Langit Mendung

Langit Mendung
Juanda


__ADS_3

Seminggu berlalu, Adam tidak lagi pernah mengirimkan pesan untukku. Tidak lagi pernah menelponku, dan tidak lagi meminta ku untuk berjumpa. Kemana dia? Selama itupun aku mengurung diri di apartemen. Aku mengingkari janji untuk membelikan game untuk adik-adikku. Ini pertama kalinya aku membuat mereka kecewa. Aku sedang dalam proses pemulihan, dan kini bayi dalam kandunganku kembali aktif seperti biasanya. Hanya saja, aku kehilangan sosok ayahnya. Yang biasanya menelponku setiap malam. Aku sudah berusaha untuk menghubungi Adam. Tapi berbeda jauh dari biasanya. Dia tidak menjawab teleponku.


"Nara, ada yang datang?" Siapa? Aku langsung bangkit dari rebahan ketika mendengar bi Gina teriak dari luar kamarku. Aku sangat berharap jika itu Adam yang datang.


"Munah? Elena." Aku mengucapkan lirih. Aku kembali masuk ke kamar untuk merubah penampilan ku, sebelum mereka menyadari kalau keadaan sudah sangat jauh berbeda.


"Huh.." Aku menarik nafas dan membuangnya secara perlahan, sudah lama tidak memakai korset aku merasakan sesak yang teramat.


Elena? Untuk apa dia datang kesini? Aku yakin, bi Gina tidak sempat membuat alasan karena yang datang adalah Munah. Ah, aku juga sangat merindukannya. Jika dia ijin datang pasti aku tidak pernah memperbolehkannya.


"Aku sangat rindu padamu?" Munah langsung memelukku, bergelayut manja denganku. "Kau tidak melakukan apapun dirumah, lihatlah tubuhmu sekarang." Dia menilik dari atas sampai bawah. "Apa kau hanya tidur saja?" Aku mengangguk.


"Ada apa, kenapa ada dia disini?" Aku berbisik pelan, Munah menoleh ke arah Elena.


"Duduklah dulu."


"Wahid, dia tidak ikut? Adam?"


"Wahid sengaja tidak ingin ikut, kalau Adam dia sudah tiga hari tidak masuk sekolah."


"Tiga hari? Kenapa dia sakit?" Eh aku tidak bisa mengontrol rasa khawatir dihadapan mereka. Aku melihat wajah Elena yang langsung kusut, mendengar aku mencari Adam. Gila! Apa dia cemburu? Bukankah dia juga sudah putus.


"Elena, bicaralah. Waktumu tidak banyak." Elena mengangguk, dan tersenyum ke arahku. Aku hanya membalas sekenanya.


"Maaf kak, maafkan aku. Karena aku, kakak diskors dari sekolah." Aku diam belum menjawab. "Aku yang melakukannya. Maafkan aku kak."


"Kau?" Elena mengangguk, wajahnya sudah banjir dengan air mata penyesalan. "Kenapa kau melakukannya?" Munah mengusap punggungku, membantuku menahan seluruh emosi yang hampir meluap. Penjelasannya terhenti, ketika bi Gina datang membawakan minuman dingin dan cemilan untuk mereka. Jika saja aku jahat, aku tidak mengijinkan Elena meminumnya.


"Aku, aku cemburu kak. Melihat kedekatan kakak dengan Adam." Deg. Sudah kuduga inilah akibatnya.


"Tapi kau sendiri tau, sebelum Adam mengenalmu aku sudah lebih dulu mengenalnya, termasuk kedekatan ku dengan Adam."


"Maafkan aku kak, aku sungguh menyesal. Aku mohon jangan tuntut aku." Heh, ya Tuhan, padahal aku sudah memastikan bahwa Elena adalah anak yang baik. Meski Adam sudah memberitahu padaku kalau memang Elena yang melakukannya, tapi kenapa saat mendengarnya langsung aku masih tidak terima. Meskipun photo itu memang nyata, hanya saja gosip yang menyebar membuatku harus menanggung malu sendirian!


"Kak Adam yang meminta ku untuk datang langsung meminta maaf kak. Aku baru berani datang sekarang, itu juga karena kak Munah bersedia membawaku datang kesini."


"Hanya karena Adam?" Elena menggeleng, sesekali dia menghapus air matanya.


