Langit Mendung

Langit Mendung
Trik Adam


__ADS_3

Bak di sambar petir di pagi hari ketika mendengar dokter Linda menjelaskan tentang kondisi kandungan ku saat ini. Hiburan malam yang sulit aku hindari, hampir melenyapkan dua nyawa yang hidup dalam satu tubuh. Aku tidak akan pernah menyalahkan orang lain atas ini, karena memang ini mutlak kebodohan ku sendiri, sekeras apapun seharunya aku bisa menolak. Mataku sudah membengkak karena terus menangis, belum lagi tentang Satria yang kini tau, bahkan tidak bisa berjanji untuk ikut merahasiakannya. Dan kecewa telah mengenalku.


"Istirahat selama satu Minggu, jangan melakukan aktivitas apapun dulu. Nanti siang saya akan datang lagi, untuk memeriksa perkembangannya." Aku mengangguk, bi Gina hari ini akan datang ke sekolah. Menemui wali kelas serta membawa surat keterangan sakit. Aku harus berbaring di tempat tidur, dengan ditemani selang infus. Sedih rasanya.


"Bibi akan berangkat sekarang Nara. Kau tidur saja, bibi tidak lama." Aku mengangguk patuh.


"Bi?" Bi Gina berbalik, aku ingin menyampaikan sesuatu. Sedari tadi menunggu dokter Linda pulang.


"Bi, kalau bisa hindari bertemu temanku. Aku tidak ingin mereka bertanya pada bibi." Bi Gina menjawab dengan anggukan lalu pergi.


Setelah aku membaca pesan dari Munah, yang dia kirim tadi malam. Aku membaca pesan itu satu persatu, tanpa aku balas. Hingga di akhir pesan Munah menanyakan sesuatu yang mungkin menjadi kecurigaannya selama ini.


"Nara, katakan. Apa kau hamil?" Dia orang terdekatku, dan aku yakin suatu saat pasti akan tau. Yang aku inginkan, jangan sekarang. Lebih baik tau saat aku sudah melahirkan dan berhasil lulus dari sekolah. Sehingga aku tidak menanggung malu yang begitu besar. Guru, teman dan satu sekolah yang menganggap ku baik.


Aku memejamkan mata, meletakkan kembali ponsel disamping bantal. Setelah minum obat dari dokter Linda, aku merasakan ngantuk yang teramat.


***


Aku meraba perutku sendiri, tapi rasanya berbeda. Iya, ada yang berbeda dari tubuhku. Perutku kembali rata, lalu kemana bayiku? Apa aku sudah melahirkan?


"Owek.." Suara tangis itu terdengar jelas di telingaku. Pandanganku masih kabur, tapi telingaku bisa mendengar apapun dengan jelas.


"Bayinya sehat ya. Hidungnya mancung."


"Tidak di sangka Nara sudah menjadi ibu." Tanganku yang lemas tidak mampu terangkat walau hanya mengucek mata saja. Menarik nafas dan mengerjabkan mata lagi.


"Bi?" Aku melihat bi Gina tersenyum ke arahku, sambil menggendong bayi. Apa itu anakku?


"Anakmu sudah lahir. Kau harus melakukan operasi." Hah? Bagaimana mungkin? Bukankah kehamilan ku masih lima bulan? Aku berusaha untuk bangkit tapi seluruh tubuhku seakan membeku. Sekedar untuk mengangkat kepala juga tidak bisa. Apa aku mengalami kelumpuhan?


Tidak! Tidak mungkin.


"Bi? Kenapa seluruh tubuhku terasa kaku dan tidak bisa bergerak? Aku tidak bisa merasakan apa-apa."


Bi Gina meletakkan anakku, dan duduk di tepi tempat tidur. Wajahnya berubah sendu, kenapa?


"Bi?"


"Nara, kau lumpuh. Tidak tau apa penyebabnya, tapi dokter hanya mengatakan hal itu saja." Deg. Aku menjerit sejadi-jadinya, menggelengkan kepalaku sambil menangis, tidak mungkin!! Jeritan tangisku bersahut-sahutan dengan suara tangis anakku. Dia merintih, aku ingin memeluknya, menggendongnya, sekedar mencium. Tapi tidak bisa aku lakukan, jangankan untuk menenangkan saat dia menangis, untuk menahan tangisku sendiri saja aku tidak bisa.


