
Jika biasanya ulang tahun akan diberikan kado. Yang paling mewah diantaranya rumah ataupun mobil. Tapi dihari ulang tahunku sungguh berbeda. Aku malah mendapatkan hadiah yang paling tidak aku inginkan. Aku menghargai mereka yang sudah menyiapkan ini untukku. Tapi bagaimana dengan perasaanku? Apakah aku harus senang? Apakah aku harus bahagia ketika melihat siapa laki-laki yang ada bersamaku sekarang??
Apakah aku harus gembira dan menangis haru ketika melihat singgah sana untuk calon pengantin?
"Ini sudah keputusan ayah, ibumu dan juga pihak keluarga Adam. Kau harus menikah hari ini dan sekarang juga." Seorang MUA yang merias wajahku tadi memasangkan kain puring dibagian kepalaku. Guna menutupi wajahku. Lalu, apakah Munah dan Wahid tidak berdosa sudah membohongiku tadi?
Acara pernikahan yang cukup sederhana, digelar hanya dihalaman rumah. Tapi aku yakin, ayah ataupun ibu Intan sudah menyewa seorang WO profesional. Terbukti dalam waktu beberapa jam sudah bisa menyelesaikan dekorasi sebagus ini. Aku yakin, jika dimalam hari pasti suasananya jauh lebih indah. Dan sekarang, aku menyesal kenapa sewaktu aku berdiri di balkon kamar aku tidak melihat kebawah.
Aku tidak melihat adanya tamu lain, sepertinya ayah sengaja dan hanya dihadiri oleh kedua belah pihak keluarga saja. Juga para pelayan dan penjaga rumah. Mereka berbaris dengan rapinya, menebar senyum kearah ku seolah-olah tengah melihatku sedang bahagia. Tidak ada satu katapun terucap dari bibirku. Hingga tangan ini disambut hangat olehnya.
"Adam, kau?"
"Apa kau sudah siap menikah denganku?" Aku menoleh lagi kearah ayah. Anggukannya membuat hatiku menghangat. Tapi ada satu orang yang saat ini tidak sama sekali mengeluarkan senyum. Dia Windu, dia hanya berdiri sambil melipat kedua tangannya. Memalingkan wajah saat aku melihatnya. Hatiku mencelos seketika, aku tau jika dia juga masih merasakan sakit akibat ulahku.
"Apakah bisa dimulai?" Bukankah aku sendiri belum menjawab? Apakah aku siap menikah atau tidak? Ya Tuhan, aku dan Adam masih sama-sama kuliah, menempuh pelajaran yang akan menentukan masa depan. Lalu, apakah kisah rumah tanggaku kelak akan seperti ayah dan ibuku? Aku ingat itu, aku masih ingat bagaimana ibuku bercerita soal itu. Menikah dengan keterpaksaan, tapi aku bingung! Aku sendiri merasa tidak terpaksa, hanya saja kecewa karena baik ayah ataupun ibu tidak ada yang memberitahuku.
Adam semakin erat menggenggam tanganku, saat janji suci pernikahan mulai terucap. Detak jantung seolah berhenti, karena sudah lelah berdebar.
"SAH.." Mereka serempak menjawab. Aku hanya menunduk, entah harus memberikan respon seperti apa saat ini. Satu yang pasti, ada buliran air mata yang jatuh.
"Setelah ini, kau bisa istirahat kembali didalam kamar. Karena mulai sore akan ada tamu yang datang. Ayah dan ibunya Adam sengaja mengundang kolega bisnis. Ayah juga ingin mereka tau bahwa anak ayah sudah menikah." Aku hanya mengangguk, karena memang ini sudah menjadi rencana ayah.
Aku sudah tidak lagi melihat keberadaan Windu, dia menghilang dari pandangan mataku. Apakah dia pulang setelah tau aku dan Adam sudah resmi menjadi suami istri?
"Bolehkah aku mencium keningmu?" Deg. Adam membuka kain puring yang menutupi wajahku, tidak menunggu jawaban Adam melakukannya.
"Nah momen ini yang aku tunggu-tunggu." Wahid dan Munah berdiri dihadapanku, dengan senangnya mereka mengambil beberapa photoku bersama Adam. Aku ingin sekali lagi bertanya pada Tuhan, apakah ini hanya mimpi? Mimpi dari ketakutan ku? Kenapa dalam sekian menit aku sudah merubah statusku menjadi seorang istri?
"Nara?" Suara lembut itu menyapa. Aku sangat bersalah padanya.
"Ibu serahkan Adam kepadamu." Pelukan hangat mengalir, aku semakin tidak bisa membendung air mata.
"Maafkan aku Bu."
"Lupakan masa lalu, dan kedepannya ibu berharap jika kau mengalami masalah, sebaiknya bercerita kepada ibu ataupun ayahmu." Aku mengangguk.
"Ibu?" Kali ini yang datang padaku adalah ibu kandungku.
