
POV author
Suasana rumah yang megah tidak selalu indah, hanya ramai karena banyaknya pelayan dan penjaga rumah. Duka yang terjadi beberapa hari lalu belum bisa terlupakan oleh seorang ibu. Duduk menyendiri ditepi kolam renang rumahnya, adalah hal yang selalu dilakukan setelah sepulang dari rumah sakit. Gambaran itu seketika muncul di kepalanya, apapun itu dia sangat ingat.
"Kenapa harus terjadi, aku kehilangan anakku." Lirihnya, terucap begitu saja dari mulutnya dan hilang terbawa oleh angin tanpa siapapun bisa mendengar setelahnya.
Seonggok gumpalan darah yang keluar dari rahimnya, membawa seluruh semangatnya. Anak dari buah cinta yang dinanti sudah tiada.
"Ibu?" Laras mendekat, sudah beberapa kali mencoba menghibur tapi juga tidak bisa membuat seorang ibu tersenyum.
"Apa ibu sudah makan?" Yang ditanya hanya menjawab dengan gelengan.
Kinara juga anaknya, tapi dia egois. Dan berspekulasi bahwa lahirnya Kinara bukan karena sebuah keihklasan cinta. Tapi karena keterpaksaan, sehingga tidak pernah memberikan kasih sayang.
"Bu, bukankah masih ada aku disini? Meskipun aku tidak terlahir dari rahim ibu, tapi anggaplah aku seperti anak kandung ibu."
"Ibu tau, tapi tetap saja berbeda Laras."
"Bu, apa aku perlu memanggil kak Kinara datang kesini? Setidaknya bisa menghibur ibu."
"Tidak perlu. Dia sudah melupakan ibu. Ibu jahat padanya. Jika dia datang, ibu malah semakin merasa bersalah. Setiap melihatnya, bayangan rasa benci malah muncul." Deg. Laras tertegun, harusnya seorang ibu tidak berlaku begitu terhadap anaknya.
Laras lebih memilih pergi dari pada harus membujuknya. Lagi-lagi dia masih merasa jengkel, mendengar sedikit perkataan itu membuatnya juga ikut merasakan sakit jika ada diposisi kakak tirinya.
"Dia sayang padaku tidak sebenarnya? Kepada anak kandungnya saja begitu!" Terus menggerutu saat akan memasuki rumah. Langkahnya terhenti, ketika melihat sang ayah yang duduk di sofa sendirian. Melamun, hal yang sama seperti yang dilakukan ibu tirinya.
"Ayah?" Melangkah mendekat, dan ikut duduk tepat disampingnya.
"Apa duka itu belum hilang? Bukankah masih ada aku disini?"
"Laras, ayah hanya memikirkan ibumu." Dia menghela nafas. "Mau sampai kapan terus-terusan begini?"
"Jika ayah bertanya itu padaku, bukankah jawabannya tetap sama? Aku juga tidak tau. Jika ayah saja sebagai suaminya tidak mengerti, bagaimana denganku? Aku hanya anak tirinya ayah."
"Ayah tau, Namira mengira jika ayah menyalahkannya. Dia terus meminta maaf pada ayah."
Mungkin, rasa takut yang sekarang ini ada didalam diri seorang istri itu muncul. Kekecewaan yang ada padanya, tapi juga rasa takut karena telah membuat seorang suami kecewa. Berpikir bahwa tidak bisa menjaga kandungannya.
"Kenapa ibu selalu bersikap acuh terhadap anaknya sendiri? Pantas jika kak Kinara pergi dari rumah ini. Apa kak Kinara bukan anak kandung ibu? Buktinya ibu terlihat biasa saja saat dia pergi."
"Laras, jaga bicaramu."
"Ayah, ayah tau tidak. kalau aku ada di posisinya aku juga akan melakukan hal yang sama." Laras mengubah posisi duduknya menjadi yang ternyaman untuknya. "Kalau begini terus, aku juga tidak betah untuk tinggal disini ayah. Tidak ada suasana nyaman dan hangat lagi rasanya. Aku sendiri saja menjadi merasa bersalah kepada kak Kinara, ibu malah lebih baik padaku dari pada anaknya sendiri."