"Bukan kak. Ini memang karena murni niatku." Ah aku tidak percaya, pasti dia hanya mencari simpati kepada Adam.


"Kak, apakah kakak mau memaafkanku?" Aku diam, Munah menatapku dan mengangguk. Munah, tidak segampang itu.


"Kinara, lebih baik memaafkan."


"Baiklah, aku memaafkanmu." Elena langsung mendongakkan wajahnya, menatapku dan berhenti menangis. Eh, apa itu hanya air mata buaya saja?


"Terima kasih kak." Dia datang padaku, memelukku dengan erat. Aku makin terasa sesak. Perlahan kulepas pelukan itu dan meminta Elena untuk kembali duduk ditempatnya.


"Kak, sekarang aku yakin jika kak Adam tidak salah pilih. Kakak orang baik."


"Maksudnya!" Aku bertanya.


"Kak Adam mengatakan kalau dia sangat menyayangi kakak." Deg. Aku menoleh ke arah Munah. Pasti dia juga sangat kaget mendengar hal ini kan?


"Elena, kau pulanglah. Semuanya sudah sesuai dengan harapan mu. Kinara sudah memaafkanmu." Munah mengusir dengan secara halus.


"Sebentar kak, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan."


"Katakanlah." Aku menunggunya. Elena menarik nafas dalam-dalam.


"Jika kakak memang dekat dengan kak Adam, apakah kakak tau jika dia memiliki penyakit?" Aku jelas langsung menggeleng. "Dia mengatakannya padaku." Sialan, jadi dia hanya ingin pamer kalau Adam lebih memilih mengatakannya padanya.


"Memangnya Adam memiliki penyakit apa?" Munah yang bertanya, dan aku memilih untuk diam.


"Aku tidak tau, yang jelas saat ini dia sedang menderita." Deg. Adam? Apa dia menghilang tanpa kabar karena sedang sakit?


"Kak, terima kasih sudah memaafkan aku. Kak Munah, terima kasih sudah mau menemaniku datang kesini." Munah mengangguk, begitu juga denganku. "Aku permisi kak."


Setelah kepergian Elena, aku sudah siap dihujam dengan seribu pertanyaan dari Munah. Mengenai perasaan Adam.


"Apa dia pernah mengatakannya padamu?" Aku mengangguk. "Kau menolaknya dan mengatakan hanya candaan?"


"Kau sudah tau jawabannya, kenapa malah bertanya lagi padaku?"


"Kinara, sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku? Aku temanmu, aku yang selalu mengerti bagaimana kau menjalani hidup selama ini. Tapi kenapa akhir-akhir ini kau selalu menutupinya dariku?" Haruskah aku berkata jujur padanya?


"Maafkan aku Munah."


"Kau benar-benar tidak mau memberitahu?" Aku diam. Tanganku sudah meremas pinggiran sofa. Keringat dingin yang tiba-tiba saja mengucur deras di dahi.


"Apa kau masih mau berteman denganku, ketika kau tau rahasia yang aku tutupi?"


"Kau hamil?" Dan sialnya Munah langsung to the point. Sudah kuduga sampai saat ini Munah masih curiga soal itu.


"Katakan Nara?" Nadanya sudah bergetar menahan tangis. Dia mengusap lembut perutku. "Katakan, apa benar didalam ada janin yang hidup?" Tidak, mulutku kaku. Aku sudah lelah berbohong.


"Munah?" Ucapku lirih, dan kini kami sama-sama menjatuhkan air mata. Aku yang melemas, Munah terus mendesak ku untuk buka mulut.


"Nara, Munah, ada apa? Kenapa?" Bi Gina datang, aku yakin dia pasti mendengar keributan kecil ini. Aku merindukan tertawa bersama mereka, sekarang aku sudah jauh dengan semua itu. Hanya karena anak yang aku kandung dan harga diri yang aku punya, meski sebenarnya aku sudah kehilangan itu semua Dimata orang-orang.


Seorang anak pengusaha kaya raya, yang namanya dikenal masyarakat dengan baik. Kalangan bisnis, dan rekan kerja. Tidak tau bagaimana ayah nantinya harus menanggung malu karena memiliki anak seperti ku, hamil diluar nikah saat usia muda. Dan masih duduk di bangku sekolah.


