
Terkadang sesuatu yang di tutupi dan berharap tidak seorang pun tau, itu sebenarnya adalah hal yang mustahil. Tuhan selalu memiliki cara untuk membuka aib seseorang, entah itu tadi kecerobohannya sendiri. Aku yang salah, sehingga bi Gina bisa menemukan testpack dengan garis dua yang artinya positif di kantung seragam sekolahku. Aku masih diam, aku berusaha untuk mencari alasan.
"Coba lihat bi." Bi Gina berjalan mendekat ke arahku. Pandangannya masih penuh menyelidik. "ini punya temanku bi. Makannya tadi aku berkelahi di sekolah. Maaf bi aku tidak jujur. Sebenarnya tadi aku bertengkar dengan teman satu kelas, karena aku menemukan itu yang tidak sengaja terjatuh dari dalam tasnya." Terang ku lagi. Meski detak jantung sudah berdetak tidak karuan, bibir yang tampak gemetar sewaktu berbicara. Tapi berusaha mencoba untuk tetap tenang. Aku sendiri tidak ingin bi Gina curiga saat melihatku.
Bi Gina yang semula hanya berdiri, setelah mendengar penjelasan dariku, beliau berjalan mendekat dan akhirnya ikut duduk di sampingku. Bi Gina duduk di sampingku. Setelahnya tersenyum, syukurlah bi Gina percaya. Aku bisa menetralkan detak jantung dan deru nafasku.
"Nara, tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar." Aku belum mengerti maksud ucapan bi Gina. Lagi-lagi aku tertegun. "Kau tau, bibi saja yang awalnya sudah pasrah dengan keadaan. Tidak memiliki uang, pekerjaan. Dan sudah pasrah akan mati bersama dengan suami di dalam rumah dengan keadaan kelaparan. Tapi Tuhan masih mau menolong, mengulurkan tangannya yang tidak terlihat. Bibi di pertemukan dengan ayahmu. Yang tidak sengaja hampir tertabrak mobilnya waktu itu." Aku berusaha mencerna setiap kalimat yang bi Gina ucapkan.
Siang yang dengan panas yang terik, membakar kulit siapa saja yang akan berjemur di bawahnya. Siapapun yang berjalan tanpa menggunakan tudung di kepala pasti akan mengeluarkan cucuran keringat. Menapakkan kaki yang bergetar menahan lapar, mencari pendonor obat yang bersedia memberinya secara gratis. Semua memang mustahil, mengingat para orang-orang kaya yang lalu-lalang menggunakan mobil tidak akan ada berniat membantu. Dan berpikir hanya pembohong jika mendengar bi Gina berbicara. Memanfaatkan situasi, memanfaatkan umurnya. Ibarat seperti pengemis.
"Aduh." Kala itu bi Gina jatuh, bukan karena tak sanggup lagi menopang tubuh dengan kedua kaki yang gemetar menahan lapar. Tapi ada sebuah mobil yang tidak sengaja menyerempetnya. Bi Gina berusaha bangkit, lalu di bantu oleh sang pemilik mobil yang turun dengan memakai pakaian serba hitam.
"Maaf bibi, saya benar-benar tidak sengaja. Mari saya antar kerumah sakit jika ada yang terluka." Bi Gina menggeleng lemah. Dia berkata tidak ada yang sakit, hanya lapar dan butuh obat untuk orang yang sedang sakit.
"Suami saya yang sakit, bukan saya." Lalu laki-laki berbadan tegap itu menoleh ke arah mobil, dan meninggalkan bi Gina sebentar. Seperti berbicara dengan orang lain disana, kaca hitam yang menutupi pandangan bi Gina tidak bisa membuatnya menembus pandangannya hanya dengan mata.
"Tuan saya ingin mengantar anda kerumah sakit bibi. Tolong ini perintah." Bi Gina langsung menggunakan kedua tangannya untuk menolak. Dan tetap bersikeras tidak mau, hanya selalu menjawab kalau suaminya yang sakit.