"Laras, sudahlah. Ayah akan memikirkan cara untuk masalah ini. Ayah akan mengatur waktu, kita pergi liburan."
Batin Laras yang terus ngedumel sendiri, meskipun sudah beberapa pendapat yang dia ucapkan. Tapi itu tidak semua, termasuk perlahan mulai meragukan ibu tirinya. Dia juga seorang anak, yang haus kasih sayang ibu, dan dirumah inilah dia bisa mendapatkan itu semua. Senyum itu sering datang semenjak ayahnya kembali menikah. Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ajukan mengenai masa lalu apa yang dialami ibu tirinya.
"Ibu juga bilang, setiap melihat kak Kinara malah yang ada rasa benci itu muncul." Deg. Hati seorang ayah itu tergerak mendengar ucapan itu. Kenapa bisa mengatakannya pada Laras? Dia berspekulasi bahwa istrinya memang sedang dalam depresi karena berduka, tapi tidak seharusnya berkata begitu kepada Laras.
"Ibu mengatakan itu padamu?"
"Iya."
"Masuklah ke kamarmu."
"Ayah? Tunggu." Menarik tangan ayahnya dan ikut berdiri. "Ayah mau kemana?" Dia mendengus, kecewa bukan karena kehilangan calon anaknya, tapi lebih ke sifat istrinya yang sekarang.
"Ayah duduklah dulu, aku tau ayah pasti akan memarahi ibu kan? Karena ibu berkata begitu? Tapi ada hal yang sangat ingin aku tanyakan pada ayah."
Laras yang memenangkan hati seorang ayah, dia yang dekat dengan ayahnya mampu meredamkan emosi. Begitu juga sebaliknya, apapun pertanyaan dari anaknya selalu dijawab. Tapi entah tentang hal ini.
"Apa ayah sudah mengenal ibu Namira ketika dia masih berumah tangga dengan suaminya dulu?" Ayahnya menoleh, wajahnya berubah seketika menjadi memerah.
"Tenanglah ayah, harusnya ayah memberi tahu soal ini padaku." Mengelus lengan ayahnya, agar dijauhkan dari emosi.
"Ayah sudah mengenalnya, bahkan semenjak ayah dan ibumu menikah dulu. Begitu juga dengannya."
"Hah?" Kaget, dan ayahnya menjawab dengan anggukan.
"Kau ingin tau jawabannya kan? Jadi ayah harap kau tidak berpikir terlalu jauh."
"Baiklah ayah."
"Ketika ibumu meninggal, ayah kembali bertemu dengannya. Lalu menjalin hubungan, bisa dikatakan kami sudah selingkuh. Dan, dia bercerita tentang masalah rumah tangganya. Hati ayah merasa iba, dan siap menikah dengannya jika dia siap bercerai, menggantikan posisi ibumu." Laras menunduk, tidak menyangka jika ayahnya juga pernah melakukan kejahatan semacam ini. Bisa dikatakan ayahnya juga merusak rumah tangga orang lain.
"Setelah mereka bercerai, barulah ayah menikah. Dan ternyata, dia juga sayang padamu. Itu sudah menjadi pembuktian bahwa ayah tidak salah memilih seorang istri."
__ADS_1
"Tapi yah, kenapa ibu tidak menyayangi kak Kinara? Anaknya sendiri?"
"Soal itu ayah tidak tau. Sudahlah, pergi masuk ke kamarmu." Kali ini Laras tidak lagi menahan langkah ayahnya. Hingga ayahnya menoleh dan berbalik badan.
"Dimana tadi kau temui ibumu?"
Laras menunjuk ke arah luar.
"Di tepi kolam renang." Derap langkah kaki semakin menjauh, dan dia juga ikut pergi dari ruangan yang semula hangat. Menuju kamarnya sendiri, menikmati musik yang mengalun dengan indahnya.
