
Aku sudah duduk sofa. Dengan di kelilingi beberapa pelayan yang siap saat aku meminta apapun. Menurutku ini sangat berlebihan, seharusnya biarkan saja aku menunggu sendiri. Kalau begini rasanya, ingin menggerakkan tangan juga seperti diawasi. Meskipun aku juga nyonya dirumah ini.
"Apa ayah masih lama?" Aku bertanya dengan salah satu dari mereka, berharap mereka juga tau.
Aku juga tidak menyangka kali ini datang dengan kemauan ku sendiri. Dengan sifat optimis yang di ajarkan oleh Adam semalam. Demi teman kecilku dulu, aku rela datang kerumah ayah. Cara cepat mencari informasi tentangnya. Tidak mungkin kan kalau ayahku tidak tau.
"Hallo?" Aku mengangkat telepon dari Adam. Huh padahal baru saja aku menyebut namanya dalam hati.
"Apa kau sudah sampai?"
"Sudah, tapi ayahku sedang dalam perjalanan. Dia akan pulang untuk menemuiku."
"Baiklah, semangat. Aku menunggu tidak jauh dari rumah ayahmu."
"Hah?" Pelayan melihatku, aku langsung menutup mulut. Kadang jika kaget nada bicara tiba-tiba saja mengeras. "Untuk apa kau ada diluar? Menungguku?"
"Iya aku ingin cepat mendengar informasinya." Ah kenapa aku senang ya? Semoga saja aku juga mendengar kabar baik dari ayah.
"Itu mobil ayahmu sudah sampai, aku matikan panggilannya. Semoga berhasil." Aku tersenyum lagi dan kembali menggenggam ponselku.
Pintu menuju ruang tamu sudah terbuka, mereka sudah membungkukkan badan, begitu juga dengan beberapa pelayan yang saat ini bersamaku. Aku berdiri, tidak pernah sebelumnya aku merasa sesenang ini ketika bertemu dengan ayah. Aku memberinya sambutan dengan tersenyum. Lalu ayah memintaku duduk kembali. Sekarang, ayah sudah duduk di sampingku.
"Apa Tante Intan belum menyapamu?"
"Ah tidak usah yah. Aku sengaja meminta mereka untuk tidak memanggilnya."
"Kenapa? Apa kau masih belum bisa menerima." Ayah benar, tapi bukan itu juga alasan yang utama.
"Bukan, aku kesini hanya ada keperluan dengan ayah."
"Tidak bisakah kau datang menemui ayahmu ini dengan alasan rindu?" Deg. Aku menatap ayah tanpa berkedip, dia merentangkan tangan. Memintaku untuk memeluknya.
"Kau anakku." Ada aliran yang berdesir dengan cepat. Kata-kata ayah menunjukkan kalau aku adalah anaknya, anak yang dia banggakan. Rasa nyaman yang seharusnya aku dapatkan sejak kecil. Kenapa ayah berubah menghangat setelah berpisah dengan ibu?
"Kau jauh lebih gendut dari sebelumnya. Ayah bangga dengan bi Gina, berhasil mengurusmu." Aku mengangguk, tersenyum senang mendengar bi Gina di puji.
"Katakan pada ayah. Ayah yakin ada hal penting yang ingin kau bicarakan, sehingga membuatmu mau datang kesini." Aku mengangguk. "Bahkan jika ingin meminta uang sekalipun, kau hanya menelpon ayah." Ah kenapa malah menyinggung soal itu.
"Itu aku terima kasih."
"Tidak Nara, itu semua kewajiban ayah. Kau tau, kau adalah anak ayah satu-satunya saat ini. Semua harta ayah juga milikmu."
"Ayah?"
"Kau ingin melihat surat wasiatnya? Ayah sudah membuatnya?" Tidak! Ya Tuhan, kenapa malah bicara tentang harta sekarang. Aku bingung harus mulai dari mana. Aku melirik ke arah pelayan dan juga dua bodyguard yang tidak jauh berdiri dari tempatku dengan ayah duduk.
Ayah yang sepertinya tau jika aku merasa keberatan kalau mereka mendengarnya. Mengusirnya hanya dengan bahasa tangan, tidak sampai satu menit keadaan menjadi sepi dan hening. Benar-benar hanya ada aku dan ayah sekarang.
