Langit Mendung

Langit Mendung
Rencana untuk Kinara


__ADS_3

POV author


Suasana hangat di dalam rumah ini memang selalu terjadi, di setiap harinya. Gelak tawa anak dan orang tua terdengar. Belum lagi jika ada perdebatan yang berujung dengan candaan. Siapa yang tidak iri melihatnya? Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan teman dekatnya. Yang jauh dari sosok orang tua. Kedekatan yang tidak pernah terjadi semenjak lahir ke dunia. Untuk merasakan belaian terkadang sangat sulit.


Munah, meskipun ayahnya hanya sebatas karyawan kantor. Berbeda dengan teman-temannya. Yang rata-rata orang tuanya pengusaha. Bisa menggunakan mobil jika ingin berangkat kemana pun. Tapi untungnya, Munah tidak pernah iri soal itu. Keberuntungan yang dia miliki, membuatnya merasa bahwa hidupnya sudah sempurna. Dikelilingi orang-orang baik dan kedua orang tua yang memiliki kasih sayang tulus untuknya, dan dua saudaranya dirumah.


"Aku Bu, aku mau gulai asamnya."


"Bu, aku tidak mau! Aku mau pakai tumis kangkung saja." Ibu yang selalu menghidangkan masakannya di meja makan. Memasak apa yang di minta suami dan anaknya.


"Hei, jangan pilih-pilih!" Munah memukul lengan adiknya yang rewel menunjuk ini dan itu. Ibunya tersenyum, dan menggeleng. Maksudnya, biarkan saja adikmu juga masih anak-anak.


"Bu, kalau aku telat pulang berarti aku pergi bersama Nara dan Wahid ya?"


Selesai dengan menghidangkan makanan di piring untuk anak dan suami, ibunya juga duduk. Menuangkan nasi secukupnya ke pirangnya sendiri.


"Memangnya mau pergi kemana?" Kali ini ayahnya yang bertanya. Munah diberikan kebebasan tapi dengan syarat bisa jaga diri. Karena kedua orang tuanya selalu mengatakan bahwa, anak seusia Munah jika di larang sekalipun ataupun di kekang. Tidak diperbolehkan keluar rumah, apa lagi malam hari. Mereka pasti akan tetap nekat, dan ujung-ujungnya berbohong. Pengalaman masa muda mereka sudah ada, di jadikan pelajaran untuk generasi anak-anaknya.


"Mau lihat Adam, semalam sudah kesana yah. Tapi Adam tidak ada, barangkali hari ini dia sudah pulang."


"Adam? Dia sakit?" Sambil menyodorkan air ke arah suaminya, tissue untuk mengelap mulut juga tidak lupa. Ah bagaimana Nara tidak merasa iri jika berkunjung kerumah Munah.


"Iya Bu."


Ayahnya sudah bangkit dari duduknya, sarapan sudah selesai. Munah mulai kelimpungan, bahkan dia belum menghabiskan separuh dari sarapannya pagi ini.


"Kau naik angkutan umum saja ya?" Ayahnya melihat jam dipergelangan tangan. "Ayah ada rapat pagi ini, tidak sempat jika harus mengantarkan lagi ke sekolah." Wajah Munah langsung lesu, paling malas jika harus naik angkutan umum. Siapapun itu, pasti begitu.


"Munah, kau dengar apa kata ayah?" Munah mengangguk. Ibunya yang selalu mengantar hingga di depan pintu rumah, kecupan di kening selalu mendarat. Tidak peduli meskipun dihadapan anak-anaknya. Dan malah sering pamer dengan mengatakan carilah suami seperti ayahmu, begitu juga sebaliknya yang di katakan oleh ayahnya.


"Ayah hati-hati."


"Iya sayang."


Ibu Munah kembali lagi ke meja makan, karena memang sarapannya belum kelar. Munah yang mulai sibuk harus menelpon Kinara, mengirim pesan. Berkali-kali, tapi nomor ponselnya tidak aktif. Beralih ke Wahid, semoga dan semoga saja. Begitu doanya dalam hati, sangking malasnya harus naik angkutan umum.


"Munah?" Munah mendongak, meletakkan ponselnya tepat disebelah piring. Menggeser dengan satu jari, dan satu tangan digunakan untuk memasukkan makanan ke mulut.


