Langit Mendung

Langit Mendung
Satu rahasia terbongkar


__ADS_3

Beberapa hari ini aku tidak masuk ke sekolah, aku berasalan kalau aku sakit. Dan meminta surat keterangan sakit dari klinik biasa. Aku sengaja melakukan itu, menghindari pertanyaan Adam. Aku tidak memiliki alasan lain, selain aku harus jujur. Ponselku tidak henti-hentinya terus berdering, Wahid, Adam, dan Munah. Mereka menelponku secara bergantian, mengirimkan aku pesan. Aku sudah mengatakan kalau aku baik-baik saja. Bel apartemen juga berbunyi, tiga hari terakhir ini. Di jam saat pulang sekolah, sore, dan kadang malam. Aku hanya diam duduk di dalam kamar. Aku paling tidak bisa terus di desak untuk jujur.


Dan hari ini, sebelum jam pulang sekolah tiba. Aku mengajak bi Gina pergi ke kontrakan adik-adikku. Supaya bi Gina juga sedikit terhibur dengan adanya mereka. Selain suami, bagi bi Gina anak-anak juga mampu membuatnya tersenyum. Aku bahkan selalu mengatakan, anggaplah aku sebagai anak bibi. Kita sama, bibi ingin memiliki anak, dan aku ingin merasakan kasih sayang seorang ibu.


Huh ku hirup udara luar apartemen, sebelum memasuki mobil kulihat dulu ke sekeliling. Takut kalau ada penguntit nantinya. Siapa lagi kalau bukan Adam. Dia selalu punya cara untuk tau tentangku. Terkadang juga heran, kenapa Adam melakukan itu. Bukankah seharusnya dia cari tau saja tentang kehidupan Elena.


Aku hanya berhenti di pinggir jalan raya, karena bi Gina sudah menungguku disana. Dia tersenyum saat tau mobilku berhenti. Aku membuka kaca jendela mobil, lalu memintanya untuk langsung masuk.


"Bibi rindu kau Nara."


"Bi, aku juga. Selama bibi tidak ada, aku memesan makanan melalui via online. Aku rindu masakan bibi." Aku mengeluh saat bi Gina baru saja duduk didalam mobil.


"Jadi bagaimana mereka?" Aku tau siapa yang di maksud bi Gina saat ini.


"Bi, aku menemukan rumah makan catering. Yang bisa dipesan setiap hari, mengantarkannya ke alamat yang kita mau. Jadi, sudah di pastikan mereka tidak akan kelaparan." Bi Gina mengangguk. Dia juga ikut bersyukur.


Aku Kinara, aku keras kepala. Aku sadar akan sifatku itu, mudah menangis. Tapi aku juga tidak menyerah, meskipun dulu saat berusia 12 tahun aku pernah nekat akan memotong urat nadiku. Karena lelah mendengar pertengkaran ibu dan ayah setiap malam. Kalau saja waktu itu tidak ada pelayan rumah yang memergoki. Pasti aku tidak ada disini sekarang ini, dan tidak akan pernah merasakan hamil diluar nikah. Hubungan tanpa status. Aku malah merasa lebih hancur sekarang. Tapi semenjak bi Gina selalu memotivasi, memberiku semangat. Aku mengesampingkan semua masalah dan beban yang ku punya. Dan selalu tersenyum, mengabaikan semua masalah.


"Nara, kau sudah harus periksa kandungan bulan ini."


"Iya bi. Tapi, bibi juga masih berduka sekarang. Bagaimana mungkin aku meminta bantuan bibi untuk memanggil dokter itu."


Bi Gina menoleh ke arahku, lalu dia tersenyum. "Semua sudah jalan buat bibi. Kesedihan adalah sifat wajar dari siapapun yang merasa kehilangan. Bertahun-tahun sekalipun, bibi akan tetap menangis jika mengingatnya. Tapi itu bukan alasan untuk bibi selalu merasakan pahitnya hidup sendirian." Ya Tuhan, kata-katanya selalu menyentuhku. Kau benar-benar seorang yang berhati lembut bi Gina. Kalau saja aku boleh protes kepada Tuhan. Kenapa orang sebaik bi Gina tidak di percaya untuk menimang anak.


