Langit Mendung

Langit Mendung
Siapa Suryo?


__ADS_3

Aku mengerjab perlahan, setiap bangun di pagi hari aku selalu malas-malasan. Bi Gina bilang ini adalah bawaan orang hamil. Meski mataku sudah membuka sempurna sekarang, aku masih berbaring di tempat tidur. Kehamilan yang sudah memasuki usia 5 bulan. Tidak terasa ya, aku mampu melewati bulan-bulan lalu. Dan aku juga rutin memeriksakan kandunganku. Hari ini juga jadwalnya. Tapi aku periksa setelah pulang sekolah. Dokter mengatakan kalau janin dalam kandungan sehat. Hanya saja perkembangan janin yang tidak bagus, karena mungkin aku selalu memakai korset setiap harinya. Untuk menutupi perutku yang sudah membesar. Menahan sesaknya selama belajar di sekolah.


Aku menjauhi teman-temanku, tidak lagi sering keluar. Aku hanya melakukan aktivitas di dalam kamar apartemen. Munah, dia orang yang paling merindukanku, meskipun berjumpa setiap hari. Tapi dia sangat rindu liburan dan jalan-jalan walaupun hanya disekitaran mall. Aku menolaknya, dengan berbagai alasan. Dan, impianku membangun rumah untuk adik-adikku di jalanan juga sudah tercapai. Akhirnya, bi Gina sendiri yang berinisiatif memberikan tanahnya, meskipun aku ingin membayar sesuai jumlah harga tanah itu. Bi Gina tetap menolaknya. Sekarang, mereka sudah di angkat menjadi anak bi Gina. Bisa sekolah dengan layaknya karena bi Gina meminta bantuan kepada kepala desa, lalu di ajukan kepada pemerintah.


Aku bisa bertahan sampai sekarang ini, hanya karena bi Gina sering mensuport ku. Selalu memberiku nasehat baik setiap harinya. Eh, aku jadi tidak sabar ingin melihat bentuk nyata dari bayi yang aku kandung. Baiklah, aku akan memulai lagi sekolah di pagi ini.


"Bi? Bibi sudah datang?" Aku keluar kamar mandi, sudah memakai seragam lengkap. Ternyata bi Gina sudah ada di kamar menyiapkan sarapan untukku.


"Sudah, nanti bibi pulang lebih awal ya? Soalnya hari ini bibi akan mengadakan doa dirumah, peringatan meninggalnya suami bibi."


"Oh ya sudah bibi tidak apa-apa." Aku melanjutkan menyusun buku pelajaran, lalu membawa lagi sarapanku keluar. Aku tidak mau makan didalam kamar. Kalau bi Gina sudah datang, aku lebih memilih makan di dapur. Sambil mengobrol malah menambah selera makanku.


"Nara, apa kau bisa datang?" Aku terdiam sebentar sambil mengunyah makanan, aku tau sebenarnya bi Gina sangat ragu mengatakan hal itu.


"Kalau tidak bisa ya sudah tidak apa-apa. Nanti bibi akan kirimkan makanan kesini ya?" Bi Gina melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Bi? Tidak apa-apa kok. Nanti aku datang." Bi Gina tersenyum. "Oh iya bi, hari ini kan jadwal aku periksa kandungan. Nanti bibi bisakan telepon dokternya?"


"Benarkah? Ya ampun bibi sampai lupa." Bi Gina berjalan mendekat ke arahku. "Cucu nenek, sehat-sehat ya sayang." Ah aku melow mendengarnya. Akan seperti apa anakku nanti ya? Apa akan tampan seperti Adam? Eh, tidak, aku bukan mengharapkan aku hanya berhayal saja.


"Bi, aku berangkat ya?"


"Lho, kenapa sarapannya tidak dihabiskan?" Aku menggeleng, sudah kenyang lagian juga hanya tinggal dua suapan lagi yang tersisa di piring.