"Bi? Aku tidak mau."


"Nara, anakmu akan bibi titipkan kepada orang lain.".


"Bi? Bukankah katanya bibi yang akan merawat anakku? Jangan bi, jangan berikan pada orang lain?" Aku menggeleng dan terus menangis. Ada sosok lelaki yang menunggu di depan pintu kamar. Aku tidak bisa melihatnya.


"Bi? Tidak!!"


"Nara??"


"Nara?"


"Bi Gina?" Nafasku terengah-engah. Keringat membanjiri wajahku, padahal AC sedang menyala saat ini.


"Bi? Dimana anakku?" Aku menelik ke sekitar kamar. Kemana tangis bayi yang ku dengar tadi? Kemana orang yang membawa anakku?


"Nara, kau hanya mimpi?" Aku menggeleng pelan, itu seperti nyata. Ku gerakan tangan dan kaki. Lalu berusaha untuk duduk dengan di bantu bi Gina. Kulihat perutku masih membuncit sempurna. Ya Tuhan, benar itu hanya mimpi. Tapi kenapa begitu menyeramkan? Apa maksudnya dari mimpiku ini? Apa benar akan ada yang membawa anakku??


"Minumlah dulu." Aku meneguk air dalam gelas yang diberikan bi Gina. Habis tandas tak bersisa. Aku seperti habis berolahraga.


"Bibi sudah datang ke sekolah, dan baru saja pulang. Bibi melihat kau menangis tanpa suara. Jadi bibi membangunkan mu." Aku mengangguk.


"Jadi bagaimana bi?"


"Pihak sekolah memakluminya, dan mengatakan kau boleh masuk hingga keadaanmu pulih kembali." Ah ya Tuhan, syukurlah.


"Lalu, apa bibi bertemu teman-temanku?" Bi Gina mengangguk.


"Mereka akan datang kesini nanti."


"Tidak bi." Aku menggeleng cepat. "Jangan biarkan mereka datang. Katakan saja kalau aku dibawa kerumah ayah." Bi Gina diam.


"Tapi Munah menangis memohon ingin bertemu denganmu Nara." Untuk apa? Aku yakin Munah datang hanya untuk menanyakan hal yang belum sempat terjawab.


Sekarang aku merasa, semakin tua usia kandunganku, maka semakin terancam pula hidupku. Adam, kenapa kau melakukan ini padaku. Masalah berat apa lagi nantinya yang akan aku hadapi.


"Bi, lihat ini." Aku terpaksa menunjukan pesan dari Munah kepada bi Gina. Raut wajahnya langsung berubah, pasti bi Gina juga ikut khawatir.


"Baiklah, nanti kalau mereka datang akan bibi sampaikan? Sebaiknya kalau malam lampu jangan di hidupkan, cukup lampu kamar ini saja. Jadi mereka tidak akan berpikir bahwa kau ada didalam." Aku mengangguk.


***


Siang aku kembali beristirahat, setelah bi Gina menyuapkan ku makan. Dan meminum obat dari dokter Linda. Aku sengaja meminta tidur dengan posisi duduk dan diberikan bantal di bagian punggung. Karena aku bosan jika harus berbaring terus. Malam ini bi Gina akan menginap disini, menungguku. Dan akan pulang sore mengantarkan makanan untuk adik-adikku. Bi Gina sengaja memasaknya disini, agar tidak lama saat meninggalkanku nanti.


"Nara?" Aku membuka mata, karena aku juga tidur tidak bisa nyenyak.


"Iya bi?" Bi Gina kembali menutup pintu kamar dan berjalan ke arahku.


"Mereka datang." Mereka? Temanku?


"Ya sudah bibi temui saja, tapi jangan kasih mereka masuk bi." Bi Gina mengangguk dan kembali keluar.


Aku sangat ingin duduk di dekat jendela, menikmati angin yang masuk menerpa wajah. Meskipun tidak ada pemandangan yang mengasikan. Tapi biasanya aku selalu melakukan hal itu ketika merasa bosan. Dan sekarang, seluruh pergerakan harus terbatas. Tubuhku yang masih lemas, meskipun perutku sudah tidak merasa panas.


Menunggu bi Gina kembali, aku meremas selimut yang menutupi tubuhku. Berharap mereka percaya kalau aku berada dirumah ayah sekarang. Mulai saat ini, aku harus berjanji, menjauhi teman-temanku.