"Saya memang butuh uang. Tapi saya lebih butuh pekerjaan. Apa saja, asalkan saya mampu." Belum menerima uang yang sudah di sodorkan. Lalu kembali lagi ke mobil, berbicara sebentar dan menyodorkan bi Gina kartu nama. Memintanya untuk datang ataupun memberi kabar.
"Ini kartu nama tuan saya. Jika bibi berminat bekerja menjadi asisten rumah tangga. Bibi bisa menghubungi nomor yang sudah tertera disana. Juga ada namanya." Bi Gina memandang kartu nama yang bertuliskan 'Renjani Adnan Husein'. Saat mendongak lelaki tegap tadi sudah pergi, langsung masuk ke dalam mobil sebelum bi Gina sempat menjawabnya.
Bi Gina terduduk lemas, air matanya langsung menetes ketika melihat uang yang dia tolak sudah ada di bawah kakinya. Semakin terharu, bahkan bersujud sangking senangnya.
Aku langsung meneteskan air mata, mendengar cerita bi Gina. Yang ternyata banyak orang yang merasa kesulitan, rasanya ingin sekali membantu orang-orang yang berada dalam kesulitan. Ada rasa bangga dan bahagia bisa membuat orang lain tersenyum, bahkan menangis haru. Karena doa yang di berikan mereka dengan tulus pasti akan di dengar oleh Tuhan. Hatiku juga menghangat saat tau kalau ayah yang menolong sosok bi Gina waktu itu. Sungguh, mungkin sifatku yang seperti ini, memang menurun dari ayah. Aku jadi ingin lebih banyak mendengar kebaikannya. Aku akan mengakui dia ayahku di hadapan banyak orang, jika dia membantu orang lain. Bukan sukses dalam menjalankan bisnisnya.
"Kau tau Nara maksud dari cerita bibi apa?" Aku mengangguk. Aku tau, maksudnya bi Gina. Masalah yang aku pendam saat ini kan, yang aku pikir tidak akan ada jalan keluarnya.
"Bibi tau testpack ini punya siapa." Aku diam lagi, menunduk. "Bibi sudah mengatakan, kalau bibi juga bisa memijat." Maksudnya? Aku menoleh ke arah bi Gina.
"Bi, tapi itu bukan punya aku." Maaf bi, aku benar-benar sulit untuk jujur.
"Apa sampai bayi itu lahir dan kau tetap tidak mengakuinya? Kau sudah merasakan kepahitan dalam hidup tanpa adanya kasih sayang orang tua Nara. Lalu kau juga ingin membuat anakmu seperti itu? Kau tau kan bagaimana rasanya." Aku mengangguk. "Di dunia ini, bukan hanya ratusan tapi puluhan ribu orang yang ingin menimang anak, salah satunya bibi sendiri. Tapi Tuhan belum memberi itu untuk kami. Jadi sangat di sayangkan kalau anak itu akan di bunuh sebelum lahir." Deg. Bunuh? Apa maksudnya aku akan jadi pembunuh? Jika sampai berhasil menggugurkannya?
"Dia juga mempunyai nyawa, dia hidup." Bi Gina memegang perutku yang masih rata.
"Aku tidak ingin menikah bi."
"Itu lebih baik, dari pada harus membunuhnya karena kebencian mu di masa lalu." Ya Tuhan, semua yang dikatakan bi Gina benar. Aku sudah tidak punya pilihan lain terkecuali jujur. Bi Gina terus menusuk ku dengan kata-katanya yang lembut namun memiliki arti yang besar. Bi Gina, kau orang baik. Dia orang baik. Kenapa Tuhan tidak memberinya anak? Jika bi Gina mempunyai anak, aku yakin pasti akan merasa sangat bahagia walau kehidupannya pas-pasan.
