangan menangis," ucap Nickholas lembut. Novi semakin membenamkan wajahnya di da-da bidang Nickholas.
"Nov, tolong jangan begini, apapun akan saya lakukan asalkan kamu berhenti menangis," ucap Nickholas.
"Ya, apapun itu kecuali satu hal," ucap Nickholas.
"Apa?" tanya Novi.
"Jangan pernah meminta untuk pergi dari hidup saya, saya tidak mau itu terjadi," ucap Nickholas.
"Kenapa? kenapa tidak mau Novi pergi, bukankah Mas Iko tidak cinta sama Novi? Kenapa malah tidak mau Novi pergi?" tanya Novi.
__ADS_1
"Karena... saya..." Nickholas tak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih mencumbu Novi kembali dan mengulangi percintaan panas mereka dengan begitu menggebu.
"Kenapa Mashh..." tanya Novi disela-sela Nickholas menghentak tubuhnya. Nickholas berhenti sejenak kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Novi.
"Apa kamu tidak bisa merasakannya?" tanya Nickholas penuh kelembutan.
"Merasakan apa?" tanya Novi bingung.
"Je Vous aime (Aku cinta kamu), Novi Az-Zahra," ucap Nickholas dengan tatapan penuh cinta. Novi malah semakin bingung.
"Ngomong apa sih Mas? Apa tadi, jeruk mandarin?" tanya Novi.
"Je Vous aime, bukan jeruk mandarin," ucap Nickholas sambil mengecup hidung Novi dengan gemas.
"Artinya apa?" tanya Novi.
"Mau tahu?" Nickholas malah balik bertanya. Dengan spontan Novi mengangguk. Namun bukan jawaban yang diterima Novi justru kini Nickholas membalik posisi mereka menjadikan Novi duduk diatas tubuhnya.
"Akan saya beritahu tapi.. puaskan dulu saya," ucap Nickholas.
"Novi harus bagaimana?" tanya Novi bingung.
__ADS_1
"Bergeraklah Sayang," ucap Nickholas sambil memegang pinggang Novi dan menuntun Novi agar bergerak naik turun untuk mendapatkan kenikmatan dengan posisi sempurna ini.
Dipanggil sayang, hati Novi berdesir hebat. Namun tidak lama setelah itu Novi kembali masuk ke dalam gulungan ombak kenikmatan yang diberikan Nikcholas. Novi menggigit bibir bawahnya dan bergerak mengikuti instingnya. Sungguh posisi seperti ini menambah kenikmatan yang tak terkata.