Ting. Bunyi ponselku. Aku meraba mengambilnya, aku harus merubahnya menjadi mode getar saja. Jangan sampai Munah ataupun Adam menelponku. Jika mereka mendengar pasti tidak akan percaya jika saat ini sedang berada dirumah ayah.


Adam.


"Jika kau tidak ingin bertemu dengan Munah ataupun Wahid, maka ijinkan aku yang menemuimu. Banyak hal yang ingin aku bicarakan. Bukan soal kehamilan, tapi ini tentangku." Aku hanya membaca pesan saja, meletakkan kembali ponselku.


"Aku tau sebenarnya kau ada di dalam apartemen." Deg. Tidak, aku tidak mau. Nanti Adam bisa tau.

__ADS_1


Beberapa menit setelah itu, bi Gina sudah kembali ke kamar. Aku bisa bernafas lega, berarti mereka sudah pergi.


"Sudah bi?"


"Sudah, Adam menitipkan ini?" Bi Gina menyerahkannya padaku. Aku menerima kotak yang entah berisi apa.


"Bibi ke dapur dulu ya, lanjutkan masak untuk adik-adikmu. Kalau perlu apapun panggil bibi ya?" Aku mengangguk, dan pandanganku sudah terfokus pada kotak berwarna merah muda. Setelah bi Gina menutup pintu, aku merobek kertas pembungkus. Dan membuka kotak.


"Bunga? Buku?" Aku mengambil bunga terlebih dahulu. Ada kertas kecil yang menempel di batangnya.


"Itu buku catatan sekolah hari ini, jangan lupa kau tulis ya? Agar kau tidak tertinggal pelajaran." Aku tertawa kecil, sambil menghirup wangi bunga mawar merah. Meletakkannya lalu mengambil buku catatan milik Adam.


Ada tanda tangan besar di depan sampul buku, beserta dengan nama lengkapnya. Aku tersenyum, memang Adam pernah mengatakannya padaku, semua bukunya harus di tanda tangani, itu sebagai tanda kepemilikan.


"Bukankah jika orang yang akan menikah juga akan tanda tangan di buku nikahnya? Itu lah tanda kepemilikan." Ya ampun, aku berhasil tertawa hanya karena mengingat itu.


Aku meletakkan semuanya kembali di dalam kotak, lalu meletakkannya di samping bantal tidurku. Sekarang aku belum bisa mencatatnya, kemungkinan besok jika infus sudah di lepas.


Derrt... Dering ponselku berbunyi lagi.


"Satria?"


Aku ragu untuk mengangkatnya, dan sampai panggilan itu berakhir. Aku sama sekali tidak menyentuh ponselku. Setelah beberapa menit, kulihat tidak ada lagi panggilan ataupun pesan yang masuk. Aku akan menjauhi Satria, karena dia juga sudah tau kehamilanku. Bukankah dia sendiri yang mengatakan kalau dia kecewa terhadapku. Toh, dia hanya teman yang sesekali aku jumpai, tidak seperti kedekatan ku dengan Adam.


"Terima kasih untuk bunga dan bukunya, next akan aku kembalikan." Di akhiri dengan smile peluk dariku. Mengirimnya ke Adam.


"Sama-sama. Kau senang?" Aku mengangguk dan tersenyum, padahal saat melakukan itu Adam tidak akan tau.


"Iya." Aku membalasnya lagi.


"Jika kau bertemu denganku, pasti akan jauh lebih senang." Kenapa aku benar-benar senang mendengarnya?


"Tidak juga."


"Baiklah, kau sudah makan? Kau sudah minum obat?"


"Sudah." Aku membalasnya dengan singkat.


"Ayahmu sedang apa?" Hah? Kenapa malah Adam menanyakan ayah?


"Ayah sedang.." Aku sudah mengetik pesan lalu menghapusnya lagi. Hem, berpikir jika di jam segini ayahku sedang apa.


"Ayahku sedang pergi keluar bersama tante Intan." Heh, akhirnya aku memiliki alasan. Kalau begini Adam akan percaya jika aku tidak berada di apartemen.