"Iya Bu." Hanya menoleh sekilas, dan pandangan tetap fokus ke ponsel.


"Bu, kami pergi ya?" Kedua adik Munah sudah pamit pergi, sekolah mereka yang tidak jauh. Hanya berjalan melewati belakang rumah bisa sampai. Berbeda dengan Munah yang harus naik angkutan umum. Sekolah ditempat elit, itu permintaannya sejak masih SMP.


"Hati-hati ya sayang." Kecup sana, kecup sini. Mengelus puncak kepala kedua anaknya, barulah mereka pergi.


"Hallo? Kau sudah pergi?" Ternyata, setelah sekian purnama menunggu, Wahid mengangkat teleponnya.


"Belum, ini juga baru selesai mandi? Kenapa?" Wahid menjawab diseberang telepon.


"Hid, kau bisa jemput aku tidak? Ayah sudah pergi lebih dulu soalnya." Ibunya mengunyah sambil menatap Munah.


"Ya sudah tunggu di tempat biasa." Munah langsung mematikan sambungan telepon, dan memasukan ponselnya ke dalam tas.


"Munah, kenapa Kinara tidak pernah lagi datang kesini?" Munah mendongak, meletakkan sendoknya di piring.


"Aku juga tidak tau Bu. Bahkan akhir-akhir ini Kinara selalu melarang kami untuk datang ke apartemen, dan selalu menolak kalau di ajak kumpul." Akhirnya, Munah bisa mengeluarkan uneg-uneg yang beberapa bulan terakhir dia pendam. Ingin berbicara dengan Wahid, tapi Wahid pasti mengatakan kalau dia halu. Jangan buat gosip teman sendiri, sudah pasti jawaban Wahid nantinya. Sehingga Munah lebih memilih diam.


"Apa alasannya?"


"Dia bilang sih, harus fokus belajar. Karena ujiannya sudah dekat." Ibunya spontan menggebrak meja, hingga Munah sendiri pun terlonjak kaget.


"Ibu kenapa sih!" Langsung protes, sambil memegang dada dengan kedua tangan. Ibunya malah mengeluarkan suara gelak tawa, yang semakin membuat Munah sewot.


"Duhai anakku, kau lucu sekali. Begitu saja kau bilang Kinara berubah. Yang seharusnya sadar diri itu kau! Bagaimana bisa masih keluar malam, tidak belajar. Sementara ujian sudah dekat. Ibu rasa keputusan Nara itu benar."


"Ah ibu. Nilaiku juga sudah ada bagus kan? Kalau terus di paksa untuk otaknya berpikir yang ada malah jenuh Bu."


"Kau selalu memiliki alasan itu!" Munah mengambil segelas air yang sudah di siapkan ibunya. Meneguknya hingga habis, dan berdiri menyambar tas yang ada di kursi.


"Munah, kenapa tidak kau habiskan makanannya nak?" Munah hanya menggeleng, berjalan memutari meja makan untuk sampai dihadapan ibunya.


"Bu, aku pergi. Takutnya Wahid datang dan melihat aku tidak ada, malah aku ditinggal lagi." Ibunya merapikan lagi penampilannya, mulai dari rambut dan seragam sekolah.


"Anak ibu sudah besar. Sebentar lagi akan melepas seragam dan menjadi mahasiswi." Mengusap lembut kepala Munah.


"Ibu, jangan buat drama melow di pagi hari lah." Ibunya langsung memukul lengan Munah.


"Haha, aku pergi ya Bu." Menarik paksa tangan ibunya untuk dicium. Lalu berlari bak anak kecil yang takut ketinggalan bus sekolah. Melambaikan tangan saat sampai di pintu. Ibunya yang bisa menggeleng, meskipun tingkah Munah seperti anak kecil. Tapi dia juga bisa berubah menjadi dewasa, tepat pada saat-saat tertentu. Itu bisa di lihat dari cara Munah yang berbicara dengan adiknya, mengajari mereka kesopanan dengan orang yang lebih tua.


Dan, ketika ibunya merasa sedih dan terpuruk, Munah juga selalu menguatkannya. Merangkai kata seindah mungkin, untuk memotivasi semangat ibunya. Meskipun kata-kata indah itu, adalah rangkaian kata yang dia curi dari Kinara.


