Langit Mendung

Langit Mendung
Dia menghubungiku


__ADS_3

Aku yang seharusnya tidak boleh berlari bahkan melupakan hal itu, setelah turun dari mobil aku langsung berlari menuju lorong rumah sakit. Jika sudah panik pasti akan melupakan hal apapun. Contohnya seperti ini, aku lupa menanyakan ruangan, dan aku harus kembali berjalan lagi ke meja resepsionis rumah sakit.


"Terima kasih suster." Setelah tau aku langsung menuju ruangan ibu, melewati dua lorong dan belok ke kanan.


Hal yang terjadi pada ibu sekarang mejadikan ketakutan tersendiri untukku. Meskipun aku sempat tidak menginginkan kehadiran anak yang aku kandung, tapi pasti tetap merasa kehilangan jika dia pergi tiba-tiba.


"Laras, dimana ibu?" Aku melihat om Asraf dan Laras duduk didepan ruangan ibu. Kulihat mata Laras sudah sembab karena menangis, dia Menangis untuk ibu?


"Ibu belum sadarkan diri kak, baru selesai operasi." Aku menunduk, memang aku pernah tidak mengakui kalau anak yang dikandung oleh ibu itu adikku. Tapi, kenapa rasanya aku menjadi bersalah. Lalu, kemana janin itu?


"Kenapa bisa?" Tanyaku lirih, aku juga duduk. Mataku memanas, dan kurasa juga wajar jika aku ikut bersedih sekarang. Tapi lebih baik begini, jadi aku tidak melihat ibu Menangis meraung-raung.


"Kak? Kakak kenapa?" Laras melihatku yang memegang kepala dengan kedua tangan, dia menyentuh bahuku. Aku hanya melirik dan menggeleng. Saat ini aku benar-benar kasihan melihat ibu.


"Katakan, bagaimana bisa terjadi?" Aku melihat om Asraf yang duduk dalam diam, wajahnya pucat dan pandangannya kosong. Dia yang paling syok disini, kehilangan calon anaknya yang tidak sempat lahir ke dunia dalam keadaan bernyawa. Bahkan sepertinya om Asraf tidak menyadari kehadiranku, entah pun memang dia sedang tidak ingin berbicara.


"Ibu jatuh kak, terpleset. Lalu pendarahan, saat dibawa kerumah sakit dokter langsung melakukan USG. Dan ternyata, adikku tidak selamat." Deg. Dia adikku jugakan?


"Dokter, gimana istri saya?" Dokter yang baru saja keluar dari ruangan mengechek kondisi ibu langsung ditanya oleh om Asraf. Dia berdiri di depan pintu ruangan.


"Sudah lebih baik, jika ingin masuk ke dalam hanya diperbolehkan satu orang saja."


"Om maaf, aku mau lihat ibu." Aku yang maju lebih dulu. Terserah jika om Asraf ingin marah, istrinya adalah ibuku jadi dia juga tidak berhak melarang ku.


"Silahkan." Dokter memintaku masuk, om Asraf berdiri mematung. Lalu anaknya memintanya duduk kembali.


Mataku berkaca-kaca, tidak sekarang! Air mata sudah jatuh, mengalir deras melewati pipi. Aku berjalan dengan pelan, memegang tempat dimana ibu berbaring.


"Ibu?"


"Nara?" Jawabnya lirih, ibu sudah sadar. Ku mohon, ibu jangan menangis.


"Nara, dimana adikmu?" Deg. Ibu!!!


"Ibu tenanglah, maaf." Apa kelahiranku dulu juga di nanti seperti ini olehnya? Apa ibu juga akan merasakan hal yang sama jika kehilangan aku? Oh Tuhan, kenapa disaat seperti ini aku juga masih ingin mengharapakan kasih sayang darinya.


"Jika ibu kehilangan anak sekarang, bukankah masih ada aku? Bukankah aku juga anak ibu?"


"Tapi berbeda Nara, kau sudah dewasa. Kau sudah jauh dari ibu?" Tubuhku melemas, sudah ku duga. Ibu tidak mengerti maksudku.


