
"Tuan, maaf ada apa ya mencari saya?" tanya Lamha saat mereka sudah sama-sama duduk diruang tamu.
"Iya saya kesini mau ada perlu. Jadi gini, saya kan rencananya mau mengadakan syukuran karena proyek saya dikampung sini akhirnya berhasil dan sekarang sedang proses pembangunan. Jadi rencananya saya mau bagi-bagi makanan dan sedikit rezeki ke anak-anak yatim supaya proses pembangunannya berjalan dengan lancar. Jadi saya rencananya mau pesen kuenya dari kamu. Gimana, bisa enggak?" tanya Nickholas.
"Emh, tuan tahu dari mana kalau saya jualan kue?" tanya Lamha.
"Oh, itu kemarin yang borong kue kamu kan saya Lamha, yang beli itu supir saya. Saya baru sadar kalau ternyata kamu yang jualan kue itu didepan sekolahan dan akhirnya secara tidak sengaja kita malah ketemu lagi saat kamu digangguin para preman." ucap Nickholas menjelaskan.
"Oh seperti itu, tapi maaf sekali tuan, saat ini saya sedang tidak menerima orderan apapun. Saya juga sedang berhenti berjualan kue." ucap Lamha.
"Maksudnya bagaimana ya?" tanya Nickholas.
"Maksudnya Lamha sudah berhenti jualan, karena dilarang suaminya." ucap Ibunya Lamha. Nickholas mengernyitkan dahinya.
'Bukannya mereka sedang bertengkar dan Lamha pulang ke kampung halaman, bahkan sudah diceraikan, kenapa ibunya Lamha menyebut suaminya? itu artinya...' Nickholas bertanya-tanya dalam hati.
"Apa tuan El sedang disini?" tanya Nickholas.
"Nak El baru saja pergi, sedang ada keperluan katanya." ucap ibunya Lamha menutupi aib menantunya.
"Oh, begitu. Berarti tuan El sempat kesini ya, sayang sekali tidak sempat ketemu." ucap Nickholas dengan senyum kecut.
"Iya tuan, semalam menginap disini. oh iya kalau memang tuan membutuhkan makanan dan kue, mungkin kami bisa membantu mencarikan ketempat lain. Disini banyak pedagang kue selain Lamha." ucap Ibunya Lamha menawarkan.
"Tapi saya nanti malah merepotkan kalian, biar anak buah saya saja bu." ucap Nickholas.
"Kalau begitu saya permisi dulu bu, masih ada urusan yang harus saya selesaikan." ucap Nickholas berpamitan.
"Oh iya, buru-buru sekali." ucap ibunya Lamha.
__ADS_1
"Lain kali saya mampir lagi jika ada kesempatan." ucap Nickholas.
"Iya." jawab ibunya Lamba. Nickholas hendak mencium tangan ibunya Lamha namun ibunya Lamha hanya menangkup kedua telapak tangannya. Nickholas faham. Keluarga ini benar-benar menjaga kesuciannya. Sebenarnya saat menjebak Lamha dan ustadz Sulaiman, Nickholas merasa tuanglllll dan merasa sangat bersalah kepada Lamha, namun mau bagaiamana lagi, dendamnya kepada tuanglll sudah menggunung. Kebenciannya benar-benar menutup mata hatinya sebagai manusia.
Setelah mengucapkan salam, dia keluar dari rumah itu namun dia tak sengaja bertabrakan dengan Novi adik perempuan Lamha. Nickholas menangkap tubuh Novi yang hendak terjatuh, sejenak dia memandang wajah Novi dari dekat, entah kenapa ada getar-getar asmara dalam dadanya saat melihat Novi yang masih Remaja itu. Ya usia Novi baru saja 17 tahun dan dia tidak mengenakan cadar seperti Lamha, Novi masih berproses, saat ini dia hanya berhijab tanpa cadar.
"Eh, sorry saya tidak sengaja." ucap Nickholas buru-buru melepaskan Novi.
"Saya juga minta maaf tuan karena jalan tidak lihat-lihat." ucap Novi tak enak hati.
"Iya, saya permisi." ucap Nickholas yang masih terpanah akan kecantikan alami Novi.
"Iya tuan." jawab Novi sambil mengangguk pelan. Namun dia tak berani menatap mata Nickholas karena merasa malu, dan keluarganya selalu mengajarkan jika dia tak boleh berpandangan dengan lelaki yang bukan mahkramnya. Novi bergegas masuk kerumah dan Nickholas bergegas menuju mobilnya.
//
Setelah selesai shalat isya', Lamha membuka ponselnya, sejak tadi perasaannya gelisah karena merindukan tuan El. Dengan penuh pertimbangan, akhirnya dia memutuskan untuk membuka blokiran ke nomor tuan El. Sehingga mereka bisa saling berkomunikasi lagi.
Lamha menatap layar didepannya, ingin sekali dia menghubungi tuan El, tapi rasa gengsi dan juga rasa kecewa nya belum hilang. Lamha masih sakit hati tapi sungguh dia sangat merindukan tuan El. Dengan tangan gemetar dia memencet tombol bergambar telfon dan akhirnya...
"Halo... sayang? kamu disana?" tanya tuan El yang langsung mengangkat panggilan itu. Sedangkan Lamha malah merasa terkejut karena tuan El cepat sekali mengangkat panggilan darinya. Lamha tak tahu saja, sejak tadi tuan El terus memandangi ponselnya, menunggu keajaiban datang. Dan ternyata bagai ketiban durian runtuh, yang dinanti akhirnya datang. Lamha menelfon nya.
"Halo sayang, kenapa diam saja?" tanya tuan El dari sebrang telfon. Lamha bingung harus menjawab apa, dan memilih mematikan panggilan itu. Namun tak lama ponselnya kembali berbunyi, kini gantian tuan El yang menghubunginya. Duh! Lamha jadi galau diangkat atau tidak ya?
Akhirnya setelah beberapa kali panggilan, Lamha mengangkat panggilan itu.
"Assalamu'alaikum" sapa Lamha.
"Waalaikumsalam, sayang maaf mas El lupa mengucapkan salam tadi." ucap tuan El.
__ADS_1
"Tidak apa-apa mas." jawab Lamha.
"Sedang apa? sudah makan?" tanya tuan El.
"Sedang dikamar, sudah tadi bersama ibu dan Novi." ucap Lamha.
"Susu nya sudah diminum?" tanya tuan El perhatian.
"Sudah mas." jawab Lamha singkat.
"Saya sangat merindukan kamu Lamha, saya senang sekali saat kamu menghubungi saya." ucap tuan El lirih.
"Sudah dulu ya mas, Lamha sudah ngantuk." ucap Lamha yang sudah tak kuat menahan tangisnya. Dia tak ingin tuan El mendengarnya menangis.
"Oh, iya. Istirahat yang cukup. Kalau ada apa-apa hubungin saya ya." pesan tuan El.
"Hm" jawab Lamha.
"I love you" ucap tuan El.
'I love you too' ucap Lamha namun hanya didalam hati.
Tuan El tersenyum kecut, karena Lamha hanya diam saja.
"Assalamu'alaikum" ucap tuan El.
"Waalaikumsalam" jawab Lamha. Setelah itu panggilan terputus dan diakhiri.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1