Di tepi kolam renang yang diucapkan oleh Laras, ayahnya mencari sosok istrinya. Tapi tidak terlihat siapapun disana, bahkan para pelayan rumah sekalipun. Tidak ada, semua sudah tampak bersih, yang berarti beberapa menit lalu mereka yang bekerja sudah selesai akan tugasnya.
"Apa kau melihat istriku?" Bertanya kepada salah satu pelayan yang kebetulan melintas.
"Tidak tuan. Mungkin sudah masuk ke dalam. Tadi memang disini." Asraf, dia lelaki yang cukup tegas. Kepribadiannya memang baik, hanya ada satu kejahatan yang dia lakukan. Ya itu, merebut istri orang lain. Tapi bertanggung jawab dengan cara menikahinya secara sah.
Langkahnya kali ini menuju kamar. Yang diyakini jika istrinya pasti ada disana. Saat pintu kamar terbuka, nampak lah sesosok perempuan yang berdiri menghadap ke arah jendela. Dia hanya menoleh sekilas lalu berpaling muka lagi ketika tau siapa yang masuk.
Selimut hangat yang tertata rapi di atas tempat tidur, Asraf selaku suaminya tersenyum kecut melihat itu. Kenapa harus selimut? Iya, karena sebelumnya itu adalah tempat untuk mereka mencari kehangatan dimalam hari. Berbeda dengan sekarang, peristiwa duka itu benar-benar mengubah semuanya. Namira, dia lebih banyak diam. Dan hanya berkata jika mengucapkan kata maaf. Entah apa yang diperbuatnya, sehingga sudah mengucapkan ratusan kali kata maaf.
"Sayang?" Dia masih diam. "Namira?" Menoleh lagi sekilas.
"Maukah kau jika aku mengajak pergi liburan?"
"Tidak usah mas. Semua yang dikatakan oleh Laras memang benar. Aku ibu yang tidak baik."
"Apa yang kau katakan?"
"Heh, aku sudah mendengar sewaktu kalian berbicara tadi." Langkahnya langsung terhenti. Memang benar jika mereka tengah membicarakannya, tapi hanya tentang realita, tidak ada unsur menjelekkannya.
"Kau jangan salah paham. Laras belum dewasa untuk berpikir soal itu, dia hanya bisa berspekulasi dan memikirkan tentang apa yang dia lihat dan dengar. Dia juga tidak tau apa masalahmu, masalahmu yang ada dimasa lalu?"
Tangan kokoh itu langsung menyentuh bahu, memutar balikan tubuh istrinya. Penampilan yang jauh berbeda dari biasanya. Tidak ada satupun make up yang terlukis di wajah pucat itu. Rambut yang tergerai asal, bahkan lebih rapi lagi penampilan pelayan dirumahnya.
"Maaf, jika kau tersinggung soal itu. Tapi percayalah, Laras tidak membencimu."
"Tidak mas, dia memang pantas membenciku."
"Aku sudah berusaha untuk mengatur keadaan kembali seperti awal. Bukankah soal kehilangan anak dalam kandungan sudah sering dialami oleh seorang ibu? Jika kau terus-terusan begini, aku sendiri bingung harus melakukan apa. Kau tidak bersalah, tapi dengan begini aku malah menjadi serba salah."
"Mas!"
"Seharusnya, kau bisa semangat kembali karena adanya aku, tapi tidak sepertinya. Aku hanya patung disini, sebagai pajangan setiap hari, dan menjadi guling disaat kau tidur. Selebihnya, aku tidak memiliki keistimewaan. Pikirlah itu, aku pergi." Tidak menunggu istrinya membuka suara. Langkah kaki yang menghentak terdengar bersama dengan suara kerasnya bantingan pintu.
Cobaan mulai datang, pertengkaran yang harusnya bisa dihindari tapi malah tersulut semakin besar. Hati yang sabar hilang dalam waktu hitungan hari. Menunggu seseorang yang tengah berduka, termasuk dirinya sendiri. Mengaku bahwa tidak dianggap, dan itu memang benar adanya.
"Laras, ikut ayah. Kita pergi dari sini?"
