Langit Mendung

Langit Mendung
Awal bertemu Satria


__ADS_3

Sesuai janjiku, setelah pulang dari studi tour dan siap mengerjakan tugas. Aku akan kerumah ayah, tapi aku tidak datang sendirian. Aku mengajak Munah untuk ikut bersamaku. Dan malam ini, dia akan menginap. Besok sekolah libur, jadi aku juga meminta Munah untuk ikut denganku datang kerumah ibu. Lengkap sudah jadwal Munah! Ah aku jadi ingin memberinya surat kontrak agar dia tidak bisa melanggar janjinya.


"Tunggu! Nara, aku tidak setuju jika harus ikut kerumah ibumu."


"Munah? Ayolah. Aku tidak mau datang sendiri. Kalau aku datang sendiri, pasti ibu akan memaksaku untuk menginap. Kau tega melihat ku tersiksa?" Munah masih diam belum menjawab. Baiklah, aku juga harus berkorban uang sepertinya.


"Sepatu dan tas baru? Gimana?" Belum juga mau Sepertinya. "Ke salon?" Matanya langsung berbinar.


"Ah iya aku sudah lama sekali tidak melakukan perawatan. Aku rindu kepala di pijat, kulitku juga kusam. Lihat ini, kau lihat kan? Ah Nara, kau memang selalu tau keinginanku!" Dia bergelayut di lenganku.


"Dasar matre!" Aku berjalan menuju mobil dan meninggalkannya, berlari kecil mengejarku.


"Kalian langsung pulang?" Aku langsung mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil.


"Aku ada urusan Hid, jadi harus pulang."


"Urusan? Bicaramu sudah seperti pimpinan perusahaan saja!" Wahid mendengus. "Kalau pulang, kenapa kau harus mengajak Munah untuk ikut bersamamu?" Aku menghela nafas.


"Aku mau kerumah ayah. Dia sakit." Wahid langsung mengangguk.


"Baiklah, hati-hati dijalan."


"Hei, jangan lupa apa yang sudah kau janjikan tadi!" Bisa-bisanya, mereka selalu mempunyai misi berdua sepertinya. Pasti ada sesuatu yang Munah mau lagi.


"Tapi kau juga harus janji bawa kakakmu ya?" Munah mengangguk dan masuk ke mobil. Aku sudah duduk bersiap memegang stir kemudi.


"Apa sudah selesai urusanmu dengan Wahid?" Munah mengangguk dan tersenyum, lalu senyumnya tidak hilang begitu saja, bahkan sampai mobil melaju juga dia masih tersenyum sendiri. Aku berpikir bahwa Munah mulai gila!


"Kenapa sih?" Aku mulai risih sekarang melihatnya.


"Tidak, aku lagi senang."


"Kau meminta apa lagi dari Wahid? Kau memanfaatkanya ya? Dia teman kita Munah!" Aku memberi peringatan.


"Dia sendiri yang mau dan berjanji akan membelikan ku gaun baru. Hanya karena ingin pacaran dengan kakakku."


"Terserah kalian lah." Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Untung jalanan sore ini tidak begitu macet. Bisa sampai dirumah ayah sebelum gelap.


"Apa kau sudah menelpon ibumu?" Munah menggeleng. "Sebaiknya lakukan, agar tidak menunggumu dirumah." Munah mengangguk menuruti perkataan ku, lalu mengeluarkan ponsel dan menelpon ibunya.


"Ibumu tidak marah kan?"


"Tidak. Tapi?"


"Apa?"


"Ibu bilang, setelah ini kau juga harus gantian menginap di rumahku." Heh, aku menghela nafas. Aku sangat tidak ingin merepotkan. Pernah sekali aku menginap di rumah Munah. Yang ada aku malah terharu dan menangis sepanjang malam di pojok kamarnya. Bukan karena ibunya memarahiku, tapi hanya karena kelembutan dan kasih sayang yang ibunya Munah berikan membuatku malah sedih. Sedih rasanya harus mendapatkan kasih sayang dari orang lain, sementara kedua orang tuaku saja masih hidup.