"Ayah? Apa ayah ingat teman kecilku dulu?" Ayah mengerutkan keningnya, masa kecilku yang tidak pernah diperhatikan membuatnya kesulitan mengingat kejadian apa dan kenangan apa tentangku. "Iam yah, yang keluarganya pindah keluar kota. Aku tidak ingat siapa nama orang tuanya." Aku menunduk lesu, mungkin jika aku tau dan hafal nama ayah dan ibunya, ayahku mungkin tidak akan kesulitan menebaknya.
"Yang rambutnya botak?" Aku mengangguk antusias, jika saja Adam tau pasti dia akan mengatakan anak dan ayah sama saja. Mengatai orang dengan seenaknya.
"Haha kenapa dia?" Ayah malah tertawa, apa dia juga merasa lucu melihat Iam yang dulu?
"Hem apa sekarang keluarganya berada di kota ini? Apa ayah tau rumahnya?" Wajah ayah langsung berubah, entah ekspresi apa yang dia tunjukkan saat ini. Seperti kaget dan bingung mendengar pertanyaan ku.
"Apa kau datang kesini dan menemui ayah hanya untuk menanyakan hal itu?" Aku mengangguk. Kan memang benar itu kenyataannya, jadi untuk apa aku bohong. Baiklah, lain kali jika aku datang dan mengajak bertemu ayah. Aku akan mengatakan kalau aku rindu.
"Ayah tidak tau Nara." Aku langsung menggeleng, itu sangat mustahil.
"Bukankah ayahnya adalah teman dekat ayah? Tidak mungkin ayah tidak tau."
Ayah menghela nafas berat.
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini pada ayah?" Aku mengambil sesuatu dari dalam tas ku. Menunjukannya kepada ayah.
"Yang memiliki photo itu hanya aku dan dia. Aku menemukannya di dalam laci meja sekolah yah. Dan aku sangat yakin, jika dia sekarang satu sekolah denganku, entah juga satu kelas. Aku tidak tau.". Ayah malah tersenyum sambil memandang photo itu.
"Ayah senang?" Aku tidak paham maksud ayah. "Ayah senang, kau mau mengatakan sesuatu pada ayah yang menurutmu penting. Ayah merasa kau mulai mau membuka hati untuk dekat dengan ayah." Deg. Ayah, aku ingin memeluknya lagi sekarang.
"Jika dia memang satu sekolah denganmu, kenapa dia tidak langsung menemui mu? Malah dengan cara seperti ini?"
"Itu juga yang aku pikirkan yah, makannya aku bertanya kepada ayah. Apa ayah tau dimana keluarganya saat ini?" Ayah berdiri dari duduknya, menopang tangan disandaran sofa, lalu menatap ke arahku.
"Sejak dia pindah keluar kota. Ayah sudah tidak pernah lagi bertemu. Hilang kontak begitu saja. Perusahaannya juga masih tetap berjalan, hanya saja tiba-tiba memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaan ayah." Apa sebenarnya yang terjadi? Apa karena ada masalah lain sehingga Iam pun tidak mau muncul dihadaoanku secara langsung?
"Kapan temanmu itu mengirimkan photo?"
"Beberapa hari lalu yah. Setiap pagi aku datang, selalu ada coklat dilaci mejaku. Aku yakin, itu juga dia yang meletakkannya?" Ayah tertawa kecil mendengarku mengatakan hal itu.
"Apa anak ayah sudah belajar tentang cinta sekarang?" Eh kenapa aku jadi salah tingkah begini, andai saja ayah tau kalau sebenarnya tubuhku berubah secara signifikan karena aku tengah hamil. Apa ayah masih bisa tersenyum seperti ini. Nama baiknya juga akan tercemar dikalangan bisnis.
"Kau tau, sebenarnya sejak kecil kalian memang sudah dijodohkan."
"Hah?" Ayah malah mengangguk dan tersenyum.
"Ayah aku tidak ingin menikah." Ucapku lagi dengan sungguh-sungguh. "Aku ingin hidup sendiri, tanpa merasa sakit hati. Tanpa harus mengalami pertengkaran dengan pasanganku nantinya, dan membuat anakku nanti malah tertekan."
"Apa kau sedang menyindir ayah?" Aku menunduk. Iya benar! Ternyata ayah sudah merasa sekarang.
