
Makin lama aku merasakan ada yang aneh, kenapa ibuku dan ibunya belum juga buka mulut, setelah memintaku untuk duduk kembali.
"Ibu ingin bicara apa?" Adam yang lebih dulu bertanya. Aku masih kesal padanya sih, ah kenapa tadi aku mau ikut dia ke kamarnya.
"Tidak, hanya sekedar menawarkan Kinara. Dia mau atau tidak jika ikut kuliah bersama denganmu diluar negeri? Karena ibu akan ikut mengantarkan mu kesana." Deg. Kuliah diluar negeri? Bukankah harusnya Adam berangkat setelah ujian kelulusan ini selesai?
"Ibu sudah berunding dengan ibunya Nara. Dan dia setuju."
"Tapi Bu. Bukankah kita harus pergi hanya untuk pengobatanku? Dan juga kita berangkat setelah aku menyelesaikan ujianku." Adam sepertinya tidak ingin jika aku ikut! Ah aku juga tidak bisalah, bagaimana dengan anak dikandungan ku?
"Hehe tidak Adam. Kinara akan menyusul setelah pengobatan mu berhasil."
"Lalu kalau tidak berhasil?" Deg. Kedua ibu ini pun terdiam, begitu juga denganku. Adam menatap ibunya meminta jawaban.
"Adam, ibu yakin kau pasti sembuh nak." Adam menoleh kearah ku, dan sekarang giliran ku yang menjawab.
"Maaf nyonya, tuan muda sudah pulang. Dan sudah berada di kamarnya, tuan muda hanya mengatakan bahwa sedang tidak enak badan." Dan tiba-tiba saja pelayan datang.
"Kalau begitu, antarkan obat yang ada ke kamarnya. Dan katakan kalau saya masih kedatangan tamu." Pelayan mengangguk dan berlalu pergi.
"Bagiamana Nara?" Ah ya ampun, aku kira sudah tidak akan dibahas lagi.
"Maaf Bu. Tapi aku tidak bisa. Aku ingin kuliah disini saja, aku masih ingin dekat dengan ibuku." Ibu langsung merangkul ku, memelukku dengan satu tangannya. Aku menoleh dan tersenyum, ibu aku menyayangimu.
"Baikah, ibu sudah yakin kalau kau pasti tidak akan mau. Ibu hanya berharap jika Adam memiliki teman disana."
Hatiku mencelos, bersama perasaan aneh yang seperti iba. Akankah aku bertemu Adam setelah ini? Akankah Adam bisa kembali lagi ketanah air dengan selamat dan kondisi yang utuh? Tidak merubah penampilannya sedikitpun. Karena bagaimanapun dia ayah dari anakku. Setidaknya, walaupun kami tidak menikah, aku hanya ingin nantinya anakku tau jika ayahnya ada.
"Bu, sudah ada ibu kan yang pergi bersamaku nantinya? Jangan terlalu merepotkan Kinara Bu."
"Bukan begitu nak, tapi ibu tau jika teman dekatmu hanya Kinara. Bukankah kau juga menyukainya?" Eh ini sebenarnya pembicaraan kemana arahnya sih? Tadi bahas soal kuliah, kenapa sekarang malah bahas perasaan. Aku sendiri menjadi salah tingkah ketika ibuku tersenyum penuh arti. Gila! Mereka benar-benar berniat menjodohkan dalam waktu beberapa menit berbicara tadi.
"Ibu." Adam mulai merasa malu, terbukti dia langsung menunduk. Jika aku sebagian semangatnya untuk tetap hidup, aku yakin Adam pasti tetap akan bertahan dan yakin untuk sembuh. Tidak peduli walaupun beberapa tahun kedepannya kami akan hidup berbeda negara.
"Ya sudah, sebaiknya kita makan sekarang ya?"
Dan semua pertanyaan tanpa jawaban ini harus berkahir dimeja makan. Hidangan yang tersedia membuatku menelan salivah. Bukankah tadinya aku sudah kenyang? Kenapa malah lapar lagi sekarang? Dasar aku saja yang rakus.