"Munah? Apa kau menanyakan?"


"Iya bi. Aku berhak tau." Munah langsung memotong ucapan bi Gina.


Bi Gina diam, dia sudah memasrahkan semuanya padaku. Dan kata-katanya selalu kuingat, jika cuma aku yang berhak memberitahu siapa pun yang ingin aku beritahu.


"Apapun itu, aku tetap temanmu. Bagaimana pun, aku tidak akan menjauh. Aku bersumpah demi kedua orang tuaku." Aku memeluknya, menangis dalam dekapan Munah. Tubuhku sudah benar-benar melemas. Gelap, sudah gelap semuanya. Aku hanya mampu bernafas tapi tidak membuka mata.


***

__ADS_1


"Bi?" Aku membuka mata, mencari orang yang terakhir kali aku lihat sebelum aku jatuh pingsan dan sudah terbaring lemah ditempat tidurku.


Berharap ketika terbangun semua yang aku alami beberapa jam lalu hanya mimpi, Elena yang datang meminta maaf juga hanya mimpi. Meskipun aku sudah benar-benar memaafkannya.


"Kinara, kau sudah sadar?" Suara itu, oh tidak. Aku merasakan tidak ada lagi korset yang memeluk erat bagian perutku. Tidak, Munah sudah benar-benar tau semuanya sekarang?


"Nara?" Tepukan lembut dipipi ini. Satu gelas air hangat disodorkan tepat di hadapanku.


"Minumlah dulu." Bi Gina membantuku untuk duduk. Aku meneguk air hangat sedikit. Menoleh, Munah duduk disampingku, di atas tempat tidur. Matanya sembab seperti habis Menangis beberapa jam lamanya.


"Bibi, pulanglah ini sudah malam. Aku akan menginap disini, menemani Kinara. Aku juga sudah menghubungi orang tuaku."


"Baiklah, bibi titip Kinara padamu ya?" Air mataku jatuh lagi. Munah menghapusnya lalu merangkul ku dengan tangannya.


"Tunggulah, aku akan mengunci pintu dulu." Untuk mengangguk saja susah rasanya.


Cara padangan Munah terhadapku membuat luluh lantah hatiku, rasa bersalah ini. Ah ini baru Munah lalu bagaimana kalau semua orang tau? Tidak, itu tidak boleh terjadi.


"Munah, aku mohon padamu. Tolong rahasiakan soal ini dari siapapun. Aku hanya bisa berharap soal itu padamu kumohon."


"Tenanglah, jangan menekan pikiranmu sendiri. Akan berakibat fatal untuk bayi dalam kandungamu." Aku menunduk.


"Aku hanya ingin tau siapa ayah dari bayi itu?" Deg. Aku juga mendongak lagi, memandang Munah. Bagaimana cara mengatakannya?


"Kinara, aku temanmu. Aku sudah mengetahuinya. Kau hanya tinggal bilang siapa ayah dari bayi itu? Apa kau diperko**?" Aku menggeleng, eh tidak mengangguk. Ah aku bingung!


"Maksudnya?" Nah kan Munah bingung.


"Munah, kurasa kau tau siapa ayah dari anakku. Dia teman kita juga."


"Adam?" Dia yang berbicara, tapi dia sendiri yang tersentak kaget. Syok, berdiri mengipas wajahnya dengan tangan, berjalan mondar-mandir dengan satu tangan diletakkan dekat pinggang. "Nara, bagaimana mungkin?"


"Kalian yang memintanya mengantarkan aku malam itukan? Posisinya aku sedang mabuk hingga tidak sadar, dan Adam juga dalam pengaruh alkohol."


"Nara, bagaimana mungkin kau menutupi hal ini darinya?"


"Munah, kumohon." Aku mengatupkan kedua tanganku. Aku menjelaskan bahwa ketika anak ini lahir akan dirawat oleh bi Gina. Dan aku akan tetap melanjutkan kuliah ku. Munah sedikit lega ketika mendengarnya, dan beberapa alasan yang aku jabarkan.


"Aku bisa meminta sesuatu padamu?" Munah mengangguk. "Temani aku untuk datang kerumah Adam besok. Aku khawatir dengan keadaannya. Tentang perkataan Elena tadi?"


"Ah ya Tuhan, aku bahkan lupa soal itu."