"Kau takut menangis lagi ya?" Eh dia tau apa yang aku pikirkan.


"Sudahlah, ibuku memang begitu. Dia sayang padamu."


"Ibumu kan? Bukan ibuku?" Munah terdiam, lalu dia mengubah posisi duduknya agak miring.


"Nara, bukankah sudah sering kukatakan padamu? Cara setiap orang tua itu berbeda dalam memberikan kasih sayang. Kalau ayahmu tidak sayang, mana mungkin setiap kau meminta uang dia selalu memberi. Dan kalau ibumu tidak sayang mana mungkin dia mengharapkan mu untuk datang. Hanya saja kau tidak tau kalau sebenarnya mereka selalu ingin dekat denganmu. Mendidikmu menjadi anak yang patuh." Aku terdiam, sudah aku tidak ingin membahas hal ini lagi.


Saat sampai di depan rumah ayah, aku tidak langsung belok menuju gerbang. Aku menarik nafas dalam-dalam agar lebih relax, aku juga lelah hari ini. Aku mencoba lebih bersantai, agar apapun yang aku lihat dan aku dengar di dalam tidak mampu merangsang emosiku. Munah mengelus lengan ku, lalu aku siap dan berbelok. Membunyikan klakson agar penjaga rumah ayah dapat mendengar.


"Nona?" Aku mengangguk dan tersenyum.


"Apa sudah membuat janji dengan tuan? Soalnya beliau sedang tidak ingin di ganggu siapapun?"


Aku memukul stir kemudi, lagi-lagi harus menyuplai oksigen. Benar kan, aku seperti orang asing disini! Ingin saja aku berbalik dan tidak jadi datang.


"Maaf pak. Apa bapak jika ada di posisi ayahnya Nara, apa bapak juga tidak ingin bertemu anak anda?" Wajahnya langsung membuat dan berlalu langsung membuka pintu gerbang. Perkataan Munah memang lembut, tapi begitu nusuk bagi yang mendengarnya. Dia bahkan sempat tersenyum ke arah penjaga yang sudah menghalangiku untuk masuk, bukan tersenyum untuk menyapa. Tapi sepertinya Munah sedang tersenyum mengejek ke arahnya yang terus menunduk Hingga mobilku memasuki pelataran rumah ayah.


Jadi sudah tau alasannya, kenapa aku selalu mengajak Munah pergi kerumah orang tuaku. Dia selalu mampu menenangkan ku dan menjadi tameng ku.


"Selamat sore nona." Mereka, pelayan menyambut ku datang.


"Katakan pada ayah bahwa aku datang." Mereka menggiringku ke arah sofa, aku dan Munah duduk menunggu.


Tidak lama, Tante Intan keluar. Dia tersenyum ke arahku, aku hanya membalas sekenanya.


"Nara, kau sudah datang. Tunggu sebentar ya, ayahmu sedang mandi." Aku mengangguk.


Rumah ayah yang sekarang, jauh lebih mewah dari rumah kami dulu. Penjagaan juga super ketat, aku dengar bahwa ibu meminta haknya. Separuh dari kekayaan ayahku. Dan, rumah itu salah satunya. Yang di tinggali bersama suami barunya dan juga anak tirinya. Padahal, kata ayah itu semua atas namaku. Bagaimana bisa? Heh aku malah lebih memilih pergi dan tinggal di apartemen.


"Buatkan mereka minuman." Pelayan mengangguk dan pergi. Tidak ada pembicaraan lagi antara kami. Aku juga tidak tau harus membahas soal apa. Lagian, aku kesini karena hanya untuk melihat kondisi ayah.

__ADS_1


"Nara?" Aku menoleh. Ayah? Dia benar sakit ternyata, dari raut wajahnya aku bisa melihat.


"Ayah." Ucapku lirih.


"Munah, apa kabar?" Munah tersenyum.


"Baik om." Tante Intan bangkit dari duduknya, mungkin dia lebih memilih untuk pergi ke kamar saja. Tapi ayah menarik lengannya. Menahan Tante Intan agar tetap duduk disini.