"Nara, bukankah kau sudah makan sayang? Kenapa kau mengambilnya terlalu banyak?" Heh, ibu!! Dia berbicara pelan sekalipun ibunya Adam dan juga Adam pasti tetap mendengar. Tidak, dan saat aku melihat kearah pelayan yang berdiri tidak jauh dari sisi meja makan, mereka malah tersenyum, bahunya bergetar. Aku tau pasti mereka menertawakan ku sekarang.
"Namira, tidak apa-apa. Justru aku malah senang, jika makanan ini bisa habis." Ah aku malu sekali rasanya.
Aku langsung menunduk karena malu, tapi tetap saja kusantap makanan yang sudah ada piringku. Dari pada menelan salivah karena ingin memakan sesuatu, lebih baik makan saja.
"Uhuk.." Aku tersedak, karena kaget anak dalam kandunganku menendang begitu kencang. Apa dia sudah tidak tahan lagi karena tertahan korset yang begitu kencang.
__ADS_1
"Minumlah nak." Aku menerima satu gelas air putih dari ibuku. "Pelan-pelan makannya, kami tidak akan memintanya darimu." Ibu! Kenapa dia malah menjadi hobi sekali membuatku malu. Punggungku dielus dengan ibu, setelah merasa tenggorokan jauh lebih baik aku kembali melanjutkan makanku.
***
"Kau tidak ingin menginap dirumah ibu?" Aku masih duduk didalam mobil ketika sudah sampai dihalaman apartemen, bahkan stell belt juga belum kubuka. Aku harus memikirkan cara bagaimana menolak tawaran ibu. Bukan hanya itu, selama beberapa bulan kedepannya, aku juga harus memikirkan cara agar bisa untuk tidak bertemu ibu lebih dulu. Meskipun hubunganku dengannya sudah membaik, tapi bagaimana dengan kandunganku? Bukankah aku juga harus melahirkan nantinya?
"Nara, kenapa kau melamun? Baiklah, ibu tidak akan memaksamu. Tapi ingat, ketika kau sudah menyelesaikan ujian kelulusan, kau harus lebih sering menginap dirumah ibu." Deg. Benarkan dugaan ku? Aku harus menyusun rencana mulai sekarang.
"Tapi Bu."
"Apa kau tidak kasian melihat ibu sendirian? Dirumah sebesar itu?"
Aku kembali mengatur nafas.
"Bagiamana dengan om Asraf?" Wajah ibu langsung sendu. Aku tau, ibu menggenggam erat stir kemudi hingga jari-jarinya memerah.
"Maaf Bu. Aku hanya-"
"Tidak Nara, kau berhak bertanya atas hal ini." Ibu menarik nafas dan membuangnya secara kasar. Kenapa? Jangan bilang ibu akan bercerai untuk yang kedua kalinya? Apa karena aku? Tidak! Meskipun aku belum bisa memanggilnya dengan sebutan ayah, tapi mau bagaimana pun ibu dan om Asraf sudah menikah secara sah.
"Ibu ingin fokus mengurusmu."
"Bu, aku sudah dewasa. Maaf jika aku egois. Tapi aku sadar sekarang Bu, kalau seharusnya ibu memang memiliki pendamping hidup selain ayahku." Ibu terdiam.
"Ibu hati-hati dijalan ya." Aku turun dan melambaikan tangan saat mobil ibu mulai melaju.
"Kau dari mana?"
"Munah!!" Ya ampun, sejak kapan dia disini??
"Kau sedang apa disini?" Aku berjalan dan tidak menjawab pertanyaannya lagi.
"Jika ingin berbicara sebaiknya tunggu sampai di apartemen." Munah mengangguk dan mengikuti langkahku.
"Kau habis berbelanja?" Melihatku yang menenteng dua paper bag dari mall ternama di kota ini Munah langsung bertanya. Aku menoleh sambil tersenyum.
"Dengan ibumu?" Aku mengangguk.
Sampai didalam apartemen, Munah langsung menuju dapur dan mengambil air dingin. Aku yang memang sudah merasa tidak tahan lagi langsung saja membuka korset dan mengganti pakaian longgar. Bernafas lega, menatap langit kamar saat merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Beberapa menit saja, tapi suara yang memekik sudah terdengar di telingaku. Aku yakin juga Munah sudah menungguku disofa ruangan. Lagian kenapa dia tidak masuk saja kedalam sih, gerutuku pelan.