Aku melangkah menuju lift. Sungguh, berat badanku naik drastis sekarang, seragam sekolahku yang dulu saja sudah tidak bisa di pakai, dan akhirnya aku memakai seragam baru yang bi Gina belikan. Selama ini aku menjauhi mereka semua, sebenarnya aku rindu berkumpul seperti biasanya. Tapi keadaan tidak memungkinkan. Dan entah bagaimana nanti jika dihari perpisahan. Pasti aku tidak bisa mengikuti kegiatan apapun lagi. Baik itu liburan bersama teman-temanku, ataupun merayakan kelulusan dengan mencoret seragam sekolah. Padahal, itu yang di nanti setiap murid setelah menempuh pelajaran tiga tahun lamanya.


Aku sudah sampai di sekolah, saat turun bersamaan dengan Munah yang juga baru sampai di antar oleh ayahnya. Dia melambaikan tangan ke arahku. Cepat-cepat berjalan mendekat, aku tetap berdiri di tempat. Biar Munah saja yang menghampiriku.


"Kau cepat datang hari ini?" Aku tersenyum dan mengangguk.


"Kau sudah dengar kabar?"


"Kabar apa?" Sambil melangkah masuk ke dalam kelas.


"Itu." Tunjuknya ke arah Elena yang berjalan menunduk. Kenapa dia? Kulihat memang wajahnya sangat murung beberapa hari terakhir ini.


"Ternyata Adam dan Elena sudah putus."


"Oh!" Munah langsung memukul lenganku, protes karena aku tidak bertanya kenapa bisa? Kenapa mereka putus? Dan siapa yang memutuskan?


"Iya-iya, memangnya kenapa mereka bisa putus?" Akhirnya bisa sampai kelas, aku langsung duduk dan mengatur nafasku yang sesak tidak karuan.


"Kata Wahid sih Adam yang mutusin, tidak tau kenapa dan tidak mempunyai sebab."


Aku terdiam, mengingat perkataan Adam beberapa Minggu lalu. Dia akan tetap hidup sendiri jika aku juga mau hidup sendiri selamanya. Aku benar-benar tidak tau apa maksudnya. Dan berpikir jika Adam hanya bercanda soal ucapannya.


"Eh." Aku kaget, merogoh laci mejaku. Heh, kemudian menghela nafas. Seperti biasa, sampai hari ini tetap saja ada coklat dilaci meja. Aku pernah mengintip, pagi-pagi datang. Tapi tetap tidak ada yang meletakkan. Lalu, sepulang sekolah juga begitu. Menunggu siapa gerangan itu, tapi tetap tidak ada. Aku tidak sama sekali menemukan orang itu. Bahkan bentuk dan ciri-cirinya juga aku tidak tau.


Saat aku menarik coklat itu keluar, aku menemukan satu lembar kertas kecil. Ini bukan kertas, aku membaliknya.


Tidak mungkin, kenapa bisa ada photo kecilku disini? Bersama Iam? Apa maksudnya! Apa dia orang yang selama ini meletakkan coklat untukku? Lalu kalau iya, berarti Iam juga sekolah disini? Satu sekolah denganku? Bagaimana bisa??


"Nara? Kau kenapa?" Cepat-cepat kumasukkan coklat bersama photo itu ke dalam tasku.


"Tidak apa-apa."


"Itu Adam datang, aku akan segera bertanya padanya." Aku menarik tangan Munah, untuk tidak berdiri dan tetap duduk di tempatnya.


"Nanti saja, kau bisa tahan sebentar kan jiwa kepo mu itu?" Munah mendengus, aku tau bukan hanya dia yang penasaran. Tapi aku juga, kenapa bisa memutuskan hubungannya dengan Elena, gadis yang selama ini ku kenal dengan baik. Meskipun tidak dekat, tapi semua orang bisa menilai, seperti apa Elena. Riwayat hidupnya yang tidak memiliki cacat kelakuan.


Hingga saat jam istirahat, kami duduk di bawah pohon yang ada di belakang sekolah. Suasana rindangnya dan nyaman, berhembus angin semilir yang membuatku saja bisa terhipnotis dengan rasa kantuk. Aku dan Munah bahkan membawa cemilan kesini. Ini juga maunya Wahid, kami sepakat ingin menanyakan hal itu dengan Adam. Hanya saja aku juga ingin menanyakan ini dengan Adam nanti, ketika kami hanya berdua. Jika dengan Munah dan Wahid, Adam masih bisa berbohong. Dengan memberi alasan yang tidak jelas. Tapi denganku, Adam pasti akan jujur.