"Mau kemana?" Tanya ayah sangat lembut, aaahhh bahkan ayah tidak pernah ku lihat berbicara begitu dengan ibu. Seumur hidupku, belum pernah aku melihatnya. Sepertinya ayah benar-benar menyayangi Tante Intan.


"Bicaralah dulu dengan Nara. Aku mau ke kamar dulu." Ayah perlahan melepaskan, walau aku tau sebenarnya ayah tidak rela.


"Nara, ayah dengar dari Tante Intan kalau hari ini kalian melakukan studi tour?" Aku mengangguk. "Apa menyenangkan?" Aku dan Munah saling pandang, sudah mengangguk saja. Begitu arti tatapan kami.


"Setelah ini, kau mau kuliah dimana?" Deg. Jantungku berpacu dengan kencangnya, kalau saja mereka tidak pernah tau bahwa saat ini aku hamil, aku pastikan aku bisa kuliah di universitas yang aku inginkan. Tapi kalau begini bagaimana? Baiklah aku mencoba untuk tenang.


"Aku belum tau yah. Nanti saja, aku belum memikirkan untuk itu."


"Jadi, kalau ayah tanya mau sampai kapan kau tinggal di apartemen? Sendirian? Apa kau tidak ingin tinggal disini bersama ayah?"


"Ayah?" Aku memperingatkan lagi, sudah berapa kali membahas soal ini. Aku tetap tidak mau. Dan terakhir kali membahas ini, ujungnya malah aku berdebat dengan ayah.


"Nara, mau sampai kapan nak? Kau juga harus mengenal siapa dan bagaimana Tante Intan? Dia orangnya lembut, ayah yakin kau akan merasa nyaman. Bukankah kau sangat ingin merasakan kasih sayang seorang ibu?" Deg. Lagi-lagi ayah!


"Ayah, aku memang ingin mendapat kasih sayang seorang ibu. Tapi hanya dengan ibuku sendiri yah, bukan orang lain. Dan jika ayah bicara hal ini sekarang. Aku rasa sudah terlambat. Aku sudah dewasa yah, aku sudah terbiasa apa-apa melakukan sendiri. Aku sudah tidak butuh kasih sayang." Munah mengelus lenganku lagi, dan berbisik jangan emosi.


"Maaf yah. Aku datang kesini bukan untuk membahas hal ini. Aku hanya ingin melihat keadaan ayah. Apa ayah sudah jauh lebih baik?" Ayah mengusap wajahnya dengan kasar, lalu dia mengangguk.


"Ayah sudah jauh lebih baik." Ayah berdiri dari duduknya, begini sikap ayah jika kecewa pasti dia akan pergi.


"Kalian jangan pulang dulu. Kita makan malam bersama. Tunggu sampai pelayan mengantarkan pakaian untuk kalian, lalu mandilah." Aku dan Munah mengangguk. "Ayah akan keruangan kerja." Heh, aku merebahkan tubuhku di sofa. Saling menopang dengan Munah. Lelah, hari ini aku benar-benar lelah.


Pikiranku lelah bukan karena memikirkan masalah yang ada, tapi lelah karena terkuras habis untuk berpikir soal tugas hari ini. Ternyata kami datang ke kebun binatang, hanya untuk melihat binatang. Ya itu memang benar, yang lebih parahnya lagi. Kami harus memilih salah satu dari mereka, untuk di teliti jenis makanan dan bagaimana mereka hidup. Berkembang biak serta merawatnya. Resiko satu kelompok dengan Wahid dan Adam, mereka lelaki sudah jelas kalau aku dan Munah saja yang mengerjakannya. Aku jadi sebal jika mengingat kejadian hari ini. Adam yang sibuk teleponan dengan pacarnya Elena. Dan Wahid yang sibuk dengan ponselnya, berphoto disana-sini.


"Nona, ini pakaian gantinya." Aku dan Munah langsung duduk ke posisi semula. "Silahkan ikuti saya." Kami berdiri, bak sapi yang dicucuk hidungnya. Manut dan menurut.