"Benarkah? Bukankah ayahmu sedang berada dirumah? Tadi aku sempat bertanya pada penjaga rumah ayahmu." Mataku langsung membulat ketika membaca pesan dari Adam. Sialan! Dia sengaja menjebak ku. Berpikir dulu, berpikir. Kalau aku tidak membalasnya aku yakin, satu jam kemudian bisa saja Adam sudah sampai di apartemen. Karena sudah yakin kalau aku berada disini.


"Kau datang kan tadi, sekarang ayahku sudah pergi." Yah, itu sudah jawaban yang paling tepat.


"Benarkah? Coba kau tanya aku ada dimana?" Aku mengerutkan keningku.


"Memangnya kau dimana?"


"Di depan rumah ayahmu." Deg. Dasar gila!! Aku ingin memakinya sekarang, tapi tidak melalui pesan. Dasar aneh! Untuk apa dia memata-matai rumah ayahku.


Sudahlah, aku tidak ingin membalasnya lagi.


"Terima kasih." Jawabnya, sudah aku lebih memilih meletakkan ponsel, dari pada membalasnya. Memejamkan mata lebih baik, malah waktu berjalan dengan tidak terasa.


"Nara? Kau tidur?" Aku membuka mata lagi.


"Tidak bi, hanya memejamkan mata saja."


"Ada Adam." Hah? Adam?


"Dimana bi?"


"Duduk di sofa." Gila! Aku ingat, ini baru saja lima menit yang lalu. Mana mungkin dia dari rumah ayah bisa secepat itu?


"Dia bilang sudah mendapatkan ijin darimu untuk datang kesini." Heh, lagi-lagi aku dijebak. Kau sungguh pintar Adam. Apa anakmu juga akan sepertimu nantinya?


"Baiklah bi, suruh dia masuk." Bi Gina merapikan lagi selimutku, di tatapnya dan terlihat sudah rapi. Juga perutku tidak terlihat besar karena aku duduk memeluk bantal. Barulah bi Gina keluar dan memanggil Adam.


"Sebentar ya." Aku mengangguk dan tersenyum. Mataku tidak berkedip menatap ke arah pintu. Menunggu wujud yang telah menipuku. Akankah wajah tampannya merasa bersalah?


"Selamat siang." Aku mengangguk, dengan wajah tanpa ekspresi menatapnya.


"Kau malah terlihat seperti hantu jika begitu, wajahmu pucat, dan kelopak mata yang menghitam." Lihatlah, dia bahkan sudah berani protes saat melihatku. Adam menarik sofa yang ada di dekat jendela. Meletakkannya tepat di samping tempat tidur. Duduk dan tersenyum, sambil menopang dagu dengan satu tangan. Matanya berkedip menatapku, kenapa orang tampan selalu aneh ya?


"Adam!!" Aku memukulnya dengan bantal.


"Kenapa kau malah pulang naik taxi? Apa kau tidak bisa menunggu sebentar? Kenapa kau mengabaikan pesan dan panggilanku? Jika kau mati bagaimana?"


"Aku tidak ingin di ganggu, lagian juga tubuhku lemas, sekedar untuk membalas pesan tanganku tidak memiliki tenaga sebanyak itu." Adam mendengus, lalu tangannya terulur mengambil kotak yang dia berikan padaku.


"Mana buku catatan mu?" Aku menunjuk ke arah rak. Dia berdiri, mengambil buku catatan pelajaran hari ini, lalu pena dan kembali duduk lagi.


"Jangan, kau tidak perlu melakukan itu Adam." Dia tidak peduli, membuka buku milikku, dan mulai menggores dengan pena. Sudahlah, dasar keras kepala! Aku tersenyum ketika melihatnya, mulutnya yang membuka dan menutup tanpa mengeluarkan suara. Seperti ikan yang tengah mengambil oksigen.


"Kenapa!" Ah aku ketahuan sedang memperhatikannya.


"Tidak, lanjut saja menulis. Jika ingin membantu tidak perlu berbicara." Adam malah tertawa tapi tangannya tidak berhenti menulis.


"Tulisanmu bagus kan? Sama saja kalau tulisanmu jelek, aku tidak akan bisa membacanya."


"Buktinya kau bisa membaca sepucuk surat itu dan mengirimkan ku pesan, mengucapakan terima kasih."


"Adam!!" Sialan, aku selalu dijebak dengan kata-kata. Sepertinya aku harus berhati-hati, bisa saja aku keceplosan dan mengatakan kalau aku hamil.