"Dia selalu menelponku setiap malam, menanyakan mu. Dan bagaimana kau bisa memutuskannya?" Adam diam, duduk dan mengayunkan kakinya.


"Ibuku melarang ku untuk pacaran. Aku tidak bisa berbohong, jika aku masih melanjutkan hubungan ku dengan Elena, bukankah itu artinya aku anak yang pembangkang?"


"Kalau sudah membawa nama ibu, aku juga tidak ingin protes." Wahid mengalah, yang awalnya ingin menghakimi temannya sendiri. Tatapan matanya ke arah Adam yang awalnya tidak bersahabat, kini sudah melunak. Aku dengan bisa jelas melihat itu.


"Aku tau, Elena itu gadis yang baik. Tapi dia juga gadis yang nekat." Adam menjeda sebentar kalimatnya, lalu menoleh ke arahku, seakan-akan dia sedang berbicara padaku saja. Berusaha menjelaskan hanya padaku. Karena Adam tau, jika aku akan protes nantinya. Tidak di hadapan Munah dan Wahid.


"Dia pernah datang kerumah, tanpa terlebih dahulu ijin kepadaku. Kalian tau bagaimana reaksi ibuku? Ibu tidak marah, hanya saja tidak suka wanita yang sembarangan masuk ke kamar laki-laki." Ah kali ini aku tidak percaya ucapan Adam. Elena? Mana mungkin dia melakukan itu.


"Kalian pasti tidak percaya?" Kami serempak menggeleng. Lalu Adam mengeluarkan ponselnya, menunjukan photo Elena yang duduk di tepi ranjang miliknya, saat itu Adam sedang tidur jadi tidak tau kalau Elena sudah ada di kamarnya.


"Ibuku hanya berkata Adam sedang tidur, tapi Elena bertanya dimana letak kamarku? Setelah ibu menunjuk ke arah kamar, Elena malah datang dan masuk." Tunggu, ini benar tidak sih?


"Untung saja ibuku tidak syok melihatnya, sempat berpikir yang tidak-tidak. Karena saat Elena masuk, dia tidak langsung membangunkan ku, malah duduk dan berselfie." Adam kemudian menunduk.


Terkadang, sisi buruk orang lain juga tidak bisa kita lihat. Hanya orang tertentu yang bisa tau, contohnya seperti Elena dan Adam saat ini. Dan aku juga salah satunya, lihat bahkan aku bisa hamil anaknya Adam. Tanpa orang lain sadari, melihat aku dan Adam baik-baik saja saat ini.


"Sudah, jangan bahas masalah itu lagi. Ya mungkin Adam memang bukan jodohnya Elena. Perjalanan kita juga masih panjang, suatu saat Adam juga akan menemukan kekasih di tempat kuliahnya." Ucapku. Dan mereka setuju mendengarnya.


"Apa nanti kalian mau ikut? Pulang sekolah, kerumah bi Gina. Dia mengatakan hari ini akan mengadakan doa dirumahnya, peringatan meninggalnya suami bi Gina."

__ADS_1


"Iya, aku mau." Munah bahkan sangat bersemangat.


"Aku, aku Hem." Wahid masih berpikir.


"No! Kau harus ikut!" Munah sudah mengepalkan tangan. "Kau pasti ingin berjumpa tante-tante yang kemarin kan?" Aku tertawa, Tante? Tante yang mana?


"Kau serius pacaran dengan tante-tante?" Adam bertanya, sudah mewakilkan pernyataan juga.


"Eh tidak! Dia bukan tante-tante, hanya berbeda dua tahun lebih tua dengan kita? Sialan, masak iya aku mau sama tante-tante!"


"Haha. Buktinya, penampilannya sudah seperti ibuku?" Munah, dia selalu begitu jika bersangkutan dengan Wahid.


"Kau cemburu ya?" Wahid mulai menggoda Munah.


"Iyakan kau cemburu? Kau selalu protes jika aku memiliki pacar!" Aku menarik lengan Adam, mengisyaratkan untuk pergi, biarkan saja mereka bertengkar disini.


