
"Kinara, bangun lah!!"
"Kinara!" Hah? Aku langsung membuka mata, secepat mungkin langsung turun dari tempat tidurku.
"Ayah?" Aku mengucek mataku, ayah sudah meletakkan kedua tangannya di pinggang. Kenapa? Biasanya jika marah saja ayah begini. Apa ayah tau jika aku masuk kedalam kamar sudah melebihi batas jam.
"Kenapa tidak ikut turun sarapan? Bahkan kau baru saja bangun?"
"Memangnya ini jam berapa yah? Bukankah ini masih ?terlalu pagi?" Ayah menunjuk kearah jam dindingku. Hah? Aku nggak salah lihat? Jam 9?
"Tadi malam tidur jam berapa?" Ah ya ampun, bahkan aku lupa bukankah aku ketiduran tadi malam?
"Ayah maaf, tadi malam aku susah tidur." Ayah mengelus puncak kepalaku.
"Ayah akan berangkat kekantor sekarang. Mandilah, pelayan akan mengantarkan sarapan untukmu ke kamar. Ayah dan ibumu sudah selesai sarapan soalnya." Aku mengangguk, eh tapi aku teringat sesuatu.
"Ayah?" Aku kembali mendongak.
"Aku akan pergi nanti, aku ingin kepusara?" Ayah malah mengerutkan keningnya.
"Bukankah semalam kau baru pergi kesana?
"Kali ini Munah yang ingin melihatnya yah." Yes, alasanku sungguh masuk akal. Maaf Munah aku membawa namamu sebagai jaminan.
"Pergilah, supir akan mengantarmu." Aku mengangguk, menutup pintu kembali dan segera mandi.
***
Kebiasaan perempuan itu ya jika tidak terlambat paling juga lupa. Sudah jam setengah sebelas siang, aku baru mengirimkan lokasinya ke Satria. Semoga saja dia tidak marah, yang terpenting kan aku sudah menepati janji.
Aku menunggu didepan pusara anakku. Karena jika tidak, maka supir akan curiga dan bisa-bisa dia mengadu kepada ayah kalau yang datang bukankah Munah.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi?" Aku langsung mendongak. "Aku duduk disana." Satria menunduk gubuk yang berada tidak jauh dari pusara.
"Maaf kak, aku bangun kesiangan." Satria mengangguk lalu ikut duduk disampingku.
"Apa orang yang sudah menghamilimu tau jika dia sudah tiada?" Aku hanya mengangkat bahu.
"Kak, aku hamil saja dia tidak tau. Bagaimana mungkin dia juga bisa tau kalau aku sudah kehilangannya." Satria diam, kemudian tangannya terulur untuk mengelus batu nisan anakku. Aku meliriknya, ada senyum tipis yang terukir di bibirnya. Sepertinya saat ini dia tengah berbicara dalam hati, yang aku tidak bisa mendengar sedikitpun.
"Kak?" Satria menoleh kearah aku.
"Apa kau mengenal ibu Herna?"
__ADS_1
"Ibu Herna?" Satria mengangguk, dan tertawa kecil. Kenapa?
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan ibuku?" Deg, deg. Jantungku, oh tidak! Aku tidak salah mendengarnya kan?
Tuhan, jadi selama ini yang dekat denganku adalah kakak kandung ayahnya anakku.
"Kinara? Kenapa?" Aku hanya menggeleng. "Kau kaget?" Aku mengangguk. "Sama sepertiku saat tau kalau adalah anak dari om Husien. Sahabat terdekat ayahku." Deg. Tapi aku lebih kaget bahkan syok sekarang. Kalau seperti itu, aku tidak akan pernah membahas siapa ayah dari anakku.
"Kau temannya Adam kan?" Susah sekali mulut ataupun kepalaku ini untuk bergerak.
"Kak, aku tidak bisa berlama-lama disini. Karena ayah sudah memberiku peringatan."
"Baiklah, jika kau ingin pulang. Tapi biarkan aku disini dulu." Hah?
"Kak? Bukankah harusnya kau juga berada di kantor sekarang?"
"Sudah ada sekretaris ku yang menanganinya." Aku diam dan belum bergerak dari tempatku.
"Jika aku temannya Adam, apakah kau tidak ingin mendengar kabarnya sekarang bagaimana? Aku tau tentang kedekatan kalian dari ibu." Deg...
***
Entah takdir apa yang mempertemukan aku dengan Satria. Dunia begitu sempit, itu berlaku bagi duniaku saja. Mungkin dunia orang lain tidak sepertiku. Terkadang, aku ingin menyalahkan seseorang, tapi seiring berjalannya waktu, aku sendiri tau kalau semua kesalahan itu berawal dari diriku sendiri.