"Nara, Munah tidak tenang karena kau tidak membalas pesannya." Kali ini nada bicaranya sudah mulai serius. Meskipun mata dan tangannya tetap fokus menatap kertas.


"Membalas pesannya yang menuduhku hamil?" Mata Adam melirikku. "Ini kau lihat." Aku menunjukan pesan itu ke arah Adam. Dia melihat lalu membuang pandangannya lagi.


"Satria mengirimkan pesan untukmu." Hah? Benarkah? Eh iya.

__ADS_1


"Dam, aku paling tidak suka ditanya seperti itu. Kenapa dia bisa berpikir bahwa aku hamil?" Adam hanya mengangkat bahu saja.


"Kau juga sama saja, menuduhku hamil."


"Aku tidak menuduh, aku hanya ingin bertanggungjawab. Kau lupa siapa pelakunya?"


"Tidak."


"Ya sudah."


"Nara?" Bi Gina masuk membawakan cemilan dan minuman untuk Adam. "Bibi titip Nara sebentar bisa kan Dam? Bibi mau mengantar makanan untuk adiknya Nara dirumah." Bi Gina beralih menatapku. "Tidak apa-apa kan kalau bibi tinggalkan bersama Adam?" Aku mengangguk.


"Bibi hati-hati ya." Adam yang mengantar bi Gina keluar, lalu kesempatan untukku, melihat sudah sampai dimana Adam mencatatnya.


Saat Adam kembali duduk, aku akan mengatakan sesuatu padanya.


"Adam, apa kau ingat tentang cerita masa kecilku?"


"Sudah banyak yang kau katakan, tapi hampir aku ingat semua." Aku tertawa mendengar jawabannya yang mengesalkan.


"Tentang teman kecilku yang menghilang bak ditelan bumi." Sepertinya Adam mulai tertarik, dia menghentikan aktivitas menulisnya dan menatapku.


"Dia satu sekolah dengan kita. Aku sudah lama ingin membicarakan hal ini, tapi waktunya tidak ada."


"Dari mana kau bisa tau kalau kau dan dia satu sekolah?" Aku mengangguk.


"Dia meletakkan photo dibawah laci mejaku. Dan aku yakin, yang setiap hari memberikan ku coklat juga dia. Tapi, bagaimana aku bisa mengetahuinya? Aku bahkan sudah lupa wajahnya. Aku rindu dengannya Dam."


"Kenapa tidak kau ajak berjumpa saja?"


"Bagaimana caranya?"


"Kau letakkan saja surat dilaci mejamu, jika benar dia yang meletakkan coklat setiap hari pasti dia akan membacanya."


"Ah kau benar! Kau sangat pintar." Aku tersenyum, iya ide Adam sangat cemerlang. Dengan begitu aku masih memiliki kesempatan. Aku akan meninggalkan nomor ponselku saja disana. Dengan begitu, aku bisa menunda untuk bertemu sampai aku melahirkan.


"Kau begitu senang mendengarnya. Apa kau menyukainya?" Aku mengangguk. "Sampai saat ini?"


"Entahlah, aku hanya rindu dengannya." Adam mengangguk dan melanjutkan menulis lagi. Aku hanya terdiam sambil memikirkan hal indah semasa kecil bersama Iam. Yang membuatku sangat yakin sekarang, bukan hanya dari photo itu.


"Kau suka sekali coklat ya?"


"Iya."


"Kalau begitu nanti aku akan memberimu coklat setiap hari."


Iya, ternyata dia benar-benar menepati janjinya. Tapi, kenapa dia tidak langsung saja jujur denganku? Apa karena dia jelek?


"Adam?" Adam langsung menoleh ke arahku." Apa di sekolah kita ada yang botak?" Adam tertawa kecil mendengar pertanyaan ku.


"Maksudnya, apa muridnya ada berkepala botak?"


"Kenapa kau menanyakan hal itu."


"Iya siapa tau, Iam masih sama dengan yang dulu. Tidak pernah tumbuh rambut, maka dari itu dia enggan untuk menemuiku secara langsung. Sehingga malah membuat jati dirinya teka-teki bagiku."


Adam selesai merangkum catatan. Mengembalikannya ke rak buku milikku. Dia kembali duduk.