Aku memeluknya, terisak. Bicaraku juga pasti tidak jelas terdengar olehnya. Aku hanya mengatakan tidak ingin menikah secara berulang-ulang. "Dia temanku sendiri bi, hiks." Bi Gina tetap diam, membiarkan aku menangis sampai puas. Ingin sekali rasanya aku meminta bi Gina untuk tinggal disini bersamaku. Agar aku merasa tenang dan nyaman. "Bagaimana bisa aku menyembunyikan ini hingga aku lulus bi? Aku akan lulus sekolah sebentar lagi. Tapi bagaimana? Mana ada sekolah yang mau menerima muridnya hamil di luar nikah?"
"Nara, kita pikirkan itu nanti. Yang terpenting sekarang jangan berbuat nekat dengan mencari cara untuk menggugurkannya." Aku melepas pelukan dan menghapus air mataku. "Oalah ndok, kasian kue." Bi Gina meneteskan air mata, mengusap pipi dan seluruh wajahku dengan lembut. Ku dengar dia berbicara pelan dengan menggunakan bahasa yang tidak aku tau, bahasa dari adatnya sendiri.
"Aku harus bagaimana bi? Aku mohon bi, jangan mengatakan hal ini pada siapapun. Siapapun termasuk ayah." Bi Gina diam lagi, dia seperti memikirkan sesuatu.
Aku hanya bisa menangis dalam pelukannya. Meratapi nasib kehidupanku. Aku tidak punya tempat mengaduh, hanya memiliki teman yang juga sebaya denganku. Mereka tidak akan mampu memberiku jalan keluar. Kecuali dua pilihan, menikah atau menggugurkan. Karena mereka pasti punya pemikiran yang sama denganku. Berbeda dengan bi Gina, beliau sudah hidup jauh lebih lama dariku. Yang pasti memiliki pengalaman dan perjalanan yang bisa mempunyai alasan untuk aku mempertahankan kandungan ini. Anak tanpa ayah, tidak! aku yang tidak ingin anak ini memiliki ayah. Apa aku juga akan menjadi ibu yang jahat?
"Kau bilang tadi temanmu sendiri kan?" Aku mengangguk lagi. "Adam?" Benarkan, bi Gina sangat pintar dalam meneliti pandangan orang lain. Aku bertanya kenapa bi Gina bisa tau. "Dari cara tatapan matanya terhadapmu, berbeda dengan dia menatap wanita di sampingnya tadi."
"Bi, aku benar-benar tidak ingin Adam tau soal ini. Ini hanya kesalahan satu malam. Kami tidak memiliki hubungan terlalu jauh, aku sayang padanya hanya sebatas teman saja. Tapi hal itu berubah hanya dalam satu malam." Aku menceritakan semua yang terjadi pada malam itu, tepatnya satu bulan lalu.
"Bi, aku ingin menyembunyikan hal ini sendiri, tapi sekarang bibi sudah tau."
"Sebaiknya kau juga harus memeriksakan kandunganmu. Bukankah tadi kau bilang sendiri kalau perutmu sempat terkena tunjangan temanmu saat berkelahi?" Aku berpikir lagi, mana mungkin dan bagaimana caranya? Pasti dokter akan menanyakan dimana suamiku?
__ADS_1
"Bibi bisa bantu. Kau tidak perlu datang kerumah sakit. Bibi mengenal dokter, tidak jauh dari rumah bibi. Kalau kau mau, bibi akan memintanya untuk datang kesini. Memeriksa setiap bulannya juga disini." Aku menatap bi Gina. Benarkah? Kalau begitu aku sudah menemukan satu solusi.
"Juga ada cara menutupi kandunganmu." Aku siap mendengarnya. "Memakai korset agar tidak terlihat." Wajah bi Gina berubah sendu. "Tapi itu juga bisa membahayakan pertumbuhan dan perkembangan janin." Ya Tuhan..
"Aku mau bi." Bi Gina diam sebentar lalu mengangguk, dia berjalan keluar kamar dan akan membantuku dalam hal ini.
Dua jam lamanya aku menunggu di dalam kamar, duduk dengan memeluk kedua kakiku sendiri. Tidak berubah sama sekali, meski kaki sudah terasa kesemutan. Aku tetap ingin begini, berdiam tanpa memikirkan apapun, sehingga aku tidak harus menangis setiap detiknya.