"Bi, apa tanah kosong yang ada disebelah rumah bibi itu milik bibi?" Bi Gina mengangguk.


"Itu dulu rumah bibi sebenarnya hanya mengontrak, makannya letak rumah saling bergandeng. Dan bibi mendapat yang paling ujung. Lalu, saat suami bibi memiliki rezeki lebih, maka kami pun meminta rumah itu untuk membelinya. Sekaligus tanah yang ada di sampingnya." Aku manggut-manggut mendengarkan.


"Kau tau Nara, bibi juga tau belum lama. Sewaktu suami bibi sakit, dia meminta bibi untuk mengambilkan berkas yang dia simpan. Ternyata itu sertifikat rumah. Yang disana tertulis dengan jelas nama bibi. Jadi selama bertahun-tahun bibi tinggal, bibi mengira kalau masih mengontrak." Nada suara bi Gina sudah terdengar bergetar menahan tangis. Aku saja membayangkan kalau ada diposisi bi Gina juga akan menangis, menangis bahagia karena mendapat pasangan yang sama baiknya, dan menangis sedih karena harus kehilangannya.


"Bi, apa bibi menyimpan photo suami bibi? Aku sangat penasaran ingin melihat wajahnya ketika masih sehat." Bi Gina mengangguk, lalu mengeluarkan photo kecil dari dalam dompetnya. Photonya bersama sang suami.


Aku memegangnya dengan satu tangan, dan satu tangan tetap berada di stir kemudi. Meniliknya, menoleh lagi ke jalanan. Aku merasa tidak puas. Dan sampai berulang kali melakukan itu. Aku yakin, aku pernah melihatnya. Tapi aku tidak ingat dimana dan kapan itu.


"Apa kau mengenal suami bibi?"


Aku semula mengangguk lalu akhirnya menggeleng. Bi Gina malah tertawa kecil.


"Aku seperti pernah melihatnya bi, tapi tidak tau dimana. Aku lupa."


"Sudah jelas kau pasti pernah bertemu. Bukankah kita juga masih tinggal di satu kota?" Heh iya, benar juga ya. Terkadang, meskipun pernah bertemu tatap muka, di suatu tempat walaupun tidak saling mengenal. Pasti kita tetap akan mengatakan seperti pernah melihatnya. Dan berbalik lagi dengan jawaban bi Gina, jelas pernah bertemu karena tinggalnya masih satu kota.


"Suami bibi tampan ternyata."


"Kau terlalu memuji." Lagi-lagi aku berhasil membuat bi Gina melepaskan senyuman. "Kalau suami bibi tidak tampan, bibi juga tidak akan mau." Kemudian bi Gina menghela nafas. "Kau tau Nara, sewaktu bibi datang ke pusara untuk mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir suami bibi? Bibi merasakan ada dua jiwa yang tengah melihat bibi dari kejauhan."


"Dua jiwa? Maksudnya bi?"


"Iya, anak dan suami bibi. Bukankah mereka sekarang pasti sudah bertemu?" Deg. Benar, aku juga merasakan hal yang sama seperti bi Gina sewaktu datang ke pusara ayahnya Adam.


***


Aku memarkirkan mobil di depan kontrakan adik-adikku. Bi Gina turun lebih dulu dan mengetuk pintu. Kali ini aku datang tidak membawa apapun, karena aku mau mereka yang meminta makanan jenis apa nanti, jadi aku bisa memesannya melalui ojek online, delivery. Semua sekarang serba canggih.


Maksudnya aku bertanya dengan bi Gina soal tanah tadi sebenarnya aku ingin membelinya. Dan membangun rumah untuk mereka disana, malah lebih aman. Karena berdekatan dengan bi Gina. Dan, lingkungannya juga positif. Sehingga aku tidak perlu khawatir pada mereka yang akan bermain di jalanan lagi. Tapi nanti saja, bi Gina masih dalam suasana duka. Tidak sopan jika aku mengatakan ini sekarang.


"Kak Nara, ayo masuk." Mereka menarikku yang baru saja menutup pintu mobil.