"Ibu, kenapa sepertinya semua yang terjadi padaku sama seperti yang terjadi kepada ibu dulu?" Ibu menepuk-nepuk punggung ku.
"Tidak, ibu yakin jika kau pasti bahagia. Hal yang mesti kau ingat, jangan pernah mencontoh bagaimana rumah tangga ibu dan ayahmu dulu." Ibu melepas pelukannya, beralih dengan memegang wajahku. "Ibu sangat menyayangimu. Adam, jagalah dia." Aku menoleh kearah Adam. Apakah dia sudah dinyatakan sembuh total saat ini? Karena sangat sakit bagiku jika harus kehilangannya nanti.
Ayahku dan ibunya Adam sedang berbincang. Mereka semua sudah sibuk dengan urusannya, seolah-oleh sengaja membiarkan aku dan Adam hanya berdua. Aku menoleh kearah lain, ibu Intan dan ibu kandungku. Mereka tengah berbicara berdua, apakah ibuku sudah menerima semuanya? Menerima takdir yang diutus untuknya? Kalau benar, aku juga ingin sepertinya. Menerima apa yang sudah ditakdirkan untukku, mulai hari ini, esok dan seterusnya.
"Nara?" Aku mendongak.
"Bibi?"
"Bibi memiliki kejutan untukmu." Apa lagi? Aku bahkan tidak melihat ada apapun yang dibawa oleh bi Gina.
__ADS_1
"Anak-anak?" Dia berteriak memanggil, dan keluarlah adik-adikku dari persembunyiannya. Mereka membawa bouqet bunga besar. Mereka serempak memakai jas, itu bagi yang laki-laki, dan anak perempuan memakai gaun berwarna putih. Aku tercengang.
"Selamat ulang tahun kak Kinara." Deg. Aku menoleh kearah sekeliling, mereka semua beralih menatapku. Terutama ayah, senyuman yang terpancar darinya memiliki aura kebahagiaan.
"Terima kasih. Kalian datang?" Mataku berbinar, sungguh ini membuatku sangat terharu.
"Kak Adam selamat sudah menjadi seorang suami." Kali ini aku menoleh, lalu senyum tipis tidak dapat aku cegah. Keluar begitu saja saat melihatnya.
"Kalian kalau seperti ini terlihat cantik dan tampan." Puji Adam. Mereka tersenyum, saling pandang dan Sorong. Mungkin mereka memang tidak pernah mendengar pujian seperti itu dari orang lain.
"Bi, makasih sudah membawa mereka kesini."
"Bukan bibi, tapi ayahmu. Berterima kasihlah padanya." Aku mengangguk. Akan aku lakukan, tapi tidak sekarang.
***
Aku sudah berada didalam kamar, sesuai perkataan ayah. Sore hari aku akan kembali keluar, mengubah riasan serta pakaian ku lagi nanti. Aku masih diam, karena hanya aku dan Adam saat ini yang berada didalam. Dan yang membuatku lebih terkejut saat membuka pintu, melihat kamar dan tempat tidur sudah dirias layaknya untuk pengantin baru. Sprei diganti bewarna putih dengan ditabur kelopak bunga diatasnya. Lalu lilin yang menghias diantar samping tempat tidurku. Aku yakin jika dimalam hari ketika lilin ini dinyalakan, pasti akan jauh terlihat lebih indah.
Sudah pasti aku merasa sangat canggung saat ini. Sudah berapa lama tidak bertemu dan tidak berkomunikasi dengannya. Lalu bertemu kembali membawa masalah, dan hari ini malah langsung menikah. Bagaimana tidak aku selalu berpikir jika ini hanya mimpi?
"Nara?" Aku memejamkan mata, meringis karena tau sebentar lagi pasti Adam akan mengajakku bicara.
"Maafkan aku." Aku menarik nafas. Karena saat ini aku duduk ditepi tempat tidur dengan posisi membelakangi Adam. Meski aku sedikit merasa canggung, tapi mulutku sudah sangat gatal ingin mencecarnya sekarang juga. Mengajukan beberapa pertanyaan. Bukankah hal ini yang selama ini aku tunggu?
Aku menetralkan segalanya, mulai dari detak jantung dan darah ku. Mereka sedang tidak baik-baik saja saat bekerja didalam tubuh.
"Sekarang kau muncul dengan keadaan jauh lebih baik. Bersedia menikah denganku, apa maksudnya? Apa setelah ini, semua masalah diantara kita sudah dianggap selesai, kau juga akan pergi lagi meninggalkan aku? Bertemu kembali dengan Elena?"
Hanya ada suara isakan, Adam diam tidak menjawab. Aku menoleh kebelakang. Benar, Adam menangis?
"Adam?" Suaraku berubah lembut saat melihatnya terisak.
"Maafkan aku." Ucapnya lirih.
"Eh kau menggunakan air mata supaya aku menerima permintaan maafmu ya?" Adam menggeleng. Aku berdiri dan berjalan untuk mengambil tissue. Kuserahkan padanya, aku juga tidak mau menghapus air matanya.