"Kau yang bilang kan, jika Adam sebenarnya adalah teman kecilmu? Bahkan dialah orang yang selalu memberimu coklat setiap hari dilaci meja sekolah?" Iya aku mengangguk lagi, karena itu memang benar. "Apa itu artinya, Adam memang benar-benar suka denganmu?"


"Aku tidak tau." Heh, kudengar Munah membuang nafas kasar.


"Bisakah kau ambilkan aku pena dan kertas?" Munah berjalan mendekat ke meja belajar. Mengambil apa yang aku minta.


"Kau ingin membuat puisi?" Aku tersenyum dan mengangguk. "Lakukanlah, aku akan keluar duduk di sofa."


"Eh tidak, aku ikut denganmu." Munah mengulurkan tangannya, membantuku untuk berdiri.


"Untuk anakku"


Detak jantung yang terdengar secara bersamaan


Begitu juga dengan nafas..


Berhembus dalam jiwa yang sama..


Aku merasakan setiap harinya pergerakan dari dasar perutku..


Dimana kau hidup saat ini..


Kau tampak mungil ketika lahir..


Berharap dapat mendengar suara tangis..


Berharap akan merasakan dipanggil ibu..


Saat nafas kita akan berpisah disitulah semuanya dimulai..


Bergeraklah jika kau bahagia saat di kandunganku..


Jangan diam ketika aku menangis..


Bantulah aku untuk berjuang ketika kau ingin melihat dunia nanti..


Hiduplah dengan baik denganku..


Anakku..


Jangan meminta kasih karena aku akan tetap memberinya..


Janganlah kau menangis karena aku tidak akan membuatnya..


Peluklah aku sebagai ganti kesengsaraan yang aku punya..


Kinara.


"Hah.." Aku merentangkan kedua tanganku, setelah beberapa menit berpikir dan terus menulis. Puisi ini akan aku simpan dengan rapinya. Dan berharap beberapa tahun ke depan, ketika anakku sudah dewasa akan membacanya. Agar dia tau, meskipun diawal aku sempat menolak kehadirannya, tapi aku begitu menyayanginya.


"Sudah?" Aku mengangguk. Munah menyambar kertas itu, dia membacanya.


"Ahhhhhhhhh bagus." Munah langsung mengubah posisinya menjadi duduk tegak. "Nara, bolehkah aku menyentuh perutmu? Aku juga ingin berkenalan dengannya." Aku mengangguk lagi.


"Sayang, ini aunty. Hai, kau sehatkah didalam sana? Kau pasti bahagia memiliki ibu sepertinya nanti, dia baik. Kau juga pasti baik kan?" Aku tertawa kecil. "Kinara, dia menendang. Wah dia suka denganku sepertinya?"


"Iya, itu tandanya bukan suka tapi dia tidak suka disentuh makannya dia menendang."


"Ah sialan kau!" Munah terus saja mengajak anak dalam kandunganku bicara. Hingga satu perkataannya membuatku diam tidak bisa menjawab.

__ADS_1


"Bagaimana kalau suatu saat ketika dia sudah besar menanyakan keberadaan ayahnya?"


"Eh maaf, aku tidak akan membahasnya lagi." Munah memelukku, yang aku pikir Munah tidak akan mau berteman lagi denganku ketika tau bahwa aku sedang hamil. Yang aku pikir, Munah akan langsung memaki dan membenciku. Ternyata aku salah, aku salah? Kenapa tidak dari awal saja aku menceritakan ini padanya, dengan begitu aku tidak akan terlalu tertekan. Dan bakal dapat sedikit pengertian, yang tidak aku dapatkan ketika melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawa anakku.


"Nara, apa kau sudah membeli perlengkapan bayi?"


"Aku akan membelinya di toko online saja."


"Ah tidak seru. Bagaimana kalau besok? Kau kan memintaku untuk menemanimu pergi kerumah Adam, sepulang dari rumah Adam kita pergi ke toko baby shop. Gimana?" Aku masih berpikir, bagaimana jika ada yang tau dan melihat?


"Ayolah Nara, pasti asik. Kau sudah mengetahui jenis kelamin anakmu kan?"


"Sudah, dia laki-laki."