"Aku memang tidak pernah berarti apapun dimata ibu." Ucapku dan langsung berlari keluar ruangan, sudah cukup bagiku sekarang. Kenapa orang lain jauh lebih menyayangi ku dari pada ibuku sendiri? Kenapa Tuhan?


"Nara kau mau kemana?"


"Kak Nara?" Aku hanya menoleh dengan menampakkan sisa air mata yang bergelimang. Lalu berjalan terus melewati lorong rumah sakit. Tatapan penuh iba dari orang-orang yang berseliweran dirumah sakit. Mungkin mereka mengira bahwa saat ini aku tengah dilanda duka. Kehilangan seseorang. Memang benar, aku kehilangan calon adik, adik yang tidak pernah aku inginkan.


"Nara? Tunggu." Tanganku sudah memegang pintu mobil, dan satu tangan aku gunakan untuk menghapus air mata. Pandanganku masih kabur, aku hanya bisa mendengar suara laki-laki yang tidak asing.


"Nara? Kau kenapa?" Ku pastikan sekali lagi, agar penglihatan ku tidak salah.


"Adam?" Dia mengangguk. "Maaf aku harus buru-buru pergi?" Adam menahan tanganku. Tunggu, sejak kapan Adam disini?


"Aku sedang ada urusan menemani ibuku berobat. Dan tidak sengaja melihatmu tadi. Jadi aku mengejarmu." Aku diam, tanganku terlepas dari pintu mobil. Merubah posisi menjadi bersandar di mobil.


"Hei, kau kenapa menangis?"


***


Langit senja sudah hilang, berganti dengan gelapnya sisi malam. Adam membawaku pulang ke apartemen dan meninggalkan mobilnya kepada supir. Aku memang butuh pelukan saat ini, tapi aku lebih suka memeluk diriku sendiri. Aku membiarkan saja apa yang Adam lakukan. Dia berkutat di dapur dan membuatkan ku teh hangat. Hingga kembali malah membawa satu mangkuk mie.


"Aku tidak mau makan."


"Aku tidak menyuruhmu makan, aku yang mau makan karena lapar. Jika kau mau aku rela berbagi denganmu."


"Adam!!" Ah aku berteriak kesal tapi juga tertawa.


"Tidak, kita makan berdua ya?" Ragu-ragu untuk mengangguk. Sialan aku malah tergoda dengan asap tipis yang berasal dari dalam mangkuk. Adam berhasil membuatku menelan salivah.


"Maaf ya, aku mengambil satu ramen milikmu."


"Kau harus menggantinya." Aku tidak bersungguh-sungguh soal itu, lagian juga stok mie itu sudah lama. Sebelum datangnya bi Gina ke apartemen.


"Sekarang kau katakan, sebenarnya kau tadi kenapa menangis? Dan kenapa kau bisa ada dirumah sakit?" Aku yang tengah duduk sambil memandang Adam memakan ramen milikku, mulutnya terbuka dan menutup karena rasa pedas.


"Ibuku sakit, dia keguguran." Adam yang semula ingin memasukkan lagi mie kedalam mulut malah menjatuhkannya lagi di dalam mangkuk.


"Jadi kau bersedih karena itu?" Aku menggeleng, ya memang bukan karena hal itu.


"Sudahlah aku tidak ingin membahasnya, lebih baik cepat kau habiskan ramen nya, setelah itu pulang. Aku ingin istirahat."


"Kau mengusirku?"


"Tidak, aku hanya ingin sendiri dulu."


Aku mengambil ponsel dan memainkannya. Ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Satria. Mungkin karena memikirkan hal berat aku jadi tidak mendengar kalau ponselku berbunyi. Ah sudahlah, aku pun tidak lagi mau berhubungan dengannya, baik itu hanya adik kakak ataupun teman.


"Aku ingin menemanimu disini Nara."


"Tidak Dam. Biarkan saja aku disini sendiri, aku hanya ingin istirahat." Adam diam dan menghabiskan mie ramen yang dia buat sendiri.


"Baiklah, besok kau masuk sekolah kan?"


"Iyalah, aku juga punya janji dengan pak guru olahraga."


"Janji dengan pak guru?" Adam langsung membanting sumpit! Menatap tajam ke arahku. Mulutku selalu lupa mengerem, bukankah mereka tidak tahu ya?