"Kak lihat ini." Setelah aku masuk, mereka berbaris memamerkan pakaian baru mereka. Aku tersenyum senang menatapnya. Hanya saja ada yang janggal ku rasa. Tunggu, aku menyentuh salah satu pakaian diantara mereka. Aku tidak merasa membelikan motif ini, dan ini, lalu ini. Aku menyentuh semuanya.


"Kenapa Nara?" Bi Gina tau melihat raut wajahku yang berubah bingung saat menolehnya.


"Kalian duduklah." Pintaku. Kami duduk diruang kosong, yang hanya beralaskan tikar. Ini juga salah satu peluang untuk mereka bermain di dalam rumah. Berlari sesuka hati mereka. Namanya juga mereka masih anak-anak. Mereka tidak keluar rumah menuruti kemauanku saja, itu sudah termasuk hal hebat.


"Bi, apa bibi ada memberi mereka pakaian?" Bi Gina menoleh kearah adik-adikku. Lalu akhirnya bi Gina menggeleng.

__ADS_1


"Kalau begitu katakan, apa ada yang datang kesini dan memberi kalian pakaian baru?" Salah satu diantara mereka berdiri, lalu masuk ke dalam kamar, dan keluar membawa kardus besar. Aku langsung memeriksanya, banyak sekali. Bahkan lebih banyak dari yang aku berikan untuk mereka kemarin.


Yang tertua diantara mereka mulai membuka suara. Mengatakan kalau selama dua hari ini, ada yang datang. Bertanya mereka tinggal sama siapa, dan juga menanyakan tentangku. Bagaimana bisa mereka mengenalku, hingga pada akhirnya ada hubungan apa aku dengan mereka. Aku tau, meskipun lelaki yang datang tidak menyebutkan namanya. Tapi aku sudah bisa menebak. Kalau itu pasti Adam. Datang dengan mobil berwarna hitam, memakai tas ransel hitam, dan memakai seragam sekolah.


"Dia juga memberikan kami uang kak." Ini yang aku tidak suka, siapapun yang tau akan ikut campur.


"Nara, itu kan malah lebih bagus. Semakin banyak yang membantu mereka."


"Tapi bi."


"Kau tidak boleh egois. Orang lain tidak akan merebut mereka darimu. Mereka tetap adik-adikmu. Kau lihat kan, mereka tampak senang mendapat hadiah dari orang lain." Aku menunduk, bi Gina benar. Kenapa aku egois? Memangnya siapa aku, yang berhak melarang mereka menerima barang apapun dari orang lain.


"Apa uangnya masih ada?" Mereka mengangguk.


"Ari yang simpan kak. Uangnya masih utuh."


"Kenapa tidak di pakai?"


"Untuk apa kak? Bukankah setiap hari Kakak sudah mengirimkan kami makanan dan juga cemilan. Semua itu sudah cukup kak. Bahkan lebih dari cukup."


Mereka tidak sekolah, tidak mengenal pelajaran. Tapi mereka tau bagaimana cara bersyukur. Ya Tuhan, aku jadi malu yang selalu menghamburkan uang.


"Kau dengarkan? Mereka saja lebih memilih apa yang kau berikan, dari pada pemberian dari orang lain."


"Sini peluk kakak." Aku merentangkan tanganku, mereka langsung berebut untuk dapat memeluk. Penampilan mereka saat ini sudah jauh berbeda. Bersih, wangi dan tidak ada lagi noda di wajah mereka karena terkena keringat.


"Kak, sebenarnya aku pernah melihat orang itu. Aku melihatnya bersama kakak, pasti kakak juga mengenalnya. Karena waktu itu dia menolong kakak sewaktu kakak jatuh saat mengangkat kardus paketan."


"Bagaimana bisa kalian melihatnya?"


"Aku melihatnya dari jendela kak." Deg. Benarkan, ini pasti Adam. Kalau begini, aku tidak bisa lagi menghindar darinya, aku akan menanyakan hal ini langsung.


"Nara?" Aku menoleh ke arah bi Gina. "Apa Adam?" Aku mengangguk. "Syukurlah, berarti dia juga sama sepertimu. Suka membantu orang lain." Ya ampun, aku tau itu bi. Tapi bibi kembali mengingatkan untuk itu.