"Ya sudah, pokoknya besok ya? Sekarang kita tidur." Munah menarik lagi tanganku, kenapa dia yang sepertinya sangat bahagia ketika tau aku hamil? Ah dasar aneh.


"Aku bakal memiliki keponakan lucu." Masih sempatnya membahas lagi hal ini ketika sudah berbaring ditempat tidur. "Kau sudah menyiapkan nama untuknya?" Aku menoleh ke arahnya.


"Belum. Menurutmu apa yang cocok?" Ku biarkan Munah berpikir, aku memejamkan mata dan membiarkannya berpikir sendirian.


"Nara! Bagaimana kalau namanya Juanda?" Dia terus menggangguku!


"Nara?" Teriakannya benar-benar memekik telingaku.


"Apa?"


"Beri nama anakmu Juanda. Kau bisa memanggilnya Jua." Namanya terdengar bagus. Jua, seperti singkatan dari perjuangan. Ah kenapa memiliki ide yang bagus seperti ini ya?


"Bagaimana?"


"Baiklah, aku akan memberinya nama itu nanti." Yes, eh Munah teriak lagi dengan rasa girangnya.


"Apa kau sudah mengantuk?"


"Memangnya kenapa? Apa kau tidak bisa tidur? Bukankah kau sendiri tadi yang mengajak untuk segera tidur, dengan alasan sudah malam."


"Iya, tidak bukan begitu. Ada hal yang ingin aku sampaikan." Aku tertarik, baiklah aku menunggunya berbicara lagi.


"Cepat katakan, aku ingin mendengarnya."


Munah sengaja membuatku penasaran Sepertinya, mengulur waktu agar aku yang memohon dan meminta dia mengatakannya.


"Ah kau penasaran ya?" Nah kan benar! Sialan aku dikerjai.


"Ya sudah, kalau begitu aku tidur saja."


"Eh tidak, jangan." Munah yang semula sudah berbaring, dia kembali duduk dan bersandar ditempat tidur. Membenarkan selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Rasanya tidak enak juga posisiku yang berbaring seperti ini. Alhasil aku juga mengikutinya sekarang.


"Sebenarnya, Wahid juga pernah menyatakan perasaannya terhadapku." Apa? Aku langsung membulatkan mataku. "Kau jangan memotong ucapan ku dulu, kau hanya boleh bertanya nanti ketika aku sudah berhenti bicara." Baiklah, aku mengalah demi ingin mendengar cinta lokasi haha, tidak teman tapi mesra sepertinya.


"Awalnya aku berpikir bahwa Wahid sedang bercanda seperti biasanya. Dan dia juga selalu mengatakan hal itu kan? Kau tau soal itu." Aku mengangguk. "Dan dia juga pernah mengatakan tentang lamaran nanti yang akan dia lakukan untukku ketika dia sudah menyelesaikan kuliahnya diluar negeri. Secara logika saja aku tidak percaya, jika Wahid itu bisa menahan hasratnya untuk tidak mengenal wanita lain. Kau juga tau bagaimana sifatnya jika bertemu dengan wanita cantik dimatanya." Heh, aku menghela nafas, benar Wahid memang seperti itu.


"Dan entah apa yang mendorongnya, mengatakan hal yang sama dihadapan kedua orang tuaku. Aku saja sempat syok, ingin bercerita denganmu. Tapi kau tidak memiliki waktu, karena kau terus saja menjauh."


"Lalu bagaimana tanggapan orang tuamu?"


"Mereka malah setuju, aku sendiri juga heran. Kenapa bisa Wahid mengatakan hal yang sifatnya tidak sepele dengan gampangnya, tanpa rasa takut sekalipun."


"Lalu bagaimana denganmu?" Munah terdiam. Lalu menyodorkan ponselnya padaku, memintaku untuk membaca beberapa pesan yang Wahid kirimkan.


"Kau tidak perlu khawatir, kau bebas bisa dekat dengan siapapun. Bahkan kau boleh menjalin hubungan dengan orang lain sekalipun. Tapi kau harus tau, kalau setelah itu aku akan tetap datang melamarmu."


"Jangan terbebani dengan semua itu, hei kau tetap temanku. Bersikaplah santai seperti biasanya, jangan menjauh. Kau bukan pengecut kan?"