"Eh tidak. Aku punya janji kalau tidak akan libur lagi hingga waktu ujian tiba." Jawabku dengan senyum.


Adam sudah menghabiskan makanannya dan membawa mangkuk ke dapur. Dia juga mencucinya, katanya kasihan bi Gina lebih baik mencuci sendiri.


"Kau hati-hati dijalan ya." Aku menunggu Adam di depan pintu.


"Kau juga hati-hati ya? Jangan larut dengan kesedihan." Aku membalasnya dengan senyuman.


Walau belum terlalu larut, aku memilih untuk tidur. Tapi kali ini aku mendengar berkali-kali kalau ponselku berdering dengan nyaringnya. Hal itu sungguh mengganggu tidurku. Ah tidak, bahkan aku belum sempat memejamkan mata.

__ADS_1


"Satria?" Bimbang, aku harus menjawab atau tidak?


"Hallo?"


"Nara! Aku hanya ingin meminta maaf. Kenapa kau tidak mau membalas pesan dan mengangkat teleponku?"


Baiklah, mungkin sudah seharusnya aku berterus terang dengannya, agar tidak lagi menggangguku dengan menelpon dan mengirim pesan terus-terusan.


"Nara?"


"Maaf kak. Jangan pernah mengubungiku lagi. Kakak tidak perlu lagi mengirim pesan dan menelponku. Apa lagi sampai datang ke apartemen."


"Tapi Nara, aku tau jika kau sedang hamil."


"Maksudnya kakak?"


"Aku bisa saja memberi tahu orang lain tentang ini, apa kau tidak takut?" Aku meremas ponsel yang sedang menempel di telingaku.


"Silahkan kak." Aku langsung memutuskan panggilan telepon, memblokir nomornya agar tidak lagi bisa menghubungi ku.


***


Aku mencari pak guru, setelah meletakkan tas di dalam kelas. Aku berniat memberikannya sekarang, puisi untuk istrinya yang akan berulang tahun. Tetapi, aku ragu saat akan masuk ke kantor. Biasanya kalau sepagi ini tidak seluruhnya guru sudah datang. Aku berdiri saja, menunggu hingga pak guru muncul dengan sendirinya.


"Nara, cari siapa?" Aku mendongak, eh ternyata ada ibu guru.


"Cari pak guru Bu."


"Pak guru yang mana?" Ya ampun, aku menggaruk kepalaku sendiri, bukankah pak guru juga punya nama.


"Maksudnya pak Effendi Bu."


"Oh sebentar, beliau ada di dalam." Aku mengulum bibir tersenyum, syukurlah yang aku pikir aku akan berdiri disini hingga petang.


"Nara? Ada apa?" Pak guru terlihat bingung. Aku segera mengeluarkan amplop yang diikat pita kecil. Haha, iya aku sendiri yang membuatnya.


"Ini pak, sesuai janji." Saat pak guru menerima amplop kecil itu, wajahnya agak bingung. Apa dalam satu hari dia juga sudah lupa?


"Itu puisi pak. Puisi yang bapak minta untuk istri bapak." Pak guru langsung mengelus puncak kepalaku, bahkan dia mengucapkan terima kasih berkali-kali.


"Sebaiknya bapak baca lebih dulu, aku juga bukan pengarang yang handal pak. Barang kali ada tambahan kata yang ingin bapak buat." Pak guru mengangguk.


"Tidak, sudah pergilah. Terima kasih sudah membantu saya. Oh iya, sebagai ucapan terima kasih, saya akan menraktirmu makan siang, bagaimana? Kau boleh mengajak temanmu."


"Eh tidak usah pak?" Aku langsung menolaknya dengan kedua tangan. Ajak temanku? Temanku ada tiga orang, bagaimana kalau di ajak semua? Bukankah itu namanya melunjak? Ah tidak, lebih baik aku menolak saja.


"Tapi saya tulus, sebuah karya itu mahal. Apa kau tidak tau? Bahkan steak juga belum bisa membayar karya seseorang." Aku ragu, malah seluruh siswa yang sedang lewat menatapku dengan penuh tanda tanya, baiklah dari pada tidak kelar aku mengangguk saja.