"Kau benar-benar sudah dewasa sekarang, bahkan sudah bisa berpikir soal anak. Ayah merasa iri denganmu yang tidak bisa membimbing anak dan istri ayah dulu."
Bukan maksudku membuka luka lama, tapi memang kenyataannya seperti itu. Luka lama itu belum menutup, kalau aku belum bisa mengetahui apa penyebab rumah tangga ayah dan ibu bisa hancur, dan juga apa penyebabnya mereka bisa menikah tanpa adanya cinta. Yang aku ingat hanya kata yang selalu ayah dan ibu ucapkan ketika mereka betengkar. Menyesal! Ya hanya itu.
"Nara?" Aku mendongak. "Sudah jalannya seperti ini. Jujur, ayah menyesalinya. Karena ayah tidak bisa memelukmu dan berada di samping mu semenjak perceraian."
"Bukankah sewaktu ayah dan ibu belum bercerai ayah tidak pernah Memeluk ku?" Ayah terdiam.
Ah kenapa malah ujung-ujungnya membahas soal itu. Ini yang aku hindari jika bertemu dengan ayah ataupun ibu.
__ADS_1
"Ayah merasa gagal menjadi orang tua dan suami."
"Yah sudah cukup. Tidak perlu lagi ayah menjelaskannya. Karena semua itu memang benar." Ayah terdiam. "Sekarang, aku hanya meminta bantuan kepada ayah, tolong ayah cari tau dimana keluarganya sekarang."
"Apa kau ingin perjodohan itu diteruskan?" Lho? Ah kenapa ayah salah sangka.
"Bukan yah! Bukan itu."
"Ayah tidak bisa janji untuk itu Nara." Wajah ayah berubah lesu.
"Kenapa yah? Bukankah ayah memiliki banyak koneksi? Sehingga bukan hal yang sulit kalau hanya mencari keberadaan seseorang."
"Ayah tau Nara. Tapi memang ayah tidak mau melakukan hal itu." Aku berdiri dari dudukku, berdiri tegak menghadap ke ayahku.
"Jadi memang ayah tidak mau membantuku? Ayah tau tidak, Kebahagiaan yang lain sudah tidak bisa ayah berikan untukku! Bahkan aku pernah memohon agar ayah dan ibu tidak berpisah, tapi ayah tetap melakukannya. Dan sekarang, aku hanya minta untuk ayah memberikan ku sedikit kebahagiaan. Tapi ayah tetap menolaknya." Aku berjalan keluar ruangan.
"Nara?" Ayah berteriak memanggil ku, beberapa penjaga menghalangi jalanku.
"Minggir, aku mau pulang."
"Tapi nona, tuan memanggil anda."
"Minggir!!" Aku berteriak, mereka tetap tidak memberikan sedikit pun celah untukku bisa lewat. Tubuhnya yang tegap dan wajahnya yang seram. Untuk menyentuh ujung kulitnya saja aku takut, bagaimana bisa aku menerobosnya. Aku berdiri mematung sambil menggigit bibir bawahku.
"Tolong, berikan aku jalan. Aku ingin pulang." Aku kembali memohon.
"Ada apa ini?" Aku menoleh ke belakang, mendengar suara lembut.
"Nara?"
"Tante?" Tante Intan menatap satu-persatu penjaga yang saat ini tengah menghalangi jalanku.
"Nara, ayo ikut Tante sayang." Aku tidak menoleh, tubuhku tidak memberikan reaksi apapun ketika Tante Intan menarik lenganku dan menggandengnya. Aku hanya diam, sampai Tante Intan memintaku untuk duduk. Dia membawaku ke gazebo yang ada di pinggir kolam renang.
"Tolong bawakan minuman segar." Pintanya pada pelayan.
"Nara, apa kau sudah makan?" Aku menggeleng, karena aku langsung datang kesini saat pulang sekolah.
"Kau mau makan apa? Biar Tante katakan pada pelayan." Aku menggeleng, selera makanku sudah hilang.
"Nanti kau sakit." Aku diam.
"Bawakan roti kemari." Lagi-lagi pelayan mengangguk patuh dengan perintahnya. Terserahlah, kalau hanya roti mungkin aku mau. Aku juga tadi sudah berpesan kepada bi Gina untuk membuatkan aku sup. Dan akan memakannya ketika pulang sekolah.
"Apa kau betengkar lagi dengan ayahmu?" Aku mengangguk. Tante Intan membuang nafas.