Dan langkah demi langkah, Wahid dan Munah tengah beradu argument. Saling menjatuhkan, membanggakan diri sendiri. Aku tertawa saat melihat wajah mereka yang bingung, melihat aku dan Adam sudah tidak ada disana.


"Aku malah yakin mereka berjodoh." Hah? Aku kaget tapi lebih ke setuju sih sama perkataan Adam yang ini.


"Kak Adam?" Aku dan Adam berhenti melangkah, tidak tapi aku harus pergi. Ini urusan mereka, lagian Elena juga hanya menyebut nama Adam, bukan aku.


"Dam, aku duluan ya?"


"Eh, tunggu. Barengan lah." Wajah Elena langsung berubah sendu, aku tau gimana posisinya saat ini. Tapi, lebih sakit lagi jika Elena berada di posisiku. Menyaksikan setiap saat ayah dari anak yang ku kandung bersama orang lain. Meskipun itu kemauanku sendiri, tetap saja sakit. Terkadang sempat berpikir, kenapa tidak Elena saja yang hamil! Toh mereka kan pacaran, malah memiliki rasa dan bisa menikah. Jahat juga aku ya? Ya iyalah, mana ada di dunia ini manusia yang tidak jahat.


"Kak Nara?" Ternyata Elena belum menyerah, Adam melepas tangannya. Berjalan lebih dulu, meninggalkan aku dan Elena yang tengah berdiri di samping kamar mandi sekolah.


"Kak? Aku ingin bicara, kita duduk disana ya?" Elena menunjuk area kantin. Baiklah jam istirahat masih tersisa. Aku mengikuti langkahnya, aku juga wanita dan aku yakin. Kalau Elena pasti akan membicarakan soal Adam.


"Kak, apa Adam pernah mengatakan sesuatu? Seperti alasannya yang memutuskan hubungan kami?" Aku berdehem sebelum berbicara, aku akan mengatakan apa yang dikatakan Adam tadi. Agar tidak jadi salah paham.


"Ibunya tidak memperbolehkan Adam untuk pacaran. Dan, Adam memutuskan mu setelah kau datang kerumahnya kan?" Elena terdiam, lalu mengangguk lemah. "Apa kau juga masuk ke kamarnya Adam?" Elena mengangguk lagi. Jadi ternyata benar apa yang dikatakan Adam. Dia jujur soal ini, baiklah aku tidak perlu menanyakan lagi apa alasannya.


"Kau tahukan, itu tidak baik El. Tidak seharusnya kau masuk ke kamar Adam. Itu membuat ibunya merasakan ketakutan. Apa lagi kalian adalah lawan jenis yang memiliki hubungan."


Aaahhh!! Aku malu memberikan nasehat ini, bagaimana bisa aku memberikan nasehat terbaik. Sementara aku lebih parah dari Elena.


"Kak, tapi aku tidak bisa jauh dari Adam."


"Elena, maaf. Soal itu hanya kau dan Adam yang bisa memperbaiki. Aku duluan ya, soalnya sebentar lagi bel masuk." Elena mengangguk pasrah, aku mempercepat langkahku. Aku paling tidak suka dilibatkan dalam hubungan orang lain. Berteman boleh, tapi bagaimana caranya aku memaksa Adam untuk tetap bersama Elena. Umur juga masih muda, mati satu tumbuh seribu. Adam lagi tampan, ya bisa saja mencari yang jauh lebih baik dari Elena dan dariku.


***


Melihat mereka bermain, tertawa. Aku sendiri jadi teringat masa kecilku. Ah iya, photo tadi. Aku harus mencari tau siapa itu! Tapi bagaimana caranya. Adam? Aku harus meminta bantuan kepada Adam. Aku menoleh ke belakang, ternyata Adam sudah berjalan dibelakang ku. Dan di susul oleh Munah dan Wahid.


"Kau bawa tas ku!"


"Ih, Munah!


"Nurut kenapa sih!!"


Aku masih bisa mendengar ocehan mereka, yang setiap detiknya hanya penuh debatan dan pertengkaran.


"Hei, mana ibu?" Iya, mereka memanggil bi Gina dengan sebutan ibu.