Munah berdiri di samping jalan raya. Kepalanya harus berkali-kali berputar mengikuti arah pengendara yang lalu lalang. Sudah mencoba untuk tetap diam, tapi seperti terhipnotis yang begitu saja mengikuti arah pandangan mata.


10 menit berlalu, Munah sudah mulai jenuh. Wajahnya sudah ketat sekarang, bersiap memaki ketika Wahid sampai. Jalan satu-satunya, Wahid harus di telepon berulang-ulang seperti tadi.


"Kok tidak aktif! Sialan jangan-jangan Wahid lupa lagi." Ahh!! Munah berjongkok frustasi, berdiri lagi. Lalu melangkah maju, memanjangkan lehernya untuk melihat siapa tau sudah kelihatan mobil Wahid.


Angkutan umum berhenti tepat di depannya, Munah menggeleng dan mengatakan tidak, sedang menunggu jemputan. Dan, supir malah memakinya dengan bergumam. Itulah salah satu alasannya yang kuat kenapa Munah benar-benar tidak ingin menaiki angkutan umum.


Pasrah, sepertinya kalau sampai juga akan terlambat. Munah menoleh ke belakang, ada kursi di samping warung. Menunduk, menggoyangkan kakinya, sudah tau kalau ini pasti terlambat, tapi lebih memilih duduk dulu setelah itu baru kembali kerumah.


Tin.. Tin.. suara klakson mobil. Munah mendongak, memandangnya dengan pandangan jengah. Tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.


"Ayo, kau mau berangkat tidak? Apa kau tidak lihat ini sudah jam berapa?" Munah diam saja, bergerak ataupun membuka mulut juga tidak dia lakukan. Wahid yang berada di dalam mobil menatapnya dengan tajam. Lebih parahnya Munah menganggap bahwa tidak ada Wahid sekarang ini.


Wahid melajukan mobilnya, melihat reaksi apa yang akan dikeluarkan Munah. Setelah beberapa meter, Munah masih tetap pada posisinya. Menggoyangkan kakinya yang menggantung. Menatap ke arah jalanan raya, tidak peduli jika Wahid sedang menunjukkan selebrasi.


"Ayo, kau mau pergi tidak?" Merasa bosan Wahid turun dan berjalan mendekat dimana Munah duduk.

__ADS_1


"Tidak."


"Ayo." Menarik tangan Munah.


"Kau pergi saja sendiri. Jika kau masih di ijinkan masuk ke sekolah, aku akan membelikan mu apartemen." Wahid tercengang, melihat jam di tangannya. Jam yang seharga belasan juta. Lalu ikut duduk di samping Munah.


"Iya kau benar." Lirihnya. "Kau marah ya?" Munah menggeleng.


"Ya sudah ayo, aku ajak kau jalan-jalan. Belanja juga, mau tidak?" Munah diam. "Aku yang bayar!"


"Ah serius?" Munah memeluk Wahid sangat erat, menggoyangkan ke kanan dan ke kiri.


"Dasar matre!" Tapi tetap menarik Munah untuk berjalan masuk ke dalam mobil.


"Kau serius, jadi hari ini kita masuk sekolah?" Munah bertanya lagi setelah duduk di dalam mobil. "Mall juga belum buka jam segini." Wahid tertawa.


"Kau mau menipuku ya?" Tertawa lagi dan melajukan mobil.


"Itu karena pikiranmu hanya belanja gratis? Iya aku tetap belikan untukmu, tapi nanti tidak sekarang. Memangnya kau lupa ya? Mall juga memiliki aturan, tidak diperbolehkan anak yang masih memakai seragam sekolah masuk. Apa lagi saat jam pelajaran tengah berlangsung." Munah terdiam.


"Jadi, kita mau kemana?" Memeluk tas yang ada di hadapannya.


"Tenang, aku tau tempat yang tepat untuk kita hari ini." Munah mengangguk saja, dan membiarkan Wahid membawanya ke tempat yang cocok katanya.


***


Langit yang tidak mengeluarkan matahari di pagi ini. Awan tampak mendung, membuat nyaman duduk di tengah taman yang tidak memiliki atap. Tidak perlu harus menghindari pancaran sinar matahari. Munah menunggu Wahid kembali, dia mengatakan akan membeli cemilan dan minuman.