Kepala ku tiba-tiba sangat terasa pusing, perutku mual. Ini pasti karena terlambat makan, ah jadi masuk angin. Aku akan beristirahat sebentar nanti, sudah menjadi niatku. Dan pelayan yang mengantar kami tadi berhenti di depan pintu. Aku tau ini pasti kamar. Pelayan membukakan pintu dan mempersilahkan kami untuk masuk. Aku mengangguk dan Munah mengikuti langkahku. Tunggu, ini kamar siapa? Kenapa seluruhnya cat dinding, sprei dan gorden serta lemari dan alat lainnya, berwarna coklat. Itu warna kesukaan ku. Dan ini, sungguh jauh lebih mewah dibandingkan kamarku dulu dirumah dan juga kamar apartemen ku. Apa ayah sengaja menyiapkan kamar untuk anaknya nanti bersama tante Intan? Heh, iya mungkin begitu.


"Apa kau berpikir sama denganku?" Tanya Munah. Aku mengangguk. "Aku kira, kau hanya menganggap ini ruangan biasa." Lalu Munah menunjuk ke arah balkon kamar, disana ada ruangan yang disekat dengan tembok yang hanya tinggi satu meter. Berhadapan tepat di depan jendela. Aku berjalan kesana, ternyata jika duduk disini bisa melihat pemandangan kota. Rumah-rumah rapat penduduk terlihat dari sini. Lalu kalau malam, ah bisa kubayangkan pasti jauh lebih indah.


"Kurasa ini memang kamar khusus untukmu." Aku menggeleng, mana mungkin!


"Coba kau lihat, ini seperti meja belajar. Dan menghadap ke arah jendela, Hem." Munah meletakkan jarinya ke bibir, sok berpikir. "Biasanya kau kan suka buat puisi di dekat jendela kan? Dan ayahmu juga tau soal itu?" Aku mengangguk. Jujur, aku senang. Ternyata ayah masih ingat satu hal tentangku, tapikan belum tentu ini kamarku. Jelas-jelas aku tidak tinggal disini.


Rasanya baru saja nyaman dengan posisi seperti ini, perutku yang mual juga sudah hilang jika berbaring. Tapi Munah sudah membangunkan ku.


"Kau lihat ini sudah benar-benar gelap! Cepat kau mandi!"


Saat aku bangkit, bersamaan pintu kamar diketuk. Aku meminta Munah membukanya lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


Walau aku sempat mendengar Munah berdecak kagum, tapi menurutku ini biasa. Hanya saja memang jauh lebih luas dari kamar mandi di apartemen ku. Sudahlah, aku langsung mengguyur tubuhku dengan air. Heh, rasanya sangat sejuk.


Selesai dengan urusan mandi, Munah langsung mengatakan kalau tadi seorang pelayan datang. Dan mengatakan kalau kami sudah ditunggu ayah di meja makan untuk makan malam bersama. Aku juga heran, pakaian yang di berikan pas dengan tubuh kami. Cantik pula, gaun selutut yang ku pakai berwana coklat dengan pita di bagian dada. Dan yang di pakai Munah berwarna merah muda dengan corak bunga di bagian pinggang.


Aku melihat Munah tak henti-hentinya melihat tampilan dirinya sendiri di depan cermin, berputar bak putri raja. Dasar gila! Tersenyum sendiri, berpose lalu memanggilku untuk memastikannya cocok atau tidak.


"Pasti harganya sangat malah, kau lihat ini kainnya bagus sekali." Aku mendorong tubuhnya.


"Iya sudah aku tau itu, sudah cepat kita turun. Ayahku sudah menunggu." Kami berjalan beriringan, bak kedua saudara kandung saat ini. Oh indahnya jika memiliki saudara seperti Munah. Eh, aku jadi rindu pada mereka? Kira-kira sedang apa ya adik-adikku disana. Apa mereka sudah makan? Besok kalau sempat aku akan datang kesana dan memberi kabar kepada mereka kalau rumah untuk mereka dibangun sebentar lagi.