Dan siang ini aku sudah memiliki janji dengan pak Effendi, pak guru dengan mata pelajaran olahraga. Saat tidak lama aku duduk di dalam kelas, bel pelajaran sudah berbunyi. Aku mengeluarkan buku mata pelajaran dari dalam tas, lalu meraba laci mejaku.


"Kenapa tidak ada?"


"Apanya yang tidak ada?" Aku menoleh ke arah Munah dengan posisi membungkuk, mencoba mencari lagi siapa tau menyelip.


"Coklatnya, tidak ada."


"Munah, apa hari ini ada yang tidak masuk kelas?" Munah menilik ke seluruh isi kelas, lalu mengangkat bahu.


"Hanya Adam yang tidak masuk."


"Adam?" Mana mungkin dia orangnya. Aku yakin jika Iam berada dilain kelas denganku.


"Iya, memangnya kenapa sih?"


"Munah, aku yakin jika orang yang meletakkan coklat itu tidak datang hari ini."


"Sebaiknya kau pasang CCTV saja di dekat meja mu. Supaya kau juga tidak penasaran, aku juga sebenarnya sangat penasaran. Sebenarnya siapa yang selalu meletakkan coklat di dalam laci meja mu."


Guru sudah duduk di depan, aku sudah tidak bisa lagi bergerak mencari sesuatu.


"Aw."


Tak sengaja Munah menyikut perutku saat menunduk akan mengambil pena yang jatuh.


"Eh maaf, sakit? Aku tidak sengaja Nara. Maaf ya?"


"Sudahlah, hanya begitu saja kau panik!" Aku tersenyum dan mengelus perutku, sebenarnya memang sakit.


"Eh kenapa perutmu keras sekali?" Aku langsung membuang pandangan, alasan, aku harus memiliki alasan. Agar Munah tidak lagi berpikir bahwa aku sedang hamil.


"Aku mengunakan korset, kau lihat kan tubuhku semakin membesar, jadi aku menggunakan ini. Harganya juga mahal, katanya bisa membantu menurunkan berat badan."


"Kau kurangi makanmu, kalau tidak tubuhmu semakin membesar seperti Aisah!"


"Munah?!"


"Kinara, kenapa?" Mati aku, guru tau kalau aku dan Munah tengah berbicara. Tatapan matanya sangat tajam, aku menunduk saja. Ah tidak, kenapa ada suara langkah kaki yang mendekat.


"Kalian sedang apa?" Aku mendongak, lalu saling pandang dengan Munah. Aku berharap Munah segera menjelaskan agar tidak ada salah paham.


"Maaf Bu, tadi aku hanya tidak sengaja menyikut perut Kinara, lalu dia mengaduh kesakitan."


"Apa masih sakit?" Hah? Kenapa bicaranya melembut sekarang?


"Eh tidak Bu." Aku menggeleng dan tersenyum dengan wajah yang bingung.


"Jika kau merasa sakit, maka pergilah ke UKS." Aku menjawabnya dengan tidak lagi, hanya begini kenapa harus pergi ke UKS.


"Harusnya kau pergi saja, malah enak bisa rebahan." aku tertegun mendengar kata-katanya, sialan! Aku mencubitnya sampai Munah meringis kesakitan. Aku tertawa puas tanpa suara.


"Baiklah, buka halaman 65." Nah pelajaran benar-benar sudah berlangsung.


Beberapa jam melewati pelajaran, aku sudah bisa bernafas lega saat mendengar bel pulang sekolah. Terkadang waktu yang ditunggu bisa terasa sangat lama, tapi hari ini malah aku bisa melewati waktu dengan cepat. Ah lega..


Aku yang paling terakhir keluar kelas, Munah sudah lebih dulu meninggalkan ku. Karena dia juga akan pergi dengan Wahid, sebenarnya aku juga di ajak, tapi aku sudah memiliki janji dengan pak guru.

__ADS_1


"Nara?" Saat aku melangkah keluar kelas ternyata sudah ada pak guru yang menunggu di depan. Dia melambaikan tangan ke arahku dan tersenyum.


"Kau ingin makan dimana?"


"Terserah bapak saja."


"Gimana kalau makan bakso? Kau mau? Pas dengan cuaca hari ini?" Eh aku reflek malah mendongak menatap langit. Benar, matahari tidak terlihat tapi juga tidak mendung.