"Apa ada hal yang kau minta?" Aku mengangguk. "Katakan pada Tante." Aku menatapnya sekilas lalu menunduk lagi. "Baiklah, maaf jika Tante lancang mencampuri urusanmu."
"Tante?" Aku memanggilnya dengan ragu. "Bisakah bantu aku?"
Kedua bahuku di pegang olehnya, lalu Tante Intan tersenyum padaku.
"Katakanlah."
Tante Intan menepuk ruang kosong, memintaku untuk tidur di atas pangkuannya. Senyumnya sangat menghangatkan. Aku tidak menolak dan meletakkan kepalaku di atas pangkuannya.
"Nara, maafkan Tante. Tante tidak pernah bermaksud mengambil ayah dari ibumu." Dia membelai rambutku dengan lembut. "Tapi sudah ada takdir dari Tuhan. Semua sudah di atur olehnya. Tante menikah dengan ayahmu karena memang ada cinta diantara kami. Bahkan Tante juga menuruti kemauan ayahmu untuk tidak memiliki anak sebelum kau benar-benar mau menerima Tante sebagai ibu." Hah? Ayah!! Kenapa ibu tidak melakukan ini juga?
"Tante tau, meskipun Tante sangat ingin merasakan apa itu mengandung tapi Tante juga tidak mau egois. Bisa dekat denganmu saja Tante sudah sangat bersyukur. Dan berharap kau mau menerima keberadaan Tante di dekat ayahmu. Menganggap Tante sebagai ibumu sendiri. Tante sangat berharap jika kau menyusahkan Tante. Dan Tuhan mendengar doa Tante selama ini. Kau meminta bantuan seperti ini, adalah anugerah untuk Tante." Deg. Apa aku sejahat itu? Apa aku keterlaluan? Ah tidak, aku memang tidak tau kalau semua ini benar-benar dia harapkan.
"Maaf Tante."
"Tidak Nara, seharusnya Tante yang terus meminta maaf denganmu." Aku diam lagi, memejamkan mata menikmati angin semilir ditengah terik panas matahari. Gazebo yang di pinggirannya menggantung beberapa bunga anggrek yang sedang bermekaran. Kalau saja aku tinggal disini, aku lebih memilih tidur siang disini. Meskipun dingin di dalam kamar itu hanya karena sebuah alat yang bernama AC.
***
Aku merenggangkan kedua tanganku, jika terbangun pasti akan melakukan ini. Entah kenapa akan merasa puas, aku yakin semua orang juga akan melakukannya. Ku tatap birunya kolam renang yang ada di sampingku. Panas juga sudah hilang, hari jauh lebih redup sekarang. Ah ku pikir karena aku terlalu nyaman aku bisa tertidur hingga malam. Tunggu, aku hanya menikmati suasana ini, tapi dimana aku sekarang? Bukankah di apartemen tidak ada yang seperti ini?
"Nara, aku sudah bangun?" Aku mengingat lagi, kenapa aku bisa tidur dipangkuan Tante Intan? Aku langsung terbangun, duduk dan menilik lagi daerah sekitar. Aku tidak mimpi, benar-benar tertidur hingga sore.
"Maaf Tante, kenapa tidak membangunkan ku?" Sungguh aku merasa sangat tidak enak. Dengan berat badanku yang sekarang. Aku yakin, paha Tante Intan pasti begitu pegal menopang kepalaku hingga beberapa jam. Gila! Aku malu sekali.
"Apa dia sudah bangun?" Suara itu, ayah!! Aku langsung menoleh ke arahnya.
"Nara? Kau tidur sampai air liurmu kemana-mana!" Apa? Aku reflek memegang pinggiran bibirku, benar ada beberapa kerak disana. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku tidak sadar?
"Tidak, ayahmu hanya bercanda. Kau tidak ngiler kok." Syukurlah, hampir saja aku memasukkan wajahku ke kerak bumi sangking malunya.
"Apa sedari tadi pelayan berdiri disini?" Tante Intan mengangguk.
"Tapi mereka tidak melihatmu." Sama saja! Kenapa harus ditunggu sih. Memangnya kalau orang yang tidur akan memiliki permintaan.
"Tante, ayah aku harus pulang." Iya, aku kan tadi sedang bertengkar dengan ayah. Aku tidak ingin melanjutkannya lagi, sudah lebih baik aku pulang.