"Nara?" Suara bi Gina yang datang, membuka pintu kamar. Lalu muncul sosok wanita tinggi berkulit putih. Cantik, bola matanya coklat. Dia datang hanya menggunakan pakaian formal, mungkin itu juga permintaan bi Gina agar tidak terlihat seperti seorang dokter.
"Siapa namanya?" Dia mendekat ke arahku. Senyumnya manis, aku berharap dia juga orang baik. Dan mau membantuku dalam hal ini.
"Kinara dokter." Dia memegang lengan ku, memeriksa denyut nadi. Lalu tersenyum lagi.
"Nama saya Linda, kau boleh memanggilnya dokter linda." Aku tersenyum ke arahnya, namanya indah seperti orangnya.
Lalu kulihat dokter Linda mengeluarkan alat dari dalam tasnya, aku tau itu gunanya untuk mengecek tensi darahku. Aku diam saja, ketika dokter Linda mulai memeriksa bagian perut, menggunakan stetoskop. Lalu mengoles gel dingin dengan tipis, menempelkan alat yang mengeluarkan suara seperti detak jantung.
"Janinnya sehat." Apa? Apa itu suara detak jantung anakku? Bi Gina mengucap syukur saat dokter Linda mengatakan hal itu. "Tapi, ibunya yang tidak sehat." Deg? Maksudnya?
"Pikiran, dan depresi berat. Sebaiknya saya sarankan, untuk tidak memikirkan hal-hal yang bisa membuat tensi Kinara naik." Aku diam, lalu dokter berbincang pelan dengan bi Gina. Mereka sedikit berdiri menjauh dariku. Terlihat bi Gina hanya manggut-manggut ketika dokter berbicara.
"Nara, saya akan menyuntikkan vitamin ya. Miring dulu." Aku mengikuti sarannya. Jarum yang menusuk tidak sesakit sewaktu Adam membobol gawang kesucian ku.
"Sudah." Aku kembali telentang dan melipat kedua tanganku di atas perut. "Ini obatnya diminum setiap habis makan siang atau malam. Hanya di minum satu hari sekali ya, di minum sampai habis." Aku mengangguk lagi.
"Usia kandungan kalau perkiraan dokter sudah tiga Minggu."
"Jika di usia 12 Minggu nanti sudah ada pergerakan kecil, seperti merasa kedutan itu artinya janin sehat." Oh jadi ternyata begitu? Seperti apa ya rasanya? Ah kenapa aku malah tidak sabar ingin merasakannya.
Bi Gina keluar mengantar dokter Indah aku kembali mengusap perutku, berbicara kepadanya yang belum bisa mendengar ataupun menjawab apa yang aku katakan. Rasa sayang langsung tersalur begitu saja, kenapa aku sangat senang sekarang?
"Kasih sayang ibu dan anak sudah terjalin saat anak masih di dalam kandungan. Walaupun masih dalam bentuk gumpalan darah. Makannya, tidak ada seorang ibu di dunia ini yang tidak menyayangi anaknya." Aku terdiam, saat bi Gina melihatku mengajak berbicara janin dalam kandungan.
"Begitu juga dengan ibumu. Dia menyayangimu. Hanya saja caranya berbeda, dia lebih memilih memberi uang yang banyak, karena dia pikir kau lebih suka saat diberi uang." Deg, benarkah?
"Bi?" Bi Gina menatapku. "Apa ibuku juga sayang padaku?" Bi Gina tersenyum dan mengangguk.
"Nara, meski saat ini bibi tidak memiliki anak. Tapi bibi sudah pernah merasakan hamil sembilan bulan dan juga masih sempat menimangnya memberikan kasih sayang sebelum anak bibi meninggal." Kenapa hatiku sakit? Dan tidak sanggup membayangkan kalau itu di posisiku?
"Bi, kalau perutku semakin membesar nantinya apa orang-orang tidak akan curiga?"