"Ayah?" Dia terkesiap, melompat dari tempat tidur hampir terjungkal karena kagetnya.
"Bukankah kita liburannya nanti? Apa ayah sudah mengatur waktunya?"
"Bereskan pakaianmu!" Pergi dan menunggu dibawah tangga. Laras menggaruk kepala, bukan karena gatal tapi bingung. Sambil menarik koper yang diletakkan dibawah tempat tidurnya.
Laras yang menyeret koper ke bawah tampak bingung, dari matanya tidak melihat ada ibunya disana. Hanya ayahnya saja yang berdiri sendiri dengan membawa sebuah tas besar.
"Kau membawa banyak pakaian, begitu lebih bagus."
"Kita pergi liburan kemana? Apa lama ayah? Lalu bagaimana sekolah ku nanti?"
"Kita pergi ke Hang Tuah." Deg. Laras berhenti, begitu ayahnya menoleh dia terdiam.
"Maksudnya ayah?"
"Kita pulang kerumah!" Lanjut melangkah, Laras masih tetap terdiam. Detik berikutnya tersadar, saat ayahnya sudah menghilang dibalik pintu. Benar-benar sudah melangkah pergi keluar rumah.
"Ayah, tunggu."
"Maaf nona, apa tuan akan pergi?" Ah tidak bisa lagi menjawab, tidak sempat.
"Bi, tolong bawakan koperku." Laras meninggalkan kopernya dan berlari menyusul ayahnya keluar.
"Ayah, jadi bagaimana ibu Namira?" Setelah sampai didepan mobil.
"Biarkan dia menyendiri dulu, ayah rasa begitu lebih baik." Laras hanya bisa menanti hingga pelayan yang membawakan kopernya sampai.
Di tempat lain, ada kegembiraan yang tidak terduga datang. Mereka yang tengah mendengar kabar bahagia, hanya bukan keluarganya saja yang berhak tau. Tapi semua penghuni rumah. Penjagaan super ketat sudah dimulai, briefing ini pun dimulai. Seluruh pelayan dan penjaga rumah sudah berkumpul. Berbaris dengan rapinya dengan menundukkan kepala. Seraya menghormati tuan besar dirumah.
__ADS_1
"Saya mau, tidak ada istilah istri saya berjalan ke dapur untuk mengambil sesuatu. Satu pelayan akan saya pilih untuk berjaga didepan pintu kamar sewaktu saya pergi ke kantor." Mereka mengangguk patuh.
"Sayang, apa ini tidak berlebihan?" Yang diperlakukan seperti ratu malah merasa sangat tidak enak. Bahkan ini sudah melebihi istri seorang raja.
"Diamlah, ini semua demi calon anak kita." Sebegitu besar harapan untuk memiliki anak, dan akhirnya semua penantian selama beberapa bulan itu hadir.
"Jika, istri saya menginginkan sesuatu, baiknya segera beritahukan saya. Baiklah, kalian bisa bubar sekarang." Satu persatu berjalan mundur, dengan hitungan detik keadaan kembali hening. Ruangan menjadi kosong, dan hanya meninggalkan sepasang suami istri yang tengah dilanda kebahagiaan mulai detik ini. Ah tidak, mereka sepertinya memang sudah bahagia, namun saat ini terasa begitu lengkap. Dengan harapan yang sama.
"Sebaiknya kita segera memberi kabar kepada Kinara." Bergandengan tangan dan meninggalkan ruangan, beralih ke dalam kamar mereka sendiri.
Suasana tegang sudah hilang, semua pelayan sudah bisa bernafas lega. Ada yang berdiri di sudut ruangan sambil mengelus dada. Mengucapkan banyak bersyukur, mereka juga ikut bahagia ketika mendengar nyonya dirumah ini hamil.
"Pasti akan cantik jika anaknya perempuan."
"Kau jangan berbicara terlalu kencang, bagaimana kalau anaknya laki-laki?"
"Pasti tampan. Kau lihat kan, tuan Husein? Dia saja masih terlihat muda."
