Langit Mendung

Langit Mendung
Windu Satriawan Agustama


__ADS_3

POV AUTHOR


Disela-sela terbenamnya matahari, disitulah seorang ibu yang sedang berdoa untuk kesembuhan anaknya. Dimana dia berjuang hanya dengan doa, selain itu sudah dipasrahkan kepada Tuhan. Andai dan beribu andai selalu dibayangkan.


"Andai kau masih ada disini suamiku."


Anaknya yang harus menjalani perobatan disini, sudah sebulan lamanya tapi tidak memiliki perkembangan. Bahkan tidak lagi pernah membuka matanya untuk sekedar melihat keindahan dunianya.


"Dokter, bagaimana kondisinya sekarang? Apa tidak sedikit pun memiliki perubahan? Kenapa sudah satu bulan begini saja, bahkan Adam tidak pernah bangun dari tidurnya."


"Maaf Bu, ini bukan masalah penyakitnya. Tapi ada masalah lain yang sedang dihindari olehnya." Ibunya mengerutkan keningnya, tidak tau harus menjawab apa. Dan tidak tau apa maksudnya.


"Mari ikut saya keruangan dokter Robert, dia yang tau mengenai hal ini." Ibu hanya bisa mengangguk lalu berjalan mengikuti.


Mereka sudah duduk dihadapan dokter yang menangani Adam. Bukan dokter sembarangan yang bisa melihat kondisi dan pikiran pasien walau sedang tidak sadarkan diri.


"Dokter, ibu dari pasien ingin mendengarnya langsung darimu."


"Baik, akan saya jelaskan." Dia mengambil sebuah kertas lalu meminta ibu untuk membacanya.


"Maaf dokter, saya tidak mengerti." Dokter hanya tersenyum dan mengangguk.


"Hasil pemeriksaan saya, pasien bukan hanya memiliki riwayat penyakit saja. Tapi juga pikirannya saat ini terganggu, jelas hal itu yang membuatnya cukup berat untuk membuka mata. Karena dorongan dari batinnya yang memang tidak ingin melihat dunia, jika sudah membuka mata maka otomatis dia juga akan menghadapi masalahnya."


"Maaf dokter, tapi anak saya tidak memiliki masalah apapun. Baik dalam pertemanan ataupun percintaan. Dan dengan saya selaku ibunya ataupun kakaknya, kami juga baik-baik saja." Dokter lagi-lagi tersenyum.


"Saya hanya mencoba melihat bagaimana kondisi pasien. Tapi jika ibu menolak akan hasil pemeriksaan saya, maka saya sendiri juga tidak tau harus bagaimana. Lebih baik menunggunya mau membuka mata. Karena sejujurnya, kondisinya sudah mulai stabil. Ada sesuatu hal yang ingin sekali dia lupakan, sehingga memilih untuk tidur panjang dan melupakannya."


Ibu terdiam, kembali dengan pemikirannya yang semrawut. Keluar dari ruangan dengan batin yang terus bertanya.


"Apa gadis itu? Elena? Bukankah dia juga pernah menjalin hubungan dengan Adam? Dan jangan-jangan, Adam sebenarnya tidak rela putus. Tapi karena takut padaku dan dia melakukannya?"


Ibu kembali berjalan menuju tempat dimana ruangan Adam. Masuk dan melihat lagi kondisi Adam masih tetap sama.


"Adam, apa kau tersiksa selama ini nak? Selama dengan ibu apa kau merasa tertekan?" Suara tangis itu tidak akan terdengar oleh Adam. Tapi pelukan hangat pasti mengalir ditubuhnya.


Ibu memilih untuk menghubungi anak lelakinya yang sedang berjuang mempertahankan perusahaan.

__ADS_1


"Hallo, Windu?"


"Iya Bu?"


"Ibu mempunyai tugas untukmu."


***


Dilain tempat anak yang telah menerima telepon dan tugas dari ibunya langsung bergegas mengerjakan tugasnya. Yang seharusnya saat ini dia juga masih berada di perusahaan, tapi rela meninggalkan pekerjaan demi kesembuhan adiknya.


"Maaf, apa benar ini rumahnya Elena?" Windu menunggu didalam mobil, dan meminta supirnya yang lebih dulu turun. Dia hanya mengintip dibalik kaca mobil, berharap informasi yang dia dapat dari Kinara ini tidak salah.


"Benar, maaf untuk apa cari anak saya?"


"Ah begini Bu, kebetulan tuan saya memiliki keperluan." Seseorang yang menyebut dirinya dengan ibu itu langsung melihat kearah mobil. Windu langsung membuka pintu dan turun.