Munah tercengang, ketika sampai di meja makan. Bukan karena hidangannya, tapi saat dia akan menarik kursi pelayan sudah lebih dulu mempersilahkannya untuk duduk dengan menarik kursi. Aku tersenyum melihat reaksi wajah Munah saat ini.


"Makanlah, makan yang banyak." Ucap ayah ketika melihatku dan Munah sudah mulai membalikkan piring. Wajah ayah juga sudah terlihat bugar, jauh berbeda seperti yang tadi.


"Apa kau suka dengan kamarmu?" Deg. Aku mengurungkan niatku untuk menuangkan nasi ke piring. Jadi benar itu kamar untukku? Tapi untuk apa? Bukankah aku tidak mau tinggal disini.


"Semua itu yang menyiapkan Tante Intan." Aku menoleh ke arah Tante Intan yang tersenyum kepadaku.


"Sudah, makan saja dulu." Tante Intan meminta ayah untuk berhenti berbicara.


Kami makan dalam keheningan, hanya aku saja yang saling lirik dengan Munah. Dia makan sangat sedikit. Sepertinya malu, haha. Aku jadi ingin tertawa melihatnya.


Tunggu, aku baru makan beberapa suap. Tapi mencium aroma tumis bawang, kenapa perutku mual? Aku berdiri dari dudukku. "Sebentar, mau ke kamar mandi."


Aku langsung berlari ke belakang, dapur ya aku mencari kamar mandi yang ada disana.


"Nona, nona, maaf mau kemana?" Seorang pelayan menegurku, aku tidak bisa menjawabnya karena mulutku sudah penuh sekarang. Aku mengeluarkan makanan yang baru saja masuk kedalam perut ku. Dan alhasil, semuanya keluar di wastafel.


"Nona, apa anda sakit?" Aku melemas, dan pelayan membantuku untuk duduk di kursi. Dia memberikan ku tissue.

__ADS_1


"Apa makanannya tidak enak nona?" Aku menggeleng pelan. Bukan, bukan itu maksudku.


"Aku masuk angin, jadi mual. Makanannya enak kok." Lalu pelayan memberikanku air hangat, aku meminumnya sedikit.


"Terima kasih." Ucapku dan berlalu pergi. Aku harus kembali ke meja makan. Sebelum mereka menyusulku dan berpikir aku kenapa-napa.


"Nara, wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?" Aku menggeleng. Lalu kembali duduk. Rasanya sudah tidak berselera untuk makan, padahal tadi aku sangat lapar.


"Aku hanya masuk angin, mungkin karena tadi siang telat makan." Munah menoleh ke arahku, sambil mengerutkan keningnya.


"Tapi tadi kita makan tepat waktu?"


"Apa mau ayah panggilkan dokter?" Eh aku langsung menggeleng cepat.


"Tidak yah, tidak usah. Setelah ini aku langsung pamit pulang ya yah. Aku juga harus mengantarkan Munah pulang."


"Begini saja, Munah biar pulang diantar supir, kau juga Nara. Biar mobilmu di bawa dengan supir lain." Ya ampun! Aku dan Munah saling pandang.


"Tidak usah yah. Kami harus mampir lagi buat copyan tugas sekolah tadi." Ah iya, ini alasan yang tepat.


"Iya nanti kan juga bisa langsung mampir, tinggal bilang kan sama supir."


"Iya yah tapi aku tidak mau merepotkan."


"Kau sedang sakit Nara. Atau kalian berdua mau menginap disini saja?" Ya ampun, kenapa jadi begini sih?


"Mas, sudahlah. Nara sudah besar. Pasti dia juga bisa jaga diri. Yang penting Nara kan hati-hati." Ayah menutup mulutnya dengan rapat, semula sudah terbuka seperti ikan, akan kembali berbicara. Heh untunglah, sepertinya kali ini aku harus berterima kasih pada tante Intan. Bisa gawat kalau batal membeli apa yang sudah aku janjikan pada Munah. Aku orangnya paling tidak bisa mengingkari janji.