"Nara, tadi sewaktu kau tidur ponselmu berbunyi terus." Aku mengangguk saja. "Hati-hati dijalan. Kalau kau tidak keberatan besok Tante akan menjemputmu sepulang sekolah."
"Eh tidak usah Tante." Tolakku secara halus. Aku menyalim tangan ayah. Ayah memelukku, mencium wajahku seperti anak kecil, mengelus puncak kepalaku. Tunggu, kenapa mata ayah berkaca-kaca?
Begitu juga dengan Tante Intan, dia memelukku cukup lama. Lalu melepaskannya secara perlahan, memegang wajahku dengan kedua tangannya.
"Jika ada sesuatu yang terjadi padamu, dan kau tidak sanggup untuk menopangnya sendiri. Ingat, Tante dengan senang hati membantumu." Aku mengangguk. Menyambar tas ku dan berjalan keluar.
"Bagaimana mungkin kau bisa menaklukkan anakku itu?" Aku masih bisa mendengar saat belum terlalu jauh melangkah. Apa ayah tadi akan menangis karena terharu melihatku dengan Tante Intan?
Aku sudah memasuki mobil, beberapa penjaga rumah ayah terus berjalan di samping mobilku ketika aku berputar arah. Hingga aku keluar dari gerbang barulah mereka tidak terlihat lagi. Menghilang di balik gerbang tinggi milik ayah.
Aku membuka tas dan mengambil ponsel, sengaja menepikan mobilku sebentar, saat Tante Intan mengatakan bahwa ponselku berbunyi berkali-kali aku jadi penasaran, siapa yang menghubungiku.
"Nara, bagaimana?"
__ADS_1
"Nara jawab teleponku!"
"Kau baik-baik saja kan di dalam? Kenapa lama sekali?"
"Hei kau tidur ya!!"
Pesan beruntun dari Adam. Dan beberapa panggilan tidak terjawab. Ya Tuhan, aku lupa jika Adam menungguku. Aku kembali menyusuri jalan dengan pelan, hingga menangkap sebuah mobil yang sangat aku kenali terparkir di pinggir jalan. Ku bunyikan klakson berkali-kali. Tapi tidak ada respon.
"Sebaiknya ku telepon saja." Tapi nihil, Adam tidak menjawab. Membuatku harus turun dan melihatnya. Aku juga takut kalau Adam kenapa-kenapa. Pasalnya dia menungguku disini sudah lebih dari dua jam. Dan aku yakin kalau Adam juga belum makan.
"Adam!!" Ku gedor-gedor kaca mobil yang tertutup rapat.
"Adam, bangun!!!" Teriakku lagi, ternyata dia tidur. Sungguh, ini sangat bahaya jika tidur di dalam mobil dengan kaca mobil tertutup rapat, bisa keracunan.
"Ya Tuhan Adam!!" Aku tetap berusaha. Apa ku pecahkan saja ya kaca mobilnya? Aku langsung mencari baru di sekitar mobil. Nihil, tidak ada. Aku kembali melihat ke dalam mobil.
"Ahhhhhhhhh!!" Aku langsung menjerit ketika wajah Adam menempel di kaca dan nyengir menampakkan deretan giginya.
"Adam, ku pikir kau mati di dalam mobil."
"Hampir." Jawabnya dengan lemah. Tidak, wajah Adam benar-benar sangat pucat.
"Kau belum makan?" Adam menggeleng.
"Kenapa kau tidak pulang saja! Kenapa kau malah menungguku disini?"
"Aku takut jika kau kenapa-napa." Heh, aku menghela nafas.
"Ikut lah ke apartemen ku." Adam mengangguk lagi. Memangnya jika aku kenapa-napa kau bisa menyelamatkan ku! Gerutuku saat memasuki mobil.
Sore hari yang macet, ah aku mengkhawatirkan Adam. Bagaimana kalau dia sakit hanya karena menungguku? Tidak, jangan sampai itu terjadi.
Krukk..
"Sialan! Ternyata perutku juga berbunyi, aku sangat lapar. Aku belum makan juga!" Aku membunyikan klakson berkali-kali agar mobil di depanku bisa gerak lebih cepat. Sambil menggenggam ponsel, aku bermaksud akan menelpon bi Gina. Tapi menunggu hingga jalan raya kembali normal. Aku takut kalau di keadaan begini sambil menelpon.