"Iya pak"


Dan kami berangkat dengan menggunakan mobil masing-masing. Warung makan yang sederhana, aku turun dan menatap pelanggan yang cukup ramai disini. Firasat ku mengatakan kalau bakso disini pasti enak. Ah semenjak hamil aku memang suka sekali makanan yang berkuah. Hanya saja, aku jarang makan ditempat seperti ini, pertama kalinya yang aku ingat saat makan dengan adik-adikku. Ya ampun, jadi teringat mereka. Sudah lama juga tidak mengunjungi semenjak mereka sudah hidup lebih nyaman dan layak.


"Nara, kau silahkan pesan apa, dan mau minum apa." Aku menunggu pelayan datang dan memberikan menu, tapi kenapa tidak ada. Penjual malah sibuk berdiri mengurusi pelanggan lainnya.


"Pak, aku sama saja dengan bapak." Pak guru mengangguk dan berdiri dari tempatnya, lalu memesan satu mangkuk bakso dan satu botol teh dingin.


Ternyata cara memesan tidak melalui buku menu.


"Maaf ya, kau pasti tidak pernah makan di warung seperti ini? Soalnya uang bapak cukup buat makan disini, gajian masih satu Minggu lagi." Aku tertawa, jujur sebenarnya aku canggung makan dengan guru yang umurnya juga sebaya dengan ayahku. Tapi kejujurannya malah membuatku merasa aku dan pak guru itu teman.


"Tidak apa-apa pak, aku juga pernah makan ditempat seperti ini." Saat hidangan datang, mengepulkan asap dari dalam mangkuk, ah aku jadi membayangkan ramen yang dimakan oleh Adam tadi malam. Air liurku hampir menetes, gila pak guru menuangkan saus dan cabai begitu banyak. Apa dia tidak takut sakit perutnya?


"Enak jika makan bakso itu rasanya pedas." Iya, aku jadi teringat makan dengan bi Gina waktu itu, yang aku sendiri tidak sanggup untuk menghabiskan. Tapi sepertinya malah lebih menarik, baiklah aku akan mencobanya lagi.


Hu ha, aku sampai mengipas mulutku yang seperti terasa terbakar. Cairan bening yang keluar dari hidung, lalu ku hisap lagi. Pak guru menertawakan ekspresi wajahku.


"Minumlah Nara." Dia menyodorkan satu botol es teh untukku.


"Terima kasih pak."


"Saya jadi ingin sekali membawa anak saya, membayangkan jika saat ini kau adalah dia." Kenapa jadi melow? Harusnya air mata jatuh saat ini karena makanannya terlalu pedas, tapi malah karena kesedihan.


"Sabar ya pak. Itu salah satu cobaan hidup dari Tuhan untuk keluarga bapak." Pak guru tersenyum dan kembali menusuk bakso dengan garpu.


Aku membuka ponsel saat mendengar notif pesan berbunyi.


"Aya, maaf hari ini aku tidak memberimu coklat seperti biasanya. Karena aku tidak sempat membelinya."


Dan di bawah pesan tertanda nama pengirimnya. Mataku langsung membulat. Benarkah ini Iam?? Ya Tuhan, jantungku berdebar sekarang.


Aku bingung, harus membalas apa sekarang?


"Apa kau masuk sekolah hari ini?" Aku membalasnya, berharap sangat dia juga membalasnya lagi.


"Iya."


Ah ya ampun, yang aku pikir itu tadinya Adam. Karena hanya dia satu-satunya siswa yang tidak masuk di kelasku.


"Kenapa Nara?" Aku mendongak, ternyata sedari tadi pak guru memperhatikan ku.


"Eh tidak pak." Aku meletakkan ponsel diatas meja. Lalu menyambar lagi bakso di dalam mangkuk, dan menyeruput lagi kuah pedasnya. Aku akan melanjutkan berbincang dengan Iam nanti kalau sudah di apartemen.


"Pak?" Pak guru menatapku sambil mengunyah.


"Apa disekolah kita ada yang bernama Iam?" Dia masih berpikir sambil terus mengunyah.