Munah menatap Padang luas, berhias bunga di setiap sudutnya. Tidak ada satupun daun kering berjatuhan. Pengurus taman sudah membersihkannya sejak pagi buta. Pagar-pagar kecil berwarna-warni juga menjadi pembatas setiap tanaman penting disana. Munah duduk dan menopang dagu dengan kedua tangan.


Ada perasaan tidak rela sekarang, bukan tentang kehilangan tapi perpisahan yang sudah sebentar lagi akan terlaksana. Berpikir, jika Wahid sudah memiliki pacar, pasti akan melupakannya. Ataupun jika sudah kuliah di tempat yang berbeda nantinya. Memiliki kesibukan masing-masing. Apa bisa memiliki teman seperti Wahid nantinya? Kalaupun ada, pasti tidak akan seasik ini.


"Dor!!!"


"Eh anying!!" Wahid tertawa melihat reaksi wajah Munah, dan kata-katanya yang memaki.


"Nih." Menyodorkan minuman jeruk dengan kemasan botol. Munah memutar tutupnya agar terbuka.


"Apa kita akan disini sampai waktunya pulang sekolah?" Wahid mengangguk, sambil meneguk minumannya.


"Hid, apa setelah ini kau benar-benar akan kuliah di luar negeri?" Wahid mengangguk lagi. Menutup kembali botol dan meletakkan tepat di sampingnya.


"Sebenarnya aku sangat tidak rela meninggalkan kesayanganku?" Munah menoleh.


"Siapa?"


"Mobilku." Munah langsung memukul kepala Wahid, mencubit perutnya.


"Aw sakit."


"Kirain tidak rela meninggalkan orang tuamu, ataupun aku."


"Iya iya aku tau."


"Ya, kalau berpisah denganmu aku sih sedikit tidak rela. Tapi satu pesanku untukmu." Menatap wajah Munah dengan serius.


"Apa?"


"Kau tidak boleh pacaran hingga aku kembali nanti!"


"Apa!! Apa maksudnya? Memangnya kau siapa!!" Bahkan sampai berdiri dan menunjuk Wahid dengan jarinya. "Orang tuaku saja tidak melarang!" Berdiri melipat kedua tangannya dan membelakangi Wahid.


"Duduklah, jangan seperti anak kecil." Mode serius lagi. Munah meliriknya, lalu duduk kembali dengan wajahnya yang masih cemberut.


"Tidak, aku hanya mengingatkan mu. Maksudnya jangan dulu pacaran, hingga kuliahmu selesai nanti." Munah menoleh, tatapannya sudah menghangat sekarang.


Hening beberapa saat, angin datang menerpa wajah mereka. Menikmati suasana indah hari ini, langit yang tampak mendung tanpa adanya sinar matahari. Membuat keduanya semakin merasa betah meskipun harus duduk disini hingga beberapa jam ke depan.


"Hid, aku ingin membicarakan sesuatu?" Wahid menoleh, dia mengangguk siap untuk mendengarkan.


"Apa ini serius?"


"Ini tentang Kinara." Wahid mengubah posisi duduknya. Melipat kedua kakinya dan menopang dagu dengan satu tangan.


"Aku serius, kenapa kau malah begitu sih?"


"Iya aku juga serius, aku hanya ingin mendengarkan. Memangnya apa yang salah dariku sih!" Munah diam, dia tidak bicara. Memang selalu begitu kan, akur hanya lima menit dan selebihnya betengkar.


"Kau tidak jadi bicara?"


"Aku serius!" Meninggikan intonasi bicaranya.


"Iya aku tau, bagaimana aku tau kau serius atau tidak? Sementara kau saja tidak bicara sedari tadi." Munah menghela nafas, menyuplai oksigen yang mulai menipis jika berdebat dengan Wahid. Baiklah, nafas sudah teratur waktunya berbicara.


"Kau jangan mengatakan aku tukang gosip jika aku sudah mengatakannya." Wahid mengangguk.


"Janji?" Mengacungkan jari kelingking, Wahid menyambutnya. Mengalah dulu agar bisa mendengar apa yang ingin Munah katakan yang dia bilang hal serius.


"Wahid, apa kau tidak merasa jika beberapa bulan terakhir ini Nara tampak aneh dan berubah?" Menoleh ke arah Wahid, ingin melihat seperti apa reaksinya. "Dan kau ingat tidak, sewaktu kita datang ke pesta ulang tahun Mida?" Wahid menggeleng.