"Jangan memakai pakaian yang mengepas di tubuh. Pakailah pakaian yang longgar."
"Bagiamana seragam sekolahku bi?" Itu hal yang aku takutkan. Terkadang mata orang-orang yang tidak suka dengan kita malah lebih jeli dari pada orang terdekat.
"Nanti bibi belikan yang baru, yang lebih besar." Aku memeluk bi Gina. Beliau sangat membantuku dalam hal ini, ternyata aku salah jika berpikir bisa menyembunyikan hal ini dan mengatasinya sendiri. Ya Tuhan, kau selalu memiliki cara untuk membantu umatnya dalam keadaan sulit.
Aku benar-benar yakin sekarang kalau bi Gina memang orang baik. Terbukti dengan cara bi Gina tidak menyarankan ku untuk menggugurkan kandungan ku.
***
Aku yang sudah jauh lebih tenang sekarang, bisa menghirup udara luar di sore hari. Aku membawa bi Gina untuk melihat satu lagi rahasia ku. Tentang anak-anak jalanan yang sudah aku anggap seperti adik sendiri. Aku menyayangi mereka, berawal dari rasa kasihan. Ingat, sayang dan cinta itu beda versi menurut ku. Kasih sayang itu netral, bisa terjalin dengan orang terdekat. Tapi cinta, hanya bisa kita tambatkan dengan satu hati seseorang. Itu hanya versiku saja, berbeda dengan pendapat orang lain lagi.
"Kak, itu siapa?" Mereka semua mendekat ke arah mobilku, lalu melihat bi Gina yang juga turun. Dia tersenyum senang memandang kumpulan anak-anak yang berpakaian Kumal.
__ADS_1
"Panggil dia ibu." Mereka yang tidak berpikir panjang langsung memeluk bi Gina. Bi Gina juga tidak terlihat jijik sama sekali, dia malah ikut membalas pelukannya. Menatapku dan aku tau, matanya sudah berkaca-kaca.
"Bagaimana bisa Nara?" Tanyanya dan menggelengkan kepala. Seperti mendapat temuan baru di hidupnya saat ini.
"Bibi, mereka sama seperti ku." Aku menggiring mereka berjalan untuk duduk di bawah pohon. Tempat favorit ku untuk merasakan ketenangan dengan semilir angin yang menghilangkan keringat di bagian leher. Adem, bersamaan dengan hati.
Aku saja terkadang berpikir. Bukan sedikit anak-anak orang kaya lainnya yang merasa jijik jika berdekatan dengan anak seperti mereka. Bahkan tak segan mengusir jika merasa risih. Tapi kenapa aku berbeda? Aku malah terlihat senang dan bahagia bisa membuat mereka tersenyum. Awal-awal mereka yang menyentuh setiap bagian luar mobilku, berlari mengelilingi. Di mataku itu malah terlihat lucu. Mereka adalah sebagian dari kita, hanya saja dengan nasib yang berbeda.
"Kak, apa ini juga ibunya kakak?" Aku mengangguk dan tersenyum. Aku duduk tepat di samping bi Gina. Dan anak-anak duduk di hadapan kami. Aku tak akan lupa membawa makanan sebelum datang kesini.
"Dia ibu kita." Ucapku lagi. Raut muka bi Gina tampak begitu bahagia. Aku bergelayut di lengannya, andai beliau adalah ibuku. Huh, kenapa hanya menjadi asisten rumah tangga.
"Aku meminta uang pada ayah. Aku ingin membangun rumah untuk mereka. Agar setiap langit mulai mendung mereka tidak harus mencari tempat teduh."
"Apa ayahmu memberinya? Apa ayahmu tau?"
"Tidak seorang pun yang tau bi. Hanya bibi, karena rahasia terbesarku saja bibi sudah tau. Jadi hanya hal kecil yang aku tutupi ini dari orang-orang. Lebih baik bibi saja yang tau." Aku tersenyum ke arahnya.