"Iam?" Aku mengangguk. "Sepertinya tidak ada." Hatiku mencelos, andai saja aku tau nama aslinya pasti mudah untukku melacaknya. Ya ampun, aku sudah tidak sabar untuk segera menelponnya.


"Memangnya kenapa Nara?"


"Tidak apa-apa pak."


Aku mengambil lagi ponselku, lalu mengetik pesan.


"Adam, kenapa kau tidak masuk hari ini? Apa kau sakit karena memakan ramen? Aku punya kabar baik tentang teman kecilku, dia baru saja mengubungiku." Aku tersenyum sambil mengetik pesan.


"Iam tidak ada, tapi kalau Adam ada." Hah? Aku tertawa kecil, padahal aku tidak tau maksud perkataan dari pak guru.


"Bapak sering memperhatikan, kau dekat dengan Adam ya?"


"Bukan hanya dengan Adam pak. Tapi juga dengan Munah dan Wahid."


"Tidak, kedekatan kalian berbeda, ah dasar anak muda." Benarkah? Apa orang lain melihatnya juga begitu? Ah jangan-jangan postingan Elena kemarin yang berupa sindiran itu benar untukku?


"Jika pergi untuk menenangkan diri itu alasan yang tidak masuk akal, ketika melihatmu sering bersamanya"


Ya, aku ingat itu Elena memposting photo bunga mawar dengan caption itu. Aaahhh, moodku jadi berubah-ubah begini sih!!


Tidak terasa, mie beserta bakso di dalam mangkuk sudah habis, kuah juga tersisa sedikit. Tidak disangka aku mampu menghabiskannya sendiri.


"Hati-hati dijalan ya. Oh iya bapak titip salam ya dengan ayahmu." Sebelum berpisah dan masuk ke dalam mobil pak guru memberi pesan untukku.


"Iya pak. Saya juga berterimakasih kepada bapak sudah mentraktir saya makan disaat keuangan bapak pas-pasan." Eh aku bicara apa, malah tertawa lagi.


"Pak, apa bapak sudah menyiapkan kado untuk istri bapak?"


"Ya ini maksudnya sekalian jalan pulang saya akan membelinya." Aku menyambar tas dari dalam mobil. Membuka isi dompet dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Pak, aku tidak sempat jika harus membelikan sesuatu untuk istri bapak, dan juga aku tidak tau apa yang disukai istri bapak." Aku menarik tangan pak guru dan meletakkan uang di genggamannya. "Jadi bapak saja yang belikan."


"Nara, apa ini?" Aku tersenyum.


"Buat tambahan bapak membelinya. Maaf pak, bukan maksudku meremehkan bapak. Aku yakin jika saat ini bapak sudah menyiapkan uang. Tapi itu ada lebihan uang jajan yang diberikan ayah kemarin." Dia menggeleng dan bermaksud mengembalikan uang itu padaku.


"Tidak pak, itu rezeki bapak. Hehe anggap saja bayaran untuk nilai ku." Aku langsung masuk ke dalam mobil, takut kalau pak guru mengembalikan uang itu padaku. Soal nilai aku benar-benar hanya bercanda, aku sungguh ikhlas memberinya. Membuat orang lain tersenyum adalah salah satu hobiku.


"Terimakasih Nara." Aku mengangguk dan melajukan mobilku. "Hati-hati." Pak guru masih berdiri di tempatnya. Saat sudah agak jauh, aku melihat dari kaca spion mobil, pak guru menghitung uang dan memeluknya dalam dekapan, sepertinya dia tengah mengucap rasa syukur atas rezekinya dihari ini.


Aku mengemudi dengan satu tangan, jalanan masih lengang disiang hari, jadi aku bisa menggunakan satu tangan untuk mengemudi, dan satu tangan aku gunakan untuk membaca pesan masuk.


"Ah ternyata Adam, aku kira Iam." Gumam ku lalu membacanya.


"Aku tidak masuk hari ini, karena ada urusan keluarga bukan karena ramen milikmu. Benarkah, kalau begitu selamat ya."


Kenapa aku merasa Adam tidak suka ya? Dari pesan yang dia kirim tidak menunjukan kalau dia juga ikut senang. Aku mengusir pikiran itu dan kembali fokus melajukan mobil.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2