Aku mengembalikan lagi ponselnya ketika sudah selesai membaca. Ada perasaan yang mengganjal saat ini, setiap kali melihat mereka betengkar aku dan Adam memang selalu mengatakan kalau mereka akan berjodoh. Ah apa secepat itu Tuhan mendengar doaku? Dan yang aku tau, Wahid memang menyayangi Munah, tapi hanya sekedar teman. Tidak tau jika dia memiliki perasaan lebih.


"Dia juga menunjukkan beberapa pesan dari teman perempuannya padaku." Munah menghela nafas lagi. "Dia hanya bercanda soal mendekati kakakku. Dan dia memang ingin membelikan aku tas mahal." Gila! Wahid mengunakan cara itu? Sungguh luar biasa.


"Dan dengan tidak malunya kau jelas-jelas memaksa saat memintanya." Munah dan aku langsung tertawa keras secara bersamaan. Ah aku ingat pada saat itu jika Wahid sempat mengeluh.


"Dan dia juga pernah-"


"Apa? Jangan bilang dia pernah mencium mu?" Munah mengangguk lemah. Aku menepuk keningku. Ya ampun, kenapa lelaki suka berbuat seenaknya saja sih!


"Karena kau sudah memberitahu aku tentang rahasia terbesarmu. Maka aku juga akan memberitahumu." Deg. Jangan bilang, dia juga pernah melakukan hal yang sama denganku dan Adam? Hanya saja Munah tidak sampai hamil. Kalau iya, tidak aku tidak ingin dengar itu. Aku menutup kedua telingaku, menggelengkan kepala membayangkan hal jorok yang merasuk kedalam otakku. Malah dicerna dengan baik pula.


"Hei, kau kenapa? Kau berpikir apa sekarang? Wahid hanya melakukan itu satu kali."


"Satu kali? Jadi kau juga sudah kehilangan ke sucianmu?" Munah langsung memukul lenganku.


"Bukan, dasar gila! Kau berpikir terlalu jauh, maksudnya hanya menciumku satu kali, itu juga saat mabuk! Dia meracau tidak jelas." Aku mengelus dada, hah syukurlah jika begitu. Dasar otak, kenapa kau berpikir kotor!


"Sekarang, yang aku tanyakan bagaimana perasaanmu dengan Wahid?"


"Ah aku tidak tau. Hanya saja, ketika Wahid dekat dengan perempuan lain, aku merasa takut. Takut kalau dia akan melupakanku, dan tidak lagi bisa terus bersama kita." Aku tertawa sekarang, meskipun aku tidak tau apa itu jatuh cinta. Tapi aku bisa menebak, kalau Munah itu sebenarnya bukan takut, tapi lebih ke cemburu.


Ah sangat tidak disangka, jika akhirnya Munah dan Wahid bersama. Lalu mereka menikah, ya Tuhan cinta semacam apa ini? Kenapa malah seperti judul novel dan lagu, sahabat jadi cinta?


"Kau kenapa tertawa terus? Kau menertawakan aku ya?" Aku menggeleng, tapi tetap saja tertawa. Bukan menertawakan Munah, tapi menertawakan takdir. Jika mereka sampai menikah, berarti kata-kata Wahid selama ini sungguh menjadi kenyataan.


"Lalu, bagaimana dengan nasibmu ketika tidak bertemu dengannya nanti? Bukankah setelah lulus Wahid juga akan berangkat keluar negeri?" Munah hanya menggeleng saja, lalu membenarkan posisi bantal dan kembali berbaring.


"Hei, aku sudah tidak bisa tidur karenamu!" Jelas aku protes, mendengar ceritanya barusan rasa kantuk yang mendera langsung lenyap begitu saja.


"Tidurlah sebelum berdoa, agar tidurmu nyenyak." Sialan! Dia benar-benar meninggalkan aku, Munah memejamkan matanya tidak peduli dengan protesku lagi.


Aku merentangkan tanganku lebar-lebar, rasanya enak jika melakukan ini sebelum tidur. Baiklah, aku mengikuti ajarannya, berdoa sebelum tidur. Meskipun aku selalu melakukannya, tapi terkadang juga lupa. Dan kebiasaan tidur nyenyak ketika habis Menangis.


Tuhan, tunjukanlah aku jalan terbaik dikehidupan ku. Aku memejamkan mata dan menyusul Munah yang sudah memasuki alam mimpi..


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2