Langit Mendung

Langit Mendung
Hanya karena buku


__ADS_3

Aku sudah sampai di kampus sekarang, berjalan berdua bersama dengan Adam. Jangan ditanya seperti apa tatapan para mahasiswa lainnya, tapi aku cuek dengan berjalan sambil bergandengan tangan. Oh indahnya berpacaran dengan seorang suami.


"Sayang, aku mau kekamar mandi sebentar." Baiklah, aku rela melepas tangannya dan berjalan lebih dulu masuk keruangan kelas.


Aku melihat Munah yang duduk termenung, dia benar-benar tidak ada niatan untuk mengajak bicara siapapun ya! Apa hanya aku teman yang dia punya, oh sungguh menyedihkan sekali.


"Munah!" Aku sengaja mengangetkan.


"Eh!" Dia memukul lenganku. Aku hanya tertawa lalu duduk disampingnya.


"Nara, aku sudah menunggumu sejak tadi." Aku tau dan aku mengangguk. "Adam mana?"


"Dia ke kamar mandi." Munah langsung memelukku.


"Hei, jangan menangis. Apa kau tidak malu jika mereka melihatnya." Munah kembali ke posisi awalnya.


"Dia selingkuh."


"Apa itu benar? Dan kau juga sudah memastikannya?" Munah mengangguk lagi.


"Tapi Wahid belum menjawab pesanku. Mungkin dia sedang tidur." Aku ikut membuang nafas kasar, bagaimana caranya dia sudah berspekulasi sendiri bahwa Wahid selingkuh, sementara Wahid saja belum membalas pesannya. Yang aku pikir mereka berdua sudah bertengkar hebat dan saling memutuskan hubungan.


Aku mencoba menenangkan Munah, memberinya saran terbaik meskipun belum tentu bisa menyelesaikan masalah. Yang terpenting aku bisa membuatnya tenang saat ini, dan fokus dalam belajar.


"Ada satu lagi kejadian yang tidak terduga." Ucapnya, membuatku berhasil mengeluarkan rasa penasaran.


"Apa itu?" Munah menoleh kearah lain.


"Windu melamarku tadi pagi."


"Apa??" Aku kaget bahkan sampai berdiri dari dudukku, bukan karena cemburu atau apa. Tapi bagaimana caranya, apa mereka selama ini dekat dan saling berhubungan tanpa aku tau? Opsi yang negatif masuk begitu saja tanpa menunggu Munah menjelaskannya padaku.


"Diamlah, aku tidak ingin Adam tau. Lagian aku tidak berpikir bagaimana mungkin aku bisa menjadi kakak iparmu dan Adam."


"Lalu, kenapa bisa dia melamarmu? Apa selama ini kalian memang dekat, dan?"


Munah langsung menggeleng.

__ADS_1


"Kau berpikir apa? Dia hanya bercanda. Hanya saja waktu Windu mengatakannya wajahnya nampak serius membuat jantungku hampir keluar dari tempatnya." Adam masih belum kembali, tidak masalah jika aku membahas tentang kakaknya saat ini kan, kalau dia tau aku yakin Adam pasti cemburu seperti waktu yang lalu.


"Ketika kau memberi kabar bahwa tidak bisa menjemput, kebetulan ada Windu lewat dan menawariku tumpangan. Hanya mengalir obrolan biasa saja, dan tiba-tiba malah mengarah kesana."


"Tapi kau benar menolaknya kan?"


"Kenapa kau tampak takut? Apa kau cemburu jika aku bersama dengan kakak iparmu?" Aku langsung menggeleng.


"Bukan, bukan itu masalahnya. Kau dan Wahid kan belum resmi putus, dan kau juga belum mendengar penjelasan darinya. Lagian tidak mungkin perasaanmu berubah secepat itukan?" Munah terdiam.


"Sudahlah, kau harus menunggu waktu."


"Nara?" Aku menoleh saat namaku disebut.


"Noah?" Dia tersenyum lalu menarik kursi untuk ikut duduk bergabung bersama aku dan Munah.


"Apa kau sudah mengerjakan tugas kemarin?"


"Belum, memangnya kenapa?"


"Dosen masuk setengah jam lagi, masih sempat kalau kita pergi ke perpustakaan." Aku dan Munah saling pandang.