"Kinara, dia berkali-kali muntah di kamar mandi. Dia bilang mual jika mencium bau alkohol."


"Kau benar, aku tidak menyadarinya waktu itu."


"Dan juga, bukankah Kinara sudah biasa mencium bau alkohol? Bahkan meminumnya." Wahid terdiam, memikirkan kata-kata Munah.


"Aku juga menemukan ini, di dalam buku catatan miliknya. Kinara mencoret buku, tapi aku yakin itu bukan hanya sekedar coretan saja." Munah mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan ke Wahid. Sengaja Munah ambil melalui kamera ponsel, karena jika merobeknya pasti Kinara akan bertanya.

__ADS_1


"Ini? Ini bukankah gambar bayi?" Munah mengangguk.


"Kau lihat di bagian bawah gambarnya." Wahid memfokuskan pandangannya.


"Anakku?" Munah mengangguk.


"Hid, sewaktu dirumah bi Gina sebenarnya aku juga mendengar pembicaraan Nara dan bi Gina di dapur. Tapi mereka beralasan, dan alasan itu tepat. Aku yakin hid, kalau Kinara sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi hanya bi Gina yang tau, dan kita sebagai temannya saja tidak berhak tau." Wahid menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dalam hatinya, sebenarnya Wahid tau kemana arah pembicaraan Munah. Berpikir bahwa Kinara hamil, tapi yang membuat tidak masuk akal, siapa lelakinya? Bukankah Kinara tidak pernah dekat dengan siapapun? Pergi juga selalu bersama.


"Aku juga tau, kalau Kinara selalu memakai korset hid." Wahid membulatkan matanya. "Iya, aku tidak sengaja melihatnya di kamar mandi sekolah waktu itu."


"Kau serius?" Munah mengangguk. "Dan, karena aku penasaran aku kemarin datang ke apartemen tanpa meminta ijin dengannya. Untungnya saat aku datang bi Gina juga tengah berada di depan pintu, bersama seorang dokter. Yang katanya habis memeriksa Nara. Yang aku tau Kinara itu tidak sakit. Lalu aku masuk ke kamarnya, Kinara tidur. Tapi aku yakin dia tidak benar-benar tidur, pasalnya kan dia juga baru saja periksa dengan dokter. Saat aku ingin menyentuh perutnya Kinara langsung bangun."


"Apa kita harus memaksa Kinara untuk mengaku saja?" Munah menggeleng. Dan tidak mungkin semudah itu Kinara mau mengakuinya, jalan satu-satunya hanya bi Gina.


"Menurutmu siapa laki-laki yang menghamili Kinara?" Munah menoleh ke arah Wahid lagi, menatapnya tanpa berkedip.


"Adam!"


"Hei, tidak mungkin."


"Apa yang tidak mungkin?"


"Adam, itu tidak masuk akal Munah!" Menggelengkan kepalanya. Adam yang dia kenal baik, mana mungkin melakukan hal itu. Begitu yang Wahid pikirkan. Beberapa kemungkinan yang Munah katakan padanya bahwa Kinara hamil, Wahid masih bisa mempercayai hal itu. Tapi untuk satu nama berikutnya, Wahid sangat merasa keberatan.


"Hid, mereka sama-sama memiliki rahasia besar." Wahid tetap saja menggeleng.


"Apa yang membuatmu yakin jika itu Adam?"


"Beberapa kali aku memergoki mereka berbicara berdua. Seperti sedang beradu argument. Tapi aku tidak bisa mendengarnya. Dan yang terakhir, aku melihat Adam tidur di pangkuan Kinara. Memang aku sendiri sering melakukan itu denganmu, tapi dari cara aku melihat itu benar-benar berbeda Hid."


"Kau yakin?"


Munah mengangguk.


"Tidak ada laki-laki lain yang dekat dengan Kinara selain kau dan Adam. Jika saat ini ada yang dekat dengan Kinara, itu juga mereka berpisah dengan jarak dan waktu. Kinara sering mengatakan itu denganku, Satria yang meminta nomor ponselnya waktu itu."


Wahid terdiam, dan tidak lagi berkomentar. Hening kembali tercipta, mereka sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Munah bertekad jika benar dugaannya, maka niatnya akan menjauhi Kinara. Bukan tentang rasa kecewa karena Kinara hamil diluar nikah, tapi tentang rasa kecewa saat dirinya tidak di anggap teman. Dan Kinara lebih memilih menyembunyikan hal besar itu sendirian.