"Ya sudah, kalian mau makan apa sekarang?"


"Kak, mau bakso yang isinya cabai kak, semalam aku melihatnya di iklan televisi."


"Kak mau donat." Bi Gina dan aku langsung tertawa mendengarnya. Baiklah aku akan memesan semua makanan yang mereka mau.


"Kalau bibi mau apa?" Bi Gina hanya menggeleng saja.


"Ayolah bi, kita akan makan bersama mereka." Bi Gina masih berpikir.


"Bibi mau kau saja yang memesan, apapun itu akan bibi makan." Yes, aku berhasil membujuknya. Jadi impas, bukan hanya adik-adikku saja yang merasa puas, tapi bi Gina juga.


Setengah jam menunggu, akhirnya makanan yang diminta mereka datang. Dengan antusiasnya membuka makanan, mereka bahkan kegirangan saat tau isinya benar-benar makanan yang mereka inginkan. Donat lumer dan pizza. Akhirnya aku memilih bakso dan bi Gina juga sama. Wajahku memerah saat tau rasa pedas yang belum pernah aku rasakan. Aku berlari ke arah dapur, mencari air. Kali ini air mata ku jatuh bukan karena sedih, tapi karena memakan makanan yang terlalu pedas.


"Kak Nara wajahnya lucu sekali." Mereka malah menertawakan ku.


"Bi, apa bibi tidak merasakan pedas?" Bi Gina malah menggeleng, dan memarkan padaku bahwa dia masih sanggup memakannya.


"Haha." Mereka tertawa lagi, baiklah aku menyerah sekarang. Dan memilih meminta donat yang sepertinya enak, aku memasukkan ke dalam mulut. Satu kunyahan saja sudah membuat ku mampu menaksir rasa. Benar-benar enak.


Jika perut sudah terasa kenyang, maka yang datang adalah rasa kantuk. Mataku sudah bisa diajak kompromi, susah dibuka. Bi Gina menepuk pangkuannya, mempersilahkan ku untuk tidur. Aku mengambil posisi ternyaman, lalu bi Gina mengelus puncak kepalaku. Dengan lembutnya, sehingga hanya beberapa menit aku sudah bisa masuk ke alam mimpi.


***


Aku duduk disebuah taman, bersama dengan lampu temaram. Aku hanya memandang bayanganku sendiri. Sambil menunggu orang yang aku tunggu datang. Sengaja aku meminta Adam untuk menemuiku disini. Karena aku tidak mau di apartemen. Meski Adam sempat menolaknya, mengatakan kalau kondisiku sedang sakit, tidak baik jika terkena angin malam. Andai saja dia tau kalau itu hanya alasanku saja agar tidak masuk ke sekolah.


Langit yang tidak menampakan bintang malam ini, meski tidak mendung. Tapi hanya ada sinar bulan di sana. Aku mendengar suara langkah kaki berjalan, dan menoleh. Aku berpikir jika itu Adam, ternyata salah. Hanya sepasang anak muda yang juga akan duduk di salah satu bangku taman. Membawa ice cream di tangannya, tertawa kecil yang aku tidak tau mereka membahas apa. Semoga mereka tidak menertawakan ku yang saat ini duduk sendirian, berpikir bahwa aku sedang putus cinta.


Lalu aku mendengar lagi suara langkah kaki, tapi kali ini aku tidak menoleh. Aku hanya menunduk, aku takut kalau aku mengira lagi dan ternyata bukan Adam. Lebih baik menunggu dalam diam, mengusir kegelisahan malam ini. Agar tidak terlihat oleh siapapun.


"Mau sampai kapan kau menunduk?" Aku kaget yang spontan menyentuh dadaku, tersentak begitu mendengar suara Adam. Aliran darah seperti tersengat listrik, sungguh aku benar-benar kaget.

__ADS_1


"Kenapa memilih tempat ini?" Aku menggeleng, dan Adam duduk di sampingku.


"Kau mau diam saja? Bukankah kau mengajakku bertemu karena ingin membicarakan hal yang sangat penting. Bahkan sampai kau meminta berjumpa diluar seperti ini. Kau tau kan, kondisimu sedang tidak sehat." Aku mengangguk. Adam malah membuka jaketnya, dan memakaikan untukku. Aku rasa tidak dingin, dan ini juga masih pukul 9 malam.