"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Dengan rasa malas aku menurutinya. Katakanlah, begitu aku menjawab dan Munah sudah tersenyum sambil menarik nafas.
"Elena pindah sekolah." Hah?
"Kau tidak bercanda kan?"
__ADS_1
"Kau lihat, apa wajahku sedang ingin tertawa?" Aku menggeleng. "Tepat saat selesai ujian kenaikan kelas, dia akan pergi dari sekolah kita."
"Hei, hanya itu saja yang ingin kau bicarakan? Lagian, dari mana kau mendapat kabar ini?"
"Dari Wahid." Munah menyodorkan ponselnya padaku. Memintaku untuk langsung melihat beberapa photo chatting Wahid dengan Elena. Dia yang sedang mencurahkan isi hatinya, semua temannya tau jika Elena lah yang sudah mengunggah beberapa photoku yang memalukan. Merasa dikucilkan dan dijauhi temannya maka Elena memutuskan untuk pindah sekolah.
"Sama saja, bukankah ketika kita selesai ujian juga tidak akan pernah lagi berjumpa dengannya, kau lupa kita juga akan pergi meninggalkan sekolah itu?" Jawabku dan mengembalikan ponsel milik Munah. Bagiku ini tidak terlalu penting, masalah Elena aku sudah tidak ingin memikirkannya. Dan soal dia dijauhi teman-temannya, bukankah itu sudah menjadi resiko untuknya. Aku diam dan memejamkan mata, sambil memijat kepala dengan jariku. Kenapa sekarang malah terasa pusing?
"Nara, ada lagi satu hal yang sampai saat ini membuatku penasaran?" Aku tidak menjawab dan hanya sekilas melirik kearahnya. "Apa kau tidak ingin tau, bagaimana sosok kakaknya Adam?" Iya benar apa yang dikatakan Munah.
"Sebenarnya kau ingin membahas soal apa? Tadi Elena, sekarang kau bicara mengenai kakaknya Adam." Jelas aku langsung protes.
"Kau tidak tertarik jika berbicara tentang Elena. Lebih baik berganti topik." Aku mendengus, suka sekali Munah mencari tentang informasi orang lain sepertinya. "Ah Adam saja tampan, bagaimana dengan kakaknya ya? Kenapa Adam tidak pernah mau mengunggah photo bersama keluarganya."
"Diam lah, kepalaku sangat pusing."
"Hah? Kau sakit? Ayolah Nara, kau harus kuat! Besok ujian akan segera dilaksanakan." Munah langsung mendekat ke arahku, memintaku untuk masuk kedalam kamar.
"Kau ingin aku buatkan teh hangat?" Aku menggeleng.
"Sudahlah, tunggu sebentar aku akan tetap membuatnya untukmu."
Ting. Baru saja Munah pergi keluar kamar notif pesan masuk di ponselku berbunyi.
Ting. Oh my God, tidak hanya satu.
Adam.
"Aku mencintaimu." Deg. Semula aku sudah berbaring, namun langsung mengubah posisiku menjadi duduk dan bersandar.
Satria.
"Aku akan datang malam ini keapartemen, aku ingin memberi semangat untukmu. Agar kau bisa lancar melaksanakan ujian besok."
Ya Tuhan, aku menggigit jariku. Kenapa aku sepertinya sangat spesial Dimata mereka. Beberapa kali mengetik pesan, lalu menghapusnya lagi. Dan akhirnya aku mengabaikan pesan dari Adam, membalas pesan dari Satria dan menerima kedatangannya nanti malam.
"Kenapa kau tersenyum?" Hah? Sejak kapan Munah masuk? Kenapa aku tidak mendengar langkah kakinya?
"Kau sedang apa? Berbalas pesan dengan Adam?"
"Tidak." Munah menyodorkan teh hangat dihadapkan ku.
"Lalu, apa laki-laki itu?" Aku hanya meneguk sedikit teh hangat dan meletakkannya di atas meja.
"Kau sudah sering bertemu dengannya ya?" Oh tidak, ternyata Munah melihat layar ponselku yang masih menampilkan pesanku dengan Satria.
__ADS_1
Aku terdiam dan menyambar ponselku. Meminta Munah untuk segera pulang dengan alasan aku ingin beristirahat.
Bersambung...