"Bisa tidak kau saja yang pergi? Aku masih ingin duduk disini." Hei, apa-apaan Munah, dia mau benar-benar mau memanfaatkan waktu ini dengan alasan masalah hati yang sedang tidak baik-baik saja.


"Ayo?" Noah sudah berdiri dan tersenyum dengan senangnya.


"Baiklah, ayo." Aku pergi keluar ruangan dan menuju perpustakaan.


Sampai di perpustakaan, Noah membawaku ke lorong yang katanya dimana sudah ada buku yang dia temui.


"Yang mana?" Aku mencarinya, Noah juga sama. Yang membuatku heran bukankah dia bilang tadi kalau sudah menemukannya.


"Kau berbohong ya?" Noah menggeleng dan masih fokus mencari.


"Tidak, aku ingat aku menemukan buku itu disini." Heh, aku menghela nafas dan berhenti mencari. Kubiarkan saja Noah sendiri yang mencarinya dengan memilah diantara satu buku dan lainnya. Yang membuatku curiga sekarang, apa Noah berbohong dan hanya memanfaatkan waktunya bersamaku. Bukankah dia juga pernah bilang kepada Munah kalau dia menyukaiku.


"Cari ini?" Aku dan Noah serentak menoleh ke asal suara yang sangat familiar ditelinga ku.

__ADS_1


"Adam?" Adam berjalan semakin mendekat, dia tersenyum kecut dan menarik tanganku.


"Adam, kenapa kau disini." Adam diam tidak menjawabku.


"Eh tunggu." Ternyata Noah jika tidak mau kalah, dia menarik tanganku agar aku dan Adam berhenti melangkah. "Kita cari saja bukunya sendiri Nara, bukankah kita akan mengerjakannya bersama?" Aku menoleh kearah Adam, dan kini genggaman tangannya sudah terlepas, beralih melipat kedua tangannya di dada.


"Kinara akan mengerjakannya bersamaku, dan hanya padaku. Nanti setelah kami sudah sampai dirumah dan bisa mengerjakan tugasnya didalam kamar." Noah langsung membulatkan matanya, begitu juga denganku.


"Dan hanya kami berdua saja." Dia lanjut berbisik di telinga Noah. Kenapa kedengarannya menyeramkan ya? Aku saja sampai merinding.


Noah terdiam ditempatnya, berdiri mematung saat aku menoleh kebelakang ketika sudah berada didepan pintu untuk melangkah keluar. Entah mau sampai kapan dia disana, semoga tidak terlambat dan keduluan dosen yang masuk.


"Kenapa kau meminta bantuan orang lain?"


"Hah?"


"Kenapa kau meminta bantuan orang lain untuk mengerjakan tugas itu? Sementara aku bisa membantu dan bahkan menjawab soalnya." Deg.


"Dia menawarkannya tadi, lagian aku juga butuh buku itu." Adam berhenti melangkah. Menoleh ke arahku.


"Untuk apa mencarinya lagi? Bukankah aku juga memiliki buku itu?"


"Kau tidak mengatakannya, mana aku tau. Dan kau mendapatkannya darimana? Apa dari perpustakaan, sehingga saat kami mencarinya tidak ada?" Adam menatapku dengan tajam.


"Apa dia orang yang menyukai mu?" Hah? Sebenarnya Adam bicara apa sih! Kenapa malah membalas dengan pernyataan bukannya jawaban.


"Aku tau sekarang, kalau begitu jangan pernah lagi bicara padanya. Jangan pernah menjawab ketika dia mengajakmu berbicara ataupun bertanya."


"Adam!"


"Menurutlah sebagai istri." Hei, ingin protes tapi bagaimana, suasana sekarang sudah hening. Pelajaran dimulai.


Semakin hari, aku mengerti, aku bisa memahami bagaimana menjadi seorang istri meskipun aku dan Adam masih sama-sama kuliah. Tidak ku sangka kalau belajar mencintai orang lain itu sangat indah.


Bersambung..


Maaf ya belum bisa up sesuai jadwal, karena kondisi tubuh sedang tidak sehat 🙏🙏 Kalian semua sehat-sehat ya, selamat menunaikan ibadah puasa 🤗

__ADS_1


__ADS_2