"Makasih." Adam mengangguk. "Aku ingin bertanya padamu, kau pasti sudah tau kan mengenai anak-anak jalanan itu?" Adam diam tidak menjawab. "Terima kasih kau sudah memberikan bantuan untuk mereka."


"Kenapa kau harus menyembunyikan sisi baik dari dirimu?"


"Adam, aku memiliki alasan untuk itu. Tidak semua kebaikan harus diberitahu orang lain. Dan juga tidak perlu di ekspos." Adam diam lagi. Aku tau dia sedang memilah kata untuk berbicara padaku tentang ini. Jika tetap menyalahkan ku juga dia tidak berhak. Ini hidupku, dan Adam tidak berhak mengaturnya. Apa lagi yang aku perbuat adalah hal positif.


"Aku tau Nara. Tapi itu malah membebani mu. Kalau kau mengatakan hal ini pada aku, Wahid ataupun Munah. Bukankah itu mempermudah langkah mu untuk mewujudkan impianmu? Salah satunya membangun rumah untuk mereka. Dan, kau juga harus tau Nara. Mereka bukan hanya butuh itu, mereka juga harus sekolah. Agar kehidupan mereka kedepannya lebih baik, tidak terus bergantung padamu."


Aku juga memikirkan itu? Aku ingin mereka bisa sekolah. Ah pikiranku menjadi kacau seketika. Saat Adam malah menyudutkan ku. Seharusnya semua yang aku rancang dari awal pertemuan ku dengan mereka bisa berjalan dengan baik. Kuliah sambil bekerja di perusahaan ayah ataupun perusahaan lainnya. Yang terpenting bisa menghasilkan uang. Agar aku dapat menyekolahkan mereka. Tapi ini, ada janin yang aku kandung. Meski aku dan bi Gina sudah merencanakan sesuatu, menutupi kehamilan ini hingga kelahiran ku nantinya. Tapi, aku tidak tau rencana Tuhan yang sudah dibuat untukku. Bagaimana pun, aku tidak pernah tau takdir seperti apa yang datang padaku satu ataupun dua tahun lagi.


Kalau boleh jujur. Aku sangat menyayangi mereka. Dari pada ibuku sendiri, bahkan jika harus memilih antara ibu atau adik-adikku yang ada di jalanan. Aku tetap memilih mereka.


"Adam, manusia memiliki pikiran yang berbeda."


"Lalu, apa langkahmu selanjutnya setelah ini?" Aku menoleh ke arah Adam.


"Aku akan meminta bantuan mu." Adam tersenyum, dan mengusap lembut puncak kepalaku. Lalu Adam menarik tubuhku untuk bersandar di bahunya. Aku merasakan nyaman saat ini. Tanpa sepengetahuannya, aku mengelus lembut perutku. Kau dekat dengan ayahmu saat ini, batinku.


Aku melihat beberapa pasangan yang duduk tidak jauh, mereka berlari kocar-kacir. Air turun dari atas langit, sejak kapan mendung itu datang?


"Nara, ayo?" Aku langsung berdiri dan berlari kecil dengan tangan saling menggenggam. Adam mengantarku masuk ke dalam mobil. Jaket miliknya dia gunakan untuk menutup kepalaku, dan membiarkan tubuhnya sendiri terkena air hujan.


"Aku numpang duduk juga disini ya, menunggu hujan reda kita pulang." Aku mengangguk setuju. Benar, langit tanpa bintang berakhir mendung. Aku sangat tidak bisa membedakan cuaca ketika malam hari. Yang aku tau, jika siang hari tidak terik berarti itu artinya langit sedang mendung.


"Perasaan tadi aku masih melihat bulan." Ucapku, sambil memeluk tubuhku sendiri. Bibirku gemetar, padahal pakaian ku juga tidak terlalu basah. Tapi hawa dingin menyeruak masuk ke dalam tubuh, menusuk kulit tipis ku. Jendela mobil juga tertutup dengan rapat.