Aku dan Munah langsung pamit, ayah memberikan uang tunai pada Munah yang aku sendiri tidak tau jumlahnya. Aku tidak iri, malah aku senang. Ayah tau berbagi. Munah menghitung uang yang diberikan ayah saat sudah di dalam mobil. Yang katanya untuk uang jajan, aku juga ingin tau berapa Nominalnya. Sungguh, berapapun itu aku tidak akan iri!


"Gila! Ini terlalu banyak Nara!" Dia spontan hampir menjerit. "5 juta." Lagi, Munah menoleh ke arahku sambil menggeleng. "Ini uang belanja ibuku satu bulan juga cukup!"


"Kalau begitu berikan saja untuk ibumu." Munah langsung memeluk uangnya, memberi paham padaku kalau ayah mengatakan itu untuknya.


"Kau kan sudah punya uang. Kalau kau berikan setengahnya saja ibumu sudah senang. Lagian malam ini juga aku akan membelikan apa yang kau minta." Wajahnya seperti tidak rela, dipandangnya lagi uang yang berada di tangannya. Memeluknya, lalu melamun. Ya ampun, aku hanya bisa geleng-geleng kepala.


Aku mengambil ponsel, dan kesempatan untuk mengambil photo Munah dengan posisi duduk melamun sambil memangku uang


"Habis dapat om-om senang." Ku kirim ke grup chatting, yang hanya ada aku, Munah, Wahid dan Adam.


Haha aku tertawa sendiri.


"Kau kenapa?"


"Ah tidak. Kita berangkat sekarang."


Mall, ya saat ini itu tujuan kami. Munah langsung kegirangan bak anak kecil setelah mendapatkan tas yang dia mau. Lalu beralih ke sepatu, aku tidak heran dengannya. Aku malah senang melihatnya begitu, berteman denganku bukan karena uang, aku juga memberinya sesekali. Jika berlebihan Munah juga akan menolaknya.


"Sudah kan?" Munah mengangguk, lalu aku memintanya untuk membayar di kasir dan menyerahkan kartu sakti ku.


Aku berjalan keluar sambil memainkan ponsel, sesekali melihat ke arah depan.


"Aduh." Aku menabrak seseorang.


"Maaf ya maaf kak, aku tidak sengaja. Maaf." Berulang kali aku mengucapakan kata maaf.


"Tidak apa-apa. Aku juga tadi berhenti mendadak." Aku mengambil ponselku yang sempat jatuh, untungnya tidak rusak.


"Sendirian ya?" Ha? Aku menoleh ke kanan dan kiri, dia bertanya padaku?


"Tidak, aku bersama temanku." Dia mengangguk. "Permisi." Aku melangkah lebih dulu, tapi tanganku di cekal.


"Satria." Dia mengulurkan tangannya.


"Eh Kinara." Aku menyambut uluran tangannya. Lalu aku kembali berjalan keluar mall. Aku menoleh ke arah belakang. Ternyata dia masih mengikuti ku.


Aku mempercepat langkahku. Aku takut, bagaimana kalau dia orang jahat? Dan sebenarnya tidak terima kalau aku menabrak tubuhnya tadi.


"Ini mobilku." Tunjuknya, tepat berada di samping mobilku. Ah syukurlah, mungkin dia tau melihat raut wajah ku yang ketakutan.


"Boleh minta nomor ponselmu?" Aku masih bingung, melihatnya lalu melihat lagi ke arah ponsel yang dia sodorkan.


"Iya." Aku mengetiknya secepat mungkin lalu mengembalikan ponselnya lagi.


Aku langsung masuk ke dalam mobil, lalu tak lama munculah sosok Munah yang bangga membawa paper bag berisi belanjaannya.


"Kau bicara dengan siapa tadi?"


"Tidak tau, aku tidak kenal." Jawabku, dan sialnya lelaki tadi malah membunyikan klakson padaku, tersenyum saat melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Gila! Tampan sekali!!" Ucap Munah lagi kegirangan.


Bersambung..


__ADS_2