"Kak Nara?" Mereka datang, memelukku. "Ibu di dalam kak." Mereka berlari dan berteriak memanggil bi Gina. Rumah sudah tampak sepi. Apa doa bersama sudah selesai??


"Nara, sini masuk. Eh ada Adam juga? Wahid, Munah?" Kami tersenyum dan melangkah masuk, melewati pagar bambu yahh tersusun rapi dihalaman rumah bi Gina.


"Bi, aku ajak mereka tidak apa-apa kan?" Bi Gina menggeleng dan tersenyum.


"Bibi malah senang." Ucapnya lagi.


"Apa acaranya sudah selesai bi?"


"Sudah, tapi masih banyak makanan kok." Kalau begini, biasanya yang paling senang itu Wahid. Orang yang suka makanan gratis, makan tanpa mengeluarkan uang. Hadeh, dasar orang kaya gadungan.


Mata Adam sangat liar, menatap barisan photo di dinding rumah bi Gina. Iya, baru sekali ini Adam masuk kerumah bi Gina. Ku lihat, setelah itu Adam menunduk. Apa dia melihat hantu ya? Tapi tidak mungkin, ini jelas masih siang hari. Aku menoleh ke arah Munah dan Wahid, mereka sudah meneguk air di dalam gelas hingga tandas. Mulutnya sudah penuh makanan, mengunyah kue yang di sediakan bi Gina.


"Lapar." Ucapnya, karena tau aku melihatnya tanpa berkedip.


"Adam, apa kau mau minum?" Aku menawarkan gelas berisi air. Adam mengangguk dan menerimanya.


"Mau kue?" Adam menggeleng. Tidak lama, bi Gina keluar lagi membawa makanan lagi. Wah, langsung merekah wajah temanku yang rakus ini. Heran, Munah makan banyak tapi tubuhnya tidak gendut.


"Bi?" Bi Gina menoleh ke arah Adam. "Itu suami bibi ya?"


"Ya ampun Adam! Kau lihat kan, photonya saja berdua dengan bi Gina, ya sudah pasti suaminya lah. Mana mungkin mantan pacarnya bi Gina." Hus, aku mengisyaratkan dengan jari untuk meminta Wahid diam. Karena kulihat reaksi wajah Adam berubah saat melihat photo itu.


"Kenapa, Adam kenal?" Adam menoleh ke arahku lalu mengangguk. Kenal? Aku juga berkata seperti itu saat melihat photo suami bi Gina. Apa suami bi Gina dulunya artis sosmed? Sampai-sampai setiap orang yang melihatnya selalu bilang kalau kenal.


Bi Gina ikut duduk diantara kami. Lebih tepatnya saling berhadapan dengan Adam.

__ADS_1


"Namanya siapa bi?" Aku mendengarkan saja, tapi apa Adam memang belum tau siapa nama suami bi Gina? Sepertinya aku sudah pernah menyebutkan namanya dihadapan Adam. Apa aku yang lupa ya?


"Suryo Dam." Adam langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu membuka kembali dengan cara meraupnya.


Ponselku tiba-tiba bergetar, aku berdiri dan berjalan keluar rumah. Ah aku bisa ketinggalan berita nantinya, siapa sih yang menelpon. Aku menggerutu dan melihat ke layar ponsel.


"Satria?"


"Hallo?"


"Hai, apa kabar?"


"Eh baik kak."


"Baru seminggu tidak berkomunikasi aku sudah rindu? Maaf ya, karena aku sibuk susun sekripsi."


"Haha iya, tidak masalah lah."


Dan obrolan pun berlanjut, aku yang ketika sudah di ajak berbicara suka lupa waktu. Berdiri sambil menyilang satu kaki, tiba-tiba tersenyum mendengar Satria berbicara ngawur. Sejauh ini, hubungan ku baik dengannya. Karena Satria selama mengenalku tidak pernah membahas soal perasaan. Dan anaknya juga tidak membosankan ketika diajak bicara.


"Jadi, nanti malam mau tidak kalau ketemu aku? Soalnya aku sudah selesai susun sekripsi. Ah Nara aku juga butuh refreshing, setidaknya mengirup dunia luar." Haha, aku tertawa.