Hujan datang dengan derasnya. Menutupi padangan mata yang hanya bisa melihat kisaran jarak beberapa meter saja. Aku menoleh ke arah Adam, lalu beralih lagi ke arah depan. Beberapa penjual tampak mendorong gerobak mereka. Menembus derasnya hujan tanpa memakai pengaman apapun. Sungguh luar biasa perjuangan orang mencari uang.


"Aku tidak tega melihatnya."


"Kalau begitu jangan dilihat." Heh, apa-apaan jawabannya sungguh tidak membuatku merasakan kelegaan. "Hatimu sangat lembut." Aku menatap Adam sekarang. Dia malah tertawa, memang apa yang lucu?


"Nara?"


"Hem."


"Ceritakan satu saja kisah masa kecilmu, aku ingin dengar." Tidak ada satupun yang menarik. Hidup dirumah mewah bak istana, memiliki banyak pelayan yang siap membantu, menyiapkan makanan, membantuku menyisir rambut. Hanya karena mereka lah ibu malah mengandalkannya, lalai dalam mengurus anak.


"Kau tidak mau?"


"Bagiku, masa kecil dan sekarang itu tidak ada yang berbeda. Semuanya sama. Tidak ada yang menarik untuk diceritakan. Tidak ada kenangan yang indah, hanya ada ingatan buruk yang selalu meracuni pikiran ku."


"Apa kau tidak memiliki teman semasa kecil?" Aku sedikit tertarik dengan pertanyaan Adam yang satu ini. Baiklah, aku akan menceritakannya.


"Ada. Tapi juga sudah pergi, jauh dan tidak pernah bertemu lagi semenjak keluarganya pindah keluar kota. Bahkan aku juga tidak tau kabarnya seperti apa."


"Kenapa tidak kau cari?" Aku membuang nafas kasar.


"Sudah tidak penting lagi. Masa kecilku terlalu monoton. Meski ayah dan ibu tidak melarang ku untuk bermain dengan siapapun, tapi aku sendiri yang tidak tertarik untuk itu. Seluruh otaku isinya hanya tentang pertengkaran ibu dan ayahku. Kata-kata kasar mereka yang selalu aku dengar." Adam diam.


"Sudahlah, sudah kukatakan aku tidak tertarik untuk membahas hal ini."


"Siapa nama teman kecilmu?" Adam bertanya lagi padaku.


"Aku tidak tau nama lengkapnya, aku hanya tau nama panggilannya sewaktu kecil. Namanya Iam. Aku selalu memanggilnya dengan sebutan itu. Anak laki-laki kecil yang berambut botak." Aku tertawa mengingatnya. "Aku juga tidak pernah tau, entah kapan rambutnya akan tumbuh." Adam ikut tertawa, dan saat ini aku dan Adam sama-sama bernostalgia sewaktu kecil. Membahas seputar anak kecil yang berambut botak. Mungkin dia yang sekarang tidak ku tau keberadaannya akan tersedak karena tengah kami bicarakan.


"Hei, kau tidak ingin pulang? Hujan sudah reda." Adam menoleh ke arah luar. Begitu juga denganku, keadaan sudah sangat sepi. Meskipun ini masih dipinggir jalan raya. Para pengendara yang lewat juga tidak banyak. Jauh berbeda dengan keadaan pertama saat aku datang tadi.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang." Aku mengangguk saat Adam pamit dan keluar dari dalam mobilku.


"Ingat, jika kau ingin menemukan teman kecilmu, aku siap membantu untuk mencarinya." Ucapnya sebelum pergi meninggalkan mobil.

__ADS_1


"Hei, memangnya kau siapa? Polisi? Detektif? Ada-ada saja." Detik berikutnya, aku memikirkan kata-kata Adam. Ada benarnya juga jika aku mencari tau tentang anak itu. Aku juga ingin melihatnya sekarang, apa rambutnya sudah tumbuh? Aku juga bisakan menanyakan hal ini dengan ayah. Bukankah ayah juga teman dekat ayah dari anak itu. Baiklah, jika ada waktu senggang aku akan mengajak ayah bertemu dan menanyakan hal ini. Dan semoga saja, ayah masih mau memberikan informasi itu untukku.


Bersambung..


__ADS_2