Mata Munah memanas, membayangkan jika hal itu benar. Bagaimana kehidupan Kinara nantinya, mau bagaimana pun Munah memang menyayangi Kinara. Menganggapnya bukan hanya sekedar teman. Tapi lebih seperti saudara sendiri.


"Apa kita menanyakan hal ini dengan bi Gina saja?" Munah menggeleng, meskipun awalnya dia sendiri sempat berpikir begitu.


"Bi Gina tidak akan mau memberi tahu, karena bi Gina sangat menyayangi Kinara selayaknya anak."


"Lalu, apa langkah selanjutnya?"


"Kita harus membuat Kinara mengakuinya?"


"Bagaimana caranya?"


Munah berpikir dulu, sebelum menjawab. Menyusun rencana, meskipun itu akan membahayakan janin yang ada di dalam perut Kinara, jika dugaan Munah saat ini benar.


"Kita ajak dia pergi malam ini, jangan beritahu tujuannya kemana. Kau siapkan club' yang biasa kita pakai."


"Kau yakin?" Munah mengangguk lagi.


"Kita datang ke apartemennya, tapi jangan beritahu dia. Aku akan memaksanya sampai dia mau. Beralasan untuk menemui Adam."


"Baiklah, tapi aku tidak ingin jadi pembunuh."


"Hei, kita tidak akan membunuhnya!"


"Tapi aku tau apa yang kau pikirkan, apa yang kau rencanakan dengan membawanya ke club'!" Munah tersenyum.


Rencana sudah di susun dengan rapi, Munah yang bosan sudah dua jam lamanya duduk di taman ini. Mengajak Wahid untuk berkeliling, entah kemana tujuan kali ini sambil menunggu jam pulang sekolah. Yang terpenting tidak merasa bosan.


"Sebenarnya aku sedih jika itu benar." Wahid juga mengangguk, dia juga merasa begitu.


Mobil terus melaju dijalan raya, kaca mobil juga ditutup sempurna.


"Eh itu seperti mobil Adam." Munah menunjuk mobil yang melaju tepat di depan mereka saat ini. Munah tersenyum, dan berpikir jika Adam sudah kembali dari luar kota.


"Hid, coba kita ikutin mobil Adam." Wahid mengangguk setuju, dan berpikir ini kesempatan untuknya berbicara dengan Adam. Mengajaknya untuk pergi malam ini.


Tapi saat mobil sudah menghidupkan lampu kode, Munah menatap ke arah samping.


"Rumah sakit?" Menoleh ke arah Wahid.


"Untuk apa Adam kerumah sakit? Apa jangan-jangan Adam benar-benar sakit setelah kejadian dirumah bi Gina, dan harus dirawat? Tapi kenapa pelayan dirumahnya mengatakan kalau Adam dan keluarganya ada diluar kota?"


"Aku tidak tau, kau selalu berspekulasi terlalu jauh. Bisa ajakan Adam pulang dari luar kota, dan baru ini di bawa kerumah sakit?"


"Hid, sebaiknya kita jangan ikut masuk. Lihat saja dari sini, benar itu Adam atau tidak." Wahid mengangguk, dan menepikan mobilnya tak jauh dari jalan masuk kerumah sakit.


Mobil Adam sudah berhenti, dan ibunya tampak turun sendirian. Mereka menajamkan penglihatan, bahkan hanya untuk sekedar berkedip juga di urungkan.


"Tidak ada Adam." Mereka saling pandang. Ibunya hanya turun sendirian, lalu di susul seorang laki-laki dengan pakaian rapi, tapi memakai pakaian supir.


"Berarti Adam?" Wahid juga berpikir sama.


"Tidak mungkin, kalau Adam sakit dan dirawat pasti dia memberi kabar ke kita. Mungkin hanya ibunya saja yang memang ingin berkunjung kerumah sakit."


"Ya sudah, kalau begitu kita pergi sekarang."


Sepakat dalam berpikir kali ini, bahwa Adam benar-benar sedang berada diluar kota. Dan Wahid menjelaskan kepada Munah, bahwa Adam pernah mengatakan kalau ibunya memiliki penyakit.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2