"Jika nyonya mendengar, pasti akan menyangka jika kau ingin merebut suaminya." Mereka terdiam dan meninggalkan tempat dimana mereka berdiri, ketika mendengar suara derap langkah yang tidak asing. Orang yang menjadi bahan pembicaraan akan lewat.
"Apa Kinara tidak akan kecewa mendengar hal ini?"
"Dia pasti akan menerimanya."
"Baiklah, aku akan memberi kabar padanya sekarang juga." Suami sekaligus dari ayahnya Kinara itu mengangguk.
Keduanya sudah berbaring ditempat saling pandang dan mungkin yang akan terjadi berikutnya adalah malam hangat bagi pasangan suami istri ini.
"Ingatlah kata dokter, gerakannya harus diperlambat." Disusul suara tawa renyah. Selimut yang ditarik hanya sebatas dada menutupi masing-masing bagian tubuh mereka. Entah itu berbalut kain atau tidak, ah bagi mereka juga tidak masalah.
Intan, dia sudah mulai mencari nomor Kinara. Mengetik sesuatu dan menghapusnya lagi.
"Apa dia belum tidur jam segini?"
"Coba saja, buktinya dia juga pernah meminta uang ketika sudah jam satu malam."
"Haha, benarkah? Anakmu itu sangat cantik, aku sayang padanya."
"Itu memang harus, dia juga butuh kasih sayang seorang ibu sepertimu."
"Stop, jangan lanjutkan. Aku tau pasti ujungnya akan dibandingkan dengan mantan istrimu." Kecupan hangat langsung mendarat dibibir, pipi dan keningnya. Dia tersenyum, jelas istri mana yang tidak suka diperlakukan seperti itu.
"Cobalah, aku mendengarkan."
Deringan ponsel pertama, masih belum ada jawaban. Dan yang kedua, tampaknya yang ditelpon juga terburu-buru mengangkatnya.
"Kinara, apa kau sudah tidur?"
"Tante? Belum." Tapi suaranya tampak berat, sepertinya Kinara berbohong soal itu.
"Maaf jika Tante menganggumu malam-malam begini." Setelah dipastikan bahwa Kinara sudah siap mendengar, Intan menarik nafasnya dengan perlahan. Melirik lagi ke arah suaminya, anggukan adalah kode untuk waktunya dia membuka mulut.
"Kinara, apa kau siap jika memiliki adik?"
"Adik?" Nadanya sedikit terkejut.
"Iya. Apa kau siap?"
"Kalau sudah itu jalannya, aku bisa terima."
"Tante hamil."
"Benarkah?"
"Kau tidak marah pada Tante kan?"
Dan obrolan berlanjut, Kinara menjawab dengan keyakinan hatinya. Membuat Intan bisa menutup matanya dengan sempurna ketika panggilan telepon berakhir. Tapi kini, dering telepon dari ponsel suaminya berbunyi dengan nyaring. Dia juga ikut membuka mata, semula sudah mulai terlelap.
"Hallo?" Matanya berkedip-kedip, telinga juga ikut fokus mendengar. Tapi tetap saja, samar-samar sekalipun tidak terdengar siapa yang menelpon suaminya malam-malam.
"Apa? Kenapa? Bagaimana bisa?" Langsung menutup telepon, mungkin sudah mengetahui sebabnya.
"Siapa sayang?"
"Orangku yang menelpon, dia bilang Namira ditinggal pergi suaminya." Deg. Secepat itu pikirkan negatif langsung muncul.
Apa dia khawatir kepada mantan istrinya? Pikiran yang kali ini tidak tenang, jauh berbeda dengan beberapa menit lalu. Mata tidak mau menutup, meskipun tubuhnya sudah dipeluk sempurna. Seakan rasa hangatnya tidak bisa menembus pikirannya. Pernikahan yang di awali dengan cinta ini, ya dia benar mencintai seorang Husein. Rasa takut itu kini muncul dengan sendirinya, menutup rapat-rapat ruang hati agar tidak bisa dimasuki rasa sakit.
__ADS_1
Bersambung..