"Kau tau, dengan caramu seperti ini. Aku sudah menyakiti hati kakakmu. Aku sangat merasa bersalah!" Aku duduk kembali ditempatku.
"Nara, maafkan aku. Waktu itu aku berpikir tentang penyakit yang belum tentu bisa sembuh. Lalu, jika aku mengatakan kepada ibuku bahwa akulah laki-laki yang sudah menghamilimu, apakah kau mau menikah dengan orang yang memiliki penyakit? Dan, kau tidak mengatakannya kau tidak pernah jujur. Hal itu sangat membuatku terguncang saat tau kau mengalami pendarahan. Aku berpikir jika kau tidak akan selamat, tapi saat ini kau sehat Nara. Lalu apa kau melupakan janjimu dulu, yang akan menerima laki-laki pilihanku yang mau menerimamu?" Aku menoleh.
"Tapi kenapa harus kak Windu? Sementara dia juga pernah mencari laki-laki yang sudah membuatku hamil sejak lama."
"Apa maksudnya?" Deg. Ah aku keceplosan, bukankah Adam tidak tau kalau aku dan Windu sudah mengenal sejak lama? "Nara?" Adam mendekat padaku, dia duduk disampingku saat ini. "Katakan apa maksud ucapanmu tadi? Jangan bilang kak Windu sudah tau sejak lama jika kau hamil?"
Aku mengangguk.
"Dan kau memang sudah mengenalnya?" Aku terdiam.
"Nara? Bagaimana bisa kau-"
__ADS_1
"Adam! Lelaki yang bernama Satria itu adalah kakakmu. Aku juga baru tau ketika dia ikut dirumah sakit, menjagamu bersama ibumu." Adam membeku. "Dan dia tau kalau aku hamil bukan karena aku yang mengatakannya. Tapi dia terlalu jeli saat melihatku. Awalnya aku juga sangat syok ketika tau Satria adalah Windu."
"Jadi laki-laki yang pernah mencium mu tanpa ijin itu?" Aku mengangguk meskipun ragu. Ya aku ingat, aku pernah cerita padanya lalu Adam mengatakan dia menciumku untuk menghapus bekas ciuman orang lain. Adam mengusap wajahnya dengan kasar, merenung setelah aku mengatakan kebenarannya.
"Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau berada divilla waktu itu? Dan kenapa saat aku masuk kedalam kamar kau tidak ada? Tapi ketika aku bangun, kau sudah berada disampingku."
"Itu Hem."
"Jangan bilang kau sudah tau kalau ada aku didalam ketika kau masuk?" Adam tersenyum tipis.
"Jadi benar?"
"Maaf."
"Sialan!" Aku memukulnya secara berulang-ulang.
"Aw sakit." Eh, apa aku memukulnya terlalu keras ya?
"Itu adalah villa dan tempat wisata yang selalu dikunjungi oleh ibu dan ayahku dulu, dan aku yang sudah bosan juga jenuh dengan pengobatan meminta ibu membawaku ketempat wisata. Lalu dengan tidak sengaja kak Windu juga memberi kabar untuk bertemu dengan ibu, membahas masalah perusahaan. Dan disanalah tempatnya." Aku mendengar apa yang dia katakan. "Aku sempat kaget saat tau perempuan yang tidur dengan memakai pakaian yang bisa menggoda iman, ternyata itu kau. Dan aku malah tertidur dengan pulasnya disampingmu." Deg.
"Jangan bilang kau?"
"Aku hanya mengecup kening saja."
"Adam!!" Aku berteriak sekencang mungkin. Menutupi bagian dadaku dengan tangan, kenapa saat dia mengatakan itu aku seperti tengah tidak terbalut sehelai benang pun?
"Lalu bagaimana denganmu yang tidur memelukku seperti guling? Aku saja tidak marah." Ah sialan! Dia tau? Dia sadar tapi tidak membangunkan ku?
Aku kembali memukulnya, melampiaskan apa yang selama ini terjadi padaku.
"Aw sakit."
Tok.. Tok..
"Hei apa yang kalian lakukan didalam." Aku berhenti sejenak, lalu beralih menatap kearah pintu.
"Biar aku yang membuka." Aku tetap duduk, dan Adam yang membukanya.
"Apa yang kalian lakukan didalam?" Dengan seenaknya Munah masuk menggerutu, dengan diikuti seorang MUA yang akan kembali merias wajahku.
"Kalian tidak berbuat macam-macam kan?"
"Tidak, aku berani bersumpah." Ucapku untuk meyakinkan Munah agar dia tidak berpikir negatif denganku dan Adam.
"Mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri, jadi jika melakukan apapun tidak masalah." Ya ampun, yang dikatakan seorang MUA ini benar, bagaimanapun mungkin bisa aku melupakannya?
Munah langsung terbungkam, begitu juga denganku. Hanya Adam yang tersenyum, sepertinya dia bangga sudah menjadi suamiku?
Bersambung..
__ADS_1