"Kau gila ya kak. Apa selama ini kau sedang berada di penjara?"


"Ya tidak sih, ya sudah kau mau tidak?" Duh, bagaimana mungkin. Aku sudah tidak bisa pergi kemanapun. Menutupi kehamilan ini sungguh menyiksa batin dan tubuhku.


"Kak, lain kali aja ya?"


"Nara, please. Sekali ini aja."


"Ya sudah kak. Kakak tidak usah jemput aku ya, kakak kasih tau aja tempat kita ketemu, nanti aku datang."


"Janji ya? Jam delapan ya?"


"Nara!!" Aku menoleh, telepon masih tersambung. Aku cepat-cepat mematikannya.


"Kenapa Munah? Apa kau tidak bisa pelan sedikit memanggilku?"


"Kau lihat Adam!!" Aku langsung masuk ke dalam. Adam sudah menangis, menangis di pelukan bi Gina. Benarkan, aku ketinggalan berita. Ya Tuhan, kenapa aku masih bisa tertawa tadi.


"Bi, Adam kenapa? Munah, kenapa Adam?" Mereka hanya menggeleng.


"Setelah bertanya tentang suami bi Gina tadi, Adam langsung menangis dan tubuhnya melemas." Ya Tuhan, Adam. Ada apa ini.


"Nara, kau bantu Adam dulu, bibi akan ambilkan minyak angin." Bi Gina memindahkan Adam kepangkuan ku. Ku usap wajahnya yang saat ini dibanjiri air mata.


"Ayah... Hiks.. Ayah.." Aku memanggil nama Adam berulang-ulang agar mau membuka matanya. Adam tidak pingsan, hanya saja hatinya sedang terguncang saat ini. Apa penyebabnya, kenapa Adam memanggil nama ayahnya? Apa ini ada hubungannya dengan suami bi Gina?


"Ayah.."


"Nara, coba kau hubungi ayahnya Adam. Dia terus memanggilnya." Hah? Ayahnya? Ya Tuhan, bagaimana cara menjelaskan hal ini?


"Hem, aku tidak tau. Sudah, tunggu saja sampai Adam pulih."


"Tapi dia terus memanggil ayahnya, bukankah Adam bilang ayahnya sedang di luar kota. Siapa tau Adam merindukannya, makannya dia terus menyebut ayahnya." Ayahnya sudah tiada!!! Ingin sekali aku berteriak begitu.


"Nara, berikan ini." Bi Gina memberikan minyak angin. Aku meletakkannya di hidung Adam. Agar aroma terapi yang terhirup bisa menetralkan kondisinya saat ini.


"Huek.."


"Lho, Nara kau kenapa?" Aku menjauhkan minyak angin. Menutup hidungku sendiri.


"Kau tidak suka baunya? Bukankah kau malah sering membawa minyak angin?" Aku hanya menggeleng. Munah segera menggantikan posisiku, memangku Adam. Aku berjalan menuju kamar mandi bi Gina. Rasanya malah tidak karuan menghirup minyak angin. Padahal, sewaktu hamil muda aku juga masih bisa mencium aroma apapun.


"Huek.." Aku terus mengeluarkan isi perut, tapi nihil hanya ada air saja yang keluar.


"Nara?" Aku menoleh, dengan padangan yang kabur karena ada air mata yang menggenang.


"Bi?" Suaraku sangat parau.


"Ini minum air hangat?" Bi Gina memberikan satu gelas air untukku.


"Bi, bibi pergilah. Tolong bantu Adam, aku bisa sendiri kok bi." Aku terduduk di kursi kayu milik bi Gina. Tubuhku jelas melemas sekarang.


Bi Gina menatapku dengan penuh iba. Aku menggeleng, memintanya untuk tidak begitu. Jangan membuat teman-temanku curiga.


"Nara?"


"Bibi, aku tidak apa-apa. Adam lebih penting saat ini."


"Kau juga penting bagi bibi, kau dan Adam sama, kau juga tengah mengandung anaknya."


"Anak? Anak siapa? Siapa yang mengandung? Nara??" Aku dan bi Gina langsung terdiam kala Munah tiba-tiba muncul.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2