Keadaan cafe benar-benar masih sepi, walaupun sudah buka. Tapi jarang sekali ada orang yang datang jika disiang hari.
"Silahkan dipilih menunya." Pelayan datang dan menyodorkan buku menu kemeja.
"Kak, boleh nanti saja kan? Soalnya masih menunggu teman."
"Oh baik tidak apa-apa." Heh, aku melihat jam ditangan, padahal kami hanya selisih beberapa menit saja perginya. Agar supir yang mengantarku tidak curiga. Tapi kenapa lama sekali sampainya.
"Hallo?" Aku terpaksa harus menelpon, bagaimana tidak aku juga khawatir, takut terjadi sesuatu padanya diperjalanan.
"Kak, kenapa kau lama sekali?"
"Tunggu lah sebentar lagi." Aku langsung mematikan sambungan telepon. Lalu lebih memilih berjalan menuju toilet. Merapikan lagi penampilanku.
Saat kembali dari kamar mandi cafe, aku sudah melihat bahwa ada Satria yang duduk disana. Tapi mataku menangkap satu barang yang dia bawa, apa itu?
"Kak, kau sudah lama?" Dia menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Tidak, baru sampai." Aku sudah duduk sekarang, lalu kembali memanggil pelayan untuk segera datang.
__ADS_1
"Silahkan." Aku hanya memesan minuman saja, lalu kentang goreng sebagai cemilan.
"Kau tidak makan?" Aku menggeleng.
"Ini sudah jam makan siang." Tapi memang aku tidak lapar, lagian aku juga masih dalam masa diet.
"Kalau begitu aku juga sama, minum saja."
"Baik, tunggu lah hanya 10 menit." Pelayan sudah pergi sekarang. Tidak sabar rasanya ingin bertanya.
"Kak, itu-"
"Ini milik Adam, bukankah ini untukmu?" Deg. Apa? Jangan bilang kalau itu adalah lukisan yang ada di kamarnya?
"Kalian sangat dekat ya?" Aku mengangguk, aku bingung harus menjawab apa lagi.
"Tapi kak, Adam berpesan jika dia tidak kembali dengan selamat barulah aku boleh membuka dan melihat lukisan itu. Jika aku bisa melihatnya sekarang, itu artinya Adam?" Deg. Aku sendiri tidak sanggup mengatakannya.
"Sejauh itu hubungan kalian?" Aku menggeleng.
"Kami hanya teman kak."
"Adam belum memiliki titik terang. Sebaiknya aku berikan ini padamu."
Aku masih berpikir, kapan Adam sempat bicara dengan kakaknya? Mengenai aku dan dia, atau jangan-jangan dia juga sudah memberi tahu kalau Adam lah yang merenggut kesucian ku? Apa sebenarnya Satria sudah tau kalau ayah dari anakku adalah adiknya sendiri? Ah ya Tuhan aku sangat bingung.
"Kinara, berjanjilah kau akan menuruti kemauan ku. Jika kau hanya mau menikah dengan lelaki pilihan ku saja." Aku teringat kata-kata Adam. Apa ini artinya? Dan Satria adalah orangnya? Eh tidak!!! Aku spontan menggelengkan kepalaku.
"Kinara, kau kenapa?" Hah?
"Tidak apa-apa kak."
"Aku tadi lama karena pulang kerumah dulu untuk mengambil lukisan ini. Ibu yang menelpon tadi malam, itu atas permintaan Adam katanya. Kebetulan aku juga baru tau kalau kau anaknya om Husein. Jadi aku tidak perlu lagi mencari Kinara yang mana." Dia masih bisa bicara dengan santainya ya?
"Kak, apa Adam tidak akan sembuh?"
"Apa kau mencintainya?" Deg. Aku bertanya bukan untuk menjawab kan, tapi aku butuh jawaban!
"Kak, bukankah kau yang mengatakan kalau kita bertemu disini untuk membahas bagaimana kondisi Adam sekarang?" Satria terdiam, dia menatapku tanpa berkedip. Lalu meraih tanganku yang berada diatas meja. Kenapa? Kenapa aliran darahku mengalir cepat.
"Ini minumannya." Aku langsung menarik tanganku. Meletakkannya dipangkuan ku sendiri. Jujur, aku sangat canggung saat ini. Sebenarnya apa saja yang sudah dibicarakan Adam dengan kakaknya?
Bersambung..
__ADS_1