"Hallo bi? Bibi sudah pulang?"
"Sudah, kau kenapa lama sekali. Bibi juga baru saja pulang. Bibi kira kau menginap dirumah ayahmu."
"Tidak bi, aku hanya ketiduran. Apa bibi masak sebelum pulang?"
"Iya ada di lemari dapur. Kau belum makan?"
"Belum bi."
"Ya ampun Nara, bagaimana bisa kau belum makan sudah sore begini? Tadi pagi juga kau hanya memakan roti saja."
"Iya bi aku juga sangat lapar. Ya sudah bi, aku tutup dulu ya teleponnya."
Aku langsung menambah kecepatan mobilku, ku lirik spion ternyata Adam masih berada tepat di belakang ku. Dan sampailah aku di apartemen, aku keluar lebih dulu.
"Kau nanti masuk saja pintunya tidak akan kunci." Aku berteriak sebelum Adam keluar dari mobilnya. Mempercepat langkah agar sampai di lift.
"Baru pulang?" Aku menoleh ke arahnya setelah menekan tombol lift.
"Iya." Dia lelaki yang juga tinggal di apartemen ku. Hanya saja bedanya dia sudah bekerja.
"Duluan kak." Ucapku saat pintu lift sudah terbuka. Aku juga takut jika hanya berdua di dalam lift, apa lagi aku tidak mengenalnya.
Saat sudah berada didalam apartemen, aku tidak langsung mengganti bajuku. Memanaskan kembali sup daging yang sudah bi Gina masak. Aku sampai menelan air liurku, sangking harumnya aroma sup buatan bi Gina.
"Nara?" Aku menoleh, ternyata Adam sudah masuk ke dalam.
"Duduklah, kita makan disini saja, kau tidak keberatan kan?" Adam menggeleng. Untuk berbicara saja sepertinya dia sudah tidak sanggup.
Aku menyediakan nasi dan sup di dalam mangkuk ke atas meja. Menuangkan nasi ke piring Adam, dan juga sup dengan potongan daging sapi.
"Kau yang masak?" Aku langsung tertawa.
"Aku memang bisa memasaknya, karena sudah di ajarkan bi Gina. Apa tidak berpikir, kapan aku sempat memasak sup ini?"
Aku makan dengan lahapnya, saat melihat nasi di piring sudah tandas ada perasaan tidak rela, aku belum merasa kenyang.
"Makanlah lagi." Adam menuangkan nasi ke piring ku. Aku tidak keberatan, justru malah senang. Tidak ada kata jaim jika makan dengannya.
"Pantas saja kau berubah jadi gemuk, porsi makanmu sangat banyak." Aku hanya tersenyum dan melanjutkan makanku lagi.
"Jika kau bisa memasak sup seperti ini, aku ingin memakannya. Bisakah kau memasak untukku?"
"Baiklah, jika ada waktu senggang." Jawabku. Eh perutku terasa wegah, ingin sekali berlari ke kamar dan membuka baju sekarang.
"Nara, bagaimana tentang informasi yang kau cari?" Sampai melupakan tujuan utama Adam menungguku.
"Ayahku tidak mengetahuinya. Dia juga mengatakan tidak bisa membantuku mencarinya. Aku yakin ada sebab dan hal yang terjadi di keluarganya. Maka dari itu Iam pun tidak berani muncul di hadapanku."
Adam mengelus lengan ku.
"Apa jangan-jangan ayahnya sekarang menjadi buron? Makannya mereka bersembunyi?"
"Tidak mungkin."
"Bagaimana kau bisa tau kalau tidak mungkin? Bisa saja kan!"
"Mulai sekarang kau harus lebih pandai memandang siapa orang di sekitarnmu." Adam berdiri dan menumpuk piring kotor bekas makanan kami. Membawanya ke wastafel.
"Adam, biarkan saja jangan di cuci."
"Diam dan duduk sajalah." Hah? Baiklah aku mengikutinya sekarang. Duduk diam memandang Adam mencuci piring. Pemandangan indah semacam apa ini? Aku tersenyum saat melihatnya mencuci piring bekas makanku.
__ADS_1
"Kau kenapa melihatku seperti itu?" Ah sialan! Aku ketahuan sedang menatapnya.
Bersambung..