"Kak kami main di mobil kakak boleh?"
"Boleh, tapi hati-hati ya."
"Jika kau membangun rumah untuk mereka. Lalu siapa yang akan mengurus mereka?" Aku menunjuk diriku sendiri. Tidak tau, sanggup atau tidak. Yang terpenting aku akan mencobanya. Khayalan ku yang sebenarnya, aku ingin kuliah, lalu setelah pulang kuliah aku berniat untuk mengajari mereka membaca dan menulis, sebagimana layaknya seorang guru. Tapi saat aku mengetahui kenyataan bahwa aku hamil, kurasa semua itu sudah sirna. Aku menceritakan ini pada bi Gina dengan nada bergetar.
"Siapa bilang kau tidak bisa melakukan itu semua Nara. Bukan berarti setelah kau memiliki anak tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Selagi masih ada bibi. Bibi akan merawat anakmu?" Lagi-lagi bi Gina membantu ku dalam pikiranku yang sulit. "Bibi tau keinginanmu ini sederhana, tapi begitu mulia. Nara, belum tentu semua orang bisa melakukan hal ini, kau istimewa." Mataku berkaca-kaca, baru kali ini mendengar pujian tulus yang tertuju untukku.
Hening beberapa saat, kami lebih memilih menikmati suasana sore di bawah pohon. Memandang anak-anak berlari mengelilingi mobil dengan suara gelak tawa. Lepas tanpa beban. Aku melihat itu dengan nyata, bahkan mereka tidak pernah mengeluh. Aneh, aku saja yang serba tidak kekurangan sering mengeluh tentang kasih sayang. Mereka memang panutan ku walaupun masih anak-anak.
Langit berwarna jingga membuatku harus segera pulang mengantar bi Gina. Waktunya banyak terbuang hanya untuk menemaniku hari ini. Meninggalkan suaminya sendirian dirumah. Padahal, seharusnya bi Gina sudah pulang saat selesai memasak dan membersihkan apartemen.
"Ibu pulang ya?" Bi Gina mengelus satu persatu kepala mereka.
"Ibu hati-hati. Datanglah lagi kemari Bu. Kami pasti merindukanmu."
Aku melajukan mobil menuju rumah bi Gina. aku bercerita lagi di dalam mobil. Menanyakan bi Gina naik apa kalau datang ke apartemen pagi-pagi. Lalu kalau pulang naik apa.
"Kalau pagi, bibi naik angkutan umum. Tapi harus dua kali. Kalau pulang bisa naik angkutan umum satu kali. Karena pagi, dari arah Simpang limun menuju apartemen belum ada angkutan sepagi itu."
"Apa bibi bisa naik motor?" Bi Gina mengangguk.
"Bisa, tapi kan tidak ada motor dirumah. Semua barang sudah habis terjual buat biaya pengobatan suami bibi." Eh satu lagi tugasku.
"Bi, Adam telepon." Aku bingung, apakah aku harus mengangkat?
"Angkatlah. Tapikan dulu mobilnya." Ragu-ragu. Tapi saat menoleh lagi bi Gina mengangguk. Baiklah, aku harus menurut dengannya.
"Hallo?"
"Nara, katakan. Apa kau hamil?" Deg. Aku melirik ke arah bi Gina yang tengah fokus melihat ke arah depan.
"Nanti saja bahasnya, aku lagi dijalan mengantar bi Gina pulang." Aku langsung menutup sambungan telepon.
Tak terasa sampai di depan gang sempit yang berada di pinggiran jalan raya. Kalau gang masuk menuju tempat adik-adikku meskipun kecil mobil masih bisa masuk. Tapi di gang menuju rumah bi Gina, rasanya tidak mungkin. Dan itu sepertinya hanya muat untuk satu motor saja.
Sekarang, satu lagi tugasku memberi kebahagiaan orang lain. Aku akan membelikan motor untuk bi Gina. Agar dia mudah pulang dan pergi tanpa harus menunggu angkutan umum.
__ADS_1
Bersambung..