"Kau ini anehnya?" Dia garuk-garuk kepala. "Bagaimana bisa kau berpikir kalau rambutnya tidak tumbuh. Tapi kalau tetap berpikir seperti itu, Baiklah akan ku bantu kau nanti mencarinya keliling sekolah, jika kau sudah masuk."


"Benarkah?" Adam mengangguk. Kenapa aku sesenang ini? Apa senang karena di dekat Adam atau karena mendengar kabar baik tentang Iam.


"Adam, kau jangan mengatakan pada Munah dan Wahid ya kalau aku berada di apartemen."


"Rahasiamu selalu aman." Aku mengacungkan jempol untuknya.


"Bukankah kau katanya ingin mengatakan sesuatu yang penting?" Semula Adam tengah bermain ponsel, lalu dia menggenggamnya dan beralih menatapku. Tidak, ternyata temanku ini sangat tampan. Lebih tepatnya ayah dari anakku.


"Iya, tentang bi Gina?"


"Bi Gina?" Adam mengangguk.


"Kau tau kenapa sewaktu aku melihat photo suami bi Gina aku menjadi seperti itu?" Aku jelas menggeleng karena tidak tau. "Dia supir itu, supir yang aku cari selama ini."


"Supir yang membunuh ayahmu?"


"Eh bukan!" Adam menggeleng berkali-kali, takut aku sudah berspekulasi sendiri.


"Dia supir ayahku, supir yang sangat dekat dengan keluargaku. Dan dialah satu-satunya orang yang tau bagaimana bentuk supir yang membawa pergi ayahku." Deg. Jadi, selama ini majikan yang bi Gina cari adalah keluarga Adam??


"Adam?"


"Nara! Aku sangat takut untuk mengatakannya pada bi Gina. Aku takut kalau aku mengatakannya, yang ada malah aku membuka kembali luka lama, apa lagi saat ini bi Gina sudah kehilangan suaminya."


"Adam, kau salah! Justru selama bertahun-tahun bi Gina berusaha mencari keluargamu. Dia ingin sekali meminta bantuan untuk biaya pengobatan suaminya dulu. Tapi mang Suryo selalu melarangnya. Dengan mengatakan kalian sudah tidak lagi berada disini. Sudah jauh tinggal diluar kota." Adam, dia menunduk sekarang. Aku takut kalau depresi yang ada di dirinya kembali kambuh.


"Adam? Jika kau ingin berbicara, maka aku siap membantunya. Anggap saja ini balasan dariku, karena kau mau membantuku mencari teman kecilku."


"Makasih Nara." Aku mengangguk.


"Apa kau yakin kalau orang itu suami bi Gina?" Adam mengangguk lagi.


"Hanya mang Suryo yang memiliki tahi lalat besar di pipi. Kau tau, aku dulu sangat dekat dengannya. Mang Suryo mengundurkan diri karena keluarga tengah ricuh saat itu. Mang Suryo berkata pada ibu, dia tidak ingin terlibat dalam hal itu, karena satu-satunya orang terakhir yang ayahku temui hanya dia. Walaupun sempat mang Suryo mengatakan kalau beliau tidak jadi mengantarkan ayahku. Lalu malamnya kami sekeluarga mendengar kabar duka."


"Aku tau, pasti keluargamu yang menyudutkan mang Suryo kan?" Adam mengangguk.


"Kau benar Nara. Hanya aku dan ibu yang tidak percaya tentang opsi yang dibuat keluarga ayahku. Terutama om ku, dia sangat meyakini kalau mang Suryo pelakunya. Hanya saja, waktu itu ibu berpikir untuk apa mang Suryo melakukan itu?" Aku terdiam, memang benar tidak mungkin. Sepanjang cerita bi Gina, aku tidak pernah mendengar suaminya melakukan kejahatan.


"Nara, hal ini hanya kau yang tahu. Aku percaya jika kau bisa menutupi ini dari orang-orang. Termasuk kematian ayahku."


Aku mengangguk, dan menggenggam tangan Adam. Mencoba menguatkannya. Aku tau, kalau saat ini Adam tengah menahan air mata agar tidak tumpah.


"Itu bi Gina, apa kau ingin membicarakannya sekarang?" Adam menggeleng.

__ADS_1


"Aku akan membantumu lebih dulu menemukan teman kecilmu, setelah itu baru kau membantuku." Aku tersenyum, Adam benar-benar dewasa dalam cara berpikirnya.


Bersambung..


__ADS_2