"Maaf Bu mengganggu waktunya sebentar, apa aku bisa bertemu dengan Elena?"


"Dia ada didalam." Tapi tetap menilik wajah Windu.


"Aku kakaknya Adam."


"Masuklah." Wajahnya berubah santai, tidak seperti pertama kali Windu meminta bertemu dengan Elena.


Setelah mereka sudah duduk didalam rumah, lebih tepatnya ruangan tamu. Elena keluar dari kamarnya, lalu melihat wajah yang menurutnya tidak asing. Tapi memang dia tidak mengenali siapa itu.


"Sayang, ini kakaknya Adam." Elena tercengang, lalu duduk tepat disamping ibunya.


"Maaf sebelumnya, sudah datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Begini El, kau pernah menjalin hubungan dengan Adam kan?" Ibunya langsung menoleh, Elena ragu-ragu menjawab tapi akhirnya dia mengangguk.


"Lalu Adam memutuskan mu?" Elena menunduk.


"Maaf sudah lancang bertanya. Itu hanya kemauan ibuku saja."


"Sebenernya ada apa ini?" Ibunya Elena sudah tidak sabar menunggu penjelasan maksud kedatangan Windu.


"Begini Bu, Adam kritis saat ini. Dia koma sudah sebulan lebih. Kondisinya sudah membaik, hanya saja dokter mengatakan ada hal lain yang memang membuat Adam tidak ingin membuka mata. Dan disitu ibuku berpikir bahwa Elena lah yang bisa membuat Adam membuka mata. Karena saat mereka pacaran, ibu memaksa Adam untuk memutuskan hubungan dengan alasan Adam tidak diperbolehkan pacaran dulu."

__ADS_1


"Ya Tuhan, Adam? Dia sakit apa?"


"Adikku menderita penyakit leo kimia dan ada kelenjar dibagian kepala." Ibunya langsung merangkul Elena.


"Jadi, apa bisa ibu memberi ijin kepada Elena, untuk datang ke sana?" Ibu dan anak ini saling pandang, Elena tidak sedikitpun memohon kepada ibunya. Tapi sang ibu yang mengangguk dan berbisik. "Bantulah Adam nak, tebus kesalahanmu waktu itu."


"Kapan akan berangkat?" Ibunya bertanya lagi.


"Kalau bisa sore ini Bu, aku akan memesankan tiket untuk Elena. Karena Adam sedang melakukan perobatan diluar negeri."


"Baik, kalau begitu biarkan Elena beres-beres." Windu mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


"Akan ada supir yang menjemputnya nanti Bu. Aku permisi." Dan tidak lupa adat kesopanan dengan menyalim tangan ibu dari Elena.


Yang dia pikir akan susah untuk membujuk Elena ataupun orang tuanya, tapi nyatanya tidak sesulit itu. Windu sendiri berpikir bahwa keluarga Elena memang orang baik.


"Kinara, terima kasih sudah membantu. Dengan begitu, aku yakin Adam pasti akan sembuh dengan kedatangan Elena kesana." Windu mengirimkan pesan untuk Kinara. Hanya dibaca saja, tidak ada balasan sama sekali.


"Maaf tuan muda, apa akan kembali kekantor?"


"Tidak, sebaiknya antarkan saya kerumah om Husein."


"Baik tuan muda."


30 menit berlalu, dan Windu sudah berada didepan gerbang tinggi milik Kinara.


"Keluarlah, aku ada didepan rumahmu." Setelah mengatakan hal itu, Windu langsung mematikan sambungan telepon.


Kinara benar-benar keluar dengan wajah yang menahan emosi. Begitu melihat Windu turun dari mobilnya, dia menarik paksa tangannya untuk pergi kebelakang mobil.


"Katakan padaku, kenapa Elena harus pergi ke sana? Apa alasannya?" Windu masih bingung.


"Dan sebenarnya kau siapa? Hah? Bukankah kakaknya Adam bernama Windu? Tapi kau adalah Satria. Kau siapa?"


Dengan nafas yang tidak terkendali Kinara mengatakannya.


"Tenanglah." Kedua tangannya dipegang oleh Windu, tapi Kinara menghempasnya.

__ADS_1


"Namaku Windu Satriawan Agustama. Dan aku adalah kakak kandung dari Adam Hendrawan Agustama." Deg. Kinara membeku, dan tidak lagi bisa berkata. Terlebih saat ayahnya juga datang dan berdiri diantara mereka.


Bersambung..


__ADS_2